Media Harus Menjadi Institusi yang Belajar Agar Tetap Relevan

Tantangan media sebenarnya bukan bagaimana mempertahankan bentuk lama dirinya, melainkan bagaimana terus belajar agar tetap relevan bagi publik. Media yang berhenti belajar akan kehilangan kemampuan untuk memahami masyarakat yang dilayaninya. Sebab kota berubah, warga berubah, cara orang bekerja dan berkomunikasi berubah, dan persoalan yang mereka hadapi pun terus berubah.

Oleh Hasan Aspahani

Media akan terus diperlukan. Publik membutuhkan informasi yang benar, berimbang, dan tidak bias sebagai bahan pertimbangan ketika mengambil keputusan. Keputusan itu bisa sangat besar—memilih pemimpin, menentukan sikap terhadap sebuah kebijakan, menilai kinerja pemerintah—tetapi bisa juga sangat sehari-hari: memilih sekolah, memahami perubahan aturan, mengetahui kondisi lingkungan tempat tinggal, atau menentukan apa yang harus dilakukan ketika sebuah masalah muncul di kota.

Teknologi terus berkembang. Cara orang membaca berita boleh berubah. Platform distribusi boleh berganti. Bahkan sekarang kecerdasan buatan sedang mengubah hampir seluruh cara informasi diproduksi dan dikonsumsi. Tetapi kebutuhan publik akan informasi yang dapat dipercaya tidak hilang.

Karena itu, tantangan media sebenarnya bukan bagaimana mempertahankan bentuk lama dirinya, melainkan bagaimana terus belajar agar tetap relevan bagi publik. Media yang berhenti belajar akan kehilangan kemampuan untuk memahami masyarakat yang dilayaninya. Sebab kota berubah, warga berubah, cara orang bekerja dan berkomunikasi berubah, dan persoalan yang mereka hadapi pun terus berubah.

Di sinilah media perlu melihat dirinya bukan hanya sebagai institusi yang memproduksi berita, melainkan sebagai institusi yang terus belajar. Media yang berhenti belajar akan segera kehilangan kemampuan untuk memahami masyarakat yang dilayaninya.

Sebab kota berubah. Warga berubah. Cara orang bekerja berubah. Cara orang berkomunikasi berubah. Masalah yang dihadapi masyarakat juga berubah. Bahkan apa yang dianggap penting oleh publik hari ini belum tentu sama dengan apa yang dianggap penting sepuluh tahun lalu. Maka kota dan warganya seharusnya tidak hanya dipandang sebagai objek pemberitaan. Mereka adalah laboratorium pembelajaran.

Wartawan tidak hanya datang ketika sebuah peristiwa terjadi lalu pulang membawa berita. Media dapat terus mengamati: apa yang berubah di sebuah kampung, bagaimana warga menggunakan ruang publik, mengapa sebuah kebijakan berhasil di satu tempat tetapi gagal di tempat lain, bagaimana anak-anak belajar, bagaimana pelaku usaha bertahan, bagaimana transportasi memengaruhi kehidupan warga, bagaimana sampah dikelola, bagaimana teknologi mengubah cara orang bekerja.

Dengan cara pandang seperti ini, kegiatan jurnalistik menjadi lebih panjang daripada siklus peristiwa–berita–selesai.

Media mengikuti persoalan. Mengamati. Bertanya. Menguji. Membandingkan. Mendengarkan. Belajar. Kemudian kembali lagi kepada masyarakat dengan informasi yang lebih baik.

Pemikiran Jeff Jarvis tentang networked journalism relevan di sini. Ia melihat jurnalisme sebagai proses kolaboratif: profesional dan publik dapat bekerja bersama untuk mendapatkan fakta, pertanyaan, jawaban, gagasan, dan perspektif. Yang penting bukan hanya produk akhirnya, melainkan proses bagaimana pengetahuan tentang sebuah persoalan dibangun.

Pandangan ini mengubah posisi warga. Warga bukan sekadar pembaca yang menerima berita. Mereka juga memiliki pengalaman, pengetahuan, pertanyaan, bahkan data yang mungkin tidak dimiliki oleh ruang redaksi. Dalam pengertian Jay Rosen, publik modern bukan lagi sekadar audience yang pasif; mereka memiliki kemampuan untuk ikut memproduksi, mengedarkan, dan menilai informasi.

Di sinilah kecerdasan buatan menjadi menarik. AI adalah alat yang bisa sangat membantu laboratorium pembelajaran itu.

Media dapat menggunakan AI untuk membaca dan mengorganisasi arsip yang selama ini tertimbun. Ia dapat membantu mencari pola dalam data kota, membandingkan dokumen kebijakan, mentranskripsikan wawancara, menerjemahkan dokumen, merangkum laporan yang panjang, menemukan perubahan dari waktu ke waktu, atau membantu wartawan menemukan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Bayangkan sebuah newsroom memiliki arsip berita tentang kota selama dua puluh tahun. Selama ini arsip itu sebagian besar berfungsi sebagai gudang. Dengan bantuan AI, arsip tersebut dapat berubah menjadi laboratorium.

Media dapat bertanya kepada arsipnya sendiri: Apa masalah yang terus berulang? Kebijakan apa yang pernah dicoba? Apa yang berubah setelah kebijakan itu diterapkan? Kawasan mana yang paling sering mengalami persoalan tertentu? Apa yang pernah dikatakan pejabat lima tahun lalu tentang persoalan yang sama? Apa yang belum pernah kita tanyakan?

Pertanyaan terakhir mungkin yang paling penting. Sebab AI bukan pengganti wartawan yang belajar dari masyarakat. AI adalah alat untuk membuat wartawan mampu belajar lebih banyak dari apa yang sudah tersedia, sehingga ia bisa pergi lebih jauh mencari apa yang belum tersedia.

Ini juga alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan istilah “eksperimen AI”. Ernest Kung dari Associated Press mengingatkan bahwa eksperimen memang penting, tetapi eksperimen saja memiliki keterbatasan. Teknologi baru perlu diterjemahkan menjadi proses yang benar-benar berguna, dapat dipelihara, dan digunakan secara bertanggung jawab dalam pekerjaan newsroom.

Jadi, persoalannya bukan apakah media harus menggunakan AI atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Untuk apa AI digunakan? Apakah untuk memproduksi berita sebanyak-banyaknya? Ataukah untuk membuat media lebih mampu memahami masyarakat? Apakah AI dipakai sekadar agar satu wartawan bisa menghasilkan sepuluh berita? Ataukah agar wartawan yang sama mempunyai lebih banyak waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan mesin: datang menemui manusia, mendengarkan mereka, melihat kenyataan secara langsung, dan mengajukan pertanyaan yang penting?

Di situlah masa depan media mungkin berada. Bukan pada kemampuan menghasilkan informasi dengan semakin cepat, karena mesin akan selalu lebih cepat. Bukan pula pada kemampuan menghasilkan teks dalam jumlah besar, karena AI akan membuat teks menjadi semakin murah.

Nilai media justru dapat semakin terletak pada kemampuannya memahami kehidupan yang ada di balik informasi. Sebuah kota yang baik membutuhkan media yang tidak sekadar memberitakan kota, tetapi belajar bersama kota. Warga bukan hanya sumber berita. Mereka adalah sumber pengetahuan. Peristiwa bukan hanya bahan berita. Ia adalah bahan untuk memahami perubahan. Arsip bukan hanya tempat menyimpan masa lalu. Ia adalah bahan untuk membaca pola. Dan AI bukan tujuan. AI adalah alat di dalam laboratorium itu.

Pada akhirnya, media yang akan bertahan bukanlah media yang paling cepat menghasilkan berita. Barangkali juga bukan yang paling banyak menghasilkan berita. Melainkan media yang paling mampu terus belajar—tentang kotanya, tentang warganya, tentang perubahan zaman, dan tentang dirinya sendiri.

Sebab selama publik masih membutuhkan alasan untuk memahami dunia dan mengambil keputusan, media masih diperlukan. Yang berubah hanyalah satu hal: media tidak boleh berhenti belajar. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *