Oleh Hasan Aspahani
Karakter yang sendirian mempunyai kemungkinan yang terbatas. Ia bisa berpikir, bertindak, gagal, berhasil, marah, takut, atau melakukan sesuatu yang konyol. Tetapi begitu karakter itu bertemu dengan karakter lain, kemungkinan ceritanya segera berlipat ganda. Karakter menghasilkan tindakan; relasi menghasilkan reaksi. Dan dari reaksi itulah banyak comic strip menemukan ceritanya.
Kita bisa melihatnya dengan cara yang sangat sederhana. Garfield sendirian mungkin hanya tidur. Jon sendirian mungkin hanya bekerja. Odie sendirian mungkin hanya melakukan sesuatu yang polos. Tetapi ketika ketiganya berada di ruangan yang sama, keadaan berubah. Garfield menginginkan sesuatu, Jon mempunyai aturan, Odie melakukan sesuatu yang tidak terduga. Tidak diperlukan peristiwa besar. Hubungan mereka sendiri sudah merupakan sumber konflik.
Inilah salah satu kekuatan terbesar comic strip: karakter tidak harus mencari petualangan ke tempat yang jauh. Mereka cukup bertemu satu sama lain.
Charlie Brown dan Lucy bertemu, muncul persoalan baru. Calvin dan Hobbes bertemu, dunia biasa dapat berubah menjadi dunia imajinasi. Jon dan Garfield bertemu, kehidupan domestik menjadi arena komedi. Beetle Bailey bertemu Sarge, hubungan antara bawahan dan atasan langsung menyediakan permainan yang hampir tak ada habisnya.
Karena itu, ketika kita merancang comic strip, kita tidak cukup membuat daftar karakter. Kita perlu membuat peta hubungan.
Siapa berteman dengan siapa? Siapa bermusuhan dengan siapa? Siapa selalu mengganggu siapa? Siapa yang merasa lebih pintar? Siapa yang lebih berkuasa? Siapa yang sebenarnya bergantung kepada siapa? Dan yang paling menarik: siapa yang mengira dirinya berkuasa, padahal sebenarnya tidak?
Pertanyaan terakhir sering menjadi ladang emas komedi.
Relasi Tidak Harus Berupa Konflik Besar
Kita sering mengira konflik berarti pertengkaran. Padahal dalam comic strip, konflik dapat sangat kecil.
Dua orang ingin duduk di kursi yang sama. Satu orang ingin menonton televisi, yang lain ingin mematikannya. Seorang anak ingin bermain, ibunya ingin ia belajar. Seekor kucing ingin tidur, pemiliknya ingin bermain dengannya. Seorang pegawai ingin pulang, bosnya baru saja memberikan pekerjaan.
Tidak ada yang dramatis. Tetapi ada keinginan yang tidak kompatibel.
Dan ketika dua keinginan bertabrakan, cerita sudah dimulai.
Di sini kita menemukan pola yang sangat sederhana: aku ingin sesuatu, kamu menginginkan sesuatu yang berbeda, maka sesuatu harus terjadi.
Comic strip kemudian mencari cara paling lucu untuk menyelesaikan benturan itu. Kadang salah satu karakter menang. Kadang keduanya kalah. Kadang ada karakter ketiga yang justru mendapatkan keuntungan. Kadang masalahnya selesai, tetapi dengan cara yang sama sekali tidak kita duga. Dan kadang-kadang tidak ada yang benar-benar menang. Kita hanya mendapatkan sebuah situasi yang absurd.
Karakter yang Berbeda Membuat Humor Lebih Mudah
Relasi yang produktif biasanya dibangun dari perbedaan.
Bayangkan dua karakter yang sama-sama pemalu, sama-sama hati-hati, sama-sama takut mengambil keputusan. Mereka mungkin menghasilkan cerita yang lembut, tetapi kemungkinan konflik komedinya relatif terbatas.
Sekarang ubah salah satunya menjadi orang yang sangat percaya diri. Yang satu berpikir sepuluh kali sebelum berbicara; yang satu lagi berbicara sebelum berpikir. Yang satu takut melakukan kesalahan; yang satu tidak pernah merasa dirinya salah.
Pertemuan mereka sudah menghasilkan tegangan.
Karena itu, karakter-karakter dalam comic strip sering kali bekerja seperti pasangan kutub: serius—konyol, rajin—malas, polos—licik, pintar—bodoh, optimistis—pesimistis, dominan—penurut, realistis—imajinatif.
Semakin jelas perbedaannya, semakin mudah pembaca memahami dinamika mereka.
Tetapi perbedaan tidak harus selalu ekstrem. Kadang hubungan yang menarik justru muncul karena dua karakter sangat mirip, tetapi mempunyai kepentingan yang berbeda. Dua orang yang sama-sama keras kepala, misalnya, dapat menghasilkan konflik yang berbeda dari hubungan antara orang keras kepala dengan orang penurut.
Jadi yang kita cari bukan sekadar opposites attract, melainkan gesekan karakter.
Setiap Karakter Membutuhkan Lawan Main
Seorang aktor bisa tampil sendirian di panggung. Tetapi dalam comic strip, karakter sering menjadi jauh lebih hidup ketika mempunyai lawan main yang tepat.
Lawan main tidak harus musuh. Hobbes adalah lawan main Calvin. Jon adalah lawan main Garfield. Odie adalah lawan main Garfield dalam jenis permainan yang berbeda. Lucy adalah lawan main Charlie Brown dalam banyak situasi.
Yang penting adalah bahwa kehadiran karakter kedua mengeluarkan sesuatu dari karakter pertama yang mungkin tidak muncul ketika ia sendirian.
Garfield menjadi lebih Garfield ketika berhadapan dengan Jon. Calvin menjadi lebih Calvin ketika berhadapan dengan orang tuanya. Charlie Brown menjadi lebih Charlie Brown ketika berhadapan dengan Lucy atau teman-temannya.
Ini prinsip yang sangat berguna bagi kreator:
Jangan hanya bertanya apakah karakter Anda menarik. Tanyakan: dengan siapa karakter itu menjadi paling menarik?
Karena bisa saja kita mempunyai karakter yang bagus, tetapi memasangkannya dengan karakter yang salah. Atau sebaliknya, karakter yang tampaknya sederhana justru menjadi luar biasa ketika mendapatkan pasangan yang tepat.
Hubungan Melahirkan Peran
Dalam hubungan yang berulang, masing-masing karakter akhirnya mendapatkan semacam peran komedi.
Ada yang menjadi pengganggu. Ada yang menjadi korban. Ada yang menjadi pengamat. Ada yang menjadi penengah. Ada yang selalu merasa paling benar. Ada yang selalu salah. Ada yang tidak memahami lelucon. Ada yang memahami semuanya tetapi memilih diam.
Peran-peran itu membuat pembaca cepat memahami situasi.
Kita bahkan bisa menciptakan lelucon hanya dengan mengaktifkan kembali peran tersebut. Karakter A mengatakan sesuatu. Kita sudah tahu karakter B akan tersinggung. Atau karakter A melakukan sesuatu. Kita sudah tahu karakter C akan memanfaatkannya. Atau karakter B sedang menjelaskan sesuatu dengan sangat serius. Kita sudah menunggu karakter A menghancurkan keseriusan itu.
Ekspektasi pembaca menjadi bagian dari mekanisme humor.
Ini sangat penting untuk comic strip yang terbit setiap hari. Kartunis tidak perlu menjelaskan kembali hubungan mereka. Pembaca sudah membawa pengetahuan dari strip-strip sebelumnya.
Satu tatapan bisa cukup.
Satu kata bisa cukup.
Bahkan tidak perlu ada dialog.
Segitiga yang Menghidupkan Cerita
Dua karakter sudah menghasilkan kemungkinan. Tiga karakter dapat menghasilkan lebih banyak lagi. Bukan semata-mata karena jumlahnya bertambah satu, tetapi karena kombinasi hubungan bertambah.
A berhadapan dengan B.
B berhadapan dengan C.
A berhadapan dengan C.
Dan A, B, C bersama-sama.
Karakter ketiga dapat berfungsi sebagai pengubah keseimbangan. A dan B sedang bertengkar, lalu C datang dan mengatakan satu kalimat yang mengubah seluruh situasi. Atau A sedang berusaha menipu B, sementara C sebenarnya mengetahui rencana A tetapi tidak mengatakan apa-apa. Atau A dan B sibuk melakukan sesuatu yang konyol sementara C berdiri di samping mereka dengan ekspresi datar.
Karakter ketiga tidak selalu harus melakukan sesuatu.
Kadang reaksinya saja sudah menjadi punchline.
Ini membawa kita pada hal yang nanti sangat penting ketika kita membongkar panel demi panel: siapa yang memulai permainan dan siapa yang mengakhirinya?
Karakter yang membuka strip belum tentu karakter yang memberikan pukulan terakhir.
Relasi yang Tidak Pernah Selesai
Ada satu kualitas yang membuat relasi sangat berguna untuk comic strip: hubungan dapat terus dimainkan tanpa harus diselesaikan.
Garfield dan Jon tidak perlu mencapai rekonsiliasi. Calvin tidak perlu akhirnya memahami nasihat orang tuanya. Charlie Brown tidak perlu memenangkan setiap pertandingan. Sarge tidak perlu berhasil mengubah Beetle Bailey menjadi prajurit ideal.
Hubungan mereka boleh terus berada dalam keadaan yang sama.
Tetapi permainannya berubah setiap kali.
Inilah yang memungkinkan satu hubungan menghasilkan puluhan, ratusan, bahkan ribuan strip.
Dan di sini kita menemukan hubungan yang erat antara tiga bab sebelumnya dengan bab ini.
Semesta menyediakan tempat.
Karakter menyediakan sifat.
Relasi menyediakan benturan.
Dari benturan itu lahir situasi. Dan situasi itulah yang kemudian dapat diolah menjadi gag.
Namun sebelum gag bekerja, kita perlu memahami sesuatu yang lebih mendasar: permainan apa sebenarnya yang terus dimainkan oleh sebuah comic strip?
Garfield bukan sekadar kucing yang melakukan hal-hal lucu. Garfield mempunyai permainan dasarnya sendiri. Calvin & Hobbes mempunyai permainan dasarnya sendiri. Peanuts mempunyai permainan dasarnya sendiri. Beetle Bailey mempunyai permainan dasarnya sendiri.
Permainan dasar itulah yang membuat sebuah comic strip mempunyai identitas sekaligus umur panjang. []
