Kita bisa memilih dengan pertimbangan yang baik, dengan informasi yang kita punya, dengan niat yang baik, dan tetap saja bisa gagal. Itu bagian dari kehidupan. Keputusan tidak pernah datang dengan jaminan keberhasilan.
Oleh Hasan Aspahani
Ketika SMA di Balikpapan, pada akhir 1980-an, terbitlah sebuah koran lokal. Saya membaca koran itu dan melihat sesuatu yang menarik: tidak ada kartun strip harian di sana. Saya berpikir, mungkin ini peluang buat saya. Saya merasa punya bakat menggambar kartun. Paman saya yang mengajar Bahasa Inggris berlangganan koran berbahasa Inggris, dan dari koran-koran itulah saya mengenal Peanuts dan Garfield. Saya suka melihat bagaimana cerita yang sederhana bisa disampaikan hanya dalam beberapa kotak gambar.
Beberapa malam setelah PR sekolah selesai, saya mulai menggambar kartun strip. Saya memberinya nama KETUPAT, singkatan dari Kelas I–IV, nama kelas saya. Waktu itu saya tentu tidak membayangkan bahwa nama yang sederhana itu akan ikut berjalan cukup jauh bersama saya.
Sampai terkumpul sekitar 40 kartun. Saya tidak terlalu yakin apakah gambar-gambar itu cukup bagus untuk dimuat di koran. Tetapi kemudian saya berpikir, kalau saya ingin tahu, satu-satunya cara adalah membawanya ke kantor redaksi. Pilihannya sebenarnya sederhana: saya tawarkan atau tidak. Kalau saya tawarkan, kartun-kartun itu mungkin diterima, mungkin juga ditolak. Tetapi kalau tidak saya tawarkan, saya sudah tahu hasilnya: pasti tidak akan dimuat.
Maka saya memutuskan untuk berangkat. Dua teman sekelas menemani saya.
Kartun saya diterima untuk dimuat. Dan selebihnya, buat saya, adalah cerita yang panjang. Dari keputusan kecil itu, muncul banyak hal baru yang membuka banyak jalan keberhasilan dalam hidup saya. Saya bertemu dengan dunia yang sebelumnya tidak saya kenal, dunia surat kabar, berkenalan dengan orang-orang baru, dan menemukan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Ketika saya melihat kembali peristiwa itu sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, yang menarik bagi saya bukan semata-mata bahwa kartun saya diterima. Yang lebih penting adalah keputusan untuk membawanya ke kantor redaksi.
Sebab ketika saya berangkat waktu itu, saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya tidak membawa kepastian bahwa gambar saya akan dimuat. Saya tidak tahu apakah surat kabar lokal yang hanya terit 8 halaman itu memerlukan komik strip. Saya hanya membawa sebuah kemungkinan. Dan saya memilih untuk mencobanya.
Barangkali memang begitulah sebagian besar keputusan dalam hidup. Kita sering merasa bahwa untuk bisa memilih, harus ada beberapa pilihan yang tersedia. Ada jalan A, jalan B, jalan C. Kita kemudian membandingkan semuanya, menghitung untung dan rugi, bertanya kepada banyak orang, dan berharap ada satu pilihan yang paling benar. Padahal kehidupan tidak selalu menyediakan keadaan yang serapi itu. Kadang-kadang di hadapan kita hanya ada satu jalan.
Dalam keadaan seperti itu kita sering berkata, “Saya tidak punya pilihan.”
Tetapi benarkah? Kalau hanya ada satu pilihan di hadapan kita, kita masih bisa memutuskan untuk mengambilnya atau tidak. Kita bisa berkata ya, atau berkata tidak. Kita bisa berjalan, atau berhenti. Kita bahkan bisa memilih untuk tidak memilihnya. Dan keputusan untuk tidak memilih itu pun sesungguhnya adalah sebuah keputusan.
Mungkin di situlah letak kebebasan yang sederhana. Bukan pada banyaknya pilihan yang tersedia, melainkan pada kenyataan bahwa kita masih dapat mengambil keputusan atas apa yang tersedia di hadapan kita.
Tentu saja, mengambil keputusan tidak berarti kita pasti berhasil. Saya beruntung waktu itu. Kartun saya diterima. Tetapi bagaimana kalau ternyata ditolak? Saya mungkin akan pulang membawa kembali 40 kartun itu. Saya mungkin kecewa. Mungkin saya berhenti menggambar. Mungkin juga saya menggambar lebih banyak dan mencoba lagi. Saya tidak tahu. Tidak ada cara untuk mengetahui semua kemungkinan sebelum kita menjalani sebuah keputusan.
Kita bisa memilih dengan pertimbangan yang baik, dengan informasi yang kita punya, dengan niat yang baik, dan tetap saja bisa gagal. Itu bagian dari kehidupan. Keputusan tidak pernah datang dengan jaminan keberhasilan.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih pasti: kalau saya waktu itu tidak membawa 40 kartun tersebut ke kantor redaksi, saya sudah tahu hasilnya. Pasti tidak dimuat.
Saya kira hal semacam itu berlaku dalam banyak hal. Kita mungkin menawarkan sebuah gagasan dan orang lain menolaknya. Kita mungkin memulai pekerjaan baru dan ternyata tidak berhasil. Kita mungkin membuat sesuatu dan tidak ada yang menyukainya. Kita mungkin mengambil sebuah jalan dan kemudian menyadari bahwa jalan itu bukan yang kita bayangkan. Semua itu mungkin terjadi.
Tetapi ketika kita berani memutuskan, setidaknya ada kemungkinan sesuatu terjadi. Ada pengalaman yang kita dapatkan. Ada sesuatu yang kita pelajari. Ada kemungkinan bertemu dengan orang baru, menemukan jalan baru, atau membuka pintu yang sebelumnya tidak terlihat.
Sedangkan ketika kita tidak memutuskan, kita sudah menutup semua kemungkinan itu sejak awal.
Kita mungkin gagal karena keputusan yang kita ambil. Tetapi ketika kita tidak mengambil keputusan, kita pasti tidak berhasil.
Saya kira, karena itu, bahagia bukan selalu soal mendapatkan apa yang kita inginkan. Bahagia mungkin juga berkaitan dengan kemampuan kita untuk mengatakan kepada diri sendiri, “Saya memilih ini.”
Pilihan itu mungkin bukan pilihan yang sempurna. Mungkin bukan pilihan yang paling mudah. Bahkan mungkin bukan pilihan yang paling kita sukai. Tetapi ketika kita sudah memutuskan untuk mengambilnya, kita bisa menjalaninya sebagai pilihan terbaik yang dapat kita ambil pada saat itu—dengan keadaan yang kita punya, dengan pengetahuan yang kita punya, dan dengan keberanian yang kita punya.
Selebihnya, biarlah kehidupan menentukan hasilnya.
Saya sering membayangkan kembali anak SMA di Balikpapan itu. Ia yang membawa sekitar 40 gambar ke sebuah kantor redaksi. Ia belum tahu bahwa langkah kecil itu kelak akan membuka cerita yang panjang dalam hidupnya. Ia belum tahu pekerjaan apa yang akan dijalaninya, siapa saja yang akan ditemuinya, dan jalan-jalan apa yang akan terbuka. Ia hanya melihat sebuah peluang dan memutuskan untuk mengetuk pintunya.
Barangkali hidup memang tidak selalu memberi kita banyak pilihan. Kadang hanya satu. Kadang pilihan itu bahkan bukan sesuatu yang kita inginkan. Tetapi mungkin selalu ada satu hal yang masih bisa kita lakukan: memutuskan.
Kita mungkin gagal. Tidak apa-apa. Kegagalan masih menyisakan kemungkinan untuk belajar, mencoba lagi, atau menemukan jalan lain.
Tetapi kalau kita tidak memutuskan, kita tidak pernah berangkat.
Empat puluh kartun itu mungkin akan tetap menjadi empat puluh gambar di kamar saya, tidak pernah menjadi apa-apa.
Dan dari pengalaman kecil itu saya belajar sesuatu yang baru saya pahami setelah hidup berjalan cukup jauh: kita tidak selalu bisa memilih apa yang datang dalam hidup. Tetapi kita masih bisa memilih apa yang akan kita lakukan terhadapnya. []
