Prekursor dan Katalisator: Bagaimana Seseorang Bekerja dalam Kehidupan Kita

Dalam hidup, ada orang-orang yang menjadi prekursor bagi kita. Mereka datang lebih dahulu, membawa sesuatu yang kemudian menjadi bagian dari diri kita: pengetahuan, gagasan, keberanian, cara melihat dunia, bahkan mungkin sebuah kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Sesudah itu mereka bisa saja pergi dari kehidupan kita. Namun sesuatu telah terbentuk karena mereka pernah hadir.

Oleh Hasan Aspahani

Kami bertemu di sebuah kafe vintage di Jalan Cikini. Bekas kantor pos tua yang kini menjadi restoran itu dipertahankan dengan desain interior bergaya lama. Kami duduk berhadapan, mengenang masa-masa yang sudah jauh lewat.

Dia teman SMA saya. Dari kelas satu sampai lulus, kami sekelas. Saya datang ke SMA sebagai anak SMP dari kampung. Dia datang sebagai anak SMP terbaik di Balikpapan. Pada hari-hari pertama saya di sekolah, ketika saya masih kikuk menyesuaikan diri dengan anak-anak kota, dia banyak membantu saya.

“Kamu itu bagi saya seperti prekursor,” kata saya.

Saya tahu kata itu terdengar sedikit ganjil untuk sebuah percakapan antarteman. Prekursor adalah istilah dalam kimia: zat yang hadir lebih dahulu dan menjadi bahan awal bagi terbentuknya zat lain. Ia bukan katalisator. Katalisator membantu sebuah reaksi berlangsung, sementara prekursor hadir sebagai bagian dari proses yang memungkinkan sesuatu yang lain terbentuk.

Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa kedua istilah itu berguna untuk memahami hubungan kita dengan orang lain.

Dalam hidup, ada orang-orang yang menjadi prekursor bagi kita. Mereka datang lebih dahulu, membawa sesuatu yang kemudian menjadi bagian dari diri kita: pengetahuan, gagasan, keberanian, cara melihat dunia, bahkan mungkin sebuah kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Sesudah itu mereka bisa saja pergi dari kehidupan kita. Namun sesuatu telah terbentuk karena mereka pernah hadir.

Ada pula orang yang berperan sebagai katalisator. Mereka tidak harus mengajari kita sesuatu yang sama sekali baru. Mereka membuat sesuatu yang sebenarnya sudah ada dalam diri kita menjadi bekerja. Mereka memberi kepercayaan, membuka kesempatan, mengajukan pertanyaan, atau sekadar mengatakan, “Cobalah.” Dalam kondisi yang tepat, sesuatu yang semula diam tiba-tiba bergerak.

Guru dapat menjadi prekursor bagi muridnya, tetapi pada saat yang lain menjadi katalisator. Seorang guru memberikan pengetahuan yang menjadi dasar bagi perjalanan murid. Tetapi guru yang baik juga tahu kapan harus berhenti berbicara dan memberi kesempatan kepada murid untuk menemukan kemampuannya sendiri.

Seorang manajer pun demikian. Ia bisa menjadi prekursor ketika memperkenalkan gagasan, sistem, atau arah baru kepada organisasinya. Tetapi ia menjadi katalisator ketika ia menciptakan keadaan yang memungkinkan orang-orang di dalam organisasi bekerja dengan kemampuan terbaik mereka.

Begitu pula seorang pemimpin bisnis. Ada saat ketika ia harus menjadi orang yang memulai sesuatu—membuka jalan, mengambil risiko, membawa gagasan yang belum ada. Pada saat lain, tugasnya justru bukan menjadi pusat dari segala sesuatu, melainkan menghubungkan orang, menghilangkan hambatan, memberi ruang, dan membuat organisasi bergerak tanpa harus selalu menunggu dirinya.

Barangkali demikian pula kita dalam kehidupan orang-orang yang kita temui.

Kita bisa menjadi prekursor bagi seseorang tanpa pernah menyadarinya. Sebuah percakapan yang bagi kita biasa saja mungkin menjadi awal dari keputusan besar dalam hidup orang lain. Sebuah buku yang kita berikan mungkin menjadi pintu menuju sebuah dunia baru. Sebuah kesempatan yang kita berikan kepada seorang anak muda mungkin menjadi awal dari kariernya.

Dan kita bisa menjadi katalisator tanpa merasa telah melakukan sesuatu yang istimewa. Kita hanya mempercayai seseorang ketika ia sendiri belum percaya pada kemampuannya. Kita hanya memberi kesempatan. Kita hanya mengatakan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Namun ada sesuatu yang lebih menarik dari kedua peran itu: kita dapat bergantian menjadi prekursor dan katalisator.

Dalam satu hubungan, kita mungkin menjadi orang yang membuka jalan. Dalam hubungan yang lain, kita justru orang yang membantu sesuatu yang sudah ada agar tumbuh. Dalam satu masa kehidupan, kita membutuhkan seseorang yang menjadi prekursor; pada masa berikutnya, kita mungkin membutuhkan katalisator.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, orang yang sama dapat memainkan kedua peran itu.

Teman saya di kafe Cikini itu, misalnya. Ia bukan hanya membantu saya melewati kekikukan pada hari-hari pertama di SMA. Ia juga, mungkin tanpa sadar, memperkenalkan saya pada kemungkinan bahwa saya bisa menjadi bagian dari dunia yang semula terasa asing bagi saya.

Ia hadir lebih dahulu sebelum saya menemukan bentuk diri saya yang baru.

Tetapi mungkin bukan hanya itu.

Dengan membantu saya, dengan memperlakukan saya sebagai teman ketika saya sendiri merasa sebagai orang luar, ia juga membuat sesuatu dalam diri saya mulai bekerja: keberanian untuk beradaptasi, rasa percaya diri, dan keinginan untuk belajar dari lingkungan baru.

Maka, kalau saya kembali kepada istilah yang saya ucapkan kepadanya di kafe tua itu, saya mungkin harus mengoreksi diri sendiri.

“Kamu bukan hanya prekursor,” mungkin begitu seharusnya saya katakan. “Kamu juga katalisator.”

Sebab pada akhirnya, arti seseorang dalam hidup kita tidak selalu dapat diukur dari apa yang ia berikan kepada kita. Kadang yang lebih penting adalah apa yang menjadi mungkin dalam diri kita karena ia pernah hadir.

Dan barangkali, di situlah salah satu bentuk paling sederhana dari arti kehadiran manusia bagi manusia lain.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *