Jika Batam ingin bergerak menuju kota yang benar-benar hijau, ukurannya mungkin tidak lagi cukup sekadar berapa banyak pohon yang ditanam, melainkan berapa banyak habitat yang berhasil ditumbuhkan. Dari sinilah gagasan Batam Microforest menjadi menarik.
Oleh Priya Ribut Santosa
Batam selama ini cukup dikenal sebagai kota yang rajin menanam pohon. Itu tentu saja layak diapresiasi. Pohon-pohon yang tumbuh di tepi jalan, median, halaman fasilitas publik, kawasan permukiman, dan berbagai ruang kota membuat Batam lebih teduh dan lebih enak dipandang. Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita ajukan: apakah sebuah kota menjadi hijau hanya karena memiliki banyak pohon?
Pertanyaan ini penting karena pohon sebenarnya hanyalah salah satu unsur dari sebuah ekosistem. Dan alam selama jutaan tahun memberi contoh ekosistem terbaik yaitu: hutan, Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Di dalam hutan terdapat lapisan vegetasi, semak, tanaman bawah, tanah, air, serangga, burung, mikroorganisme, kelembapan, dan berbagai hubungan kehidupan yang saling menopang. Karena itu, jika Batam ingin bergerak menuju kota yang benar-benar hijau, ukurannya mungkin tidak lagi cukup sekadar berapa banyak pohon yang ditanam, melainkan berapa banyak habitat yang berhasil ditumbuhkan.
Dari sinilah gagasan Batam Microforest menjadi menarik. Bayangkan sebuah lahan kecil di tengah kota, mungkin hanya beberapa ratus meter persegi. Alih-alih menanam beberapa pohon secara berjajar dengan jarak yang rapi, lahan itu ditanami berbagai jenis pohon dan tumbuhan secara rapat, dengan beberapa lapisan vegetasi sebagaimana struktur hutan tropis. Pohon-pohon tumbuh membentuk kanopi, di bawahnya terdapat pohon kecil, semak dan tanaman penutup tanah. Tempat itu tidak perlu selalu tampak seperti taman yang tertata rapi. Justru ketika ia mulai terlihat sedikit liar, sesungguhnya proses ekologisnya sedang bekerja. Ia menjadi semacam pulau hutan kecil di tengah kota.
Konsep seperti ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Singapura, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir mengembangkan gagasan City in Nature, sebuah visi yang tidak sekadar menempatkan taman di antara bangunan, tetapi berusaha memasukkan alam sebagai bagian dari struktur kota. Pendekatan itu menarik bagi Batam bukan untuk disalin begitu saja, melainkan untuk dipelajari semangatnya. Batam mempunyai ekologi, lanskap, sejarah, dan karakter tropisnya sendiri. Karena itu, Batam dapat mengembangkan model microforest yang berangkat dari spesies dan kondisi ekologis Kepulauan Riau sendiri.
Batam sebenarnya memiliki modal yang sangat besar untuk itu. Di balik citranya sebagai kota industri dan perdagangan, Batam masih memiliki bukit, kawasan vegetasi alami, waduk, pesisir, lahan terbuka, sempadan, dan ruang-ruang yang belum seluruhnya terbangun. Artinya, Batam tidak harus menciptakan alam dari nol. Sebagian alam itu masih ada. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankannya, menghubungkannya, dan menghadirkannya kembali ke dalam kehidupan kota yang terus berkembang.
Karena itu, visi Batam sebagai kota hijau sebaiknya diperluas. Bukan hanya Batam Kota Hijau, tetapi Batam, City in Nature—kota yang tumbuh bersama alam. Dalam visi seperti ini, ruang hijau tidak semuanya harus diperlakukan sebagai taman. Sebab taman dan hutan mempunyai fungsi yang berbeda. Microforest terutama berfungsi sebagai habitat, ruang biodiversitas, penyerap air, penyejuk lingkungan, dan bagian dari jaringan ekologis. Taman kota lebih berfungsi sebagai ruang rekreasi, olahraga, bermain, dan berkumpul keluarga. Sementara alun-alun atau civic square memiliki fungsi yang berbeda lagi: menyediakan ruang bagi kehidupan publik, tempat warga bertemu, berkegiatan, menonton pertunjukan, merayakan sesuatu, berdiskusi, atau sekadar duduk bersama.
Karena itu, Batam sesungguhnya membutuhkan lebih banyak ketiganya: ruang untuk alam, ruang untuk bermain, dan ruang untuk bertemu. Ketiganya tidak perlu dipertentangkan. Justru dapat dirancang sebagai bagian dari satu sistem kota. Microforest dapat berada di dekat taman. Taman dapat terhubung dengan alun-alun. Alun-alun dapat dihubungkan dengan koridor hijau dan jalur pejalan kaki. Koridor tersebut dapat mengarah ke waduk, kawasan pesisir, atau kawasan alami. Dengan cara itu, ruang hijau tidak lagi menjadi titik-titik yang berdiri sendiri, tetapi perlahan membentuk jaringan ekologis dan jaringan sosial sekaligus.
Di sinilah gagasan City in Nature dapat bertemu dengan gagasan lain yang sama pentingnya: City of Public Life. Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang menyediakan udara lebih bersih, pohon lebih banyak, dan suhu yang lebih nyaman. Kota juga harus menyediakan tempat bagi warganya untuk menjadi warga. Anak-anak membutuhkan tempat bermain. Orang tua membutuhkan tempat duduk dan berbincang. Komunitas membutuhkan tempat berkegiatan. Seniman membutuhkan ruang tampil. Pedagang kecil membutuhkan ruang ekonomi. Warga membutuhkan tempat untuk berkumpul dan merayakan kehidupan bersama. Kota membutuhkan ruang publik yang dapat digunakan tanpa setiap orang harus membeli sesuatu.
Dalam pengertian itu, taman kota dan alun-alun bukan sekadar pelengkap estetika pembangunan. Keduanya adalah infrastruktur sosial. Sebuah kota yang hanya menyediakan rumah, kantor, pusat perbelanjaan, restoran, dan jalan mungkin terlihat modern dan sibuk, tetapi belum tentu memiliki kehidupan publik yang sehat. Warga membutuhkan ruang bersama yang memungkinkan mereka bertemu secara spontan, tanpa agenda dan tanpa transaksi. Mereka membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa bahwa kota ini juga milik mereka.
Batam Microforest dapat menjadi salah satu bagian dari strategi besar untuk mewujudkan visi tersebut. Ia tidak harus dimulai dengan proyek raksasa. Sebuah lahan 100 meter persegi dapat menjadi permulaan. Lima ratus meter persegi dapat menjadi sebuah pulau hutan kecil. Seribu meter persegi dapat menjadi habitat yang lebih berarti. Jika konsep ini diterapkan di berbagai sekolah, permukiman, kawasan industri, fasilitas publik, dan lahan-lahan kota yang belum dimanfaatkan secara optimal, Batam perlahan dapat memiliki ratusan microforest yang tersebar di berbagai penjuru kota.
Apa yang dimaksud dengan microforest? Aga Khan Development Network (AKDN) menyebutnya sebagai hutan kecil yang padat dan kaya biodiversitas, yang dapat ditumbuhkan di kawasan perkotaan maupun perdesaan. Luasnya bahkan bisa hanya sekitar 100 meter persegi. Berbagai spesies tanaman lokal ditanam dengan kepadatan tinggi sehingga dalam waktu relatif singkat terbentuk struktur yang menyerupai hutan. Manfaatnya bukan hanya menambah pepohonan, tetapi juga memulihkan tanah dan air, menciptakan mikroklimat, menyerap karbon, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis kehidupan. Dengan kata lain, microforest bukan sekadar taman kecil, melainkan ekosistem hutan dalam skala kecil.
Pengertian lain bisa kita kutip dari Centre for Liveable Cities (CLC) Singapura, yang pada Juni 2026 membahas Regenerative Tropical Microforest di City Square Mall. Mereka mendefinisikannya sebagai pendekatan nature-based solution yang mengintegrasikan sistem hutan yang padat dan memiliki keanekaragaman hayati ke dalam lingkungan yang sangat urban. Tujuannya bukan sekadar estetika, tetapi antara lain menghadapi urban heat island, kehilangan biodiversitas, fragmentasi ekosistem, sekaligus memberikan manfaat bagi manusia. Proyek di City Square Mall dikembangkan bersama City Developments Limited, NUS, dan NParks.
Bayangkan sebuah sekolah memiliki school microforest. Sebuah kawasan permukiman memiliki neighborhood microforest. Sebuah perusahaan mengembangkan industrial microforest. Sebuah komunitas mengelola hutan kecil di lingkungannya. Pemerintah menyediakan lahan dan kerangka kebijakan, sementara masyarakat, sekolah, perusahaan, dan komunitas ikut menanam serta merawatnya. Dengan pendekatan seperti itu, penghijauan tidak lagi hanya menjadi urusan pemerintah. Ia menjadi gerakan kota.
Bahkan gagasan ini dapat dikembangkan dalam skala yang sangat sederhana: 100 meter persegi untuk hutan Batam. Bayangkan jika ratusan atau bahkan ribuan warga, sekolah, perusahaan, komunitas, dan institusi mengambil bagian dalam menumbuhkan petak-petak kecil tersebut. Satu petak mungkin tampak tidak berarti. Tetapi ratusan petak yang tersebar dan kemudian dihubungkan oleh koridor hijau dapat membentuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada jumlah masing-masing bagiannya: sebuah jaringan habitat di dalam kota.
Pada akhirnya, gagasan ini bukan semata-mata tentang pohon. Ia adalah tentang cara kita membayangkan pembangunan Batam. Selama ini pembangunan sering dipahami sebagai proses menambah: menambah jalan, gedung, kawasan industri, perumahan, pelabuhan, pusat perdagangan, dan infrastruktur digital. Tetapi kota yang matang juga tahu bahwa pembangunan membutuhkan ruang yang sengaja tidak dibangun. Ruang untuk air, ruang untuk tanah, ruang untuk pohon, ruang untuk burung, ruang untuk berjalan, ruang untuk bermain, dan ruang bagi manusia untuk bertemu manusia lain.
Karena itu, ketika Batam berbicara tentang masa depan sebagai kota modern, kota industri, kota perdagangan, bahkan kota digital, ada satu dimensi yang seharusnya tidak ditinggalkan: kota sebagai tempat kehidupan berlangsung. Alam bukan gangguan terhadap pembangunan. Alam adalah bagian dari infrastruktur kehidupan kota.
Mungkin karena itu visi Batam ke depan tidak cukup hanya berbunyi tentang kota yang semakin maju. Batam membutuhkan gambaran tentang kota yang semakin hidup. Kota yang memiliki teknologi tinggi tetapi tetap memiliki pepohonan. Kota yang memiliki kawasan industri tetapi juga memiliki habitat. Kota yang membangun gedung-gedung tinggi tetapi menyediakan ruang bagi warga untuk berjalan, bermain, bertemu, dan berkumpul.
Batam, City in Nature. Kota yang tidak menyingkirkan alam demi pembangunan, tetapi memasukkan alam ke dalam pembangunan. Kota yang tidak hanya menanam pohon, tetapi menumbuhkan hutan. Kota yang tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kehidupan publik.
Dan mungkin, pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya seberapa tinggi gedungnya, seberapa panjang jalannya, atau seberapa besar investasinya. Melainkan juga pertanyaan yang jauh lebih sederhana: Apakah manusia, pohon, burung, air, tanah, dan kehidupan lainnya masih mempunyai cukup ruang untuk hidup bersama di dalamnya? Jika jawabannya ya, barangkali di situlah kita benar-benar bisa mengatakan: Batam sedang menjadi sebuah kota. []
