Kita membaca biografi bukan semata-mata untuk mengetahui siapa melakukan apa. Kita membacanya untuk memahami manusia. Kita membaca novel bukan semata-mata untuk mengetahui apa yang terjadi pada tokoh. Kita membacanya untuk memahami kemungkinan menjadi manusia. Ada satu hal lagi yang membuat dua kutipan ini menarik.
Oleh Hasan Aspahani
Ada dua kalimat tentang buku yang, jika diletakkan berdampingan, terdengar seperti sedang berdebat. Anthony Powell mengatakan, “People think that because a novel’s invented, it isn’t true. Exactly the reverse is the case.” Menurutnya, biografi dan memoar tidak pernah bisa sepenuhnya benar karena tidak mungkin memasukkan setiap keadaan yang mungkin terjadi. Novel justru bisa melakukannya.
Henry David Thoreau mengatakan sesuatu yang seolah bergerak ke arah sebaliknya: “We do not learn much from learned books, but from true, sincere, human books, from frank and honest biographies.” Kita tidak banyak belajar dari buku-buku yang penuh pengetahuan, katanya, melainkan dari buku-buku yang benar, tulus, manusiawi—dari biografi yang terus terang dan jujur.
Yang satu membela novel. Yang lain memuji biografi. Yang satu menemukan kemungkinan kebenaran dalam sesuatu yang diciptakan. Yang lain menemukan kebenaran dalam kehidupan yang sungguh-sungguh dijalani.
Tetapi mungkin keduanya tidak benar-benar bertentangan. Mereka hanya menunjukkan bahwa kebenaran memiliki lebih dari satu jalan untuk sampai kepada kita.
Anthony Powell lahir di London pada 1905 dan meninggal pada 2000. Ia adalah novelis Inggris yang paling dikenal melalui A Dance to the Music of Time, rangkaian dua belas novel yang terbit sepanjang 1950-an hingga 1970-an. Novel itu mengikuti kehidupan sejumlah tokoh dalam rentang waktu beberapa dekade, memperlihatkan perubahan kelas sosial, persahabatan, cinta, ambisi, dan dunia budaya Inggris.
Powell tahu betul bahwa novel adalah sesuatu yang dibuat. Tokoh-tokohnya diciptakan, peristiwa-peristiwanya disusun, dialog-dialognya direka. Tetapi justru di situlah, menurutnya, terdapat kemungkinan untuk mencapai sesuatu yang tidak selalu dapat dilakukan oleh biografi.
Biografi terikat pada apa yang diketahui. Novel tidak.
Seorang biografer hanya dapat bekerja dengan surat, buku harian, arsip, kesaksian, foto, dokumen, dan ingatan. Ia mungkin tahu bahwa seseorang pergi ke sebuah tempat pada hari tertentu, bertemu seseorang, kemudian mengambil keputusan tertentu. Tetapi apakah ia tahu apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran orang itu ketika ia membuka pintu, duduk di sebuah ruangan, atau mengucapkan sebuah kalimat?
Bahkan sebuah peristiwa yang terdokumentasi dengan sangat baik tetap menyisakan wilayah yang tidak tercatat. Manusia tidak pernah menjalani hidupnya dalam bentuk arsip.
Di situlah novel mempunyai kebebasan yang unik. Ia dapat masuk ke dalam kesadaran tokohnya. Ia dapat mempertemukan tokoh-tokoh yang tidak pernah bertemu dalam kenyataan. Ia dapat membayangkan percakapan yang tidak pernah dicatat. Ia bahkan dapat menciptakan sebuah situasi yang tidak pernah terjadi, tetapi melalui situasi itu kita tiba pada sesuatu yang terasa sangat benar tentang manusia.
Maka invented tidak otomatis berarti false.
Sebuah adegan mungkin tidak pernah terjadi, tetapi perasaan yang digambarkannya bisa benar. Sebuah tokoh mungkin tidak pernah hidup, tetapi kecemburuan, ketakutan, kesepian, kesombongan, atau kerinduannya dapat terasa begitu akrab sehingga kita mengenali diri sendiri di dalamnya.
Fiksi dapat menciptakan sebuah kejadian untuk menemukan sebuah kebenaran.
Thoreau, yang lahir pada 1817 dan meninggal pada 1862, hidup dalam zaman yang berbeda. Ia adalah penulis, pemikir, naturalis, dan salah satu tokoh penting Transendentalisme Amerika. Ia dikenal melalui Walden, yang lahir dari eksperimen hidupnya sendiri di tepi Walden Pond, dan esai Civil Disobedience, yang kelak memberi pengaruh besar pada pemikiran tentang hati nurani individu dan kekuasaan.
Karena itu, ketika Thoreau berbicara tentang buku yang true, sincere, human, kita sebaiknya memperhatikan kata-kata itu dengan seksama.
Ia tidak sekadar mengatakan bahwa biografi berisi fakta.
Yang ia hargai adalah kejujuran manusia di balik fakta.
Biografi yang baik membuat kita berhadapan dengan seseorang yang benar-benar pernah hidup. Kita melihat pilihan-pilihannya, kegagalannya, kegelisahannya, keberaniannya, bahkan kontradiksi-kontradiksinya. Kita membaca bukan sekadar tentang apa yang dilakukan seseorang, melainkan tentang kemungkinan memahami mengapa manusia mengambil jalan tertentu dalam hidupnya.
