Bagaimana Membuat Komik Strip (1): Apa Itu Komik Strip?

Untuk keperluan seri tulisan ini, kita dapat menggunakan definisi kerja yang sederhana: Comic strip adalah bentuk cerita komik pendek yang dibangun dalam rangkaian panel, dengan karakter dan/atau semesta cerita yang memungkinkan situasi baru terus muncul dari waktu ke waktu.

Oleh Hasan Aspahani

Bayangkan sebuah pekerjaan yang tampaknya sederhana. Setiap hari, seorang kartunis hanya perlu membuat beberapa gambar dalam beberapa kotak. Kadang tiga panel. Kadang empat. Kadang bahkan hanya dua. Ada tokoh yang sudah dikenal, tempat yang sudah akrab, dan situasi yang sebenarnya tidak istimewa.

Lalu di ujungnya harus ada sesuatu yang membuat pembaca tersenyum, tertawa, berpikir, atau sekurang-kurangnya berhenti sebentar. Besok harus ada lagi. Lusa harus ada lagi. Minggu depan harus ada lagi.

Di situlah persoalannya. Membuat satu comic strip mungkin tidak terlalu sulit. Membuat comic strip yang dapat terus dibuat adalah persoalan yang sama sekali berbeda. Comic strip adalah bentuk cerita yang sangat kecil, tetapi memiliki tuntutan yang sangat besar. Ia harus bekerja dalam ruang terbatas, dengan waktu baca yang singkat, dan sering kali tanpa kesempatan untuk menjelaskan terlalu banyak.

Pembaca datang, membaca beberapa panel, mendapatkan pengalaman, lalu pergi. Besok ia kembali. Dan kartunis harus sudah mempunyai sesuatu yang baru.

Bukan Sekadar Gambar Lucu

Secara sejarah, comic strip tumbuh bersama surat kabar massal. Library of Congress mencatat bahwa pada akhir abad ke-19 comic strip berkembang pesat di surat kabar Amerika. Persaingan sirkulasi antara surat kabar milik Joseph Pulitzer dan William Randolph Hearst ikut mendorong perkembangan bentuk ini. Pada 1896, karya Richard F. Outcault tentang Yellow Kid bahkan disebut Library of Congress sebagai “the first successful commercial comic strip.”

Tetapi bagi kita, sejarah itu bukan sekadar informasi kronologis. Ia memberi petunjuk penting. Comic strip sejak awal memiliki hubungan yang erat dengan surat kabar, pembaca massal, karakter, dan cerita pendek yang berulang.

Bahkan Library of Congress menggambarkan comic strip sebagai bentuk yang memiliki kemungkinan yang nyaris tak habis untuk storytelling and self-expression. Dengan kata lain, comic strip bukan sekadar gambar lucu yang kebetulan diletakkan dalam beberapa kotak. Ia adalah sistem bercerita.

Kotak-Kotak Kecil, Dunia yang Besar

Cobalah lihat Peanuts. Dunia Charlie Brown, Snoopy, Lucy, Linus, Schroeder, Sally, dan kawan-kawan sebenarnya tidak besar. Mereka bermain, pergi ke sekolah, berbicara, bertengkar, berharap, kecewa, berkhayal, dan melakukan hal-hal yang sangat biasa.

Tetapi dari dunia yang sederhana itu Charles M. Schulz dapat menghasilkan cerita selama puluhan tahun. Museum Charles M. Schulz mencatat bahwa ketika karakter-karakter Peanuts semakin berkembang dan semakin memiliki kepribadian yang jelas, humor mulai mengalir dari kepribadian mereka. Schulz sendiri membandingkan proses memilih karakter dengan “casting a drama company”: seorang kartunis membutuhkan aktor-aktor yang mampu memainkan berbagai peran sesuai kebutuhan cerita.

Ini memberi kita pelajaran pertama: Karakter yang kuat bukan hanya karakter yang menarik. Karakter yang kuat adalah karakter yang dapat menghasilkan cerita.

Garfield, misalnya, tidak perlu setiap hari diberi petualangan baru. Ia cukup ditempatkan di sekitar makanan, tidur, Jon, Odie, rumah, atau kebenciannya terhadap Senin. Dari sifat dasarnya saja, berbagai kemungkinan cerita dapat muncul. Begitu pula Calvin. Calvin adalah anak yang memiliki imajinasi luar biasa, sementara Hobbes adalah sahabat, lawan bicara, sekaligus pintu menuju dunia imajinasinya. Bill Watterson pernah mengatakan bahwa Calvin and Hobbes pada dasarnya adalah strip tentang keluarga, sebuah setting yang familiar dan universal. Yang penting bukan kebaruan subjeknya, melainkan apa yang dilakukan terhadap subjek tersebut.

Maka kita mulai menemukan sesuatu yang sangat penting: Semesta cerita tidak harus luas. Ia harus produktif.

Semesta Cerita sebagai Mesin

Inilah istilah yang akan kita gunakan sepanjang buku ini: Semesta Cerita. Semesta cerita adalah keseluruhan dunia tempat karakter kita hidup dan tempat berbagai kemungkinan cerita dapat terjadi. Ia mencakup tempat, waktu, kebiasaan, lingkungan sosial, pekerjaan, keluarga, teman, lawan, benda-benda yang biasa muncul, aturan yang berlaku, bahkan cara para tokohnya memandang dunia.

Tetapi ada satu ukuran yang lebih penting daripada semuanya: Seberapa banyak cerita yang dapat lahir dari semesta itu?

Bayangkan kita menciptakan seorang karakter yang sangat lucu. Kita menggambarnya dengan baik. Kita memberinya nama yang menarik. Kita bahkan berhasil membuat satu strip yang membuat orang tertawa.

Lalu? Kalau kita tidak tahu apa yang dapat terjadi kepadanya besok, kita belum mempunyai comic strip. Kita baru mempunyai sebuah gag. Comic strip memerlukan sesuatu yang lebih dalam: sebuah mesin cerita.

Dari Karakter ke Kemungkinan

Kita dapat membayangkan mesin sederhana: Karakter → sifat → keinginan → benturan → situasi → gag. Tetapi mesin itu tidak bekerja sendirian. Ia membutuhkan hubungan. Karakter A bertemu karakter B. Karakter A menginginkan sesuatu. Karakter B menghalangi. Muncullah situasi. Situasi berkembang. Pembaca mengira akan terjadi sesuatu. Kemudian kartunis membelokkannya. Itulah strip.

Karena itu, ketika nanti kita membedah sepuluh comic strip dalam buku ini, kita tidak akan mulai dengan pertanyaan: “Mengapa komik ini lucu?” Pertanyaan itu terlalu kecil. Kita akan bertanya: Siapa karakternya? Di dunia seperti apa ia hidup? Apa premis yang menggerakkan dunia itu? Siapa yang menjadi lawannya? Siapa yang menjadi temannya? Apa yang selalu bisa terjadi pada mereka?

Dan akhirnya: Mengapa dunia itu sanggup menghasilkan strip berikutnya?

“A Comic Strip Has to Grow”

Charles M. Schulz memberi kita satu kalimat yang sangat tepat untuk memahami tantangan tersebut: “A comic strip … has to grow.” Ia melanjutkan bahwa satu-satunya cara untuk tetap berada di depan adalah “to search out new territories.”

Charlie M Schulz di studionya.

Kalimat ini penting karena menunjukkan bahwa keberlangsungan comic strip bukan berarti mengulang hal yang sama. Sebaliknya, kita harus mempunyai formula yang cukup kuat untuk dikenali dan ruang yang cukup luas untuk dieksplorasi.

Itulah paradoks comic strip. Karakter harus konsisten, tetapi tidak boleh mati. Dunia harus familiar, tetapi tidak boleh membeku. Formula harus berulang, tetapi hasilnya harus terasa baru. Pembaca harus merasa: “Saya tahu siapa mereka.” Tetapi sekaligus: “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kali ini.” Di antara dua perasaan itulah comic strip hidup.

Panel yang Mengandung Waktu

Ada lagi sesuatu yang sering kita lupakan. Comic strip bukan hanya gambar. Ia adalah waktu yang digambar. Panel pertama terjadi sebelum panel kedua. Panel kedua mengubah pemahaman kita terhadap panel pertama. Panel ketiga menciptakan harapan. Panel terakhir dapat membalikkan semuanya.

Museum Charles M. Schulz secara khusus membahas bagaimana format comic strip memberikan cadence tertentu: jarak antarpanel menciptakan jeda yang mengontrol ritme membaca. Schulz juga menggunakan berbagai mekanisme komedi, termasuk third-panel punchline.

Jadi ketika kita nanti membicarakan panel, kita tidak akan hanya membicarakan: “Panel satu gambarnya apa?” Kita akan membicarakan: “Apa yang pembaca tahu di panel satu, apa yang berubah di panel dua, apa yang mereka harapkan di panel tiga, dan kapan kita memberikan kejutan?”

Kita Tidak Sedang Belajar Meniru

Ada alasan mengapa buku ini akan membedah Peanuts, Garfield, Calvin & Hobbes, Pearls Before Swine, Popeye, Mafalda, Dilbert, Dennis the Menace, Beetle Bailey, dan Nancy.

Bukan karena kita ingin membuat komik seperti mereka. Justru sebaliknya. Kita ingin melihat bagaimana mereka bekerja. Apa yang membuat Charlie Brown mampu terus menjadi Charlie Brown? Mengapa Garfield tidak habis meskipun bahan leluconnya tampak terbatas? Bagaimana Calvin membuka pintu antara dunia nyata dan imajinasi? Bagaimana Pearls Before Swine menghasilkan humor dari karakter dan bahkan dari kesadaran terhadap medium komik itu sendiri? Mengapa Popeye begitu kuat sebagai karakter? Bagaimana Mafalda menjadikan seorang anak kecil sebagai alat untuk berbicara tentang dunia orang dewasa? Bagaimana Dilbert mengubah kantor menjadi semesta cerita? Bagaimana Dennis membuat kenakalan anak menjadi sumber cerita tanpa akhir? Bagaimana Beetle Bailey memanfaatkan rutinitas sebuah kamp militer? Dan bagaimana Nancy bekerja dengan ekonomi gambar dan konstruksi gag yang begitu efisien?

Kita akan membongkar semuanya. Bukan untuk menemukan satu formula yang benar. Tetapi untuk menemukan prinsip-prinsip yang membuat sebuah comic strip dapat hidup.

Maka, Apa Itu Comic Strip?

Untuk keperluan seri tulisan ini, kita dapat menggunakan definisi kerja yang sederhana: Comic strip adalah bentuk cerita komik pendek yang dibangun dalam rangkaian panel, dengan karakter dan/atau semesta cerita yang memungkinkan situasi baru terus muncul dari waktu ke waktu.

Definisi ini sengaja menekankan satu kata: terus. Sebab comic strip bukan hanya soal apa yang terjadi hari ini. Ia adalah soal kemungkinan yang masih tersedia besok. Dan lusa. Dan minggu depan. Dan, kalau kita sangat beruntung, bertahun-tahun kemudian. Pada akhirnya, pekerjaan seorang pembuat comic strip bukanlah menemukan lelucon setiap hari. Pekerjaannya adalah menciptakan sebuah dunia yang tidak pernah benar-benar kehabisan kemungkinan. Itulah yang akan kita pelajari dalam buku ini.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *