Menetapkan 180 produk UMKM sebagai produk unggulan tentu merupakan langkah penting. Tetapi kurasi seharusnya bukan akhir perjalanan. Justru setelah sebuah produk dinyatakan unggul, pertanyaan yang lebih penting muncul: bagaimana membuat produk itu tumbuh menjadi bisnis, dan pemiliknya tumbuh menjadi pengusaha yang mandiri?
Ringkasan:
- Produk unggulan harus menjadi awal, bukan akhir.
- Inovasi membuat UMKM terus belajar dan berkembang.
- Tujuan akhirnya adalah pengusaha yang mandiri, bukan penerima bantuan.
Ada satu istilah yang menarik dari kabar tentang 180 produk UMKM dari 12 kecamatan di Batam yang masuk kurasi produk unggulan: produk unggulan. Istilah itu membawa konsekuensi yang cukup besar. Ketika sebuah produk disebut unggulan, kita bukan hanya sedang mengatakan bahwa produk itu bagus. Kita sedang memberikan pengakuan bahwa ia memiliki sesuatu yang membuatnya layak diperhatikan, dikembangkan, dan dibawa ke pasar yang lebih luas.
Karena itu, saya kira pertanyaan yang menarik justru bukan lagi produk mana yang unggulan, melainkan: setelah sebuah produk ditetapkan sebagai produk unggulan, lalu apa?
Pertanyaan ini penting karena kurasi seharusnya bukan garis akhir. Ia justru garis start. Pelatihan tentang kemasan, branding, fotografi produk, pemasaran digital, legalitas, sertifikasi, dan berbagai keterampilan usaha tentu penting. Semua itu dapat membantu sebuah produk tampil lebih baik dan lebih mudah masuk ke pasar. Tetapi jika seluruh program berhenti di sana, kita berisiko hanya menghasilkan produk yang lebih rapi, sementara bisnis di belakang produk itu belum tentu menjadi lebih kuat.
Sebuah makanan bisa sangat enak tetapi produksinya tidak konsisten. Sebuah kerajinan bisa sangat menarik tetapi biaya produksinya terlalu tinggi. Sebuah produk bisa memiliki kemasan yang bagus tetapi pemiliknya tidak tahu berapa keuntungan sebenarnya dari setiap penjualan. Sebuah usaha bisa ramai ketika mengikuti pameran, tetapi kembali sepi setelah pameran selesai. Artinya, membuat produk menjadi lebih bagus hanyalah sebagian dari pekerjaan. Tantangan berikutnya adalah membuat usaha di belakang produk itu mampu tumbuh.
Di sinilah makna “unggulan” perlu diperluas. Jangan hanya bertanya apakah produknya unggulan. Kita juga perlu bertanya apakah bisnis yang menghasilkan produk itu mampu menjadi bisnis yang unggulan.
Sebab produk yang bagus belum tentu menjadi bisnis yang bagus.
Bisnis yang bagus bukan hanya menghasilkan produk yang disukai orang. Ia tahu siapa konsumennya, berapa biaya produksinya, berapa marginnya, bagaimana menjaga kualitas, bagaimana memenuhi pesanan dalam jumlah lebih besar, bagaimana mendapatkan bahan baku secara berkelanjutan, bagaimana mengelola arus kas, dan bagaimana menemukan pasar baru. Semua kemampuan itu tidak otomatis lahir karena sebuah produk telah lolos kurasi.
Justru di sinilah pekerjaan setelah kurasi dimulai.
Saya membayangkan 180 produk yang telah masuk kurasi itu bukan sebagai 180 produk yang sudah selesai, melainkan 180 laboratorium kecil untuk inovasi. Masing-masing usaha memiliki kesempatan untuk mencoba, mengukur, memperbaiki, dan mencoba kembali. Apakah rasa produknya bisa diperbaiki? Apakah ukurannya sudah sesuai dengan kebutuhan konsumen? Apakah kemasannya bisa dibuat lebih efisien? Apakah biaya produksinya bisa ditekan tanpa menurunkan kualitas? Apakah kapasitas produksi dapat ditingkatkan? Apakah produk yang sama bisa dibuat dalam beberapa varian? Apakah ada pasar di luar Batam?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat kurasi berubah dari sekadar penilaian menjadi proses pembelajaran.
Dan di sinilah inovasi menjadi penting.
Inovasi bukan sekadar menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Dalam dunia UMKM, inovasi bisa sangat sederhana: memperbaiki resep, mengubah ukuran, menemukan kemasan yang lebih praktis, memperpendek proses produksi, menggunakan teknologi digital untuk penjualan, menemukan saluran distribusi baru, atau mengubah cara melayani pelanggan. Yang penting bukan seberapa canggih perubahan itu, melainkan apakah perubahan tersebut membuat usaha menjadi lebih baik, lebih efisien, lebih relevan, atau mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Dengan cara pandang ini, produk unggulan tidak boleh berhenti pada status “unggulan”. Pasar akan menjadi penguji berikutnya. Produk yang sudah dikurasi harus bertemu konsumen, mendapatkan respons, menghadapi persaingan, mengalami kegagalan, lalu diperbaiki. Di situlah sebenarnya proses inovasi berlangsung.
Kita bisa melihatnya sebagai sebuah siklus yang sederhana: produk masuk pasar, pasar memberikan pengalaman, pengalaman menghasilkan pengetahuan, pengetahuan melahirkan perbaikan, dan perbaikan menghasilkan produk berikutnya.
Artinya, pelaku UMKM tidak hanya membutuhkan pelatihan. Mereka membutuhkan kemampuan untuk belajar dari bisnisnya sendiri.
Ini penting karena dunia usaha tidak pernah berhenti berubah. Selera konsumen berubah, teknologi berubah, harga bahan baku berubah, cara orang berbelanja berubah, saluran distribusi berubah, dan persaingan berubah. Produk yang hari ini unggul belum tentu tetap unggul lima tahun lagi. Karena itu, tujuan yang lebih penting bukan menghasilkan produk unggulan hari ini, tetapi menghasilkan pengusaha yang mampu terus menciptakan keunggulan.
Perbedaan keduanya sangat besar. Produk unggulan adalah hasil. Kemampuan berinovasi adalah kapasitas.
Kalau kapasitas itu sudah tumbuh, sebuah UMKM tidak terlalu bergantung pada satu produk. Ketika selera pasar berubah, ia bisa beradaptasi. Ketika teknologi berubah, ia bisa belajar. Ketika produk lama mulai kehilangan daya tarik, ia bisa mengembangkan produk baru. Ia tidak menunggu seseorang datang membawa solusi, tetapi mulai mampu mencari dan menciptakan solusinya sendiri.
Di sinilah tujuan program pemberdayaan UMKM seharusnya ditempatkan: bukan membuat pelaku usaha semakin bergantung pada bantuan, tetapi membuat mereka semakin mampu mengembangkan usahanya secara mandiri.
Pemerintah tetap penting. Bahkan sangat penting. Pemerintah dapat membuka akses terhadap pelatihan, pembiayaan, legalitas, teknologi, promosi, jaringan pasar, dan informasi. Tetapi semua fasilitas itu seharusnya menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan menjadi tempat pelaku usaha berhenti.
Ukuran keberhasilannya pun perlu bergerak dari sekadar menghitung kegiatan menuju melihat perubahan yang terjadi. Kita tentu boleh menghitung berapa produk yang dikurasi, berapa orang yang mengikuti pelatihan, berapa pameran yang diselenggarakan, atau berapa kemasan yang diperbaiki. Tetapi pertanyaan yang lebih penting muncul beberapa waktu kemudian: berapa usaha yang omzetnya meningkat? Berapa yang mendapatkan pelanggan baru? Berapa yang mampu meningkatkan kapasitas produksi? Berapa yang berhasil masuk pasar di luar Batam? Berapa yang mulai menciptakan lapangan kerja? Berapa yang mampu memperoleh pembiayaan karena bisnisnya semakin sehat?
Dan akhirnya: berapa yang sudah mampu berjalan tanpa terus menunggu program berikutnya?
Itulah ukuran kemandirian yang sesungguhnya.
Saya kira Batam memiliki peluang besar untuk membawa gagasan ini lebih jauh. Sebagai kota perdagangan, industri, jasa, dan pariwisata, Batam memiliki pasar yang jauh lebih luas daripada sekadar pasar lokal. Produk UMKM yang baik seharusnya tidak berhenti sebagai barang yang dipajang ketika ada acara atau pameran. Ia harus menemukan jalan menuju konsumen yang nyata, membangun pelanggan, memperkuat merek, dan tumbuh menjadi bisnis.
Karena itu, 180 produk yang masuk kurasi sebaiknya tidak diperlakukan hanya sebagai daftar produk yang berhasil melewati seleksi. Lebih menarik jika ia dipandang sebagai daftar 180 usaha yang sedang diberi kesempatan untuk naik kelas.
Kurasi adalah pintu masuk. Pelatihan adalah alat. Akses pasar adalah jembatan. Inovasi adalah mesin pertumbuhan. Dan kemandirian adalah tujuan.
Pada akhirnya, yang kita inginkan bukan sekadar lebih banyak produk unggulan. Kita ingin lebih banyak pengusaha yang unggul dalam belajar, beradaptasi, dan berinovasi.
Sebab produk bisa ditiru. Kemasan bisa ditiru. Resep bisa ditiru. Teknologi bahkan bisa dibeli. Tetapi kemampuan untuk terus belajar dari pasar, memperbaiki diri, dan menciptakan sesuatu yang lebih baik jauh lebih sulit ditiru.
Maka mungkin ukuran paling penting dari sebuah UMKM yang benar-benar telah naik kelas bukanlah ketika ia sekali berhasil menghasilkan produk unggulan.
Melainkan ketika ia sudah mampu menghasilkan keunggulan berulang kali.