Di sini biografi memiliki kekuatan yang tidak dimiliki fiksi: ada kehidupan nyata di belakangnya.
Orang itu pernah bangun pada suatu pagi. Pernah kehilangan seseorang. Pernah membuat keputusan yang salah. Pernah mencintai. Pernah takut. Pernah berharap. Dan semua itu bukan hasil imajinasi pengarang.
Karena itu, biografi memberi kita semacam hubungan khusus dengan waktu. Ia berkata: ini pernah terjadi kepada seseorang. Dan dari pengalaman seseorang yang nyata itu, kita mungkin mengenali sesuatu yang universal. Namun di sinilah paradoksnya. Biografi berangkat dari kenyataan, tetapi tidak mungkin merekam seluruh kenyataan. Novel berangkat dari imajinasi, tetapi kadang mampu membuat kita melihat kenyataan dengan lebih tajam.
Dengan kata lain, fakta dan kebenaran bukanlah dua kata yang selalu identik.
Kita bisa mengetahui banyak fakta tentang seseorang tanpa sungguh-sungguh memahami orang itu. Kita bisa membaca tanggal lahir, tempat tinggal, riwayat pendidikan, jabatan, penghargaan, perkawinan, perceraian, bahkan daftar buku yang ditulisnya. Tetapi semua informasi itu belum tentu membawa kita mendekati manusia yang berada di baliknya.
Sebaliknya, sebuah novel mungkin menceritakan sesuatu yang tidak pernah terjadi, tetapi tiba-tiba membuat kita memahami mengapa seorang manusia bisa berbohong kepada orang yang dicintainya, mengapa seseorang meninggalkan rumah, mengapa seorang anak membenci ayahnya, atau mengapa seseorang yang tampak kuat sebenarnya hidup dalam ketakutan.
Novel tidak mengatakan: ini benar-benar terjadi. Ia mengatakan: lihatlah, manusia bisa seperti ini. Dan itu juga sebuah bentuk kebenaran. Mungkin karena itu kita sebaiknya tidak mempertentangkan novel dan biografi sebagai fiksi melawan fakta.
Keduanya mempunyai hubungan yang berbeda dengan kebenaran. Biografi bergerak dari kenyataan menuju pemahaman. Novel bergerak dari imajinasi menuju pemahaman. Biografi berkata: ini kehidupan yang pernah dijalani. Novel berkata: inilah kemungkinan kehidupan manusia.
Yang satu memberi kita pengalaman konkret seseorang. Yang lain membuka kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi dalam pengalaman manusia. Dan keduanya dapat bertemu pada satu tempat: kebenaran manusiawi.
Kita membaca biografi bukan semata-mata untuk mengetahui siapa melakukan apa. Kita membacanya untuk memahami manusia. Kita membaca novel bukan semata-mata untuk mengetahui apa yang terjadi pada tokoh. Kita membacanya untuk memahami kemungkinan menjadi manusia. Ada satu hal lagi yang membuat dua kutipan ini menarik.
Powell memperingatkan kita agar tidak terlalu percaya pada anggapan bahwa sesuatu yang diciptakan pasti tidak benar. Thoreau, sebaliknya, mengingatkan kita agar tidak terlalu cepat menganggap buku yang berisi pengetahuan sebagai sesuatu yang otomatis membuat kita lebih tahu tentang kehidupan.
Keduanya, dengan cara berbeda, sedang menyerang kesombongan kita terhadap kata “kebenaran”. Kita sering mengira kebenaran adalah sesuatu yang sederhana: apa yang terjadi adalah benar, apa yang tidak terjadi adalah palsu. Padahal kehidupan manusia jauh lebih rumit.
Ada kebenaran yang dapat diverifikasi melalui dokumen. Ada kebenaran yang hanya dapat dirasakan melalui pengalaman. Ada kebenaran yang muncul dari kesaksian. Ada pula kebenaran yang baru tampak ketika kita membayangkan sebuah kemungkinan. Karena itu, mungkin kita membutuhkan keduanya: ingatan dan imajinasi, arsip dan cerita, pengalaman dan kemungkinan.
Novel mengingatkan kita bahwa manusia mungkin hidup dengan begitu banyak cara. Yang satu menyimpan kehidupan agar tidak hilang dari ingatan. Yang lain menciptakan kehidupan agar sesuatu yang belum pernah kita lihat dapat kita kenali. Maka barangkali pertanyaan yang lebih penting bukanlah: Mana yang lebih benar, biografi atau novel?
Melainkan: Kebenaran macam apa yang sedang kita cari? Jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi, kita membutuhkan fakta. Jika kita ingin memahami manusia yang mengalami kejadian itu, kita mungkin membutuhkan cerita. Dan kadang-kadang, justru melalui sesuatu yang tidak pernah terjadi, kita akhirnya mengerti sesuatu yang sangat nyata tentang diri kita sendiri. Itulah sebabnya novel dan biografi tidak perlu berdiri di dua sisi yang berlawanan. Mereka hanya mengambil dua jalan berbeda menuju kebenaran. []
