Cerita Pendek O Henry: The Furnished Room

O. Henry (1862–1910) adalah nama pena William Sydney Porter, pengarang Amerika yang dikenal karena cerpen-cerpennya tentang kehidupan masyarakat kota, terutama New York. Ia terkenal dengan humor, ironi, dan akhir cerita yang mengejutkan. The Furnished Room termasuk dalam kumpulan The Four Million (1906), yang menghimpun cerpen-cerpen tentang kehidupan warga biasa New York. Cerita ini membawa pembaca ke dunia kamar-kamar sewaan dan kehidupan orang-orang yang nyaris tak terlihat di tengah kota besar.

The Furnished Room / Kamar Berperabot

Cerita Pendek O. Henry (1862-1910)

Gelisah, berpindah-pindah, lenyap secepat waktu itu sendiri—demikianlah sebagian besar penghuni kawasan bata merah di Lower West Side. Mereka tak punya rumah, tetapi memiliki seratus rumah. Mereka berpindah dari satu kamar berperabot ke kamar berperabot lainnya, selalu menjadi pendatang sementara—sementara dalam tempat tinggal, sementara pula dalam hati dan pikiran. Mereka menyanyikan Home, Sweet Home dalam irama ragtime; mereka membawa lares et penates mereka di dalam sebuah kotak topi; sulur tanaman mereka melilit sebuah topi bergambar; dan tanaman karet menjadi pohon ara mereka.

Karena itu, rumah-rumah di kawasan ini, yang telah dihuni oleh seribu orang, semestinya memiliki seribu kisah untuk diceritakan—kebanyakan barangkali kisah yang membosankan. Namun, akan terasa aneh jika di antara jejak para penghuni yang selalu berpindah itu tak ditemukan satu-dua kisah tentang hantu. Suatu petang, setelah hari benar-benar gelap, seorang lelaki muda berjalan mengendap-endap di antara rumah-rumah bata merah yang mulai lapuk itu, membunyikan bel dari satu rumah ke rumah berikutnya.

Di rumah yang kedua belas, ia berhenti. Ia meletakkan tas tangan yang ringan di anak tangga, lalu mengusap debu dari pita topinya dan dahinya. Bunyi bel terdengar sayup dan jauh, seolah-olah berasal dari kedalaman sebuah ruang yang terpencil dan kosong.

Dari pintu rumah kedua belas itu muncul seorang penjaga rumah. Melihatnya, lelaki muda itu teringat pada seekor cacing yang menjijikkan dan kekenyangan—cacing yang telah menggerogoti kacangnya hingga tinggal cangkang kosong, lalu kini berusaha memenuhi kekosongan itu dengan menyewakan kamar kepada para penghuni yang membayar.

Lelaki muda itu bertanya apakah ada kamar yang bisa disewa.

“Masuklah,” kata penjaga rumah itu. Suaranya terdengar keluar dari tenggorokannya; tenggorokannya sendiri seolah dilapisi bulu. “Saya punya kamar di lantai tiga, bagian belakang. Sudah kosong sejak seminggu lalu. Kalau Anda mau melihatnya?”

Lelaki muda itu mengikutinya menaiki tangga. Cahaya samar dari sumber yang tak jelas mengurangi sedikit kegelapan lorong-lorong rumah itu. Mereka melangkah tanpa suara di atas karpet tangga yang, seandainya bisa memilih, mungkin akan menyangkal bahwa ia pernah ditenun.

Karpet itu seakan telah berubah menjadi tumbuhan; dalam udara yang pengap, tanpa matahari, ia telah merosot menjadi lumut tebal yang tumbuh liar di sana-sini di sepanjang tangga dan terasa lengket di bawah telapak kaki seperti sesuatu yang hidup. Di setiap belokan tangga terdapat ceruk-ceruk kosong pada dinding. Mungkin dahulu pernah ada tanaman yang diletakkan di sana. Kalau benar demikian, tanaman-tanaman itu tentu telah mati dalam udara yang busuk dan tercemar itu. Barangkali dahulu berdiri patung-patung orang suci di sana. Namun, tidak sulit membayangkan bahwa pada malam hari para peri jahat dan setan telah menyeretnya keluar, menuruni kegelapan, menuju kedalaman tak suci sebuah lubang yang dipenuhi kamar-kamar sewaan.

“Ini kamarnya,” kata penjaga rumah itu, dari tenggorokannya yang berbulu. “Kamar yang bagus. Jarang kosong. Musim panas lalu saya punya beberapa penyewa yang sangat elegan di sini—tidak pernah bikin masalah, dan membayar di muka sampai detik terakhir. Air ada di ujung lorong. Sprowls dan Mooney pernah tinggal di sini selama tiga bulan. Mereka memainkan sebuah sketsa vaudeville. Nona B’retta Sprowls—mungkin Anda pernah mendengar namanya—oh, itu hanya nama panggung—tepat di sana, di atas meja rias, pernah tergantung surat nikah mereka, dibingkai. “Gas ada di sini, dan lihat, ruang lemarinya cukup luas. Semua orang suka kamar ini. Tak pernah lama kosong.”

“Apakah banyak orang teater yang tinggal di sini?” tanya lelaki muda itu.

“Mereka datang dan pergi. Cukup banyak penyewa saya yang berhubungan dengan teater. Ya, Tuan, ini memang kawasan teater. Orang-orang panggung tak pernah lama tinggal di satu tempat. Saya kebagian juga. Ya, mereka datang dan pergi.”

Ia menyewa kamar itu dan membayar untuk seminggu di muka. Ia berkata bahwa dirinya lelah dan ingin langsung menempatinya. Ia menghitung uangnya. Kamar itu, kata si penjaga rumah, sudah disiapkan, lengkap dengan handuk dan air. Ketika perempuan itu beranjak pergi, lelaki muda itu mengajukan lagi—untuk keseribu kalinya—pertanyaan yang selalu menggantung di ujung lidahnya.

“Seorang gadis muda—Nona Vashner—Nona Eloise Vashner—apakah Anda ingat pernah ada penyewa seperti itu? Kemungkinan dia bernyanyi di panggung. Gadis berkulit terang, tinggi sedang dan langsing, rambutnya merah keemasan, dengan tahi lalat kecil di dekat alis kirinya.”

“Tidak, saya tidak ingat namanya. Orang-orang panggung itu punya nama yang mereka ganti sesering mereka berganti kamar. Mereka datang dan pergi. Tidak, saya tidak ingat yang itu.”

Tidak. Selalu tidak. Lima bulan ia menghabiskan waktu untuk bertanya tanpa henti, dan jawaban yang diterimanya selalu negatif. Siang hari ia mendatangi manajer, agen, sekolah, dan kelompok paduan suara; malam hari ia menyusuri penonton teater, dari pertunjukan dengan bintang-bintang terkenal sampai gedung musik paling rendah tempat ia bahkan takut menemukan apa yang paling diharapkannya. Ia yang paling mencintai gadis itu telah berusaha menemukannya. Ia yakin, sejak gadis itu menghilang dari rumah, kota besar yang dikelilingi air ini menyimpan dirinya di suatu tempat. Namun kota itu seperti pasir hisap raksasa, yang terus-menerus menggeser butirannya sendiri, tanpa dasar yang kokoh; butiran yang hari ini berada di permukaan, esok hari telah terkubur dalam lumpur dan lendir.

Kamar berperabot itu menerima penghuni terbarunya dengan semburat pertama keramahan semu—sambutan yang panas, kuyu, dan sekadarnya, seperti senyum palsu seorang perempuan jalang. Kenyamanan yang menipu memantul dari perabot-perabot yang telah lapuk, dari pelapis brokat compang-camping pada sebuah dipan dan dua kursi, dari cermin tinggi selebar satu kaki di antara dua jendela, dari satu-dua bingkai gambar bersepuh emas, dan dari ranjang kuningan di sudut.

Penghuninya merebahkan diri, lesu, di atas kursi, sementara kamar itu, dengan suara-suara yang bercampur seperti sebuah apartemen di Babel, seakan berusaha bercerita kepadanya tentang para penghuninya yang telah datang dan pergi.

Sebuah permadani warna-warni, seperti pulau tropis berbentuk persegi panjang yang penuh bunga cemerlang, terhampar dikelilingi lautan tikar yang bergelombang dan kotor. Di dinding yang ditempeli kertas dinding cerah tergantung gambar-gambar yang selalu mengejar orang-orang tanpa rumah dari satu rumah ke rumah lainnya—The Huguenot Lovers, The First Quarrel, The Wedding Breakfast, Psyche at the Fountain. Garis mantel perapian yang seharusnya sederhana dan anggun tertutup secara memalukan oleh kain hias yang genit, ditarik miring dengan gaya nakal seperti selempang para penari balet Amazon. Di atasnya terdapat beberapa barang terlantar yang dibuang begitu saja oleh para penghuni kamar yang pernah terdampar di sana, setelah pelayaran yang beruntung membawa mereka ke pelabuhan baru—sebuah vas kecil atau dua buah, gambar-gambar para aktris, sebuah botol obat, dan beberapa kartu lepas dari setumpuk kartu.

Satu demi satu, seperti karakter-karakter dalam sebuah kriptogram yang perlahan menjadi jelas, tanda-tanda kecil yang ditinggalkan oleh iring-iringan para penghuni kamar itu mulai menunjukkan maknanya. Bagian permadani yang telah aus di depan meja rias menunjukkan bahwa seorang perempuan cantik pernah berjalan mondar-mandir di sana. Jejak-jejak kecil jari di dinding berbicara tentang para tahanan kecil yang berusaha meraba-raba jalan mereka menuju matahari dan udara. Sebuah noda yang terciprat dan menyebar seperti bayangan bom yang meledak menjadi saksi bahwa sebuah gelas atau botol pernah dilemparkan ke dinding hingga pecah berkeping-keping bersama isinya. Pada cermin tinggi itu, seseorang telah menggoreskan nama “Marie” dengan ujung berlian, huruf-hurufnya besar dan sempoyongan. Tampaknya para penghuni kamar berperabot itu, satu demi satu, akhirnya berbalik dengan marah—mungkin karena dinginnya kamar yang mencolok itu telah menguji kesabaran mereka—lalu melampiaskan segala hasrat mereka kepadanya. Perabot-perabotnya terkelupas dan babak belur. Dipan itu, yang bentuknya telah berubah akibat pegas-pegas yang menyembul keluar, tampak seperti monster mengerikan yang baru saja dibunuh dalam pergulatan yang ganjil dan mengerikan. Sebuah gejolak yang lebih dahsyat telah membelah sebagian besar mantel marmernya. Setiap papan lantai memiliki kemiringan dan jeritannya sendiri, seolah-olah masing-masing sedang menanggung penderitaan yang terpisah dan pribadi. Tampaknya mustahil bahwa semua kebencian dan kerusakan itu dilakukan oleh orang-orang yang untuk sementara waktu menyebut kamar tersebut sebagai rumah mereka. Namun mungkin itulah naluri memiliki rumah yang telah ditipu—naluri yang tetap hidup secara buta, kemarahan penuh dendam terhadap dewa-dewa rumah tangga palsu, yang akhirnya menyalakan amarah mereka. Sebuah gubuk yang benar-benar menjadi milik kita dapat kita sapu, kita hias, dan kita rawat dengan kasih sayang.

Penyewa muda yang duduk di kursi itu membiarkan pikiran-pikiran tersebut melintas perlahan dalam benaknya, sementara dari kamar itu mengalir suara-suara dan aroma-aroma yang juga telah “disediakan” oleh kamar tersebut. Dari sebuah kamar ia mendengar tawa kecil yang cekikikan, lepas, dan tak terkendali; dari kamar-kamar lain terdengar ocehan seseorang yang sedang memarahi orang lain, bunyi dadu yang diguncangkan, sebuah lagu nina bobo, dan seseorang yang menangis dengan suara datar. Di atas kepalanya, sebuah banjo berdenting dengan riang. Pintu-pintu dibanting di suatu tempat; kereta api layang menggeram dari waktu ke waktu; seekor kucing mengeong menyedihkan di atas pagar belakang. Dan ia menghirup napas rumah itu—lebih tepat disebut aroma lembap daripada bau—hembusan udara dingin dan pengap seperti dari ruang bawah tanah, bercampur dengan uap menyengat linoleum serta kayu yang berjamur dan membusuk.

Kemudian, tiba-tiba, ketika ia masih duduk di sana, kamar itu dipenuhi aroma mignonette yang kuat dan manis. Aroma itu datang seperti satu hembusan angin, begitu pasti, begitu harum, begitu tegas, hingga hampir terasa seperti seorang tamu yang hidup. Lelaki itu berteriak: “Ya, sayang?” Seolah-olah seseorang baru saja memanggilnya. Ia melompat berdiri dan berbalik. Aroma yang kaya itu melekat padanya, menyelubunginya. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk meraihnya, seluruh indranya saat itu bercampur dan menjadi satu. Bagaimana mungkin seseorang dipanggil dengan begitu tegas oleh sebuah aroma? Pasti aroma itu sebenarnya sebuah suara. Namun bukankah aroma itulah yang menyentuhnya, yang membelainya?

“Dia pernah berada di kamar ini,” serunya. Ia melompat untuk mencari sebuah tanda, karena ia tahu dirinya akan mengenali benda sekecil apa pun yang pernah menjadi milik gadis itu atau pernah disentuh olehnya. Aroma mignonette yang menyelubunginya—aroma yang dulu disukai gadis itu dan telah menjadi bagian dari dirinya—dari mana datangnya?

Kamar itu hanya dirapikan seadanya. Di atas kain penutup meja rias yang tipis berserakan setengah lusin jepit rambut—teman-teman perempuan yang sederhana dan tak mudah dibedakan, feminin dalam jenis kelamin, tak terbatas dalam suasana hati, dan tak pernah mau bercerita tentang masa lalu. Ia mengabaikannya, sadar bahwa benda-benda itu justru tidak memiliki identitas. Ia mengobrak-abrik laci meja rias dan menemukan saputangan kecil yang dibuang, lusuh dan compang-camping. Ia menekannya ke wajah. Saputangan itu membawa aroma heliotrop yang kuat dan menyengat. Ia melemparkannya ke lantai. Di laci lain ia menemukan kancing-kancing aneh, sebuah program pertunjukan teater, kartu pegadaian, dua buah marshmallow yang hilang entah dari mana, sebuah buku tentang penafsiran mimpi. Di laci terakhir terdapat pita rambut perempuan dari satin hitam. Ia terdiam, seolah berdiri di antara es dan api. Namun pita rambut satin hitam juga hanyalah hiasan feminin yang sederhana, impersonal, dan umum; ia tidak menceritakan apa-apa.

Lalu ia melintasi kamar itu seperti seekor anjing pemburu yang mencium jejak. Ia menyusuri dinding, mengamati sudut-sudut, meraba-raba bagian tepi tikar yang menggembung dengan kedua tangannya, berlutut dan mengobrak-abrik mantel serta meja, tirai dan kain-kain penutup, lemari yang berdiri miring di sudut—mencari tanda yang dapat dilihat. Ia tak menyadari bahwa gadis itu ada di sampingnya, di sekelilingnya, menempel padanya, berada di dalam dan di atas dirinya; memeluknya, merayunya, memanggilnya dengan begitu memilukan melalui indera-indera yang lebih halus, sampai indera-indera kasarnya pun akhirnya mampu mengenali panggilan itu. Sekali lagi ia menjawab keras: “Ya, sayang!” Lalu ia berbalik dengan mata liar dan menatap kehampaan, sebab ia belum mampu melihat bentuk, warna, cinta, dan kedua lengan yang terulur di dalam aroma mignonette itu. Ya Tuhan, dari mana aroma itu datang? Dan sejak kapan aroma memiliki suara untuk memanggil? Begitulah ia meraba-raba.

Ia menggali setiap celah dan sudut, menemukan gabus-gabus botol dan puntung rokok. Semua itu dilewatinya dengan penghinaan yang pasif. Namun di suatu lipatan tikar ia menemukan sebatang cerutu yang tinggal separuh. Ia menginjaknya sampai hancur di bawah tumit, sambil mengumpat dengan marah. Ia menyisir kamar itu dari ujung ke ujung. Ia menemukan catatan-catatan kecil yang muram dan hina tentang banyak penyewa yang hidup berpindah-pindah; tetapi dari gadis yang dicarinya—yang mungkin pernah tinggal di kamar itu, dan yang rohnya seakan masih melayang-layang di sana—ia tidak menemukan jejak apa pun.

Lalu ia teringat pada penjaga rumah.

Ia berlari turun dari kamar berhantu itu menuju sebuah pintu yang memperlihatkan celah cahaya. Perempuan itu keluar ketika ia mengetuk. Sebisa mungkin ia menahan kegembiraannya.

“Maukah Anda memberi tahu saya, Nyonya,” pintanya, “siapa yang menempati kamar yang saya sewa ini sebelum saya?”

“Ya, Tuan. Saya bisa memberi tahu Anda lagi. Sprowls dan Mooney, seperti yang sudah saya katakan. Nona B’retta Sprowls bekerja di teater, tetapi Nyonya Mooney adalah istrinya. Rumah saya dikenal karena kehormatannya. Surat nikah mereka dibingkai dan digantung pada paku di atas—”

“Seperti apa rupa Nona Sprowls? Maksud saya, penampilannya?”

“Rambutnya hitam, Tuan, pendek dan gemuk, dengan wajah yang lucu. Mereka pergi Selasa minggu lalu.”

“Dan sebelum mereka menempati kamar itu?”

“Waktu itu ada seorang lelaki lajang yang bekerja dalam bisnis pengangkutan. Ia pergi sambil berutang sewa selama seminggu. Sebelum dia, ada Nyonya Crowder dan kedua anaknya, yang tinggal selama empat bulan; dan sebelum mereka ada Pak Tua Doyle, yang biaya kamarnya dibayar oleh anak-anaknya. Ia tinggal di kamar itu selama enam bulan. Itu berarti setahun yang lalu, Tuan. Lebih jauh dari itu saya tidak ingat.”

Ia mengucapkan terima kasih lalu merayap kembali ke kamarnya. Kamar itu telah mati. Sari pati yang tadi menghidupkannya telah lenyap. Aroma mignonette telah pergi. Sebagai gantinya kembali bau lama perabot rumah yang berjamur, bau atmosfer yang disimpan terlalu lama.

Surutnya harapan menguras keyakinannya. Ia duduk menatap cahaya gas yang kuning dan berdengung. Tak lama kemudian ia berjalan menuju tempat tidur dan mulai merobek seprai menjadi potongan-potongan. Dengan mata pisaunya, ia menyumpalkan potongan-potongan itu rapat-rapat ke setiap celah di sekitar jendela dan pintu. Setelah semuanya tertutup rapat dan kencang, ia mematikan lampu, menyalakan gas sepenuhnya, lalu membaringkan dirinya dengan lega di atas tempat tidur.

***

Malam itu giliran Nyonya McCool pergi mengambil sekaleng bir.

Ia mengambilnya, lalu duduk bersama Nyonya Purdy di salah satu tempat perlindungan bawah tanah tempat para penjaga rumah berkumpul dan tempat cacing jarang mati.

“Saya menyewakan kamar di lantai tiga, bagian belakang, malam ini,” kata Nyonya Purdy, sambil berbicara dari seberang lingkaran busa bir. “Seorang lelaki muda mengambilnya. Dua jam lalu dia naik ke kamar untuk tidur.”

“Benarkah, Nyonya Purdy?” kata Nyonya McCool dengan kekaguman yang mendalam. “Memang Anda ini luar biasa dalam menyewakan kamar-kamar seperti itu. Dan apakah Anda sudah memberitahunya?” lanjutnya dengan bisikan serak yang penuh rahasia.

“Kamar,” kata Nyonya Purdy dengan suara paling berbulu yang bisa dikeluarkannya, “memang disediakan untuk disewakan. Saya tidak memberitahunya, Nyonya McCool.”

“Benar sekali, Nyonya. Memang dengan menyewakan kamar kita bisa terus hidup. Anda punya naluri bisnis yang sejati, Nyonya. Banyak orang akan menolak menyewa kamar kalau mereka diberi tahu bahwa seseorang pernah mati bunuh diri di tempat tidur kamar itu.”

“Seperti yang Anda katakan, kita juga harus mencari nafkah,” jawab Nyonya Purdy.

“Ya, Nyonya. Benar. Baru seminggu yang lalu, pada hari seperti ini, saya membantu Anda membersihkan dan menyiapkan kamar lantai tiga, bagian belakang itu.

“Gadis muda yang cantik sekali. Ia membunuh dirinya dengan gas. Wajahnya manis sekali, Nyonya Purdy.”

“Bisa dibilang ia cantik,” kata Nyonya Purdy, mengangguk, tetapi tetap kritis, “kalau saja bukan karena tahi lalat yang tumbuh di dekat alis kirinya. Isi lagi gelasmu, Nyonya McCool.” []

Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani dari The Furnished Room, The Project Gutenberg eBook of The Four Million, by O. Henry. Cerpen ini ditulis dan pertama kali diterbitkan pada 14 Agustus 1904, di New York Sunday World Magazine. Kemudian cerpen ini dimasukkan ke dalam kumpulan cerpen The Four Million, yang terbit di New York pada 1906. Jadi, cerpen ini berada pada periode yang sangat penting dalam kehidupan kepengarangan O. Henry. Pengarang bernama asli William Sydney Porte pindah ke New York pada 1902, setelah keluar dari penjara. New York menjadi laboratorium barunya. Ia datang bukan hanya untuk mencari penerbit, tetapi juga untuk mengamati kota dan mengumpulkan bahan cerita secara langsung. Pada 1904, pengaruh lingkungan New York mulai tampak sangat kuat dalam cerpen-cerpennya.

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *