Cermin Waktu Perjalanan Hidup dari Konghucu

Petikan Konghucu tentang usia terasa seperti sebuah perjalanan menuju kesederhanaan. Dari belajar, bekerja, menghadapi keraguan, memahami dunia, membedakan baik dan buruk, sampai akhirnya mengetahui batas. Bukan semakin tua semakin banyak yang kita miliki.

Oleh Hasan Aspahani

Ada petikan dari Konghucu yang beberapa waktu lalu saya baca dalam komik “Konghucu” jilid 1, terbitan Gramedia tahun 2010, terjemahan dari karya Sai Ihara dan Lee Chi-ching, yang membuat saya berhenti cukup lama.

Konghucu bersabda: saat usia 15 tahun ia mulai belajar sendiri. Pada usia 30 tahun, apa yang dipelajarinya mulai membantu kehidupan sehari-hari. Pada usia 40 tahun, ia mengerti apa yang harus dilakukannya dan tidak lagi terlalu ragu menghadapi masalah duniawi. Pada usia 50 tahun, ia mengerti hukum alam. Pada usia 60 tahun, ia semakin bisa membedakan baik dan buruk. Dan pada usia 70 tahun, hati memiliki harapan-harapan yang tidak melampaui batas dan hukum alam yang ada.

Membaca petikan itu saya seperti melihat diri sendiri di dalam cermin waktu. Bukan cermin yang memperlihatkan wajah, melainkan cermin yang memperlihatkan perjalanan. Saya menengok kembali jejak yang sudah dilalui: kapan saya mulai belajar, kapan mulai bisa menafkahi diri sendiri, kapan mulai bisa menafkahi keluarga, kapan memilih jalan karier profesional, dan bagaimana saya meniti jalan itu sampai ke posisi tertinggi yang mungkin saya capai.

Ketika membaca kalimat-kalimat Konghucu itu, saya seperti menemukan bahwa kehidupan memang mempunyai tahapannya sendiri. Ada masa ketika kita lebih banyak menerima. Ada masa ketika kita mulai mencoba. Ada masa ketika pengetahuan yang kita kumpulkan mulai berguna untuk kehidupan. Ada masa ketika kita mulai mengerti siapa diri kita dan apa yang ingin kita kerjakan. Kemudian datang masa ketika pengalaman menjadi guru yang berbeda: kita tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang sebenarnya penting?”

Saya tahu perjalanan hidup saya tak harus persis mengikuti tahapan yang dikatakan Konghucu. Hidup bukan tangga yang anak tangganya selalu sama untuk setiap orang. Ada orang yang matang lebih cepat dalam satu hal tetapi terlambat dalam hal lain. Ada yang pada usia muda sudah menemukan jalannya, ada yang baru menemukannya setelah melewati separuh hidup.

Dalam komik yang saya baca sejak bagian pertama, bahkan sejak adegan pertama, dimunculkan tokoh anak usia 15 tahun, tentu saja fiktif. Anak yatim itu bahkan tak tahu siapa namanya. Ketika bertemu Konghucu ia tentu sama sekali tak tahu. Tapi kemudian ia menjadi muridnya.

Ada yang berhasil mencapai sesuatu yang direncanakannya, ada yang justru menemukan kehidupan yang lebih baik setelah rencana itu gagal.

Tetapi saya percaya pada gagasan tentang tahapan.
Hidup terasa lebih masuk akal kalau kita melihatnya sebagai perjalanan, bukan perlombaan menuju satu garis akhir. Pada setiap tahap ada sesuatu yang perlu dipelajari, ada kemampuan yang perlu dibangun, ada keputusan yang perlu dibuat, dan ada hal-hal yang harus kita lepaskan.

Karena itu saya juga percaya pada perlunya perencanaan. Tidak harus perencanaan yang sangat rinci. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi lima atau sepuluh tahun lagi. Tetapi memiliki gambaran tentang ke mana kita ingin pergi membuat kita lebih mudah mengetahui ketika kita mulai menyimpang dari jalan.
Rencana, bagi saya, bukan ramalan tentang masa depan. Ia lebih seperti peta.

Dan peta tidak pernah sama dengan perjalanan.
Di jalan kita bisa menemukan jembatan yang rusak. Bisa ada jalan yang ditutup. Bisa ada tempat yang ternyata lebih menarik daripada tujuan semula sehingga kita memutuskan berhenti lebih lama. Bisa pula kita tersesat. Yang penting bukan memaksa perjalanan selalu sesuai dengan peta, melainkan menyadari ketika arah kita meleset dan tahu apa yang harus dilakukan.

Saya kira begitu pula kehidupan.

Ada hal-hal yang dulu saya rencanakan tetapi tidak terjadi. Ada pula hal-hal yang sama sekali tidak saya rencanakan tetapi kemudian justru menjadi bagian penting dalam hidup saya. Kalau saya terlalu sibuk menghitung mana yang sesuai dengan rencana dan mana yang tidak, mungkin saya akan lebih banyak kecewa daripada bersyukur.

Sekarang, setelah melewati usia 50 tahun, saya semakin merasa bahwa pengalaman memiliki cara sendiri untuk mengajari kita. Ada banyak hal yang dulu terasa sangat penting, tetapi sekarang ternyata tidak terlalu penting. Ada pula hal-hal kecil yang dahulu mungkin saya abaikan, tetapi sekarang justru terasa berharga.

Mungkin inilah salah satu perubahan yang terjadi ketika umur bertambah: ukuran kita terhadap kehidupan berubah.

Kita mulai mengenali mana yang sungguh-sungguh perlu diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dibiarkan lewat. Kita belajar bahwa tidak semua pertengkaran harus dimenangkan, tidak semua pendapat harus dibuktikan benar, dan tidak semua keinginan harus diwujudkan.

Barangkali karena itu petikan Konghucu tentang usia terasa seperti sebuah perjalanan menuju kesederhanaan. Dari belajar, bekerja, menghadapi keraguan, memahami dunia, membedakan baik dan buruk, sampai akhirnya mengetahui batas.
Bukan semakin tua semakin banyak yang kita miliki.

Mungkin justru semakin tua, semakin sedikit hal yang kita perlukan untuk merasa cukup.
Saya belum sampai pada usia 70 seperti yang dikatakan Konghucu. Saya juga belum tahu apakah pada usia itu hati saya akan benar-benar seperti yang digambarkannya. Tetapi saya bisa melihat bahwa setiap umur membawa pertanyaan yang berbeda.

Pada usia tertentu kita bertanya, “Saya mau menjadi apa?”

Kemudian berubah menjadi, “Apa yang bisa saya kerjakan?”

Lalu, “Untuk siapa semua ini saya kerjakan?”

Dan mungkin pada suatu hari pertanyaannya menjadi jauh lebih sederhana: “Sudahkah saya menjalani hidup ini dengan baik?”

Saya tidak punya jawaban yang pasti.

Saya hanya merasa beruntung masih diberi kesempatan untuk terus berjalan, terus belajar, dan sesekali menoleh ke belakang untuk melihat jejak sendiri.

Sebab ternyata waktu tidak hanya membawa kita menjadi tua. Waktu juga memberi kesempatan kepada kita untuk mengerti.

Dan mungkin bahagia bukanlah keadaan ketika semua rencana berhasil. Bahagia barangkali adalah ketika kita bisa melihat perjalanan kita secara utuh—yang berhasil maupun yang gagal, yang sesuai rencana maupun yang melenceng—lalu berkata: yah, beginilah jalan yang telah saya tempuh. Dan saya bersyukur pernah menjalaninya. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *