Sesederhana Itukah Bahagia? Saya Tak Tahu, dan dengan Begitu, Saya Bahagia

Saya masih ingin melihat banyak hal. Masih ingin mengunjungi banyak tempat dengan istri saya apa yang selama ini tak sempat kami lakukan. Masih ingin menyaksikan anak-anak menjalani hidupnya, dan membanggakan mereka tumbuh melampaui harapan-harapan kami, mensyukuri bahwa kami telah mengantar mereka ke titik di mana mereka memulai kehidupan jauh lebih baik daripada kami dulu. Masih ingin membaca buku. Masih ingin menulis puisi. Masih ingin melukis dan berpameran. Masih ingin menikmati banyak sore dan pagi.

Oleh Hasan Aspahani

Ketika kecil, saya adalah anak yang sakit-sakitan. Bengek, atau asma, membuat napas saya berat. Ada bunyi dengik ketika saya menarik dan mengembuskan udara, seolah-olah paru-paru saya sedang bekerja terlalu keras hanya untuk melakukan sesuatu yang bagi anak-anak lain berlangsung begitu saja.

Orang tua saya pernah mengira umur saya tidak akan panjang. Saya tumbuh dengan perasaan itu. Bahwa hidup saya mungkin tidak akan lama.

Aneh juga kalau dipikir sekarang. Seorang anak belum mengerti benar apa arti kematian, tetapi sudah membawa semacam pengetahuan samar bahwa waktunya mungkin tidak banyak. Saya tidak ingat persis bagaimana perasaan itu tumbuh di dalam diri saya. Yang saya ingat, ia seperti bayangan yang tidak selalu terlihat tetapi selalu ada.

Asma itu perlahan sembuh. Tetapi saya tumbuh menjadi anak yang lemah.

Saya tidak kuat berlari. Dan itu berarti saya hampir selalu menjadi anak bawang dalam permainan yang mengandalkan kekuatan fisik. Saya tidak jago main bola, main kasti, atau permainan lain yang membutuhkan kaki yang kuat, napas panjang, dan keberanian bertabrakan.

Anak-anak lain berlari mengejar bola. Saya mungkin lebih sering menjadi penonton.

Penyakit lain kemudian menemani saya hingga dewasa: gangguan pernapasan. Sinusitis dan polip membuat hidung saya rajin sekali menghasilkan lendir. Saya pernah dua kali menjalani operasi untuk membuang jaringan polip: sekali ketika SMP dan sekali lagi pada tahun pertama setelah lulus kuliah.

Kalau dipikir-pikir, sejak kecil tubuh saya memang seperti mengajarkan satu pelajaran yang agak menyebalkan: jangan terlalu yakin bahwa tubuh akan selalu bekerja sesuai keinginan kita.

Tetapi hari ini, ketika tulisan ini saya buat, saya justru sedang mensyukuri umur yang mencapai 55 tahun.

Lima puluh lima. Angka yang terasa ajaib. Tanpa terasa. Dan kalau mengingat bagaimana saya memulai hidup, lima puluh lima tahun terasa panjang sekali.

Dulu, ketika bertemu kerabat jauh, mereka kadang bertanya kepada ibu saya: “…Ini Si Hasan yang bengek itu, masih hidup ya?”

Kalimat itu sekarang terdengar lucu. Dulu mungkin tidak. Tetapi barangkali hidup memang mempunyai cara sendiri untuk membantah ramalan.

Saya tidak tahu kapan tepatnya saya berhenti memikirkan apakah saya akan berumur panjang atau tidak. Tidak ada sebuah peristiwa besar. Tidak ada pagi tertentu ketika saya bangun lalu berkata, “Mulai hari ini saya tidak takut mati.”

Sepertinya saya hanya mulai sibuk dengan hidup. Saya membantu orang-orang terdekat. Mengantarkan kue buatan ibu ke warung-warung. Membantu nenek membuat minyak kelapa. Membaca apa saja yang bisa saya baca, termasuk koran bekas di warung tetangga.

Saya menjalani hari. Dan ternyata, mungkin, itulah cara paling sederhana untuk berhenti takut pada panjang pendeknya hidup. Kita mulai sibuk mengisinya.

Ada sesuatu yang baru saya pahami belakangan. Ketika masih kecil dan merasa mungkin tidak akan hidup lama, saya sebenarnya sedang melihat hidup sebagai sesuatu yang harus dihitung: berapa lama lagi?

Tetapi hidup tidak pernah benar-benar bisa dihitung dari jumlah tahun. Satu hari yang dijalani dengan sungguh-sungguh mungkin lebih penuh daripada satu tahun yang kita lewatkan dengan perasaan bahwa hidup belum dimulai.

Kita sering berkata, “Nanti.”

Nanti kalau sudah punya uang.

Nanti kalau pekerjaan sudah beres.

Nanti kalau anak-anak sudah besar.

Nanti kalau rumah sudah selesai.

Nanti kalau sudah pensiun.

Nanti kalau sudah punya waktu.

Aneh sekali manusia.

Kita diberi hari ini, tetapi kita terus bernegosiasi dengan hari esok. Mungkin itu sebabnya saya belakangan semakin menyukai hal-hal kecil. Percakapan yang tidak direncanakan. Membaca sesuatu yang menarik. Menolong seseorang mengerjakan sesuatu yang sederhana. Duduk menikmati kopi. Mendengar orang bercerita.

Hal-hal itu tidak kelihatan seperti pencapaian. Tetapi bukankah sebagian besar hidup memang terdiri dari hal-hal yang tidak masuk daftar pencapaian?

Tidak ada yang akan membuat grafik tentang berapa kali kita mengantarkan makanan kepada orang lain. Tidak ada penghargaan untuk berapa banyak koran bekas yang pernah kita baca. Tidak ada medali karena kita pernah menemani seseorang melewati hari yang buruk.

Tetapi mungkin justru di sanalah hidup berlangsung. Bukan di panggung. Melainkan di sela-sela.

Ada sebuah kisah lama tentang seorang petani dan kudanya. Suatu hari kuda petani itu melarikan diri. Tetangganya datang dan berkata, “Sungguh malang.”

Petani itu hanya menjawab, “Mungkin.”

Beberapa hari kemudian kuda itu kembali, membawa beberapa kuda liar bersamanya. Tetangganya berkata, “Sungguh beruntung!”

Petani itu menjawab, “Mungkin.”

Anak petani itu mencoba menjinakkan salah satu kuda liar tersebut. Ia jatuh dan kakinya patah. “Sungguh malang,” kata tetangganya.

“Mungkin,” jawab petani.

Tak lama kemudian datanglah tentara untuk membawa para pemuda desa ke medan perang. Anak petani itu tidak dibawa karena kakinya patah. “Sungguh beruntung!”

“Mungkin.”

Cerita itu sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Tetapi semakin tua, saya semakin mengerti mengapa cerita semacam ini bertahan begitu lama. Kita terlalu cepat memberi nama kepada kejadian.

Ini keberuntungan. Itu kemalangan. Ini kesuksesan. Itu kegagalan. Padahal kita hampir tidak pernah tahu cerita itu akan berakhir di mana.

Mungkin sakit-sakitan ketika kecil adalah kemalangan. Tetapi mungkin pula pengalaman itu membuat saya lebih cepat mengerti bahwa hidup tidak boleh ditunda.

Saya tidak tahu. Saya juga tidak ingin memaksakan makna kepada masa lalu. Tidak semua penderitaan harus dicari hikmahnya. Sakit ya sakit. Kehilangan ya kehilangan.

Tetapi kita selalu punya pilihan untuk menentukan apa yang akan kita lakukan setelah sesuatu terjadi kepada kita.

Barangkali di situlah kebebasan manusia yang paling sederhana. Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi. Tetapi kita masih bisa memilih apa yang kita lakukan dengan hari yang tersisa.

Sekarang umur saya 55 tahun. Saya tentu masih ingin hidup panjang. Kepada Tuhan itu saya mintakan selalu dalam doa saya.

Saya masih ingin melihat banyak hal. Masih ingin mengunjungi banyak tempat dengan istri saya apa yang selama ini tak sempat kami lakukan. Masih ingin menyaksikan anak-anak menjalani hidupnya, dan membanggakan mereka tumbuh melampai harapan-harapan kami, mensyukuri bahwa kami telah mengantar mereka ke titik di mana mereka memulai kehidupan jauh lebih baik daripada kami dulu. Masih ingin membaca buku. Masih ingin menulis puisi. Masih ingin melukis dan berpameran. Masih ingin menikmati banyak sore dan pagi.

Tetapi ada perbedaan antara ingin hidup panjang dan menunda hidup sampai hidup terasa aman. Saya kira, sejak kecil saya sudah belajar sedikit tentang perbedaan itu.

Dulu saya kira hidup adalah soal berapa lama kita akan tinggal. Sekarang saya lebih tertarik pada pertanyaan lain: Apa yang kita lakukan selama kita masih di sini?

Saya tidak tahu berapa lama lagi. Tidak seorang pun tahu. Dan mungkin memang begitulah seharusnya. Sebab kalau kita tahu tanggal terakhir kita, mungkin kita justru akan menghabiskan seluruh hidup dengan menghitung mundur.

Lebih baik tidak tahu. Lebih baik kita sibuk hidup. Membahagiakan orang yang kita cintai. Membantu seseorang. Membaca sesuatu. Membuat sesuatu. Memaafkan seseorang. Menikmati secangkir kopi atau teh tarik. Dan berusaha, sebisanya, menjadi orang yang sedikit lebih baik daripada kemarin.

Ketika kecil, saya takut hidup saya akan pendek. Sekarang, setelah 55 tahun, saya mulai merasa pertanyaan itu tidak terlalu penting. Yang penting bukan apakah hidup saya panjang. Yang penting, ketika suatu hari nanti saya harus berhenti, saya bisa menoleh sebentar dan berkata: Saya pernah ada di sini.

Dan saya sudah berusaha mengisi hari-hari saya dengan hal-hal baik. Bahagia, apakah memang seserhana itu? Saya tak tahu, tapi dengan bersikap seperti itu saya bahagia. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *