Bagaimana Membaut Komik Strip (15): 365 Cerita dari Satu Semesta

Membuat 365 comic strip bukan soal menemukan 365 lelucon. Tantangannya adalah membangun satu semesta yang terus melahirkan karakter, situasi, konflik, dan kejutan baru.

Oleh Hasan Aspahani

Membuat satu comic strip tidak terlalu sulit. Membuat sepuluh strip mulai terasa menantang. Membuat seratus membutuhkan sistem. Tetapi membuat 365 strip dari semesta yang sama memerlukan sesuatu yang lebih penting daripada bakat menggambar: kita harus memiliki mesin cerita.

Sebuah Komik strip yang hidup lama tidak bergantung pada datangnya inspirasi setiap pagi. Ia mempunyai persediaan kemungkinan. Karakternya bisa ditempatkan dalam banyak situasi. Relasinya bisa menghasilkan berbagai gesekan. Premisenya bisa dimainkan dari banyak arah. Bahkan gag yang pernah gagal pun bisa menjadi bahan untuk gag berikutnya.

Karena itu, target 365 cerita sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan, “Besok mau bikin cerita apa?” Pertanyaan itu terlalu sempit. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Berapa banyak kemungkinan cerita yang sebenarnya terkandung dalam semesta kita?”

Jangan mencari 365 gag

Kesalahan pertama adalah mencoba mengumpulkan 365 lelucon. Cara berpikir seperti ini cepat melelahkan karena setiap gag dianggap harus benar-benar baru.

Padahal komik strip tidak bekerja seperti itu. Kita tidak membutuhkan 365 gag yang berdiri sendiri. Kita membutuhkan mesin yang dapat menghasilkan 365 kombinasi.

Bayangkan kita mempunyai tiga karakter. Masing-masing mempunyai keinginan, kebiasaan, kelemahan, dan cara bereaksi yang berbeda. Ketika mereka dipertemukan dalam berbagai situasi, jumlah kemungkinan cerita segera berkembang.

Tambahkan tempat yang berbeda. Tambahkan konflik. Tambahkan objek. Tambahkan perubahan sudut pandang. Tambahkan konsekuensi. Tambahkan karakter pendukung.

Tiba-tiba satu dunia kecil memiliki banyak pintu.Semesta cerita tidak perlu besar. Ia perlu memiliki banyak kemungkinan pertemuan.

Bangun bank kemungkinan

Di sinilah bank ide menjadi penting. Jangan hanya menyimpan gag. Simpan bahan mentah cerita.

Satu halaman mungkin berisi pengamatan: seseorang terlalu serius memotret makanannya. Halaman lain berisi situasi: hujan turun ketika karakter sedang menjemur sesuatu. Di tempat lain ada relasi: dua karakter sama-sama ingin dianggap paling pintar.

Belum ada cerita di sana. Dan itu tidak masalah.

Bank ide justru sebaiknya dipenuhi bahan yang belum selesai. Karena ketika sebuah pengamatan bertemu karakter tertentu, lalu karakter itu mempunyai keinginan tertentu dan menghadapi hambatan tertentu, sebuah cerita mulai terbentuk.

Kita bisa membayangkannya seperti kotak-kotak yang dapat dikocok: karakter + keinginan + situasi + konflik + relasi + objek + kejutan. Ambil satu dari masing-masing kotak. Gabungkan. Lihat apa yang terjadi.

Tidak semua kombinasi akan bagus. Sebagian akan konyol. Sebagian akan terlalu biasa. Sebagian tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi sesekali muncul sesuatu. Dan sesuatu itulah yang kita cari.

365 bukan angka ajaib

Angka 365 sebenarnya bukan tujuan artistik. Ia adalah alat untuk menguji daya hidup sebuah semesta. Jika sebuah karakter hanya bisa menghasilkan lima cerita, mungkin karakternya menarik tetapi belum produktif. Jika ia menghasilkan dua puluh cerita dengan pola yang sama, mungkin kita mempunyai formula tetapi belum mempunyai variasi.

Jika ia mampu menghasilkan seratus cerita yang berbeda dan tetap terasa sebagai karakter yang sama, kita mulai menemukan sesuatu yang penting. Dan ketika kita bisa membayangkan 365 cerita tanpa merasa sedang memaksa karakter melakukan hal-hal yang bukan dirinya, kita mungkin sudah memiliki sebuah komic strip yang benar-benar hidup.

Di sinilah ukuran keberhasilan sebuah semesta cerita berubah. Bukan: “Apakah karakter ini lucu?” Melainkan: Apakah karakter ini masih bisa bercerita besok pagi?”

Dari karakter menuju kemungkinan

Ambil satu karakter. Misalnya ia pelit. Jangan berhenti pada gag bahwa ia pelit. Tanyakan: Apa yang terjadi ketika ia makan bersama teman? Apa yang terjadi ketika ia menerima hadiah? Apa yang terjadi ketika ia menemukan uang? Apa yang terjadi ketika ia harus mentraktir? Apa yang terjadi ketika orang lain lebih pelit darinya? Apa yang terjadi ketika ia jatuh cinta kepada seseorang yang boros? Apa yang terjadi ketika ia mencoba terlihat dermawan?

Perhatikan apa yang terjadi. Sifat karakter yang sama menghasilkan konflik yang berbeda ketika konteksnya berubah. Itulah rahasia produktivitas karakter. Kita tidak perlu mengubah karakter agar mendapatkan cerita baru. Justru karakter harus tetap cukup konsisten sehingga setiap situasi baru memunculkan respons yang khas.

Karakter tetap. Dunia tetap. Tetapi keadaan berubah. Dan dari perubahan kecil itulah cerita terus lahir.

Jangan takut mengulang

Ironisnya, untuk menghasilkan 365 cerita, kita justru harus berani mengulang. Karakter yang selalu makan akan makan lagi. Karakter yang malas akan kembali malas. Karakter yang sok pintar akan kembali sok pintar. Karakter yang selalu ingin menang akan kembali mencari kemenangan. Pembaca tidak keberatan melihat pola yang mereka kenal. Yang mereka tunggu adalah variasi dari pola tersebut.

Itulah perbedaan antara repetisi dan pengulangan malas. Repetisi berkata: “Saya tahu siapa karakter ini. Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi kali ini.” Pengulangan malas berkata: “Saya pernah membuat lelucon ini. Saya buat lagi dengan pakaian berbeda.” Yang pertama membangun semesta. Yang kedua mengurasnya.

Ujian 365

Pada akhirnya, latihan 365 cerita bukan terutama latihan menulis. Ia adalah latihan menguji mesin cerita. Buat daftar karakter. Buat daftar relasi. Buat daftar situasi. Buat daftar konflik. Buat daftar tempat. Buat daftar objek. Buat daftar kebiasaan. Buat daftar premis. Kemudian mulai menggabungkannya.

Tidak perlu langsung menggambar. Tulis saja kemungkinan-kemungkinannya. Jika setelah beberapa puluh kombinasi kita mulai kehabisan ide, jangan buru-buru menyalahkan kreativitas. Periksa mesinnya. Mungkin karakternya terlalu datar. Mungkin relasinya terlalu sedikit. Mungkin dunianya terlalu sempit. Mungkin premisenya hanya bisa dimainkan dengan satu cara.

Mungkin konflik yang kita gunakan selalu sama. Kehabisan ide sering kali bukan masalah inspirasi. Ia adalah tanda bahwa mesin cerita perlu diperbaiki. Dan itulah sebabnya 365 cerita menjadi ujian yang sangat berguna. Kita tidak sedang berusaha membuktikan bahwa kita bisa membuat 365 lelucon. Kita sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang jauh lebih penting: Apakah kita telah menciptakan sebuah semesta yang mampu terus bercerita? []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *