Meminimalkan Sampah yang Berakhir di TPA

Pemilahan dari sumber menjadi fondasi penting. Sampah dari rumah tangga, perkantoran, kawasan komersial, hotel, restoran, dan industri tidak seharusnya diperlakukan sebagai satu benda yang sama. Ketika semua dicampur sejak awal, biaya untuk memulihkan material yang masih bernilai menjadi lebih mahal dan sebagian bahkan kehilangan peluang untuk dimanfaatkan.

Oleh Hasan Aspahani

Sampah adalah konsekuensi kemajuan sebuah kota. Semakin banyak orang tinggal, bekerja, berbelanja, makan, dan beraktivitas, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Karena itu, sampah bukan sesuatu yang berada di luar pembangunan kota. Ia justru merupakan salah satu konsekuensi yang harus dipikirkan sejak awal ketika sebuah kota tumbuh.

Batam menghadapi persoalan itu. Dengan jumlah sampah yang mencapai lebih dari seribu ton setiap hari, persoalannya tidak lagi cukup dilihat sebagai urusan kebersihan lingkungan atau kemampuan armada mengangkut sampah. Ketika sebuah truk rusak dan sampah di suatu kawasan tidak terangkut selama berhari-hari, yang terlihat memang persoalan operasional. Tetapi di baliknya ada pertanyaan yang jauh lebih besar: seberapa tangguh sebenarnya sistem pengelolaan sampah sebuah kota?

Selama ini kita cenderung membayangkan pengelolaan sampah sebagai sebuah rantai yang sederhana: warga membuang, petugas mengangkut, kemudian sampah dibawa ke tempat pembuangan akhir. Dalam pola seperti itu, semakin banyak sampah yang dihasilkan kota, semakin banyak pula truk yang dibutuhkan, semakin sering pengangkutan harus dilakukan, dan pada akhirnya semakin besar pula beban yang harus ditanggung TPA.

Cara berpikir seperti itu perlu diubah.

Persoalan sampah bukan terutama bagaimana memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan bagaimana mengurangi jumlah sampah yang memang harus berakhir di tempat pembuangan akhir.

Perubahan cara pandang ini penting. Sebab tidak semua benda yang kita masukkan ke tempat sampah sesungguhnya merupakan sampah yang harus dibuang. Sebagian masih dapat digunakan kembali. Sebagian dapat didaur ulang. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos. Jenis sampah organik tertentu dapat dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Material yang memiliki nilai ekonomi dapat masuk kembali ke dalam rantai produksi.

Dengan kata lain, yang kita sebut “sampah” sesungguhnya terdiri atas berbagai jenis material dengan nasib yang berbeda-beda.

Karena itu, sistem yang lebih masuk akal bukan lagi sekadar buang–angkut–TPA, melainkan pilah–olah–manfaatkan kembali–dan buang hanya residunya.

Pemilahan dari sumber menjadi fondasi penting. Sampah dari rumah tangga, perkantoran, kawasan komersial, hotel, restoran, dan industri tidak seharusnya diperlakukan sebagai satu benda yang sama. Ketika semua dicampur sejak awal, biaya untuk memulihkan material yang masih bernilai menjadi lebih mahal dan sebagian bahkan kehilangan peluang untuk dimanfaatkan.

Sebaliknya, ketika sampah dipilah sejak sumbernya, terbentuk beberapa jalur pengelolaan. Material yang masih dapat digunakan kembali mempunyai jalurnya sendiri. Sampah yang dapat didaur ulang mempunyai jalur lain. Sampah organik dapat diolah. Yang tersisa barulah residu.

Di sinilah TPA seharusnya ditempatkan dalam sistem tersebut: bukan sebagai tujuan utama pengelolaan sampah, melainkan sebagai tujuan terakhir bagi sampah yang memang sudah tidak memiliki pilihan pengelolaan lain.

Prinsip ini sebenarnya mengubah cara kita mengukur keberhasilan pengelolaan sampah. Selama ini keberhasilan sering kali dilihat dari kemampuan pemerintah mengangkut seluruh sampah yang dihasilkan warga. Tentu pengangkutan tetap penting. Kota yang sampahnya tidak terangkut akan segera menghadapi persoalan kesehatan dan lingkungan.

Tetapi kemampuan mengangkut bukanlah akhir dari cerita.

Kota yang baik justru harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih sulit: dari seribu ton sampah yang dihasilkan setiap hari, berapa yang berhasil dicegah menjadi sampah, berapa yang digunakan kembali, berapa yang didaur ulang, berapa yang diolah menjadi kompos atau produk lain, dan berapa yang akhirnya benar-benar harus masuk ke TPA?

Angka-angka itulah yang semestinya menjadi bagian dari ukuran kinerja pengelolaan sampah kota.

Sebab ada perbedaan besar antara kota yang mampu mengangkut 1.300 ton sampah ke TPA setiap hari dengan kota yang menghasilkan jumlah sampah yang sama tetapi hanya mengirimkan sebagian kecilnya ke TPA karena sebagian lainnya sudah dipilah dan diolah sejak dari sumber.

Keduanya sama-sama terlihat “bersih” di permukaan. Tetapi sistem yang kedua jauh lebih berkelanjutan.

Ini juga berarti pemerintah kota tidak cukup hanya memikirkan armada. Armada tetap diperlukan, tetapi fungsinya harus menjadi bagian dari sistem yang lebih besar. Ketika pemilahan sudah dilakukan, sistem pengumpulan juga harus mengikuti pemilahan tersebut. Tidak ada gunanya meminta warga memisahkan sampah organik dan anorganik jika semuanya kemudian kembali dicampur dalam proses pengangkutan.

Begitu pula dengan fasilitas pengolahan. Pemilahan harus diikuti oleh tempat dan mekanisme untuk mengolah material yang sudah dipisahkan. Sampah organik membutuhkan fasilitas pengomposan atau pengolahan lain. Material yang bernilai membutuhkan jaringan daur ulang. Residu membutuhkan tempat pembuangan akhir yang dikelola dengan baik.

Dengan demikian, persoalan sampah sebenarnya adalah persoalan rantai sistem. Kegagalan pada satu mata rantai dapat mengganggu seluruh sistem.

Di sinilah pemerintah perlu mulai melihat pengelolaan sampah sebagai bagian dari perencanaan kota, bukan sekadar pelayanan kebersihan. Pertumbuhan penduduk, pembangunan perumahan, kawasan industri, pusat perdagangan, hotel, restoran, bahkan perkembangan ekonomi digital akan menghasilkan pola sampah yang berbeda. Karena itu, sistem pengelolaannya juga harus berkembang mengikuti perubahan kota.

Batam tidak mungkin terus tumbuh sementara sistem persampahannya berpijak pada logika kota lama.

Ada pula peluang ekonomi yang sering luput dari cara pandang “sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang”. Sampah yang dipilah dapat menjadi bahan baku. Sampah organik dapat menjadi kompos. Material tertentu dapat masuk ke industri daur ulang. Kegiatan pengumpulan, pemilahan, pengolahan, dan perdagangan material bekas dapat menciptakan pekerjaan dan aktivitas ekonomi baru.

Dalam perspektif ini, pengelolaan sampah bukan hanya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah. Ia juga bisa menjadi bagian dari ekonomi sirkular, ketika material yang sebelumnya dianggap tidak berguna kembali masuk ke dalam siklus ekonomi.

Tetapi semua itu membutuhkan satu perubahan mendasar: kita harus berhenti menganggap TPA sebagai jawaban atas persoalan sampah.

TPA memang diperlukan. Selalu akan ada residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Namun semakin besar ketergantungan kota pada TPA, semakin besar pula persoalan yang diwariskan kepada masa depan. Lahan terbatas, biaya pengelolaan meningkat, persoalan lingkungan muncul, dan ketika kapasitas mendekati batas, kota kembali harus mencari tempat baru.

Membangun TPA baru dapat menjadi bagian dari solusi jangka tertentu. Tetapi jika setiap pertumbuhan jumlah sampah selalu dijawab dengan memperbesar kapasitas pembuangan, kita sesungguhnya hanya memperpanjang umur sebuah masalah.

Karena itu, arah kebijakan pengelolaan sampah Batam perlu bergeser: bukan bagaimana menampung semakin banyak sampah, tetapi bagaimana menghasilkan semakin sedikit residu.

Rumus sederhananya bisa dibayangkan seperti ini:

Rumah → Pilah → Olah → Gunakan Kembali → Residu → TPA.

Semakin panjang bagian sistem sebelum TPA bekerja dengan baik, semakin sedikit sampah yang akhirnya harus dikuburkan.

Dan ini bukan berarti TPA menjadi tidak penting. Justru sebaliknya. TPA akan menjadi lebih mudah dikelola jika yang masuk ke dalamnya benar-benar hanya residu. Bebannya berkurang, umur layanannya dapat diperpanjang, dan pemerintah tidak terus-menerus mengejar pertumbuhan volume sampah dengan pertumbuhan kapasitas pembuangan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota dalam mengelola sampah bukanlah seberapa cepat ia menghilangkan sampah dari depan rumah warganya. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak sampah yang berhasil dicegah untuk berakhir di TPA.

Batam adalah kota yang terus tumbuh. Karena itu, sistem pengelolaan sampahnya juga harus tumbuh—bukan hanya dalam jumlah truk dan kapasitas TPA, tetapi dalam kecanggihan sistemnya.

Sampah yang berhasil tidak sampai ke TPA bukanlah sampah yang hilang. Ia adalah material yang berhasil menemukan kehidupan keduanya. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *