Newsroom Setelah AI: Siapa yang Bertanggung Jawab

Bagaimana newsroom menggunakan AI tanpa kehilangan kepercayaan pembacanya?

Oleh Hasan Aspahani

ADA pertanyaan yang terlalu sering muncul ketika kita membicarakan kecerdasan buatan dan media: apakah AI akan menggantikan wartawan? Pertanyaan itu terdengar besar, tetapi mungkin bukan lagi pertanyaan yang paling berguna. AI sudah masuk ke ruang redaksi. Ia dapat membantu mentranskripsikan wawancara, menerjemahkan dokumen, membaca data dalam jumlah besar, membuat ringkasan dan judul, mengelola arsip, bahkan membantu memahami perilaku pembaca. Pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah: bagaimana newsroom menggunakan AI tanpa kehilangan kepercayaan pembacanya?

Poynter Institute, lembaga pendidikan jurnalistik yang berbasis di Amerika Serikat, melihat persoalan ini bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi, melainkan sebagai persoalan kepemimpinan, etika dan kepercayaan. Dalam program Leading AI in the Newsroom, Poynter menekankan bahwa pemimpin newsroom perlu memandu penggunaan AI sambil tetap mempertahankan prinsip-prinsip jurnalistik. (Baca: Leading AI in the Newsroom — Poynter )

Gagasan penting Poynter adalah bahwa newsroom sebaiknya tidak memulai dari pertanyaan “Apa yang bisa dilakukan AI?”, melainkan “Masalah apa yang ingin kita selesaikan dengan AI?” AI jangan digunakan hanya karena teknologinya tersedia atau karena perusahaan media lain sudah menggunakannya. Ia harus memberikan manfaat nyata bagi pembaca atau memperbaiki pekerjaan jurnalistik. Poynter bahkan mendorong newsroom untuk menempatkan kebutuhan audiens dan pertimbangan etika di depan eksperimen teknologi. (Baca: Poynter: Put Audience and Ethics First )

Ini penting karena AI mudah sekali dipandang sebagai mesin penghemat biaya. Jika mesin dapat menulis, mengapa membutuhkan banyak wartawan? Jika mesin dapat membuat gambar, mengapa membutuhkan fotografer? Jika chatbot dapat menjawab pertanyaan pembaca, mengapa membutuhkan manusia? Cara berpikir semacam itu mungkin menghasilkan efisiensi, tetapi bisa sekaligus menghancurkan sesuatu yang jauh lebih sulit dibangun: kepercayaan.

Jurnalisme bukan sekadar produksi teks. Di belakang sebuah berita ada proses mencari fakta, memeriksa sumber, menelepon narasumber, datang ke lapangan, memahami konteks, mengajukan pertanyaan lanjutan dan mengambil keputusan editorial. AI dapat membantu banyak pekerjaan mekanis dalam proses itu, tetapi tanggung jawab jurnalistik tetap berada pada manusia.

Justru salah satu penggunaan AI yang paling menarik bukanlah membuat lebih banyak berita, melainkan membuat arsip jurnalistik menjadi lebih berguna. Bayangkan surat kabar memiliki arsip 30 tahun. AI dapat membantu pembaca menemukan semua liputan mengenai pembangunan kota, lingkungan, industri atau politik dalam rentang waktu tertentu, kemudian menghubungkan dokumen-dokumen tersebut. Poynter menunjuk Climate Answers milik The Washington Post sebagai salah satu contoh penggunaan AI untuk membantu pembaca menemukan jawaban berdasarkan arsip liputan media itu sendiri. (Baca: Poynter tentang penggunaan AI di newsroom)

Ada persoalan lain yang tak kalah penting: transparansi. Pembaca ingin tahu bagaimana AI digunakan dalam proses jurnalistik. Tetapi sekadar menempelkan label “dibuat dengan AI” tidak cukup. Yang lebih berguna adalah menjelaskan apa yang dilakukan AI dan apa yang tetap dilakukan manusia. Misalnya: AI digunakan untuk mentranskripsikan wawancara, tetapi seluruh kutipan diperiksa wartawan. Atau AI digunakan untuk menemukan pola dalam ribuan dokumen, tetapi hasilnya diverifikasi oleh tim investigasi.

Dengan begitu, newsroom tidak meminta pembaca mempercayai mesin. Newsroom menjelaskan bagaimana manusia menggunakan mesin.

Di sinilah menurut saya batas yang paling penting harus dibuat. AI boleh membantu pekerjaan jurnalistik, tetapi tanggung jawab jurnalistik tidak boleh dialihkan kepada AI. Jika AI menghasilkan kesalahan, manusialah yang harus memperbaikinya. Jika seseorang dirugikan oleh sebuah berita, manusialah yang harus bertanggung jawab. AI tidak mempunyai reputasi, etika, atau tanggung jawab sosial.

Karena itu, masuknya AI ke newsroom bukan sekadar persoalan membeli aplikasi baru. Ia membutuhkan kebijakan, pelatihan dan terutama kepemimpinan. Poynter sendiri menempatkan kata “leading” dalam Leading AI in the Newsroom bukan tanpa alasan. Persoalannya bukan sekadar belajar menggunakan AI, tetapi memimpin perubahan yang dibawanya ke dalam organisasi media. (Baca: Poynter — Leading AI in the Newsroom)

Maka masa depan newsroom tidak harus berarti wartawan semakin sedikit dan mesin semakin banyak. Bisa jadi justru sebaliknya: AI mengerjakan pekerjaan yang mekanis sehingga wartawan dapat mengerjakan pekerjaan yang paling membutuhkan manusia. AI membaca ribuan dokumen; wartawan mencari orang yang terdampak oleh isi dokumen itu. AI menemukan pola; wartawan mencari sebabnya. AI membuat transkripsi; wartawan mendengarkan apa yang tidak tertulis dalam transkripsi. AI membantu menemukan arsip lama; wartawan menghubungkannya dengan kenyataan hari ini.

Pertanyaan masa depan jurnalisme, karena itu, bukan lagi “Apakah AI akan menulis berita?” Hampir pasti jawabannya: ya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menentukan apa yang layak diberitakan, siapa yang memeriksa kebenarannya, siapa yang memahami dampaknya, dan siapa yang bertanggung jawab kepada pembaca?

Selama jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih manusia, newsroom belum kehilangan jiwanya. Biarkan AI mengerjakan lebih banyak pekerjaan. Tetapi jangan biarkan AI mengambil alih tanggung jawab. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *