Angka kriminalitas bisa dibaca sebagai sinyal sosial: gejala yang menyembul dari persoalan yang lebih dalam. Seperti gunung es, yang terlihat mungkin hanya sebagian kecil dari sesuatu yang berlangsung di bawah permukaan. Pertanyaannya kemudian bukan hanya siapa yang mencuri, tetapi apa yang sedang terjadi pada masyarakat sehingga pencurian itu terus muncul?
Oleh Hasan Aspahani
Ada berita kriminal yang sebaiknya tidak berhenti sebagai berita tentang polisi menangkap pencuri. Berita tentang warga Nagoya Newton yang resah karena barang-barang di luar bangunan kerap hilang, lalu polisi membekuk para tersangka pencurian outdoor AC, adalah salah satunya. Polisi menyebut ada dua laporan dalam perkara tersebut dengan tiga tersangka; dua di antaranya ditangkap dalam pengembangan kasus, sementara CCTV dan laporan masyarakat menjadi bagian dari bukti yang digunakan. Barang yang menjadi sasaran antara lain outdoor AC dan benda-benda lain yang berada di luar ruko, rumah kosong, atau bangunan yang minim pengawasan.
Kita tentu bisa membacanya secara sederhana: ada orang mencuri, polisi menangkap, perkara diproses. Selesai. Tetapi kalau kita melihat kota sebagai organisme sosial, angka kriminalitas sesungguhnya dapat dibaca sebagai sinyal. Ia memberi tahu kita bahwa di suatu bagian masyarakat sedang terjadi sesuatu yang patut dicermati. Kriminalitas adalah gejala yang tampak di permukaan; sementara kondisi sosial yang memungkinkan gejala itu muncul bisa berada jauh di bawah permukaan. Karena itu, angka kriminalitas tidak selalu harus dibaca semata-mata sebagai ukuran keberhasilan atau kegagalan polisi. Ia juga dapat dibaca sebagai semacam sensor kesehatan sosial sebuah kota.
Bayangkan sebuah gunung es. Yang terlihat di atas permukaan hanyalah bongkahan kecil. Di bawahnya terdapat massa yang jauh lebih besar. Demikian pula sebuah kasus pencurian. Yang tampak adalah pelaku, korban, barang yang hilang, kerugian, dan kemudian penangkapan. Tetapi di bawah peristiwa itu mungkin terdapat persoalan yang lebih panjang: pekerjaan yang tidak tersedia, pendapatan yang tidak cukup, hunian yang tidak layak, orang-orang yang hidup tanpa ikatan sosial yang kuat, migrasi, keterasingan dari lingkungan, kecanduan, putusnya hubungan keluarga, sampai terbentuknya jaringan ekonomi yang menampung barang hasil kejahatan. Kita tidak boleh menganggap semua faktor itu pasti menjadi penyebab dalam setiap kasus. Tetapi justru karena itu, kasus kriminal perlu menjadi pintu masuk untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Data kriminalitas Batam menunjukkan mengapa pembacaan semacam itu penting. Polresta Barelang mencatat 2.351 laporan polisi sepanjang 2025, dibandingkan 2.411 pada 2024. Di antara tindak pidana yang paling banyak dilaporkan pada 2025 terdapat 225 pencurian biasa, 218 penggelapan, 213 pencurian kendaraan bermotor, dan 157 pencurian dengan pemberatan. Angka-angka tersebut tentu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kondisi sosial Batam sedang memburuk—apalagi angka laporan dipengaruhi oleh perilaku pelaporan, kapasitas penegakan hukum, dan berbagai faktor lain. Tetapi angka itu cukup untuk mengatakan bahwa ada fenomena sosial yang layak dibaca lebih dalam, bukan sekadar dihitung.
Yang menarik, persoalannya bahkan tidak berhenti pada orang yang mengambil barang. Pada Juni 2026, BP Batam, Polda Kepri, dan pelaku usaha besi tua sampai menandatangani pakta integritas untuk mencegah penadahan dan perdagangan barang hasil tindak pidana. Polisi sendiri menekankan bahwa menangkap pencuri tidak cukup jika ruang untuk menjual barang hasil curian tetap terbuka. Pada saat itu disebutkan bahwa sepanjang 2026 telah ditangani 10 perkara pencurian fasilitas umum dengan 18 tersangka dan tiga penadah. Ini memberi kita gambaran bahwa kriminalitas mempunyai ekosistem. Ada yang mengambil, ada yang membeli, ada yang menjual kembali, ada pasar yang menyerap, dan ada kondisi sosial yang membuat seluruh mata rantai itu mungkin bekerja.
Karena itu, pertanyaan kita jangan berhenti pada “siapa pencurinya?” Pertanyaan berikutnya harus lebih jauh: mengapa barang itu dicuri, mengapa tempat itu menjadi sasaran, mengapa orang tersebut berada dalam kondisi yang mendorongnya melakukan kejahatan, dan ke mana barang curian itu mengalir? Bahkan pertanyaan yang lebih besar adalah: apa yang sedang berubah dalam struktur sosial kota sehingga bentuk-bentuk kriminalitas tertentu muncul berulang?
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan kemiskinan sebagai penjelasan otomatis bagi kejahatan. Orang miskin tidak identik dengan pencuri, sebagaimana orang kaya tidak otomatis bebas dari kriminalitas. Penjelasan seperti itu justru terlalu sederhana. Yang perlu dicari adalah hubungan antara tekanan sosial, kesempatan melakukan kejahatan, lemahnya pengawasan, jaringan ekonomi informal, dan kemampuan institusi untuk mencegah serta meresponsnya. Kriminalitas merupakan hasil dari banyak faktor yang saling berkelindan, bukan satu sebab tunggal.
Di sinilah sebuah kota membutuhkan cara pandang yang sedikit berbeda. Selama ini kriminalitas terutama ditempatkan sebagai urusan keamanan: polisi menangkap, jaksa menuntut, pengadilan mengadili. Itu tentu diperlukan. Tetapi jika sebuah kota ingin mengurangi kriminalitas dalam jangka panjang, ia perlu melihat apa yang terjadi sebelum sebuah kejahatan berlangsung. Polisi berhadapan dengan akibat; sementara pemerintah kota, lembaga sosial, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat sipil seharusnya ikut membaca kondisi yang memungkinkan akibat itu muncul.
Mungkin karena itu angka kriminalitas sebaiknya diperlakukan seperti angka demam pada tubuh manusia. Ketika suhu naik, kita tidak cukup mengatakan bahwa termometer sedang menunjukkan angka yang tinggi. Kita mencari penyakit di baliknya. Demikian pula ketika pencurian, penipuan, penganiayaan, atau bentuk kriminalitas tertentu muncul berulang di kawasan-kawasan tertentu, kita seharusnya tidak hanya bertanya berapa kasus yang berhasil diungkap. Kita perlu bertanya: mengapa kawasan itu? siapa yang tinggal di sana? bagaimana kondisi ekonominya? bagaimana pola mobilitas penduduknya? bagaimana kondisi hunian dan ruang publiknya? bagaimana akses pekerja terhadap pekerjaan dan pendapatan? bagaimana jaringan sosialnya? dan bagaimana barang hasil kejahatan bergerak di dalam ekonomi kota?
Batam sangat menarik untuk dibaca dengan pendekatan semacam ini karena ia bukan kota yang tumbuh secara perlahan. Ia adalah kota industri, perdagangan, migrasi dan mobilitas yang mengalami perubahan sangat cepat. Dalam kota seperti itu, pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti seluruh warga mengalami peningkatan keamanan sosial dengan kecepatan yang sama. Ada kelompok yang berhasil masuk ke dalam ekonomi formal, ada yang berada di pinggirnya, dan mungkin ada pula yang hidup di antara berbagai ekonomi informal. Di celah-celah itulah persoalan sosial kadang mulai terlihat sebagai kriminalitas.
Maka berita tentang kompresor AC yang dicuri sebenarnya bisa menjadi lebih dari sekadar berita tentang kompresor AC. Ia bisa menjadi sebuah alarm kecil. Kita belum boleh mengatakan apa penyebabnya sebelum melakukan penelitian. Tetapi kita juga tidak seharusnya mengabaikannya hanya karena polisi telah menangkap pelakunya. Sebab penangkapan menyelesaikan pertanyaan siapa yang melakukan, sementara kota masih menghadapi pertanyaan yang jauh lebih besar: mengapa kondisi yang memungkinkan kejahatan itu terus muncul?
Di sinilah metafora gunung es menjadi penting. Yang menyembul ke permukaan adalah kasus kriminal. Yang berada di bawah permukaan mungkin jauh lebih besar: ketimpangan kesempatan, kerentanan ekonomi, keterasingan sosial, lemahnya komunitas, pasar barang ilegal, masalah hunian, pengangguran terselubung, dan berbagai persoalan lain yang belum tentu terlihat dalam statistik kriminal. Kita tidak boleh mengarang isi gunung es itu. Tetapi kita juga tidak boleh berpura-pura bahwa gunung es tidak ada hanya karena yang terlihat baru puncaknya.
Kriminalitas, dengan demikian, bukan hanya persoalan keamanan. Ia adalah informasi tentang masyarakat. Dan kota yang cerdas bukan hanya kota yang mampu menangkap penjahat dengan cepat, tetapi juga kota yang mampu membaca sinyal sosial sebelum sinyal itu berubah menjadi masalah yang lebih besar.[]
