Kenapa Festival Media Selat Malaka 2026 di Tanjungpinang penting?
Oleh Hasan Aspahani
Pertanyaan ini membawa kita pada salah satu dari sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel: “make the significant interesting and relevant”—membuat persoalan yang penting menjadi menarik dan relevan bagi publik.
Persoalannya, sesuatu yang penting tidak selalu dengan sendirinya menarik perhatian orang. Kebebasan pers penting. Lingkungan dan perubahan iklim penting. Demokrasi, hak asasi manusia, perkembangan teknologi, persoalan ekonomi dan kehidupan kota juga penting. Tetapi bagaimana membuat semua itu terasa dekat dengan kehidupan publik?
Di situlah media tidak cukup hanya memberitakan. Media juga perlu menciptakan ruang bagi publik untuk membicarakan, mempertanyakan, dan memahami persoalan-persoalan tersebut.
Seminar, lokakarya, diskusi publik, sarasehan, dan berbagai bentuk pertemuan adalah salah satu caranya. Festival Media Selat Malaka menjadi ruang semacam itu: ruang tempat pekerja pers bertemu dengan masyarakat, akademisi, mahasiswa, komunitas, pemerintah, dan berbagai kelompok lain untuk membicarakan persoalan yang penting bagi kehidupan bersama.
Dan ketika kegiatan itu dibuka untuk umum, publik tidak ditempatkan semata-mata sebagai konsumen berita.
Publik menjadi bagian dari percakapan. Ini penting terutama bagi media lokal. Sebab kota dan warganya bukan hanya objek pemberitaan. Kota adalah laboratorium pembelajaran bagi media.
Setiap hari kota mengalami perubahan. Ada kebijakan yang dijalankan, persoalan yang muncul, program yang berhasil atau gagal, perubahan perilaku warga, perkembangan ekonomi, persoalan lingkungan, dan berbagai peristiwa yang membentuk kehidupan bersama. Warga mengalaminya secara langsung. Mereka memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mungkin tidak ditemukan dalam dokumen resmi atau siaran pers.
Media perlu belajar dari semua itu. Jeff Jarvis, dalam gagasannya tentang networked journalism, melihat jurnalisme bukan hanya sebagai produk berita, tetapi sebagai sebuah proses yang memungkinkan wartawan dan publik bersama-sama menemukan fakta, pertanyaan, jawaban, gagasan, dan perspektif. Dengan cara pandang ini, hubungan antara media dan publik menjadi lebih hidup: publik bukan hanya pihak yang menerima informasi, tetapi juga sumber pengetahuan dan bagian dari proses jurnalistik.
Maka media yang ingin tetap relevan bagi publik harus menjadi institusi yang terus belajar. Bukan hanya belajar tentang teknologi dan cara baru menyampaikan berita, tetapi belajar tentang masyarakat yang dilayaninya. Apa yang sebenarnya sedang berubah di kota? Apa yang dirasakan warga? Mengapa sebuah persoalan terus berulang? Apa yang terjadi setelah sebuah kebijakan diberlakukan? Apa yang belum diketahui?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat jurnalisme tidak berhenti pada siklus peristiwa–berita–selesai. Media dapat mengikuti persoalan lebih jauh, melihat perkembangannya, menguji kembali informasi yang pernah diberitakan, dan mempertemukan berbagai perspektif.
Dalam pengertian itu, Festival Media Selat Malaka bukan sekadar agenda organisasi pers. Ia adalah sebuah ruang belajar.
Media membawa persoalan ke ruang publik, lalu mendengarkan kembali suara publik. Para jurnalis datang bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendapatkan pertanyaan baru. Akademisi membawa pengetahuan. Komunitas membawa pengalaman. Warga membawa kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari.
Dari pertemuan itulah pemahaman publik dapat tumbuh.
Dan barangkali inilah makna paling penting dari salah satu elemen jurnalisme Kovach dan Rosenstiel tadi. Membuat yang signifikan menjadi menarik dan relevan bukan berarti membuat persoalan penting menjadi hiburan. Relevansi berarti menemukan hubungan antara persoalan itu dan kehidupan nyata masyarakat.
Sebab publik tidak hanya membutuhkan berita. Publik membutuhkan pemahaman. Karena itu, media tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang terjadi?” Media juga harus berani bertanya, “Apa artinya bagi kita?” Festival Media Selat Malaka dapat menjadi salah satu cara untuk mengajukan pertanyaan itu secara bersama-sama.
Media bertemu publik. Publik bertemu media. Persoalan yang selama ini hanya menjadi bahan pemberitaan dibawa ke ruang percakapan. Dan dari percakapan itu, media belajar kembali tentang masyarakatnya.
Pada akhirnya, mungkin ukuran penting sebuah media bukan hanya seberapa banyak berita yang dihasilkannya, atau seberapa cepat berita itu sampai kepada pembaca. Ukuran lainnya adalah seberapa baik ia memahami publik yang dilayaninya.
Untuk itu media harus terus belajar. Belajar dari kota. Belajar dari warga. Belajar dari perubahan. Dan, yang paling penting, belajar untuk terus menemukan cara membuat persoalan yang penting tetap menarik, tetap bermakna, dan tetap relevan bagi publik.
Itulah salah satu alasan mengapa Festival Media Selat Malaka penting. []
