Cerita Batam dari Balik Dashboard Driver Gocar

Mungkin begitulah sebuah kota sesungguhnya berbicara kepada warganya. Tidak selalu melalui pidato atau kebijakan. Kadang-kadang melalui jalan yang terbuka, acara yang menarik, orang-orang yang datang, dan permintaan yang tiba-tiba meningkat.

Oleh Hasan Aspahani

“Kalau masih ada, ambil terus, Bu.”

Ia mengucapkannya ringan, sambil berfokus ke setir dan jalanan. Kalimat itu membuat saya memperhatikan kembali perempuan muda di balik kemudi mobil LCC yang kami tumpangi malam itu.

Sabtu malam di Batam.

Jalanan padat, tetapi lancar. Dari BCS Mall, tempat kami dijemput, mobil bergerak melewati jalan-jalan kota yang lebar. Dashboard di depan kami tersambung dengan Spotify. Lagu pop berganti-ganti tanpa jeda: Sam Smith dengan I’m Not the Only One, kemudian Justin Bieber dengan Anyone. Sesekali perempuan muda itu ikut menyanyikan liriknya.

Di luar mobil, Batam sedang ramai.

Di dalam mobil, rupanya ia sedang menghitung keramaian itu.

Istri saya membuka percakapan.

“Rame ya?”

Ia langsung menyambutnya.

“Malam minggu pasti rame, Bu. Mulai Jumatlah… banyak orang Singapura.”

“Habis ini masih ambil orderan lagi?”

“Kalau masih ada, ambil terus, Bu. Soalnya nanti Selasa dan Rabu biasanya sepi.”

Seketika percakapan kecil itu seperti membuka jendela lain untuk melihat kota.

Kami ada sedikit urusan. Selesai ke gerai Grapari di Grand Mall, kami berjalan kaki ke BCS Mall. Warung tenda dan akau ramai. Kursi-kursi penuh Bagi orang-orang yang datang ke Batam, mungkin ini kesempatan berbelanja, makan, bertemu teman atau menonton pertunjukan. Tetapi bagi perempuan muda di balik kemudi itu, keramaian mempunyai arti yang lebih konkret: orderan bertambah, pendapatan bertambah.

Ia tahu betul kapan Batam ramai dan kapan Batam sepi.

Malam itu ada konser Dewa 19 di Tumenggung.

“Minggu depan ada Raisa dan Mahalini,” katanya.

“Lumayanlah,” tambahnya, “nutup hari-hari yang sepi orderan.”

Saya kemudian membayangkan sebuah kota dari sudut pandang yang berbeda. Bukan dari ruang rapat pemerintah, bukan dari laporan investasi, bukan dari angka kunjungan wisatawan. Melainkan dari kursi pengemudi sebuah mobil kecil yang bergerak mencari penumpang.

Di sana, sebuah konser bukan hanya acara musik.

Ia adalah peluang.

Orang datang ke konser. Orang membutuhkan kendaraan. Kendaraan membutuhkan pengemudi. Pengemudi memperoleh penghasilan.

Begitu sederhana rangkaiannya.

Dan justru karena sederhana, kita sering tidak melihatnya.

Sebuah kota bekerja melalui ribuan hubungan kecil semacam itu.

Jalan yang lebar dan lancar membuat orang mudah bergerak. Mal dan pusat hiburan menyediakan tujuan. Konser mendatangkan kerumunan. Wisatawan Singapura menambah aktivitas. Teknologi mempertemukan penumpang dengan pengemudi.

Lalu seseorang seperti perempuan muda itu masuk ke dalam ekosistem tersebut dengan modal yang sangat biasa: sebuah mobil.

Mobil LCC itu bukan sekadar kendaraan.

Ia adalah aset yang diberdayakan.

Ia menjadi alat produksi yang bergerak. Hari ini membawa kami dari BCS Mall. Setelah kami turun, mungkin ia akan membawa penumpang lain. Selama masih ada permintaan, mobil itu terus menghasilkan.

Percakapan kami kemudian sampai pada sekolah.

Ternyata perempuan muda itu pernah bersekolah di sebuah SMA dekat perumahan kami. Sekolah yang kami lewati dalam perjalanan pulang.

“Angkatan berapa?”

“Saya angkatan pertama.”

Saya mencoba menghitung. Kira-kira 2011.

Lalu ia menyebut seseorang yang membuat percakapan itu tiba-tiba terasa lebih dekat dengan kehidupan kami sendiri. Seorang tetangga kami yang beberapa tahun lalu meninggal, ia sebut sebagai pamannya.

“Oh, yang tinggal di situ?”

“Iya, itu paman saya.”

Batam mendadak terasa bukan lagi sekadar sebuah kota yang sedang ramai pada Sabtu malam.

Perempuan muda itu ternyata lahir di Batam. Ia tumbuh di kota ini. Dan usianya hanya sekitar dua atau tiga tahun lebih tua daripada anak kami.

Ada sesuatu yang diam-diam menggetarkan dalam informasi yang sederhana itu.

Kami sedang diantar pulang oleh seorang anak Batam.

Bukan pendatang yang baru tiba untuk mencari pekerjaan. Ia lahir di sini. Bersekolah di sini. Mengenal lingkungan ini. Bahkan mempunyai hubungan keluarga dengan seseorang yang pernah menjadi tetangga kami.

Sementara kami duduk di kursi belakang, ia mengemudikan mobilnya menyusuri jalan kota yang mungkin sudah sangat dikenalnya sejak kecil.

Ia adalah bagian dari generasi yang tumbuh bersama perubahan Batam.

Dan sekarang, ia menjadi salah satu orang yang bekerja dari perubahan itu.

Ia tidak perlu memiliki pabrik.

Tidak perlu membuka toko.

Tidak perlu menjadi pengusaha besar.

Cukup sebuah mobil, telepon pintar, aplikasi dan waktu yang bersedia ia tukarkan dengan pendapatan.

Tentu saja, kehidupan pengemudi bukan cerita yang selalu manis. Ada biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, cicilan, persaingan dan ketidakpastian order. Karena itu, percakapan singkat kami tidak perlu dibaca sebagai kisah sukses yang sempurna.

Tetapi ada sesuatu yang nyata di sana: kesempatan untuk mengubah sebuah aset menjadi penghasilan.

Dan kemampuan membaca ritme kota.

Jumat mulai ramai.

Sabtu malam ramai.

Selasa dan Rabu sepi.

Ada Dewa 19 malam ini.

Ada Raisa dan Mahalini minggu depan.

Maka ketika kota sedang ramai, ia bekerja lebih lama.

Mungkin begitulah sebuah kota sesungguhnya berbicara kepada warganya. Tidak selalu melalui pidato atau kebijakan. Kadang-kadang melalui jalan yang terbuka, acara yang menarik, orang-orang yang datang, dan permintaan yang tiba-tiba meningkat.

Kota menawarkan peluang. Warga mengambilnya dengan kemampuan dan aset yang mereka punya.

Kami akhirnya sampai di rumah.

Spotify masih menyala ketika kami turun.

Ia mungkin akan meneruskan perjalanan malam itu, mengambil orderan berikutnya.

Saya kemudian berpikir: untuk memahami Batam, barangkali kita tidak selalu perlu melihat kota ini dari atas.

Kadang-kadang kita perlu melihatnya dari balik dashboard sebuah mobil kecil.

Dari sana kita bisa melihat jalan.

Melihat keramaian.

Melihat orang datang dan pergi.

Dan, yang paling penting, melihat bagaimana semua itu perlahan berubah menjadi penghasilan bagi seseorang.

Sebuah kota yang baik bukan hanya kota yang ramai. Ia adalah kota yang mampu mengubah keramaian menjadi kesempatan.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *