BAGI Hasan Aspahani, lahir 1971, Batam, yang ia tinggali sejak 1999 telah menjadi rumahnya, meski sejak 2014 ia menetap di Jakarta. Secara fisik, dia memang punya rumah di kota ini, dan baginya pulang berarti kembali ke Batam. Itulah yang ia aku dalam sajak-sajaknya yang ditayangkan di Gerbang Publik kali ini. Ada permainan makna dan pertukaran peran yang asyik antara rumah, perasaan, dan kota dalam sajak-sajaknya.
Rumah, 1
AKU kira
selama ini
ke mana-mana
aku selalu
membawanya
ternyata akulah
yang tak pernah bisa
membawa diriku
seluruhnya
(selalu ada
yang tertinggal
di sini
di rumah ini).
“Itu sebabnya
kau pulang,”
kata rumahku
seakan-akan
menyuruh aku
mengucapkan itu
kepada diriku,
“…. yaitu untuk
mempertemukan
apa yang kau bawa
dan yang tertinggal,
supaya
tak semakin parah lelahmu
dan tak semakin berat
rinduku.”
2025
Rumah, 2
APA yang
dilakukan rumah
ketika ia rindu
pada pemilknya?
Ia tahan perasaan,
ia simpan tangisan
tapi sirih gading itu
merambat tinggi
dan dinding itu retak
dan kemuning itu
semakin wangi
dan berkaratlah
pagar tangga
ke lantai dua
ke kamar utama
dan waktu (baca: kenangan)
berpandangan dalam
foto-foto yang berjajar
di dinding
yang retak
itu.
2025
Rumah, 3
AKU adalah
cenderamata
bagi
rumahku
sesuatu
yang kupajang
untuk mengenang
perjalanan-perjalan
yang kena tanggung
tapi toh terselenggara juga
dengan lancar jaya
meski aku
harus bisa-bisa
ngatur tenaga
menyiasati waktu yang mepet
sesempit-sempitnya.
Aku pergi
tapi tak pernah
benar-benar pergi
pulang tapi tak pernah
benar-benar sampai
di sini:
di rumah ini
rumahku setiap kali
diam-diam mengambil
sesuatu dari diriku
(apalagi apabila
aku menemuinya
sambil berlagak
seperti aku…)
Aku adalah
cenderamata
bagi diriku sendiri
terpajang
di beberapa sudut
rumahku
mengingatkan aku
di mana aku dulu
menemukan diriku
seaku
demi
seaku.
2025
Rumah, 4
PENJAGA museum itu
adalah aku
museum itu
adalah rumahku
yang tersimpan
pada museum itu
adalah segala hal
yang mudah terlupakan
tapi aku tak mau
melupakannya
Misalnya:
daftar Top 20 lagu
di majalah remaja
yang liriknya kuhapal
setelah menyalinnya
dari radio kota
atau:
komik tentang prajurit Galia
atau wartawan berjambul
berpetualang
keliling dunia.
*
Penjaga museum itu
adalah aku
petugas maharagu
yang tak selesai juga
menyusun katalog
dengan berbagai
kemungkinan dimensi
duka dan luka
mengatasi lupa,
melawan
demensia.
2025
Rumah, 5
RUMAH ini
adalah cagar
suaka bagi
keinginan-keinginan
yang telah tercapai
dan yang telah
diikhlaskan
untuk tak pernah
terwujudkan.
Rumah ini
adalah panti
mengasuh segala harapan
yang tak lagi jelas
lahir dari situasi apa,
yang kini harus
belajar tabah, cari
nafkah, dan bisa
berkembang sendiri.
Rumah ini
adalah tenda pengungsian
aku harus bertahan
sementara dari
bencana dan bencana
berkali-kali terusir
memulai perjalanan lagi
hingga nanti tiba
di tempat yang
kuterima dan menerimaku
menjadi alamatku
yang terakhir.
2025
Rumah, 6
RUMAH adalah
apa yang tumbuh
bersamamu
apa yang tumbuh
dalam dirimu
apa yang tumbuh
menjadi dirimu.
2025
