Setiap karakter sebaiknya memiliki beberapa gesture khas. Bukan berarti ia harus selalu melakukan gerakan yang sama, tetapi ada pola tubuh yang membuatnya terasa konsisten.
Oleh Hasan Aspahani
Komik strip adalah perpaduan antara kata dan gambar, tetapi ada saat ketika gambar justru lebih kuat daripada kata-kata. Sebuah karakter tidak harus mengatakan bahwa ia marah. Alis yang turun, mata yang menyipit, tubuh yang menegang, tangan yang mengepal—semuanya sudah cukup. Bahkan sering kali, ekspresi dan gesture seperti itu lebih lucu daripada kalimat penjelas.
Di sinilah komik strip memiliki bahasa sendiri: bahasa visual.
Kita membaca gambar bukan hanya dari apa yang digambarkan, tetapi dari bagaimana karakter berdiri, duduk, berjalan, menoleh, menatap, terkejut, menghindar, atau diam. Gerakan kecil dapat membawa informasi besar. Seekor kucing yang membelakangi pemiliknya sambil mengangkat ekor mungkin mengatakan lebih banyak daripada satu balon dialog.
Karena itu, karakter yang baik tidak hanya memiliki wajah yang mudah dikenali. Ia memiliki cara bergerak yang mudah dikenali.
Garfield punya tubuh yang seolah selalu malas bergerak. Calvin sering hadir dengan energi tubuh yang berlebihan. Charlie Brown memiliki bahasa tubuh yang memperkuat rasa ragu dan frustrasinya. Bahkan sebelum mereka berbicara, kita sudah mengenali siapa mereka.
Ini penting karena komik strip bekerja dalam ruang yang sempit. Kita tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan karakter. Pembaca harus bisa mengenalinya dalam hitungan detik. Maka ciri visual yang konsisten menjadi semacam bahasa tubuh karakter.
Ekspresi Adalah Dialog Kedua
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya berbicara dengan mulut. Kita berbicara dengan mata, wajah, tangan, bahu, bahkan cara kita berdiri. Comic strip dapat memanfaatkan semua itu.
Karakter mengatakan, “Aku tidak marah.” Tetapi wajahnya merah, tangannya mengepal, dan urat lehernya terlihat. Pembaca tentu tahu mana yang harus dipercaya. Di situlah humor bisa muncul. Kata mengatakan satu hal, tubuh mengatakan hal lain.
Kadang bahkan tidak perlu ada dialog. Dua karakter berdiri saling memandang setelah melakukan sesuatu yang bodoh. Panel terakhir hanya memperlihatkan ekspresi mereka. Pembaca mengisi sendiri kalimat yang tidak pernah diucapkan. Keheningan semacam itu bukan kekosongan. Ia adalah bagian dari bahasa visual.
Gesture Membentuk Kepribadian
Setiap karakter sebaiknya memiliki beberapa gesture khas. Bukan berarti ia harus selalu melakukan gerakan yang sama, tetapi ada pola tubuh yang membuatnya terasa konsisten.
Karakter yang percaya diri mungkin selalu membusungkan dada. Karakter yang gugup sering memainkan jari. Karakter yang malas berjalan dengan tubuh membungkuk. Karakter yang merasa paling pintar mungkin sering mengangkat telunjuk sebelum berbicara.
Gesture seperti itu lama-kelamaan menjadi bagian dari identitas karakter. Dan semakin kita mengenal karakter, semakin sedikit informasi yang diperlukan untuk membuat kita memahami keadaannya.
Seorang komikus bahkan dapat membuat sebuah gag hanya dengan mengubah pose karakter yang sama. Karakter berdiri tegak. Lalu membungkuk. Lalu berlutut. Lalu merangkak. Tidak ada dialog. Tetapi kita melihat perjalanan emosionalnya.
Jangan Takut Membuat Karakter Berlebihan
Dalam ilustrasi realistis, ekspresi yang terlalu ekstrem mungkin terasa aneh. Dalam comic strip, justru sebaliknya. Ekspresi adalah wilayah yang boleh dibesar-besarkan. Mata bisa dibuat lebih besar ketika terkejut. Mulut bisa dibuka selebar mungkin. Tubuh bisa melengkung ketika ketakutan. Kepala bisa sedikit miring ketika bingung. Tangan bisa terangkat dramatis ketika karakter merasa menang.
Tujuannya bukan menggambar manusia sebagaimana adanya, tetapi menggambar apa yang dirasakan manusia dengan cara yang mudah dibaca. Karikatur bekerja dengan prinsip yang sama. Ia mengambil ciri tertentu lalu memperbesarnya sampai ciri itu menjadi bahasa. Komik strip membutuhkan keterbacaan seperti itu.
Gambar Harus Tetap Terbaca
Tetapi ekspresi dan gesture yang kuat tidak berarti gambar harus penuh dengan detail. Justru semakin sederhana karakter, semakin penting ketepatan gesture. Bayangkan karakter hanya terdiri dari beberapa garis. Jika ia berdiri dengan tangan di pinggang, kita langsung membaca sikap percaya diri. Jika bahunya turun dan kepalanya menunduk, kita membaca kekalahan. Jika seluruh tubuhnya condong ke depan, kita merasakan gerak dan keinginan.
Sedikit garis yang tepat lebih kuat daripada banyak garis yang tidak perlu. Inilah alasan mengapa desain karakter dalam komik strip harus mempertimbangkan bukan hanya bagaimana karakter terlihat ketika diam, tetapi bagaimana ia terlihat ketika bergerak.
Character sheet sebaiknya tidak berhenti pada tampak depan, samping, dan belakang. Kita perlu mengenali karakter ketika ia marah, senang, takut, bingung, malas, terkejut, berlari, jatuh, duduk, atau tidur. Sebab komik strip bukan katalog karakter.
Karakter harus hidup. Dan kehidupan itu terlihat dari gerak. Pada akhirnya, bahasa visual membuat comic strip memiliki lapisan komunikasi kedua. Dialog mengatakan sesuatu. Gambar mengatakan sesuatu. Ekspresi bisa membantah dialog. Gesture bisa memperkuatnya. Pose bisa menjadi punchline. Bahkan diam bisa menjadi kalimat terakhir.
Kita sudah memiliki kata dan gambar. Tetapi masih ada satu persoalan: bagaimana membuat semua itu terus bekerja dari strip ke strip tanpa kehilangan kesegaran? Sebab pembaca tidak datang hanya sekali. Mereka datang lagi besok. Dan lusa. Dan minggu depan. Di situlah kita berhadapan dengan tantangan terbesar komik strip: repetisi tanpa kebosanan. []
