Batam Happy City: Bisakah Kota Membuat Warganya Lebih Bahagia?

Dari sana kita dapat mengajukan pertanyaan kepada para perencana, pemerintah, pengembang, arsitek, seniman, pelaku usaha dan warga sendiri: kota macam apa yang seharusnya kita bangun jika tujuan akhirnya bukan hanya membuat kota tumbuh, tetapi membuat manusia yang tinggal di dalamnya hidup lebih baik?

Oleh Hasan Aspahani

Ada satu cara lain untuk melihat sebuah kota. Bukan dari berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa banyak gedung baru yang berdiri, berapa besar investasi yang masuk, atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya. Kita bisa bertanya sesuatu yang jauh lebih sederhana: apakah kota ini membuat warganya bahagia?

Pertanyaan itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah urusan serumit perencanaan kota. Tetapi justru karena sederhana, ia membawa kita kepada sesuatu yang sering luput dari ukuran-ukuran pembangunan: bagaimana rasanya hidup di sebuah kota. Apakah kita merasa aman? Apakah perjalanan menuju tempat kerja melelahkan? Apakah kita mempunyai tempat untuk berjalan, duduk, bermain, membaca, atau bertemu orang lain? Apakah kita memiliki cukup waktu untuk diri sendiri? Apakah lingkungan tempat tinggal membuat kita nyaman? Dengan kata lain, apakah kota membantu mengurangi beban kehidupan kita, atau justru menambahnya?

Gagasan kami tentang Batam Happy City Project berangkat dari pertanyaan tersebut. Bukan untuk segera menyimpulkan bahwa Batam adalah kota yang bahagia atau kota yang penuh tekanan, melainkan untuk mengajak kita mencari tahu lebih serius bagaimana warga mengalami kota tempat mereka hidup.

Kita memang sudah memiliki sejumlah petunjuk dari data kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Kota Batam telah memasukkan skrining kesehatan jiwa ke dalam pelayanan preventif, termasuk dalam pemeriksaan kesehatan anak sekolah. Pada Januari–Maret 2026, misalnya, dilakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 9.255 anak usia 7–18 tahun dan 254 anak, atau sekitar 2,7 persen, terindikasi memiliki masalah kejiwaan. Angka tersebut tentu tidak dapat disebut sebagai tingkat stres penduduk Batam karena merupakan hasil skrining pada kelompok usia tertentu dan bukan diagnosis gangguan jiwa. Tetapi data itu cukup untuk menunjukkan bahwa kesehatan jiwa merupakan persoalan yang layak mendapat perhatian dalam kehidupan kota.

Pada Januari–Maret 2026, misalnya, dilakukan skrining kesehatan jiwa terhadap 9.255 anak usia 7–18 tahun dan 254 anak, atau sekitar 2,7 persen, terindikasi memiliki masalah kejiwaan.

Kita juga pernah menemukan penelitian mengenai tingkat stres pada kelompok remaja di Batam. Sebuah penelitian terhadap 64 siswi SLTA pada 2022 menemukan bahwa 46,9 persen berada pada kategori normal, 26,6 persen mengalami stres ringan, 18,8 persen stres sedang, dan 7,8 persen stres berat.

Data ini pun tidak dapat digeneralisasikan sebagai tingkat stres seluruh warga Batam karena kelompok yang diteliti sangat spesifik. Namun sekali lagi, ia memberi kita sebuah petunjuk sekaligus pertanyaan: kalau tekanan psikologis dapat ditemukan pada kelompok tertentu, sejauh mana kehidupan kota ikut berperan dalam membentuk pengalaman tersebut?

Pertanyaan itu penting karena stres selama ini terlalu sering dianggap sebagai persoalan pribadi. Orang mengalami tekanan karena pekerjaan, keluarga, pendidikan, ekonomi, atau persoalan hubungan. Semua itu benar. Tetapi manusia tidak menjalani semua tekanan tersebut di ruang hampa. Ia menjalani kehidupannya di dalam lingkungan tertentu, dan lingkungan itu dapat membuat kehidupannya lebih ringan atau lebih berat.

Bayangkan seseorang yang setiap hari harus menempuh perjalanan panjang, menghadapi kemacetan, panas, kebisingan, kesulitan berjalan kaki, lalu bekerja dalam tekanan dan pulang ke lingkungan yang tidak menyediakan tempat yang nyaman untuk beristirahat atau berinteraksi. Stresnya mungkin tidak berasal dari satu penyebab. Ia muncul sebagai akumulasi dari berbagai gesekan kecil yang terjadi setiap hari.

Di sinilah kota menjadi penting. Desain kota dapat menjadi sumber stres, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pemulihan.

