Le Corbusier: Ketika Seorang Arsitek Belajar Melihat Dunia sebagai Bentuk

Sebelum dikenal sebagai arsitek yang mengubah wajah modernisme, Le Corbusier nama alias dari Charles-Édouard Jeanneret (1887–1965 adalah seorang pengamat yang tekun. Ia melukis benda-benda sederhana untuk membongkar bentuk, proporsi, ruang, dan hubungan di antara semuanya. Dari kanvas kecil itulah kita bisa melihat bagaimana seorang arsitek belajar memahami dunia—bukan sekadar sebagaimana tampak, tetapi sebagai susunan bentuk.

Ringkasan:

  • Benda menjadi bentuk — Melalui Nature morte dan gagasan Purisme, Le Corbusier menyederhanakan benda sehari-hari menjadi bentuk, bidang, volume, dan ritme.
  • Lukisan sebagai laboratorium arsitektur — Aktivitas melukis menjadi latihan visual untuk memahami komposisi, ruang, proporsi, dan hubungan antarunsur yang kemudian hadir dalam arsitekturnya.
  • Belajar melihat sebelum membangun — Bagi Le Corbusier, seni rupa bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan bagian dari cara berpikir yang membentuk gagasan arsitektur dan urbanismenya.

Oleh Hasan Aspahani

Sebelum menjadi salah satu arsitek paling berpengaruh pada abad ke-20, Le Corbusier belajar melihat. Bukan sekadar melihat dalam pengertian sehari-hari—melihat rumah, jalan, manusia, benda-benda di sekitarnya—melainkan melihat bagaimana dunia tersusun dari bentuk, bidang, volume, proporsi, ritme, dan hubungan antarunsur.

Salah satu cara paling menarik untuk memahami proses itu adalah dengan melihat sebuah lukisan.

Judulnya sederhana: Nature morte, dibuat pada 1922. Lukisan berukuran 65 × 81 sentimeter ini memperlihatkan benda-benda sehari-hari: botol, gitar, pipa, dan beberapa bentuk lain yang disusun di atas sebuah bidang. Kini karya itu berada dalam koleksi Centre Pompidou dan dikategorikan sebagai karya Purisme.

Sekilas, tidak ada yang luar biasa dari benda-benda tersebut. Justru di situlah persoalannya.

Nature morte, 1922
Minyak di atas kanvas, 65 × 81 cm
Centre Pompidou, Paris

Le Corbusier tidak tertarik sekadar melukis sebuah botol sebagai botol. Ia ingin melihat apa yang ada di balik pengenalan kita terhadap benda itu. Ketika kita melihat botol, biasanya kita segera mengenalinya sebagai botol dan berhenti melihat. Dalam lukisan ini, pengenalan itu seperti ditangguhkan. Botol berubah menjadi lengkung, silinder, volume, bidang, dan warna. Gitar bukan lagi terutama alat musik, tetapi menjadi hubungan antara garis, lengkung, ruang dan massa. Pipa dapat dibaca sebagai bentuk yang mengarahkan mata.

Benda berhenti menjadi benda. Ia menjadi bentuk. Di situlah lukisan Le Corbusier menjadi menarik bagi kita yang selama ini mengenalnya terutama sebagai arsitek. Ia sedang mengerjakan sesuatu yang kelak menjadi sangat penting dalam arsitekturnya: mengorganisasi dunia secara visual.

Le Corbusier tidak sampai pada gagasan itu sendirian. Pada 1917 ia bertemu pelukis Amédée Ozenfant. Keduanya kemudian mengembangkan Purisme, sebuah gerakan yang mengambil pengalaman dari Kubisme tetapi sekaligus mengkritiknya. Mereka mencari bentuk yang lebih sederhana, lebih teratur, dan lebih universal. Pada 1918 mereka menerbitkan Après le cubisme (After Cubism), yang menjadi salah satu dasar pemikiran Purisme.

Bagi mereka, lukisan tidak harus menjadi tiruan dunia sebagaimana tampak oleh mata. Tetapi ia juga tidak perlu tenggelam dalam kerumitan bentuk yang sepenuhnya terlepas dari kenyataan. Benda-benda sehari-hari justru dipilih karena memiliki bentuk yang jelas dan akrab: botol, gelas, gitar, pipa.

Yang dilakukan seniman adalah menyaringnya. Mengambil yang dianggap penting. Menyederhanakan. Kemudian menyusun kembali.

Karena itu lukisan Puris sering terasa tenang. Bentuk-bentuknya memiliki disiplin. Warna tidak dibiarkan berteriak tanpa hubungan. Ruang tidak dibiarkan kosong tanpa fungsi. Setiap unsur seolah mempunyai tempat dan hubungan dengan unsur yang lain.

Jika kita memperhatikan Nature morte dengan cara seperti itu, kita mulai menyadari bahwa lukisan tersebut sebenarnya bukan terutama tentang benda-benda. Ia adalah tentang hubungan antar benda.

Bagaimana sebuah lengkung berhadapan dengan garis lurus. Bagaimana sebuah volume berdiri di depan bidang. Bagaimana bentuk yang berat diseimbangkan oleh bentuk yang lebih ringan.

Bagaimana ruang kosong justru membuat benda menjadi lebih jelas. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan seorang arsitek. Dan memang demikian.

Kita sering membayangkan bahwa arsitektur Le Corbusier bermula dari bangunan. Tetapi mungkin lebih tepat mengatakan bahwa arsitekturnya bermula dari latihan melihat. Kanvas menjadi semacam laboratorium kecil tempat ia menguji hubungan antara bentuk, bidang, volume dan ruang.

Di atas kanvas, ia dapat melakukan eksperimen tanpa membangun apa pun. Sebuah botol dapat menjadi silinder. Sebuah gitar dapat menjadi kombinasi bidang dan lengkung. Sebuah pipa dapat menjadi garis yang menggerakkan mata. Kemudian semuanya ditempatkan dalam sebuah bidang yang datar.

Nature Morte, 1961.

Dari eksperimen sederhana itu muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana unsur-unsur yang berbeda dapat hidup bersama dalam satu kesatuan? Pertanyaan yang sama kelak muncul dalam arsitektur. Hanya skalanya yang berubah.

Dalam lukisan, ia menata benda di dalam bidang. Dalam arsitektur, ia menata manusia di dalam ruang. Tentu keduanya bukan hal yang sama. Lukisan tidak harus menyediakan tempat untuk tidur, bekerja, berjalan atau hidup. Bangunan harus melakukan semua itu. Tetapi cara berpikir mengenai hubungan antarunsur memiliki kedekatan yang kuat.

Arsitektur juga merupakan persoalan komposisi. Dinding adalah bidang. Kolom adalah garis dan volume. Jendela adalah bukaan yang mengatur hubungan antara ruang dalam dan dunia luar. Tangga menciptakan ritme gerak. Cahaya menjadi unsur yang mengubah persepsi terhadap seluruh komposisi.

Dalam pengertian itu, seorang arsitek tidak hanya membangun ruang. Ia menyusun pengalaman melihat.

Hubungan antara seni rupa dan arsitektur ini bukan sekadar tafsir yang kita tempelkan belakangan pada karya Le Corbusier. Ia sendiri menyadari hubungan tersebut. Fondation Le Corbusier mencatat bahwa praktik seni rupa menjadi sumber penting bagi pemikiran arsitektur dan urbanismenya. Bahkan dalam salah satu pernyataannya, ia menyebut seni rupa sebagai tempat ia menemukan “intellectual sap” bagi urbanisme dan arsitekturnya.

Ada sesuatu yang menarik jika kita memperhatikan tahun pembuatan Nature morte: 1922.

Ini bukan periode ketika Le Corbusier sudah sepenuhnya menjadi ikon arsitektur modern seperti yang kemudian kita kenal. Tahun itu justru merupakan masa ketika berbagai gagasannya sedang bertumbuh. Ia bekerja bersama sepupunya, Pierre Jeanneret, dan mengembangkan sejumlah gagasan arsitektur serta urbanisme, termasuk konsep Contemporary City for Three Million Inhabitants dan Maison Citrohan.

Maka kita dapat membayangkan sebuah hubungan yang menarik. Di satu sisi ada kanvas dengan botol, gitar dan pipa. Di sisi lain ada gambar rumah, kota dan ruang. Tampaknya keduanya berbicara tentang dunia yang berbeda.

Tetapi mungkin sebenarnya mereka sedang mengerjakan persoalan yang sama: bagaimana menata bentuk? Inilah yang membuat Le Corbusier sebagai pelukis layak dibicarakan secara serius. Melukis bukan sekadar kegiatan sampingan seorang arsitek yang memiliki waktu luang. Fondation Le Corbusier mencatat bahwa sepanjang hidupnya ia menghasilkan lebih dari 450 lukisan dan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk melukis.

Jumlah itu mengubah cara kita memandang aktivitas tersebut. Kita tidak lagi bisa mengatakan bahwa Le Corbusier adalah arsitek yang kebetulan suka melukis.

Lebih tepat jika dikatakan: ia adalah arsitek yang berpikir melalui seni rupa. Dan mungkin di sinilah letak pelajaran paling menarik dari Nature morte.

Kita dapat melihatnya sebagai sebuah lukisan benda mati. Tetapi kita juga dapat melihatnya sebagai sebuah latihan intelektual tentang bagaimana dunia bekerja secara visual. Benda menjadi bentuk.Bentuk menjadi komposisi. Komposisi menghasilkan keteraturan. Keteraturan kemudian dapat diterjemahkan menjadi ruang. Dan ruang, ketika ditempati manusia, menjadi arsitektur.

Le Corbusier, Deux femmes à la draperie rouge, 1935.

Le Corbusier kelak akan bekerja dalam skala yang jauh lebih besar. Ia akan merancang rumah, gedung, kompleks hunian, kapel, bahkan membayangkan kota-kota baru. Tetapi di dalam sebuah kanvas kecil, kita sudah dapat melihat salah satu kebiasaan berpikir yang mendasari pekerjaan tersebut: memecah dunia menjadi unsur-unsur yang dapat dilihat, memahami hubungan di antara unsur-unsur itu, lalu menyusunnya kembali menjadi sebuah keseluruhan.

Karena itu, ketika kita berdiri di depan Nature morte, pertanyaan yang menarik bukan hanya, “Apa yang dilukis Le Corbusier?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: Bagaimana ia melihat? Mungkin sebelum mengubah cara manusia membangun ruang, Le Corbusier terlebih dahulu mengubah cara ia memandang benda.

Ia belajar bahwa sebuah botol bukan hanya botol. Sebuah gitar bukan hanya gitar. Sebuah pipa bukan hanya pipa. Semuanya memiliki bentuk, ukuran, arah, berat visual, hubungan dan ruang di sekelilingnya.

Dunia, dengan demikian, dapat dibaca sebagai komposisi. Dan seorang arsitek yang telah belajar melihat dunia seperti itu tidak akan pernah memandang ruang dengan cara yang sama lagi. Sebelum membangun ruang, ia belajar mengatur bidang. Sebelum mengatur kota, ia belajar mengatur benda.

Sebelum menjadi arsitek yang mengubah lanskap abad ke-20, Le Corbusier terlebih dahulu menjadi seorang seniman yang belajar melihat dunia sebagai bentuk. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *