AI Bisa Membantu, Wartawan Tidak Bisa Lepas Tangan dari Tanggung Jawab

Kecerdasan buatan bisa membuat kerja jurnalistik lebih cepat dan efisien. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: teknologi dapat membantu wartawan mengolah informasi, tetapi tidak bisa mengambil alih tanggung jawabnya atas kebenaran berita.

Oleh Hasan Aspahani

Penjelasan paling mendasar tentang kegiatan jurnalistik dapat kita temukan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa pers melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi.

Enam kegiatan itu merupakan rangkaian pekerjaan yang saling berkaitan. Dari mencari dan memperoleh informasi, mengelola serta menyimpannya, mengolahnya menjadi sesuatu yang bermakna, hingga menyampaikannya kepada publik. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini memengaruhi hampir seluruh rangkaian tersebut. Namun, ada satu hal yang perlu kita tegaskan sejak awal: AI adalah alat bantu dalam pekerjaan jurnalistik, bukan pengganti wartawan.

Dari keenam kegiatan itu, pengolahan informasi mungkin menjadi wilayah yang paling mudah memperlihatkan manfaat AI. Bayangkan seorang wartawan baru saja menyelesaikan wawancara selama satu jam. Ia memiliki rekaman suara yang harus ditranskripsikan, puluhan halaman catatan, dan sejumlah dokumen yang perlu dibaca. AI dapat membantu mengubah rekaman menjadi teks, menyusun transkrip, merangkum keterangan narasumber, mengelompokkan informasi berdasarkan tema, atau menunjukkan bagian-bagian yang layak diperiksa lebih lanjut.

AI juga dapat membantu menyunting bahasa, memperbaiki struktur kalimat, menerjemahkan dokumen, membandingkan sejumlah keterangan, dan menyusun draf awal tulisan. Pekerjaan yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Wartawan pun memiliki kesempatan untuk menggunakan waktunya bagi pekerjaan lain yang lebih membutuhkan keterlibatan manusia.

Tetapi kata kuncinya adalah membantu.

Transkrip yang dihasilkan AI belum tentu akurat. Nama orang, istilah teknis, angka, bahkan satu kata yang menentukan makna sebuah pernyataan bisa keliru dikenali. Ringkasan yang tampak rapi mungkin menghilangkan konteks penting. Informasi yang dipilih sebagai bagian paling penting belum tentu merupakan informasi yang paling penting bagi kepentingan publik. Bahkan, bahasa yang sudah diperhalus AI bisa membuat pernyataan narasumber terdengar lebih tegas, lebih lunak, atau berbeda dari maksud sebenarnya.

Karena itu, wartawan tetap harus memeriksa hasil kerja AI. Transkrip perlu dicocokkan dengan rekaman. Ringkasan perlu dibandingkan dengan sumber aslinya. Fakta, angka, nama, dan kutipan harus diverifikasi. Penyuntingan bahasa tidak boleh mengubah makna. Draf yang dibuat AI harus diperiksa, bukan sekadar disalin lalu diterbitkan.

AI bisa menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi kemasukakalan bukanlah bukti kebenaran.

Di sinilah persoalan penggunaan AI dalam jurnalisme menjadi lebih mendasar daripada sekadar kecakapan mengoperasikan teknologi. Wartawan harus memahami apa yang dikerjakan oleh alat yang digunakannya, apa keterbatasannya, dan bagaimana memastikan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketelitian. Efisiensi tidak boleh mengorbankan akurasi.

Hal yang sama berlaku ketika AI digunakan untuk membantu mencari dan menemukan informasi. AI dapat menelusuri dokumen, membaca arsip dalam jumlah besar, menemukan pola, dan menyarankan kemungkinan hubungan antarfakta. Namun, temuan itu tetap harus diuji. Wartawan perlu memastikan apakah pola yang ditemukan memang mencerminkan kenyataan atau sekadar kesimpulan yang muncul dari data yang tidak lengkap.

Lebih dari itu, informasi yang tersedia dalam dokumen dan basis data bukanlah keseluruhan kenyataan. Ada pengalaman warga yang belum pernah dicatat, persoalan yang belum diberitakan, dan keterangan yang hanya bisa diperoleh dengan mendatangi seseorang, mengajukan pertanyaan, serta membangun kepercayaan. Wartawan harus bersedia keluar dari layar, menemui narasumber, mendengarkan, mengamati, dan memeriksa keadaan secara langsung.

Sebab kegiatan jurnalistik bukan hanya perkara mengolah informasi yang sudah tersedia. Ada pekerjaan mencari dan memperoleh informasi yang menuntut inisiatif, keberanian, kepekaan, dan pertimbangan manusia. AI dapat membantu menyiapkan pertanyaan wawancara, tetapi tidak otomatis mengetahui pertanyaan lanjutan yang harus diajukan ketika narasumber memberikan jawaban yang mengejutkan. AI dapat merangkum keterangan, tetapi wartawanlah yang harus menilai konteks, menguji konsistensi, dan mencari konfirmasi.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah wartawan boleh menggunakan AI. Tentu saja boleh, sepanjang penggunaannya dilakukan secara bertanggung jawab. Persoalannya adalah bagaimana wartawan menggunakan AI tanpa menyerahkan penilaian dan tanggung jawab profesionalnya kepada mesin.

Wartawan tidak boleh lepas tangan dengan alasan bahwa kesalahan berasal dari AI. Publik tidak meminta pertanggungjawaban kepada perangkat lunak yang digunakan sebuah media. Publik berhak meminta pertanggungjawaban kepada wartawan dan institusi pers yang menerbitkan informasi tersebut.

Karena itu, semakin canggih alat yang digunakan, semakin penting pula sikap kritis penggunanya. Wartawan perlu memahami teknologi, tetapi juga harus memahami batas-batasnya. Ia harus mampu memanfaatkan kecepatan AI tanpa kehilangan ketelitian, menggunakan kemampuan analisisnya tanpa menelan mentah-mentah kesimpulannya, dan menerima bantuan mesin tanpa menyerahkan keputusan jurnalistik kepadanya.

AI boleh membantu wartawan bekerja lebih cepat. Tetapi wartawan tetap harus memastikan bahwa pekerjaannya benar. AI mempercepat kerja wartawan yang cermat tapi tak bisa membantu wartawan malas dan ceroboh.

Bagi saya, inilah sikap dasar yang perlu kita pegang dalam menghadapi AI di ruang redaksi. Kita tidak perlu menolak teknologi yang dapat membantu pekerjaan jurnalistik. Namun, kita juga tidak boleh terpesona oleh kemampuannya hingga lupa bahwa teknologi hanyalah alat.

Tujuan jurnalisme bukan sekadar menghasilkan informasi sebanyak-banyaknya atau menerbitkan berita secepat-cepatnya. Tujuannya adalah menyampaikan informasi yang benar, terverifikasi, dan berguna bagi publik. AI dapat membantu kita mencapai tujuan itu. Tetapi tanggung jawab untuk memastikan bahwa tujuan itu tercapai tetap berada di tangan manusia. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *