Apakah Batam Masih Menepati Janjinya?

Oleh Hasan Aspahani

ADA sebuah adegan yang selalu saya ingat dari Little House on the Prairie, ketika Charles Ingalls meninggalkan tempat yang sudah dikenalnya dan membawa keluarganya menuju tempat lain, ke sebuah wilayah yang belum sepenuhnya menjadi apa-apa. Yaitu ketika kereta kuda mereka harus melintasi sungai. Dan tersangkut batu. Nyaris terbalik dan terbawa arus. Ia membawa sedikit barang, seluruh keluarganya, dan sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke dalam kereta: harapan.

Meninggalkan tempat kelahiran bukan keputusan mudah. Ada rumah, keluarga, kenangan, jalan-jalan yang kita kenal, suara-suara yang akrab. Tetapi kadang-kadang harapan akan kehidupan yang lebih baik terasa lebih besar daripada kekhawatiran terhadap ketidakpastian.

Pada 1999, saya datang ke Batam dengan perasaan semacam itu. Saya tidak datang karena Batam sudah menjanjikan kehidupan yang mapan. Saya datang karena saya percaya bahwa di kota ini saya bisa membangun kehidupan yang lebih baik.

Dan saya tentu tidak sendirian.

Batam sejak lama menjadi salah satu magnet bagi orang-orang dari berbagai daerah. Mereka datang membawa keterampilan, tenaga, keberanian, dan harapan. Ada yang datang untuk bekerja di kawasan industri. Ada yang mencari peluang usaha. Ada yang membawa keluarga. Ada yang datang sendirian, dengan rencana sederhana: bekerja dulu, nanti lihat bagaimana.

Mungkin tidak ada mereka yang ketika datang berkata, “Saya akan tinggal di Batam selama dua puluh atau tiga puluh tahun.” Tetapi kota mempunyai cara yang aneh untuk mengubah sementara menjadi menetap. Kontrakan menjadi rumah. Tempat kerja menjadi karier. Teman sekerja menjadi sahabat. Sahabat menjadi keluarga. Anak yang dibawa datang masih kecil tumbuh menjadi orang dewasa.

Dan tanpa terasa, orang yang dahulu disebut pendatang itu sudah menjadi bagian dari kota. Begitu pula saya. Saya datang ke Batam pada 1999. Sekarang sudah 2026. Dua puluh tujuh tahun, dengan selingan beberapa tahun tinggal sebentar di kota lain, termasuk di Jakarta sejak 2014 larena harus melanjutkan pendidikan master. Hampir tiga dekade dan hingga kini saya masih ber-KTP Batam.

Kalau saya membayangkan kembali lelaki yang datang ke Batam pada 1999 itu, barangkali ia seperti Charles Ingalls dalam caranya sendiri. Ia tidak mengetahui dengan pasti apa yang menunggunya. Ia hanya tahu bahwa ia harus bergerak. Bahwa di tempat baru mungkin tersedia kemungkinan-kemungkinan yang belum tersedia di tempat asalnya.

Yang dibawa sebenarnya sederhana: harapan. Harapan mendapatkan pekerjaan. Harapan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Harapan memiliki rumah. Harapan dapat membesarkan keluarga dengan lebih baik. Harapan bahwa anak-anak kelak mempunyai kesempatan yang lebih luas.

Dan di balik semua itu, ada harapan yang paling sederhana sekaligus paling besar: mempunyai kehidupan yang layak. Bukankah pada akhirnya itulah yang dicari sebagian besar orang ketika memilih sebuah kota untuk ditinggali?

Bukankah pada akhirnya itulah yang dicari sebagian besar orang ketika memilih sebuah kota untuk ditinggali?

Bukan gedung tinggi. Bukan jalan yang lebar. Bukan angka pertumbuhan ekonomi. Melainkan kemungkinan untuk menjalani kehidupan yang terasa lebih baik daripada kehidupan yang ditinggalkannya.

Kota, dengan demikian, sesungguhnya adalah semacam janji. Meski kota tidak pernah benar-benar membuat janji. Kitalah yang menaruh janji itu di dalamnya. Kitalah yang datang membawa harapan dan membayangkan masa depan.

Dan karena itu, setelah tinggal begitu lama, kita mulai mempunyai hak untuk bertanya: apakah kota itu masih memenuhi janji yang kita letakkan di dalamnya? Pertanyaan itu terasa semakin penting bagi Batam.

Sebab Batam bukan hanya sebuah kota yang tumbuh karena pembangunan. Batam juga tumbuh karena manusia-manusia yang datang kepadanya.

Mereka datang dari berbagai tempat. Mereka bekerja di pabrik-pabrik, pelabuhan, kantor-kantor, toko, sekolah, rumah sakit, restoran, media, bengkel, pasar, dan berbagai usaha kecil yang membuat sebuah kota benar-benar hidup.

Kota dibangun oleh pemerintah dan investasi, tentu saja. Tetapi kota juga dibangun oleh orang-orang yang setiap pagi berangkat bekerja dan setiap malam pulang ke rumah. Oleh orang yang mengendarai sepeda motor ke kawasan industri. Oleh ibu yang membuka warung. Oleh guru yang mengajar. Oleh buruh yang bekerja dalam sistem shift. Oleh pedagang yang membuka toko. Oleh wartawan yang mengejar berita. Oleh pengusaha kecil yang mencoba bertahan. Oleh keluarga yang menabung sedikit demi sedikit untuk membeli rumah.

Mereka semua membawa harapan masing-masing.

Maka ketika kita berbicara tentang masa depan Batam, sesungguhnya kita tidak hanya sedang berbicara tentang pertumbuhan sebuah wilayah. Kita sedang berbicara tentang nasib manusia-manusia yang telah mempertaruhkan sebagian hidupnya kepada kota ini.

Saya termasuk di dalamnya. Itulah sebabnya, setelah dua puluh tujuh tahun, saya tidak lagi bisa memandang Batam hanya sebagai kota tempat saya tinggal. Batam telah menjadi bagian dari biografi saya. Nama kota ini ada di akte kelahirananak saya. Rumah yang saya bayangkan akan jadi tempat saya menghabiskan masa tua juga ada di sini. Batam ada dalam bait-bait puisi yang saya tulis. Atau lanskap kota ini di kanvas lukisan saya.

Ada bagian hidup saya yang tidak mungkin dipisahkan dari kota ini.

Dan begitulah hubungan kita dengan kota: mula-mula kita memilih kota, kemudian tanpa sadar kota itu ikut membentuk kita. Tetapi hubungan itu tidak selalu mudah. Kota berubah. Ekonomi berubah. Pekerjaan berubah. Teknologi berubah. Generasi berganti. Biaya hidup berubah. Harapan manusia pun berubah.

Apa yang dianggap sebagai kehidupan yang lebih baik pada 1999 mungkin tidak lagi sama dengan kehidupan yang dianggap baik pada 2026.

Orang yang datang ke Batam hari ini mungkin tidak lagi hanya mencari pekerjaan. Mereka mencari kualitas hidup, pendidikan, ruang hidup yang layak, kesempatan berkembang, lingkungan yang baik, transportasi yang nyaman, dan masa depan yang dapat mereka bayangkan.

Pertanyaannya kemudian menjadi semakin besar: Apakah Batam masih menjadi kota harapan? Apakah seorang anak muda dari kota kecil di Indonesia yang datang ke Batam hari ini masih dapat berkata seperti lelaki yang datang pada 1999: Di sini saya mungkin bisa membangun kehidupan yang lebih baik?

Apakah kota ini masih memberikan cukup ruang bagi mereka yang datang tanpa modal besar selain keberanian dan kemauan bekerja? Apakah mereka yang telah puluhan tahun tinggal di sini merasa bahwa pengorbanan mereka terbayar?

Dan lebih jauh lagi: apakah anak-anak mereka melihat Batam sebagai tempat untuk membangun masa depan, atau justru sebagai tempat yang harus mereka tinggalkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik?

Saya tidak mempunyai jawaban sederhana untuk semua pertanyaan itu. Mungkin memang tidak seharusnya ada jawaban sederhana. Sebab kota bukan mesin yang menghasilkan kebahagiaan. Kota hanyalah ruang tempat manusia berusaha membuat hidupnya berarti.

Tetapi sebuah kota yang sejak awal dibangun dengan gagasan tentang peluang, pertumbuhan, dan masa depan memang patut terus ditanya tentang peluang, pertumbuhan, dan masa depan itu.

Bukan untuk menyalahkannya. Justru karena kita mencintainya.

Saya membayangkan Charles Ingalls setelah bertahun-tahun tinggal di sebuah tempat baru. Mungkin ia akan melihat bahwa tanah yang dahulu kosong telah berubah. Jalan telah dibuat. Rumah-rumah bertambah. Anak-anak tumbuh. Kehidupan bergerak.

Tetapi mungkin ia juga akan bertanya kepada dirinya sendiri: Apakah ini kehidupan yang dulu saya bayangkan ketika saya memutuskan untuk pergi? Pertanyaan itu, ternyata, bukan hanya milik Charles Ingalls. Ia juga milik kita.

Milik siapa saja yang pernah meninggalkan kampung halaman dan datang ke sebuah kota dengan membawa harapan. Dan hari ini, hari ketika saya menulis tulisan ini, dari Batam, setelah dua puluh tujuh tahun, saya merasa pertanyaan itu kembali kepada saya.

Saya melihat kota ini. Saya melihat apa yang telah berubah. Saya mengingat apa yang pernah saya harapkan. Lalu saya bertanya: Apakah Batam masih menepati janjinya? Atau mungkin pertanyaannya harus kita ubah sedikit. Apakah kita masih mampu membuat janji itu menjadi kenyataan?

Sebab pada akhirnya, bukan hanya kota yang harus menjawab. Kita yang datang membawa harapan juga mempunyai bagian dalam membuat sebuah kota menjadi tempat yang layak untuk berharap.

Seperti Charles Ingalls, kita datang membawa sedikit barang. Tetapi yang paling penting kita bawa adalah keyakinan bahwa di tempat baru itu, kehidupan masih mungkin dibangun.

Berpuluh tahun kemudian, saya masih ingin percaya pada hal itu. Mungkin itulah alasan sederhana mengapa kita dulu datang. Dan alasan mengapa, sampai hari ini, kita masih memilih untuk kembali dan tinggal di sini. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *