Bank ide adalah lumbung kemungkinan: tempat menyimpan pengamatan, karakter, situasi, dan gag yang kelak dapat diolah menjadi cerita.
Oleh Hasan Aspahani
Ide komik strip bisa muncul di mana saja: dari percakapan di meja makan, perilaku orang di jalan, berita di koran, kebiasaan seekor kucing, atau sebuah kalimat yang terdengar biasa saja tetapi menyimpan sesuatu yang ganjil. Masalahnya, ide sering datang ketika kita tidak sedang mencarinya. Ia muncul sebentar, terasa menarik, lalu menghilang sebelum sempat kita gunakan. Karena itu, seorang pembuat comic strip tidak cukup hanya belajar menemukan ide. Ia juga harus belajar menangkap, menyimpan, dan mengolahnya.
Membuat comic strip secara rutin bukan berarti kita harus selalu memperoleh gagasan baru tepat ketika waktunya menggambar. Cara kerja seperti itu melelahkan. Ada hari ketika ide datang berlimpah, tetapi ada pula hari ketika kepala terasa kosong. Kreator yang bergantung sepenuhnya pada inspirasi akan selalu menghadapi ketidakpastian. Sebaliknya, kreator yang membangun kebiasaan mengumpulkan bahan memiliki sesuatu untuk dikerjakan bahkan ketika inspirasi sedang tidak datang.
Di sinilah bank ide menjadi penting.
Bank ide bukan sekadar kumpulan lelucon yang sudah jadi. Ia adalah tempat menyimpan kemungkinan cerita: pengamatan, situasi, dialog, konflik, karakter yang menarik, kejadian ganjil, atau pertanyaan yang belum menemukan jawabannya. Sebuah catatan sederhana seperti kucing menganggap laptop sebagai tempat tidur mungkin belum menjadi gag. Tetapi ia menyimpan kemungkinan: bagaimana jika pemiliknya sedang bekerja, bagaimana jika kucing itu menolak dipindahkan, atau bagaimana jika ia justru duduk di atas tombol yang membuat pekerjaan pemiliknya berantakan?
Satu pengamatan dapat berkembang menjadi beberapa situasi. Satu situasi dapat menghasilkan beberapa konflik. Dan satu konflik dapat memiliki lebih dari satu kemungkinan akhir.
Bank ide menyimpan bahan mentah, bukan hanya komik yang sudah matang.
Belajar Melihat yang Ganjil
Kreator comic strip perlu mengembangkan kebiasaan melihat dunia dengan sedikit kecurigaan. Bukan kecurigaan terhadap orang lain, melainkan kecurigaan terhadap hal-hal yang dianggap biasa. Mengapa orang begitu serius ketika memilih tempat duduk? Mengapa seseorang lebih sibuk memotret makanan daripada memakannya? Mengapa kita sering membuat aturan yang kemudian kita langgar sendiri?
Banyak gag lahir dari ketidaksesuaian kecil semacam itu. Ada jarak antara apa yang dikatakan orang dan apa yang dilakukannya, antara citra yang ingin ditampilkan dan kenyataan, antara tujuan dan cara mencapainya. Jarak itulah yang bisa menjadi bahan komedi.
Namun pengamatan saja belum cukup. Tidak setiap kejadian lucu cocok menjadi comic strip. Kita perlu melihatnya melalui karakter dan semesta cerita yang sudah kita bangun. Jika kita memiliki karakter yang sombong, misalnya, peristiwa yang berkaitan dengan kesombongan akan lebih mudah diolah. Jika karakter kita sangat malas, kita bisa mengamati segala macam cara manusia menghindari pekerjaan.
Dengan demikian, bank ide bukan tempat menumpuk segala hal yang menarik. Ia juga merupakan tempat kita mencari bahan yang sesuai dengan dunia komik kita.
Catat Gagasannya, Jangan Tunggu Ceritanya Sempurna
Kesalahan yang sering dilakukan adalah menunggu sampai sebuah ide terasa lengkap sebelum mencatatnya. Padahal, yang perlu disimpan pada awalnya hanyalah inti gagasan. Sebuah kalimat pendek sudah cukup: karakter ingin terlihat kaya, tetapi tidak mau mengeluarkan uang. Atau: dua karakter berebut menjadi orang yang paling tidak peduli. Catatan itu belum memiliki panel, dialog, atau punchline. Tidak masalah.
Tugas pertama adalah menyelamatkan gagasan tersebut dari kelupaan.
Kelak, ketika kita duduk untuk membuat strip, catatan itu bisa dibuka kembali. Kita dapat menghubungkannya dengan karakter tertentu, memilih hambatan yang sesuai, lalu mencari belokan pada panel terakhir. Ide yang semula tampak biasa mungkin ternyata memiliki potensi. Sebaliknya, gagasan yang ketika pertama kali muncul terasa sangat lucu mungkin tidak berkembang menjadi cerita yang utuh.
Karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi ide. Simpan dahulu, nilai kemudian.
Kreator juga tidak perlu memaksa setiap catatan menjadi komik. Sebagian gagasan akan berkembang, sebagian perlu digabungkan dengan gagasan lain, dan sebagian lagi memang tidak akan digunakan. Bank ide bukan daftar kewajiban. Ia adalah persediaan kemungkinan.
Mengolah Ide Menjadi Cerita
Ketika tiba waktunya membuat strip, bank ide mulai bekerja sebagai ruang pencarian. Kita dapat mengambil satu catatan lalu mengajukan pertanyaan yang sudah menjadi dasar mesin cerita kita: siapa yang menginginkan sesuatu, apa yang menghalanginya, bagaimana karakter bereaksi, dan ke mana situasi itu bisa berbelok?
Misalnya, catatan kita berbunyi: seseorang ingin terlihat pintar.
Gagasan itu bisa diberikan kepada karakter yang memang selalu merasa paling cerdas. Ia mungkin menjelaskan sesuatu dengan istilah rumit, mengoreksi orang lain, atau menciptakan teori yang tidak masuk akal. Hambatannya bisa berupa karakter lain yang tidak terkesan, atau kenyataan sederhana yang membantah teorinya. Dari sana kita dapat mencoba beberapa akhir: ia salah memahami persoalan, orang yang dianggap bodoh justru memberikan jawaban, atau penjelasannya begitu rumit hingga ia sendiri lupa apa yang sedang dibicarakan.
Satu catatan kini memiliki beberapa kemungkinan strip. Kita tinggal memilih yang paling sesuai dengan karakter, paling mudah terbaca secara visual, dan memiliki akhir yang paling tepat.
Inilah manfaat memiliki bank ide yang cukup kaya: kita tidak harus menikahi gagasan pertama. Kita bisa membandingkan beberapa kemungkinan, memilih, menggabungkan, atau membuangnya.
Kreativitas bukan hanya kemampuan menghasilkan ide. Kreativitas juga kemampuan memilih dan mengolah ide.
Bank Ide Harus Terus Diperbarui
Bank ide yang baik bukan arsip mati. Ia harus terus menerima bahan baru, tetapi juga perlu sesekali dibuka dan dibaca ulang. Gagasan yang dicatat beberapa bulan lalu mungkin terasa lebih menarik ketika kita sudah memiliki karakter atau relasi baru. Sebuah pengamatan yang dahulu tidak cocok bisa menjadi relevan setelah semesta cerita berkembang.
Kadang dua catatan yang tidak berhubungan justru menghasilkan gagasan yang lebih kuat ketika dipertemukan. Karakter yang ingin terlihat pintar bertemu dengan karakter yang selalu salah memahami segala sesuatu. Keinginan untuk menghemat uang bertemu dengan kebiasaan membeli barang yang tidak diperlukan. Rencana sederhana bertemu dengan karakter yang selalu membuat semuanya menjadi rumit.
Pertemuan antargagasan dapat menghasilkan sesuatu yang tidak akan muncul jika kita hanya memikirkan satu ide secara terpisah.
Karena itu, bank ide sebaiknya mudah dicari dan mudah digunakan. Tidak perlu sistem yang rumit. Catatan di buku, dokumen digital, atau kumpulan kartu kecil bisa sama-sama berguna. Yang penting, kita dapat menemukan kembali bahan yang pernah dicatat dan melihat kemungkinan pengembangannya.
Keteraturan bukan tujuan akhir. Ia hanya membantu kita menggunakan bahan kreatif dengan lebih leluasa.
Menjaga Mesin Tetap Menyala
Ada perbedaan antara menunggu ide dan menyiapkan diri untuk menyambut ide. Orang yang menunggu inspirasi berharap sesuatu datang. Orang yang terbiasa mengamati dan mencatat selalu membawa pulang bahan, bahkan dari hari yang terasa biasa-biasa saja.
Kebiasaan ini mengubah cara kita memandang pekerjaan membuat comic strip. Kita tidak lagi harus menyelesaikan seluruh proses dalam satu momen: menemukan ide, membangun situasi, menulis dialog, menyusun panel, dan menemukan punchline sekaligus. Semua itu bisa berlangsung bertahap. Hari ini kita mengamati. Besok kita mengembangkan. Lusa kita memilih dan menggambar.
Dengan cara ini, kreativitas tidak sepenuhnya bergantung pada suasana hati. Ia menjadi praktik yang dapat dirawat.
Tentu saja, bank ide tidak menjamin setiap strip akan berhasil. Catatan yang banyak tidak otomatis menghasilkan komik yang bagus. Kita tetap membutuhkan pemahaman tentang karakter, konflik, gag, dialog, bahasa visual, dan ritme panel. Bank ide hanya menyediakan bahan agar semua kemampuan itu memiliki sesuatu untuk dikerjakan.
Pada akhirnya, bank ide bukan tempat menyimpan kelucuan, melainkan tempat menyimpan kemungkinan. Ia membantu kita melihat bahwa cerita bisa tumbuh dari hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Ia juga mengingatkan bahwa gagasan tidak selalu harus ditemukan dalam keadaan utuh. Kadang kita hanya menemukan sepotong percakapan, sebuah perilaku ganjil, atau satu pertanyaan sederhana. Selebihnya adalah pekerjaan komikus.
Dan ketika kebiasaan mengamati, mencatat, mengolah, serta memilih telah menjadi bagian dari proses kreatif, kita tidak lagi harus memulai dari halaman kosong setiap kali membuat strip. Kita selalu punya sesuatu untuk digali. Halaman boleh kosong. Kepala tidak harus ikut kosong. []
