Etiket: Siapa yang Menerobos Masuk di Lift Itu Tadi?

Sebab etiket bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling santun. Ia lebih sederhana dari itu. Etiket adalah cara kecil kita mengatakan kepada orang lain: saya tahu Anda juga ada di sini. Saya tahu ruang ini bukan hanya milik saya. Saya tahu suara saya bisa mengganggu Anda. Saya tahu Anda mungkin ingin keluar dari lift sebelum saya masuk. Saya tahu sampah yang saya tinggalkan bukan akan hilang dengan sendirinya. Saya tahu ketika saya berdiri di depan tombol lift, mungkin ada orang lain yang membutuhkan tombol itu.

Oleh Hasan Aspahani

Ada yang namanya konvensi. Ada pula yang kita sebut kepatutan sosial. Tidak tertulis, tidak ada undang-undangnya, dan mungkin tidak pernah diajarkan secara khusus di sekolah. Tetapi kita tahu, atau setidaknya seharusnya tahu, bagaimana bersikap ketika hidup bersama orang lain.

Kalau menggunakan lift umum, misalnya, dahulukan orang yang hendak keluar. Jangan buru-buru menerobos masuk sebelum mereka yang di dalam selesai keluar. Kalau berdiri dekat panel tombol, barangkali kita bisa bertanya, “Lantai berapa?” lalu membantu menekan tombol untuk orang lain.

Hal-hal kecil seperti itu sebenarnya sederhana sekali.

Kalau duduk di ruang tunggu beramai-ramai, jangan berisik. Suara kita mungkin biasa saja bagi telinga sendiri, tetapi bisa sangat mengganggu orang lain yang sedang membaca, bekerja, beristirahat, atau sekadar ingin menikmati beberapa menit ketenangan. Jangan meninggalkan bungkus makanan dan wadah minuman di bawah kursi. Kalau sudah selesai, bawalah ke tempat sampah. Tinggalkan ruang yang kita gunakan dalam keadaan bersih, seperti ketika kita datang.

Saya kira, ini lebih banyak soal kebiasaan daripada pendidikan.

Pendidikan yang baik tentu bisa membantu seseorang memahami banyak hal. Tetapi memiliki pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang memiliki kebiasaan baik. Sebaliknya, orang yang pendidikannya biasa-biasa saja bisa sangat tahu bagaimana menempatkan diri ketika berada di tengah orang lain.

Mungkin karena etiket sebenarnya bukan terutama soal pengetahuan. Ia adalah soal kebiasaan memperhitungkan keberadaan orang lain. Kita tahu bahwa kita tidak sendirian. Dan karena itu, ada hal-hal yang sebaiknya kita lakukan tanpa harus diminta.

Kadang-kadang, tentu saja, mereka yang mendapat pendidikan bagus juga mendapatkan kebiasaan baik seperti itu. Tetapi hanya kadang-kadang. Kemarin saya menyaksikan sendiri kejadiannya.

Kami hendak menuju lantai 6 dari lantai 1 di sebuah rumah sakit. Lift sedang bergerak turun dari lantai 6. Penggunanya saat itu lumayan ramai. Ketika panel penunjuk lantai sampai di lantai 2, seorang lelaki menerobos ke depan pintu, menunggu di depan. Dan belum selesai orang-orang di dalam keluar, ia sudah menerobos masuk.

Dalam hati saya menggerutu, ini orang etiketnya buruk sekali, ya. Penampilannya sebenarnya memberi kesan sebaliknya. Rambutnya yang sedikit beruban tercukur rapi. Kemeja dan celananya necis. Ia tampak seperti seseorang yang terdidik dan terbiasa berada di lingkungan yang baik.

Begitu masuk lift, ia berdiri tepat di depan panel tombol. Saya ingin menekan tombol lantai 6. Tentu saya tidak bisa, terhalang olehnya. Saya menunggu beberapa saat, berharap ia mungkin bergeser sedikit. Tidak. Akhirnya saya harus menjulurkan tangan dan menekan sendiri tombol lantai 6 di samping tubuhnya.

Lift kemudian bergerak. Sampai di lantai 5, lelaki itu keluar. Seorang perawat yang kebetulan berada di dekat pintu lift menyapanya. “Selamat siang, Dok!”

Oh. Ternyata ia seorang dokter. Kenapa dia buru-buru sekali? Apakah ada pasien gawat yang harus segera ia periksa. Eh, tapi kan ini lift untuk pasien dan pengunjung?

Pikiran saya jadi ke mana-mana, bukan karena seorang dokter seharusnya otomatis lebih beretiket. Bukan pula karena saya merasa mendapatkan bukti bahwa penampilan memang bisa menipu. Saya justru tiba-tiba merasa bahwa saya sendiri sedang bercermin. Bukankah saya juga sedang belajar tentang etiket?

Bukan hanya etiket ketika menggunakan lift, tetapi juga etiket ketika berhadapan dengan orang yang menurut kita tidak beretiket. Saya bisa saja menegurnya. Bisa saja mengatakan, “Pak, tunggu dulu, yang di dalam mau keluar.” Bisa saja saya menunjukkan ketidaksenangan saya. Bahkan mungkin saya punya alasan untuk melakukannya.

Tetapi apakah setiap ketidaknyamanan harus dibalas dengan ketidaknyamanan? Saya kemudian berpikir, mungkin ada bagian lain dari etiket yang sering kita lupakan: tetap menjaga etiket ketika orang lain melanggarnya. Ini barangkali lebih sulit.

Menjadi sopan kepada orang yang sopan kepada kita bukan pekerjaan yang terlalu berat. Tantangannya justru ketika kita berhadapan dengan orang yang kasar, tidak peduli, menyerobot, berisik, atau melakukan sesuatu yang mengganggu kita.

Pada saat seperti itu kita punya pilihan. Kita bisa ikut menjadi kasar. Kita bisa menunjukkan bahwa kita tersinggung. Kita bisa membuat suasana semakin tidak nyaman. Atau kita bisa membiarkan ketidaknyamanan itu berhenti pada diri kita. Saya kira pilihan terakhir itu kadang-kadang lebih baik.

Bukan berarti kita harus selalu diam terhadap sesuatu yang salah. Kalau ada tindakan yang membahayakan orang lain, tentu kita perlu bersuara. Kalau ada ketidakadilan, kita tidak boleh menggunakan sopan santun sebagai alasan untuk membiarkannya.

Tetapi untuk hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak perlu selalu menjadi polisi etiket. Ada pelanggaran yang cukup kita sadari, lalu kita biarkan lewat.

Sebab etiket bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling santun. Ia lebih sederhana dari itu. Etiket adalah cara kecil kita mengatakan kepada orang lain: saya tahu Anda juga ada di sini. Saya tahu ruang ini bukan hanya milik saya. Saya tahu suara saya bisa mengganggu Anda. Saya tahu Anda mungkin ingin keluar dari lift sebelum saya masuk. Saya tahu sampah yang saya tinggalkan bukan akan hilang dengan sendirinya. Saya tahu ketika saya berdiri di depan tombol lift, mungkin ada orang lain yang membutuhkan tombol itu.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak membuat dunia menjadi jauh lebih baik. Tetapi hidup kita memang sebagian besar tersusun dari hal-hal kecil. Kita bertemu orang di lift. Kita duduk di ruang tunggu. Kita antre. Kita berbagi trotoar. Kita berada di kendaraan umum. Kita makan di tempat yang digunakan bersama. Kita menggunakan toilet umum. Kita menunggu giliran.

Di semua tempat itu, sebenarnya ada semacam kesepakatan diam-diam: saya akan berusaha tidak menyusahkan Anda, dan saya berharap Anda juga melakukan hal yang sama kepada saya. Mungkin itulah konvensi sosial. Ia tidak membutuhkan ijazah. Ia tidak membutuhkan seminar. Ia bahkan tidak membutuhkan orang lain untuk memuji kita. Ia hanya membutuhkan kebiasaan.

Dan kebiasaan itu bisa dimulai dari hal yang sangat kecil: menunggu orang keluar dari lift sebelum kita masuk. Kemudian, mungkin suatu hari, ketika seseorang tidak melakukan hal yang sama kepada kita, kita juga belajar sesuatu yang kecil: tidak semua ketidaksopanan harus kita wariskan kepada orang berikutnya.

Dokter itu mungkin sudah lupa kejadian di lift itu beberapa menit setelahnya. Saya juga tidak perlu mengingatnya terlalu lama. Tetapi ada sesuatu yang saya bawa pulang hari itu. Ternyata menjalani hidup bersama orang lain bukan hanya soal bagaimana kita memperlakukan mereka ketika mereka memperlakukan kita dengan baik.

Kadang-kadang, etiket justru diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang membuat kita ingin melanggarnya. Dan mungkin, kawan, menjaga ketenangan pada saat seperti itu adalah salah satu bentuk kesopanan juga. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *