Ketika Pembaca Menjadi Pemilik Media: Pelajaran dari Koran Jerman ‘Taz’

Sejak 1992, taz yang terbit sejak 1978 itu berada di bawah kepemilikan taz, die Tageszeitung Verlagsgenossenschaft. Koperasi itu kini memiliki lebih dari 25.000 anggota. Prinsipnya bukan siapa yang menanam modal paling besar memiliki suara paling besar. Dalam koperasi, setiap anggota memiliki satu suara.

Oleh Hasan Aspahani

Pagi itu saya mendengarkan Halo Batam di radio lokal Batam FM dari dalam mobil. Acara ini salah satu favorit warga Batam. Mereka bisa menyampaikan macam-macam: soal sampah yang tak kunjung diangkut, jalan rusak, banjir, pelayanan publik, sampai informasi yang mereka anggap perlu diketahui warga lain.

Penyiar menanggapi seperlunya. Sesekali, pihak yang merasa disentil langsung memberikan jawaban. Ada semacam percakapan sederhana yang berlangsung antara warga, media, dan pihak yang berwenang.

Lalu pagi itu muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Seorang warga bertanya dari mana wartawan media online yang kini jumlahnya begitu banyak di Batam mendapatkan penghasilan. Pertanyaan itu kemudian dikaitkan dengan independensi media.

“Kalau penghasilannya tergantung dari bantuan pemerintah, bagaimana media bisa mengkritik?” kira-kira begitu persoalan yang diajukan.

Saya tidak tahu bagaimana persisnya keadaan setiap media yang dimaksud oleh penanya. Itu membutuhkan pemeriksaan satu per satu. Tetapi pertanyaannya sendiri penting. Ia menyentuh persoalan yang lebih mendasar dalam kehidupan pers: bagaimana hubungan antara sumber pembiayaan dan independensi media?

Dari pertanyaan sederhana di radio itu, saya teringat pada sebuah koran di Jerman: taz – die tageszeitung. Bukan karena taz mempunyai jawaban untuk semua persoalan media kita. Bukan pula karena modelnya bisa begitu saja dipindahkan ke Batam atau Indonesia. Tetapi karena selama lebih dari tiga dekade taz menjalankan sebuah eksperimen yang menarik: media dimiliki oleh koperasi pembacanya.

Sejak 1992, taz yang terbit sejak 1978 itu berada di bawah kepemilikan taz, die Tageszeitung Verlagsgenossenschaft. Koperasi itu kini memiliki lebih dari 25.000 anggota. Prinsipnya bukan siapa yang menanam modal paling besar memiliki suara paling besar. Dalam koperasi, setiap anggota memiliki satu suara.

Dengan kata lain, pembaca tidak hanya membeli koran. Pembaca ikut memiliki institusi yang menerbitkan koran itu. Di sinilah model taz menjadi menarik untuk dibicarakan. Sebab kita sering membicarakan independensi pers seolah-olah ia semata-mata persoalan sikap wartawan atau kode etik redaksi. Padahal independensi juga memiliki dimensi ekonomi.

Siapa yang membiayai media? Siapa pemiliknya? Dari mana pendapatannya? Seberapa besar ketergantungannya kepada satu sumber dana? Dan apakah pihak yang memberikan uang mempunyai kemungkinan memengaruhi isi pemberitaan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak otomatis menghasilkan kesimpulan tentang independen atau tidaknya sebuah media. Tetapi pertanyaan tersebut penting karena struktur ekonomi sebuah media dapat memengaruhi ruang geraknya.

Taz mencoba mencari jalan lain. Pada awal 1990-an, ketika koran itu mengalami persoalan keuangan, salah satu pilihan yang tersedia adalah mencari pemodal. Pilihan lain adalah menjadikan pembacanya sebagai pemilik. Jalan kedua yang dipilih.

Pembaca dikumpulkan bukan sekadar untuk membeli koran, tetapi untuk menopang keberadaan sebuah institusi pers yang mereka anggap penting. Itu membuat hubungan antara media dan pembacanya menjadi berbeda. Dalam model bisnis media yang umum, pembaca adalah konsumen. Ia membayar langganan, membaca berita, kemudian hubungan ekonominya selesai.

Dalam model koperasi, pembaca dapat menjadi sesuatu yang lain: anggota. Dan anggota bukan sekadar pelanggan. Ia ikut memiliki. Tentu saja kepemilikan koperasi tidak otomatis membuat sebuah media menjadi objektif. Taz sendiri mempunyai orientasi editorial yang jelas: ia dikenal sebagai media alternatif dengan posisi progresif-kiri. Jadi independensi tidak boleh disamakan dengan ketiadaan sikap.

Justru di sini kita menemukan pembedaan yang penting. Media boleh memiliki sikap editorial. Yang perlu dijaga adalah kebebasan untuk menentukan sikap itu tanpa dikendalikan oleh kepentingan pemilik modal, pemerintah, atau kekuatan ekonomi tertentu. Model koperasi taz berusaha menciptakan jarak dari persoalan tersebut dengan menyebarkan kepemilikan kepada banyak orang. Tidak ada seorang pemodal yang dapat memperoleh kendali hanya karena memiliki modal paling besar.

Menariknya, model kepemilikan ini tidak membuat taz anti-perubahan. Pada Oktober 2025, taz menghentikan edisi cetak harian Senin sampai Jumat dan beralih ke distribusi digital. Hanya edisi Sabtu, wochentaz, yang tetap dicetak. Perubahan ini menunjukkan bahwa mempertahankan independensi tidak berarti mempertahankan bentuk lama media. Yang dipertahankan adalah institusinya; bentuk medianya boleh berubah.

Di sinilah pengalaman taz mungkin relevan dengan pertanyaan yang saya dengar pagi itu di radio. Pertanyaan warga tersebut sesungguhnya bukan hanya soal media online dan bantuan pemerintah. Ia adalah pertanyaan tentang hubungan media dengan sumber dayanya.

Media membutuhkan uang untuk hidup. Tidak ada media yang bisa menghindari kenyataan itu. Persoalannya adalah bagaimana memperoleh sumber daya tanpa kehilangan kemampuan untuk mengatakan kepada pihak yang membiayainya: “Tidak.” Taz menawarkan satu kemungkinan: memperbanyak orang yang menopang media, sehingga media tidak bergantung pada satu sumber kekuasaan.

Ini tentu bukan satu-satunya model. Dan bukan berarti koperasi adalah resep yang bisa diterapkan begitu saja kepada semua media. Tetapi ada satu gagasan yang sangat menarik untuk kita bawa pulang: bagaimana kalau publik tidak hanya menjadi pembaca media, tetapi ikut menjadi pemiliknya?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika media menghadapi perubahan besar. Pendapatan iklan bergeser ke platform digital. Perhatian pembaca terpecah. Biaya produksi berubah. Teknologi baru datang silih berganti. Media harus mencari cara baru agar tetap hidup sekaligus tetap dipercaya.

Mungkin karena itu kita perlu melihat kembali hubungan antara media dan publik. Publik bukan hanya pasar yang harus direbut perhatiannya. Publik juga bisa menjadi komunitas yang ikut menopang keberadaan media. Dan mungkin, pada akhirnya, independensi media bukan hanya soal keberanian seorang wartawan menulis kritik. Ia juga soal apakah institusi tempat wartawan bekerja mempunyai cukup kemandirian untuk menerima konsekuensi dari kritik itu.

Pagi itu, seorang warga di Batam bertanya dari mana media mendapatkan penghasilannya. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi dari sebuah acara radio yang saya dengar di dalam mobil, ia membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih besar: Siapa sebenarnya yang seharusnya memiliki media? Pengalaman taz menunjukkan satu kemungkinan jawaban: barangkali, sesekali, media bisa dimiliki oleh mereka yang paling membutuhkan keberadaannya—pembacanya sendiri. []

Artikel Lain

2 Komentar

  1. Uba Ingan Sigalingging

    Saya pernah membaca tulisan tentang kepemilikan bersama media. Seperti yang dalam tulisan ini ada di Jerman. Media bersama ini sangat menarik karena masyarakat yang membiayainya merasa memiliki. Rasa memiliki inilah yang menjadi kekuatan media tersebut.

    1. Menarik untuk dicoba…. dengan memanfaatkan AI, newsroom media bisa dibikin efisien, lalu hitung berapa kebutuhan operasional media yang wajar, termasuk menentukan imbalan pantas untuk pekerja medianya. Dari situ bisa ditentukan kemudian iuran anggota dan berapa anggota minimal yang diperlukan…. mungkin bisa dimulai dengan cara itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *