Kartun politik sebenarnya tak perlu penjelasan. Gambar karikatur yang baik semestinya sudah dapat berbicara sendiri. Namun, kami ingin sedikit pembeda, penjelasan singkat ini bukan untuk menerangkan lelucon, melainkan membuka sedikit pintu menuju lapisan maknanya.

Di sini, wapres Gibran Rakabuming Raka digambarkan dengan proporsi khas karikatur, kepala besar, tubuhnya nyaman tersembunyi di dalam sebuah tong kayu. Kedua tangannya berpegangan pada bibir tong.
Di bagian bawahnya tertulis dengan huruf stensil: TENANG SAYA MASIH DI SINI. Kalimat itu merupakan plesetan dari ucapan Gibran kepada Prabowo dalam deklarasi pencalonan mereka pada Oktober 2023: “Tenang saja Pak Prabowo… Saya sudah ada di sini.”
Kata “sudah” kita ubah menjadi “masih”. Pergeseran kecil, tetapi menghasilkan makna yang berbeda. “Sudah di sini” adalah pernyataan kehadiran. “Masih di sini” terasa seperti pernyataan keberadaan yang bertahan melewati waktu.
Kemudian ada tong. Dalam ingatan bahasa Indonesia, tong segera membawa kita pada peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya”—ungkapan untuk menyindir orang yang banyak berbicara tetapi dianggap kurang memiliki isi. Pelesetan semacam “Tong Kosong Gibran Bunyinya” pun pernah muncul dalam percakapan politik.
Namun kita tidak menuliskan tong kosong. Kita cukup menggambar sebuah tong, lalu menempatkan Gibran di dalamnya. Di situlah kartun bekerja. Pembaca sendirilah yang menyambungkan ucapan, tokoh, tong, dan peribahasa. Pertanyaannya kemudian bukan lagi “Apakah tong ini kosong?” Melainkan, “Kalau tidak kosong, apa isinya?” Kartun berhenti di sana. Dalam kartun politik, yang tidak dikatakan justru bagian paling nyaring dari bunyinya. []
