Ketika David Hockney mulai menggambar dengan iPad, yang menarik bukan sekadar perpindahan seorang pelukis dari kanvas ke layar. Hockney justru menunjukkan bahwa teknologi baru tidak harus mengubah cara seorang seniman melihat dunia. iPad memberinya alat yang lebih cepat untuk menangkap cahaya, warna, dan perubahan waktu. Dari sana kita bisa melihat satu hal penting: dalam seni, alat boleh berubah, tetapi mata yang melihat tetap menjadi sumber utama penciptaan.
Ringkasan:
- iPad memperluas, bukan menggantikan, cara Hockney melukis. Teknologi memberinya kecepatan dan fleksibilitas untuk menangkap cahaya serta perubahan lanskap.
- Karya digital Hockney tetap berakar pada cara melihat. The Arrival of Spring dan My Window menunjukkan bagaimana gambar dapat merekam bukan hanya ruang, tetapi juga perubahan waktu, cahaya, dan musim.
- Di tengah perkembangan AI, pelajaran Hockney menjadi semakin relevan. Ketika alat semakin mampu membuat gambar, kemampuan manusia untuk melihat, memilih, mengarahkan, dan memberi makna justru menjadi semakin penting.
Oleh Hasan Aspahani
Pada 2010, David Hockney (1937-2026) membeli salah satu iPad generasi pertama. Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Ia bukan seniman muda yang sedang mencari identitas melalui teknologi baru. Ia adalah pelukis yang telah puluhan tahun bekerja dengan kanvas, cat, pensil, fotografi, dan berbagai cara untuk membuat gambar.
Namun ketika iPad datang, Hockney tidak melihatnya sebagai ancaman bagi lukisan. Ia menggambar. Ia membawa iPad ke luar studio, menggambar lanskap Yosemite, kemudian menggambar pepohonan dan jalan di Yorkshire. Ia menemukan bahwa perangkat itu memberinya sesuatu yang sangat penting bagi seorang pelukis lanskap: kecepatan menangkap cahaya. Di sinilah kisah Hockney menjadi lebih menarik daripada sekadar cerita tentang seorang pelukis yang mencoba teknologi baru. Alatnya berubah. Matanya tetap sama.
Alat baru, kebiasaan lama
Kita sering membayangkan perubahan teknologi sebagai perubahan cara berkarya. Ketika kuas diganti stylus, kanvas diganti layar, atau cat diganti piksel, kita merasa telah memasuki dunia seni yang sepenuhnya berbeda. Hockney memperlihatkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu.

Ia membawa kebiasaan melihat yang sudah dibentuk selama puluhan tahun ke dalam medium baru. Pada 2009, sebelum memiliki iPad, Hockney sudah menggambar dengan iPhone. Setahun kemudian ia membeli iPad ketika perangkat itu pertama kali diluncurkan. Ia kemudian menggunakan aplikasi Brushes untuk menggambar langsung dari objek yang dilihatnya, termasuk lanskap Yosemite.
Yang menarik adalah alasan ia menyukai medium itu. Menurut catatan David Hockney Foundation, Hockney menemukan bahwa iPad sangat cepat untuk menangkap perubahan cahaya. Ia dapat membangun palet warna dengan cepat dan menangkap kesan cahaya yang mungkin sudah berubah sebelum lukisan selesai. Ia bahkan membandingkan proses tersebut dengan cara seorang pelukis seperti Monet mungkin bekerja: menangkap cukup banyak hal ketika berada di depan objek, kemudian mengembangkannya kembali di studio.
Jadi iPad bukan sekadar alat menggambar. Ia memperpendek jarak antara melihat dan mencatat apa yang dilihat.
Menangkap cahaya sebelum ia berubah
Lanskap sebenarnya tidak pernah benar-benar diam. Pohon memang berada di tempat yang sama, tetapi cahaya yang jatuh di atasnya terus berubah. Langit berubah. Bayangan bergeser. Warna tanah berubah ketika matahari naik atau turun. Karena itu seorang pelukis lanskap tidak pernah sekadar melukis “pohon”. Ia melukis pohon yang terlihat pada suatu waktu tertentu.
Hockney menangkap persoalan ini dengan sangat baik ketika pada awal 2011 ia mulai menggambar lanskap East Yorkshire dengan iPad. Ia kemudian menyadari bahwa ia bisa membuat rangkaian gambar yang mencatat perubahan lanskap dari musim dingin menuju musim panas.
Lebih dari seratus gambar iPad lahir dari proyek tersebut. Karya-karya itu kemudian berhubungan dengan The Arrival of Spring in Woldgate, East Yorkshire in 2011, sebuah karya besar dalam 32 kanvas yang dipresentasikan bersama 51 gambar iPad yang dicetak di atas kertas dalam pameran di Royal Academy.
Di sini terlihat sesuatu yang penting. iPad tidak membuat Hockney meninggalkan lukisan. Sebaliknya, medium baru itu memperluas cara ia memahami lukisan.
Menggambar waktu
Ada gagasan Hockney yang sangat menarik dari periode awal penggunaan iPad: pada permukaan datar, ia merasa tidak hanya bisa menggambar ruang, tetapi juga menggambar waktu. Ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan mendasar dalam seni. Sebuah gambar biasanya menangkap satu momen. Tetapi beberapa gambar yang disusun berurutan dapat membuat kita merasakan perubahan.

Pohon yang sama. Jalan yang sama. Tempat yang sama. Tetapi cahaya dan musim berubah. Dalam rangkaian seperti The Arrival of Spring, yang kita lihat bukan sekadar lanskap Yorkshire. Kita melihat lanskap yang sedang menjadi.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa gambar-gambar digital Hockney tidak terasa seperti demonstrasi teknologi. Mereka tetap terasa seperti gambar seorang pelukis yang sedang memperhatikan dunia. Teknologi berada di belakang pengalaman visual itu. Bukan di depannya.
Layar sebagai jendela
Ada perbedaan lain yang menarik. Kanvas memantulkan cahaya. Layar memancarkan cahaya. Perbedaan material ini tampak sederhana, tetapi mempunyai konsekuensi visual yang besar. Warna pada layar dapat terasa bercahaya dari dalam. Garis digital tidak harus menunggu tinta atau cat mengering. Warna dapat segera diganti. Lapisan dapat ditambahkan. Kesalahan dapat dibatalkan.
Hockney tidak berusaha menyembunyikan sifat digital tersebut. Ia justru menggunakannya. Dalam Yosemite Suite, misalnya, bentuk-bentuk alam dapat tampil dengan warna yang sangat kuat dan garis yang ekspresif. Maddox Gallery melihat karya-karya ini sebagai contoh bagaimana Hockney menggunakan medium digital untuk menerjemahkan lanskap yang akrab menjadi susunan warna dan bentuk yang nyaris abstrak.
Tetapi ada paradoks di sana. Semakin baru alatnya, semakin jelas pula kita melihat sesuatu yang sangat tua: keinginan manusia untuk membuat cahaya menjadi gambar.
Sebuah jendela menuju waktu
Hubungan Hockney dengan jendela bahkan menjadi lebih jelas dalam My Window. Kumpulan tersebut berisi 120 gambar iPhone dan iPad yang dibuat dari pemandangan melalui jendela rumahnya di Yorkshire antara 2009 dan 2012.
Jendela di sini bukan hanya objek. Ia adalah alat untuk melihat. Dari balik jendela, Hockney mengamati pagi, kabut, pepohonan, bunga, langit, perubahan musim. Satu gambar tampak seperti catatan kecil. Tetapi ketika seluruh gambar dilihat bersama, kita mendapatkan sesuatu yang lebih besar: sebuah kalender visual tentang perubahan dunia.
Dengan demikian, iPad menjadi semacam buku harian penglihatan. Bukan buku harian tentang apa yang dilakukan Hockney, melainkan tentang apa yang dilihat Hockney. Dan ini penting. Sebab sejarah seni bukan hanya sejarah tentang bagaimana manusia membuat gambar, tetapi juga sejarah tentang bagaimana manusia belajar melihat.
Bukan tentang iPad
Karena itu, mungkin kita keliru jika menyebut karya-karya tersebut sekadar “seni iPad”. Yang lebih penting bukan bahwa Hockney menggunakan iPad. Yang penting adalah apa yang ia lakukan dengan iPad. Kamera tidak otomatis menghasilkan fotografi yang baik. Kuas tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelukis. Kamera, komputer, iPad, atau perangkat apa pun hanyalah alat yang membuka kemungkinan.
Seniman tetap harus memilih. Apa yang dilihat? Apa yang diabaikan? Warna apa yang digunakan? Bagian mana yang diperbesar? Bagian mana yang dihilangkan? Bagaimana sebuah pengalaman visual diubah menjadi gambar? Dengan kata lain, teknologi mungkin memperluas kemampuan tangan, tetapi seni tetap berhubungan dengan keputusan mata.
Dari iPad ke AI
Di sinilah pengalaman Hockney menjadi menarik bagi kita sekarang. Setelah kamera, komputer, smartphone, dan iPad, kita memasuki zaman kecerdasan buatan. Kini gambar dapat muncul bukan hanya dari tangan yang menggerakkan kuas atau stylus, tetapi dari instruksi, referensi, pilihan, dan proses generatif.
Pertanyaan yang segera muncul adalah: Apakah gambar yang dihasilkan dengan bantuan AI masih merupakan seni? Pertanyaan itu mungkin perlu, tetapi pengalaman Hockney mengajak kita mengajukan pertanyaan lain: Apa yang dilakukan manusia dengan alat baru itu? Sebab semakin kuat alat yang kita miliki, semakin penting kemampuan memilih.
AI dapat menghasilkan banyak gambar. Tetapi manusia tetap harus menentukan gambar mana yang menarik, mengapa ia menarik, apa yang perlu diubah, apa yang harus dibuang, dan pengalaman apa yang hendak disampaikan. Dalam arti ini, perkembangan teknologi tidak serta-merta mengurangi pentingnya manusia dalam seni. Bisa jadi justru sebaliknya. Ketika alat semakin pintar, kemampuan melihat menjadi semakin penting.
Mata yang sama
Hockney menunjukkan kepada kita bahwa seorang seniman tidak harus setia kepada alat untuk tetap setia kepada dirinya sendiri. Ia boleh berpindah dari pensil ke kamera, dari kamera ke iPhone, dari iPhone ke iPad, lalu kembali ke cat, arang, atau medium lainnya. Yang membuat seluruh perjalanan itu tetap menjadi perjalanan seorang seniman adalah sesuatu yang lebih dalam daripada alat: cara melihat.
Teknologi akan terus berubah. Perangkat akan terus berganti. Aplikasi akan menjadi usang dan digantikan aplikasi lain. Bahkan mungkin suatu hari kita tidak lagi membedakan dengan jelas mana gambar yang dibuat dengan tangan dan mana yang dibuat dengan bantuan mesin.
Tetapi dunia yang dilihat manusia tetap penuh dengan cahaya, warna, bentuk, gerak, ruang, dan waktu. Dan selalu ada seseorang yang berhenti sejenak untuk memperhatikannya. Hockney menggambar dengan iPad. Alatnya baru. Tetapi yang bekerja di balik layar itu tetaplah mata yang sama. []