Kota yang dirancang dengan baik dapat mengurangi gesekan kehidupan sehari-hari. Transportasi yang nyaman dan dapat diandalkan dapat mengurangi beban perjalanan. Trotoar yang aman dan teduh membuat berjalan kaki tidak menjadi perjuangan. Ruang terbuka memberi kesempatan untuk berhenti. Taman memberi tempat untuk bergerak, bermain atau sekadar duduk. Ruang budaya memberikan kesempatan untuk menikmati seni dan mengalami sesuatu bersama orang lain. Lingkungan yang hijau, teduh dan tidak terlalu bising memberi tubuh dan pikiran kesempatan untuk beristirahat.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kota bahagia, kita tidak cukup hanya berbicara tentang taman.

Taman memang penting, tetapi taman bukan jawaban tunggal. Warga membutuhkan tempat untuk bergerak, tetapi juga tempat untuk berhenti. Mereka membutuhkan jalan untuk pergi bekerja, tetapi juga ruang untuk beristirahat setelah bekerja. Mereka membutuhkan pusat ekonomi, tetapi juga ruang yang tidak mengharuskan mereka membeli sesuatu. Mereka membutuhkan rumah, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan terbentuknya hubungan sosial. Mereka membutuhkan konektivitas digital, tetapi juga hubungan sosial yang nyata. Mereka membutuhkan hiburan, tetapi juga waktu luang.

Dan mungkin di sinilah kita menemukan persoalan yang lebih mendasar. Apakah kota kita terlalu sibuk membuat manusia bekerja, bergerak, membeli dan mengejar sesuatu, tetapi terlalu sedikit menyediakan tempat bagi mereka untuk berhenti?

Waktu luang sering dianggap sebagai waktu yang harus diisi. Kita mencari pusat hiburan, acara, tempat wisata, restoran, pusat perbelanjaan, atau berbagai aktivitas untuk menghabiskan waktu. Semua itu tentu memiliki tempatnya. Tetapi kota yang baik mungkin bukan kota yang selalu menyediakan sesuatu untuk dilakukan. Kota yang baik adalah kota yang memberikan warganya kebebasan memilih bagaimana menggunakan waktu luangnya.

Ada orang yang ingin berolahraga. Ada yang ingin membaca. Ada yang ingin mendengarkan musik. Ada yang ingin membawa anak bermain. Ada yang ingin berbincang dengan tetangga. Ada yang ingin pergi ke pantai. Ada yang ingin berjalan sendirian. Bahkan ada yang hanya ingin duduk di bawah pohon sambil minum kopi.

Kota yang baik tidak menentukan apa yang membuat warganya bahagia. Ia menyediakan kemungkinan untuk bahagia.

Di sini kita juga perlu memasukkan satu unsur yang sering kurang mendapat perhatian dalam pembicaraan tentang desain kota: ruang sosial. Manusia membutuhkan hubungan dengan manusia lain. Kota dapat membuat orang tinggal berdekatan tetapi hidup sendirian. Karena itu, bangku di taman, lapangan, pasar, perpustakaan, ruang komunitas, teras, alun-alun, tempat bermain, ruang seni, dan bahkan halte dapat menjadi bagian dari apa yang bisa disebut sebagai infrastruktur sosial. Tidak semuanya harus menjadi tempat acara besar. Kadang-kadang bertemu tetangga selama beberapa menit sudah cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa ia hidup bersama orang lain.

Rasa aman juga menjadi bagian dari kebahagiaan kota. Orang tidak akan menikmati taman jika merasa takut berada di sana. Anak-anak tidak dapat bermain dengan bebas jika orang tua terus merasa cemas. Warga tidak akan menikmati malam jika jalan dan ruang publik terasa tidak aman. Karena itu pencahayaan, visibilitas, keselamatan pedestrian, kualitas lalu lintas, aksesibilitas dan keberadaan manusia lain di ruang publik bukan sekadar persoalan teknis. Semua itu berhubungan dengan rasa nyaman dan rasa aman psikologis.

Lebih jauh lagi, manusia membutuhkan rasa memiliki. Sebuah kota menjadi bermakna ketika warganya memiliki hubungan emosional dengan tempat-tempat di dalamnya. Sebuah kampung yang menyimpan sejarah, sebuah pasar yang sudah puluhan tahun menjadi tempat bertemu, sebuah lapangan tempat anak-anak tumbuh, sebuah warung yang menjadi bagian dari kehidupan lingkungan, sebuah pohon tua yang masih bertahan di antara bangunan baru—semuanya membentuk memori tempat. Kota bukan hanya ruang fisik; ia juga merupakan ruang ingatan.

Karena itu, kota bahagia bukan kota yang sekadar indah atau Instagramable. Bukan kota dengan gedung ikonik dan taman yang bagus tetapi warganya tetap menghabiskan berjam-jam dalam perjalanan yang melelahkan. Bukan pula kota yang menyediakan pusat hiburan mahal tetapi tidak memiliki ruang rekreasi yang dapat dinikmati semua orang.

Kota bahagia adalah kota yang mengurangi stres yang tidak perlu dan memperbesar kesempatan manusia untuk mengalami kehidupan yang baik.

Dengan ukuran seperti itu, pembangunan kota dapat kita lihat dengan cara yang berbeda. Kita tidak hanya bertanya berapa kilometer jalan yang dibangun, tetapi berapa banyak waktu perjalanan warga yang dapat dihemat. Kita tidak hanya menghitung berapa taman yang tersedia, tetapi apakah taman itu benar-benar dapat digunakan. Kita tidak hanya menghitung pusat hiburan, tetapi juga menanyakan apakah warga memiliki ruang rekreasi yang terjangkau atau gratis. Kita tidak hanya melihat besarnya investasi, tetapi juga bertanya apakah investasi tersebut meningkatkan kualitas kehidupan warga.

Batam menjadi tempat yang menarik untuk menguji gagasan ini karena kota ini terus bergerak dan berubah. Sebagai kota industri, perdagangan, jasa, perbatasan dan permukiman, Batam mengalami pertumbuhan yang cepat dan terus berhadapan dengan persoalan pembangunan, mobilitas, lingkungan, investasi dan kebutuhan ruang hidup warga. Pertumbuhan ekonomi merupakan pencapaian penting. Tetapi angka pertumbuhan ekonomi belum menjawab satu pertanyaan sederhana: bagaimana perasaan warga ketika menjalani kehidupan sehari-hari di dalam pertumbuhan itu?

Mungkin seseorang memiliki pekerjaan tetapi menghabiskan terlalu banyak waktu di jalan. Mungkin sebuah kawasan memiliki pusat perbelanjaan modern tetapi tidak mempunyai ruang publik gratis. Mungkin sebuah permukiman memiliki rumah yang baik tetapi minim ruang interaksi sosial. Mungkin kota memiliki banyak fasilitas tetapi sebagian warga tidak mempunyai cukup waktu untuk menikmatinya.

Karena itu, Batam Happy City Project tidak perlu dimulai dengan pertanyaan apakah warga Batam bahagia. Kita belum memiliki data yang cukup untuk menjawabnya secara menyeluruh. Kita bisa memulainya dengan pertanyaan yang lebih sederhana dan lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari: apa yang membuat warga Batam stres, dan apa yang membuat mereka merasa lebih baik?

Dari sana kita dapat melihat dua wajah kota. Ada kota sebagai sumber tekanan—kemacetan, perjalanan panjang, panas, kebisingan, polusi, ketidakamanan, tekanan ekonomi, kepadatan, kurangnya ruang publik, kesepian dan kurangnya waktu luang. Tetapi ada pula kota sebagai ruang pemulihan—taman, pepohonan, pantai dan alam, ruang olahraga, seni, perpustakaan, tempat bermain, ruang komunitas, transportasi yang nyaman, ruang publik gratis, pertemanan, rasa aman dan rasa memiliki.

Di antara dua sisi itulah desain kota bekerja.

Maka Batam Happy City Project pada akhirnya bukan proyek untuk mencari kota yang sempurna. Ia adalah usaha untuk memahami kota seperti apa yang membuat manusia merasa lebih baik. Kita dapat memulainya dengan data yang tersedia, kemudian mendengarkan pengalaman warga, melihat bagaimana mereka bergerak, bekerja, beristirahat, bermain, berinteraksi dan menggunakan ruang kota. Dari sana kita dapat mengajukan pertanyaan kepada para perencana, pemerintah, pengembang, arsitek, seniman, pelaku usaha dan warga sendiri: kota macam apa yang seharusnya kita bangun jika tujuan akhirnya bukan hanya membuat kota tumbuh, tetapi membuat manusia yang tinggal di dalamnya hidup lebih baik?

Sebab pada akhirnya kota bukanlah jalan, gedung, taman, pelabuhan, kawasan industri atau pusat perbelanjaan. Semua itu hanyalah bagian dari bentuk fisiknya. Kota adalah pengalaman manusia yang berlangsung di antara semuanya. Dan mungkin ukuran paling manusiawi dari sebuah kota adalah pertanyaan sederhana: Bagaimana rasanya hidup di sini? []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *