Kita mempelajari sesuatu, kemudian menggunakannya. Setelah menggunakannya, kita menemukan kenyataan yang mungkin tidak persis sama dengan yang tertulis di buku. Kita refleksikan perbedaan itu. Kita menuliskannya. Orang lain membaca. Mereka mencoba dalam konteks mereka sendiri. Mereka menemukan sesuatu yang baru. Mereka menuliskannya kembali.
Ringkasan:
- Praktikkan teori, teorikan praktik, lalu tuliskan.
- Media sosial menyebarkan gagasan; tulisan memberi kedalaman dan struktur.
- Menulis mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang bisa diwariskan.
Oleh Hasan Aspahani
Saya teringat kuliah terakhir saya di kelas Manajemen Strategis. Dosen kami waktu itu adalah juga rektor. Di penghujung perkuliahan, ia menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi entah mengapa semakin lama justru semakin terasa penting: “Praktikkan teori yang kalian dapatkan, dan teorikan praktik dalam pekerjaan kalian.”
Kalimat itu terdengar seperti nasihat biasa tentang bagaimana ilmu seharusnya digunakan. Tetapi sebenarnya ia menyimpan gagasan yang jauh lebih dalam. Ia meminta kami tidak berhenti pada kemampuan memahami teori. Teori harus dibawa ke dalam kenyataan, diuji oleh pengalaman, dan dilihat apakah benar-benar bekerja. Namun perjalanan itu tidak berhenti di sana. Pengalaman yang kita peroleh dari praktik juga harus dibawa kembali ke wilayah pemikiran. Kita perlu bertanya: apa yang sebenarnya terjadi, mengapa terjadi, apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apa yang dapat kita pelajari dari semuanya?
Dengan kata lain, dosen saya sedang meminta kami melakukan dua gerakan sekaligus: membawa teori ke dalam praktik dan membawa praktik kembali menjadi pengetahuan. Dan salah satu cara terbaik untuk melakukan gerakan kedua itu adalah menulis.
Sebab pengalaman yang tidak pernah dipikirkan kembali akan tetap menjadi pengalaman. Ia mungkin berguna bagi orang yang mengalaminya, tetapi belum tentu menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan kepada orang lain. Menulis memaksa kita berhenti sejenak dari kesibukan melakukan sesuatu dan mulai bertanya tentang apa yang sebenarnya telah kita lakukan.
Mengapa keputusan itu diambil? Mengapa strategi itu berhasil? Mengapa pendekatan yang menurut teori seharusnya berhasil ternyata gagal? Apa yang berbeda antara teori dan kenyataan? Apakah pengalaman kita menguatkan teori, atau justru menunjukkan sesuatu yang tidak dibicarakan oleh teori?
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul, pengalaman perlahan berubah menjadi refleksi. Refleksi yang terus dipikirkan dapat berubah menjadi gagasan. Gagasan yang dirumuskan dengan baik dapat menjadi pengetahuan. Dan pengetahuan yang dituliskan dapat hidup lebih lama daripada pengalaman orang yang menghasilkannya.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa buku-buku bisnis yang menarik sering lahir dari pengalaman orang yang benar-benar menjalankan bisnis atau memimpin organisasi. Mereka bukan hanya membaca teori manajemen, tetapi berhadapan langsung dengan persoalan yang dibicarakan teori tersebut. Mereka membuat keputusan, menghadapi risiko, mengalami kegagalan, menemukan jalan keluar, mengubah strategi, lalu mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka pelajari.
Jack Welch, misalnya, menulis tentang pengalaman panjangnya memimpin General Electric. Yang menarik dari buku-buku semacam itu bukan semata-mata kisah keberhasilan seorang pemimpin, melainkan usaha mengubah pengalaman menjadi sesuatu yang dapat dipelajari orang lain. Praktik yang dijalankan tidak dibiarkan berhenti sebagai cerita pribadi. Ia diolah menjadi gagasan, prinsip, dan pelajaran.
Di sinilah perbedaan antara sekadar menceritakan pengalaman dan menjadikan pengalaman sebagai pengetahuan. Kalimat “Saya melakukan ini dan berhasil” belum banyak memberi kita sesuatu. Tetapi ketika seseorang mulai bertanya, “Mengapa cara ini berhasil? Dalam kondisi apa ia berhasil? Apakah prinsipnya dapat diterapkan di tempat lain? Apa batasannya?” pengalaman mulai naik kelas menjadi pengetahuan.
Barangkali itulah yang dimaksud dosen saya ketika mengatakan, “Teorikan praktik.”
Tetapi kemudian kita hidup dalam zaman yang berbeda. Sekarang kita berada di era media sosial. Orang tidak harus membaca buku untuk mendapatkan gagasan. Mereka bisa menonton video satu menit. Mereka bisa mendapatkan sebuah teori dalam bentuk infografik. Mereka bisa mendengar pengalaman seorang pengusaha dalam potongan podcast. Sebuah gagasan dapat diringkas menjadi satu kalimat, dibuat menjadi gambar, lalu dibagikan kepada ribuan bahkan jutaan orang.
Lalu muncul pertanyaan yang wajar: kalau semuanya sudah bisa disampaikan melalui media sosial, apakah menulis masih relevan? Saya kira justru di sinilah kita perlu membedakan antara penyebaran pengetahuan dan pembentukan pengetahuan.
Media sosial sangat hebat dalam menyebarkan gagasan. Ia membuat sebuah pemikiran bergerak dengan kecepatan yang belum pernah kita alami sebelumnya. Sesuatu yang dahulu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikenal orang sekarang dapat menyebar dalam beberapa jam.
Tetapi kecepatan penyebaran tidak selalu sama dengan kedalaman pemahaman. Sebuah video satu menit dapat memberi kita satu gagasan yang menarik. Sebuah unggahan dapat membuat kita berpikir. Sebuah kutipan dapat mengubah cara kita melihat sesuatu. Semua itu penting. Tetapi gagasan yang singkat biasanya juga membutuhkan tempat untuk dikembangkan lebih jauh.
Dari mana gagasan itu berasal? Masalah apa yang hendak dijawab? Apa pengalaman yang melahirkannya? Apa bukti yang mendukungnya? Apa kelemahannya? Bagaimana gagasan itu berhubungan dengan gagasan lain? Apa yang terjadi jika ia diterapkan dalam situasi berbeda? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membutuhkan ruang.
Dan tulisan menyediakan ruang tersebut. Karena itu saya tidak melihat media sosial sebagai lawan buku. Media sosial adalah perpanjangan dari gagasan yang telah ditulis. Sebuah buku dapat dipotong menjadi puluhan unggahan. Sebuah penelitian dapat diringkas menjadi video. Sebuah esai dapat menjadi serangkaian percakapan. Sebuah teori dapat menemukan pembacanya melalui media sosial yang sebelumnya mungkin tidak pernah menemukan buku aslinya.
Media sosial membuat pengetahuan bergerak. Tulisan membuat pengetahuan memiliki bentuk. Yang satu mempercepat sirkulasi. Yang lain memberi struktur. Yang satu menarik perhatian. Yang lain mengajak kita tinggal lebih lama di dalam sebuah gagasan. Karena itu keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Ada alasan lain yang menurut saya bahkan lebih penting: menulis membuat kita berpikir. Kita sering merasa sudah memahami sesuatu ketika membicarakannya. Kita merasa gagasan kita sudah jelas ketika menyampaikannya dalam percakapan. Tetapi ketika kita mencoba menuliskannya, tiba-tiba kita menemukan lubang di sana-sini. Ternyata kita belum tahu apa masalah sebenarnya. Ternyata argumen kita belum cukup kuat. Ternyata ada asumsi yang selama ini tidak pernah kita periksa. Ternyata dua gagasan yang kita pikir berhubungan sebenarnya tidak berhubungan.
Menulis memaksa pikiran untuk menjadi lebih tertib. Kita harus memilih mana yang penting dan mana yang tidak. Kita harus menentukan urutan. Kita harus membedakan pengalaman dari kesimpulan. Kita harus mencari bukti ketika merasa terlalu yakin. Kita harus mengakui ketika sesuatu ternyata belum kita pahami.
Dalam pengertian ini, menulis bukan sekadar cara menyampaikan pikiran kepada orang lain. Menulis adalah cara menemukan pikiran kita sendiri. Sering kali kita baru benar-benar tahu apa yang kita pikirkan setelah kita menuliskannya.
Itulah sebabnya pengalaman kerja yang panjang tidak otomatis menghasilkan pengetahuan. Seseorang bisa bekerja selama tiga puluh tahun dan tetap hanya memiliki pengalaman selama satu tahun yang diulang tiga puluh kali. Yang mengubah pengalaman menjadi pembelajaran adalah kemampuan untuk berhenti, melihat kembali, membandingkan, mempertanyakan, dan menarik pelajaran. Menulis membantu proses itu.
Maka saya kira pesan dosen saya masih sangat relevan, bahkan mungkin lebih relevan sekarang. Praktikkan teori. Teorikan praktik. Kita mempelajari sesuatu, kemudian menggunakannya. Setelah menggunakannya, kita menemukan kenyataan yang mungkin tidak persis sama dengan yang tertulis di buku. Kita refleksikan perbedaan itu. Kita menuliskannya. Orang lain membaca. Mereka mencoba dalam konteks mereka sendiri. Mereka menemukan sesuatu yang baru. Mereka menuliskannya kembali.
Pengetahuan bergerak seperti itu. Teori → praktik → pengalaman → refleksi → tulisan → pengetahuan → praktik baru. Dan siklus itu tidak pernah benar-benar selesai. Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara menulis, riset, dan inovasi. Riset mengubah pengalaman dan pengamatan menjadi pengetahuan. Tulisan membantu pengetahuan itu disusun, diuji, dan diwariskan. Kemudian pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk melahirkan inovasi. Inovasi menghasilkan praktik dan pengalaman baru. Pengalaman baru kembali menjadi bahan riset dan tulisan.
Jadi tulisan bukan benda mati yang berlawanan dengan zaman digital. Ia justru salah satu mata rantai yang memungkinkan pengetahuan terus bergerak. Mungkin karena itu kita tidak perlu terlalu cemas ketika orang sekarang lebih suka menonton video pendek daripada membaca buku panjang. Biarlah. Tidak semua hal harus menjadi buku. Tidak semua gagasan membutuhkan lima puluh halaman. Kadang sebuah kalimat sudah cukup. Kadang sebuah gambar menjelaskan sesuatu lebih baik daripada seribu kata. Kadang video adalah medium yang paling tepat.
Persoalannya bukan apakah orang membaca buku atau menonton video. Persoalannya adalah: apakah kita masih membutuhkan pemahaman yang mendalam? Kalau jawabannya masih ya, maka tulisan masih mempunyai tempat. Bahkan mungkin semakin penting. Sebab kita hidup dalam dunia yang dipenuhi fragmen. Potongan berita. Potongan video. Potongan opini. Potongan data. Potongan pengalaman. Potongan gagasan. Semuanya datang begitu cepat sehingga tantangan kita bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana menyusun informasi yang berserakan itu menjadi pemahaman.
Dan pemahaman membutuhkan struktur. Ia membutuhkan konteks. Ia membutuhkan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lain. Ia membutuhkan waktu. Tulisan menyediakan semua itu.
Karena itu saya membayangkan media sosial bukan sebagai pengganti buku, melainkan sebagai jalan raya tempat gagasan dari buku bepergian lebih jauh. Buku menyimpan dan mengembangkan gagasan; media sosial membantu gagasan itu menemukan pembaca. Dari media sosial orang mungkin tertarik membaca buku. Dari buku mereka mendapatkan pemahaman yang lebih utuh. Dari pemahaman itu mereka mencoba sesuatu dalam kehidupan. Dari pengalaman itu lahir gagasan baru. Dan gagasan baru kembali dituliskan.
Begitulah pengetahuan berputar. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Apakah menulis masih relevan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah kita masih perlu mengubah pengalaman menjadi pengetahuan?” Jika kita masih ingin belajar dari apa yang kita lakukan, jawabannya tentu saja ya. Kita bekerja. Kita mengalami. Kita gagal. Kita berhasil. Kita belajar. Lalu kita menulis.
Bukan untuk merasa lebih tahu daripada orang lain. Bukan pula untuk memberi ceramah kepada orang lain. Tetapi karena pengalaman kita mungkin mengandung sesuatu yang berguna bagi orang lain—dan pengalaman orang lain mungkin mengandung sesuatu yang berguna bagi kita.
Maka pesan sederhana dari kuliah terakhir itu masih terasa hidup sampai hari ini:Praktikkan teori yang kita pelajari. Teorikan praktik yang kita jalani. Dan kalau sudah menemukan sesuatu yang layak dipelajari dari keduanya, tuliskan. Sebab pengalaman yang hanya kita jalani akan berhenti pada diri kita. Tetapi pengalaman yang kita pikirkan dan kita tuliskan bisa menjadi pengetahuan bagi orang lain. Dan dari pengetahuan itulah orang lain mungkin menciptakan sesuatu yang baru.
Mungkin begitulah cara sebuah gagasan melakukan perjalanan panjang, dari buku ke praktik, dari praktik ke pengalaman, dari pengalaman ke tulisan, dari tulisan ke pengetahuan—lalu kembali lagi ke kehidupan. []
