Kalau hanya care, kita bisa terlalu larut. Kalau hanya focus, kita bisa terlalu sibuk. Kalau hanya visioner, kita bisa menjadi orang yang pandai bermimpi tetapi tidak pandai mengerjakan. Karena itu ketiganya harus berjalan bersama. Care membuat kita peduli. Focus membuat kita bekerja. Visioner membuat kita bergerak ke arah yang benar.
Oleh Hasan Aspahani
Ada satu nasihat kecil yang sampai sekarang masih saya ingat. Ketika saya mulai meniti karier profesional di industri media, bos saya sekaligus guru dan mentor saya pernah memberi tiga kata sederhana: care, focus, visioner. Hanya tiga kata itu. Tidak ada teori manajemen yang rumit. Tidak ada diagram dengan empat kuadran. Tidak ada istilah-istilah korporasi yang terdengar canggih. Tetapi hampir 20 tahun saya menjalani bisnis koran, tiga kata itu ternyata terus mengikuti perjalanan saya.
Saya memulai karir dari bawah, yaitu sebagai reporter. Kemudian melewati berbagai posisi sampai akhirnya duduk di jajaran komisaris. Pernah menjadi pemimpin redaksi dan membawa koran yang saya pimpin meraih beberapa penghargaan nasional. Pernah pula menjadi general manager dan berhasil membawa perusahaan mencapai NPM—net profit margin—tertinggi.
Tentu saja keberhasilan itu tidak bisa hanya dikreditkan kepada tiga kata tadi. Ada banyak orang, banyak keadaan, banyak kesempatan, juga kerja keras yang terlibat di dalamnya. Tetapi kalau saya diminta memilih satu nasihat sederhana yang ikut membentuk cara saya bekerja, saya akan kembali kepada tiga kata itu: Care. Focus. Visioner.
Pertama: Care. Care berarti peduli. Kedengarannya sederhana. Bahkan terlalu sederhana. Tetapi dalam dunia kerja, kepedulian sebenarnya adalah kualitas yang sangat menentukan. Peduli pada pekerjaan. Peduli pada perusahaan. Peduli pada pelanggan. Peduli pada rekan kerja. Peduli pada bawahan. Peduli pada hasil yang kita kerjakan.
Orang yang peduli akan melakukan sesuatu secara berbeda dibanding orang yang sekadar bekerja. Reporter yang peduli tidak hanya berpikir bagaimana berita selesai ditulis. Ia berpikir apakah berita itu benar, penting, berguna bagi pembaca, dan layak dipertanggungjawabkan.
Manajer yang peduli tidak hanya memikirkan target bulan ini. Ia memikirkan apakah anak buahnya berkembang, apakah pelanggan tetap percaya, dan apakah perusahaan masih sehat beberapa tahun ke depan.
Orang yang peduli juga biasanya punya satu kebiasaan sederhana: ia tidak mudah mengatakan, “Bukan urusan saya.” Ia mungkin memang bukan orang yang bertanggung jawab langsung atas sebuah persoalan. Tetapi ia tetap merasa perlu ikut memastikan persoalan itu selesai.
Di situlah care menjadi kekuatan. Masalahnya, care juga mempunyai jebakan. Kalau kita terlalu lama hanya sibuk peduli pada pekerjaan sehari-hari, kita bisa menjadi seperti kodok yang direbus pelan-pelan. Suhu air naik sedikit demi sedikit. Kodok tidak merasa perlu melompat. Sampai akhirnya ia terlambat menyadari bahwa lingkungan sudah berubah.
Begitu pula karier. Kita bisa begitu rajin mengerjakan pekerjaan kita sehingga tidak menyadari bahwa pekerjaan itu sendiri sedang berubah.
Kedua: Focus. Karena itu care harus diterjemahkan menjadi focus. Peduli saja tidak cukup. Kita harus tahu apa yang harus dikerjakan, mana yang paling penting, dan bagaimana pekerjaan itu diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Bagi saya, fokus bukan berarti hanya mengerjakan satu hal. Fokus justru berarti memecah kepedulian menjadi pekerjaan-pekerjaan konkret. Kalau kita peduli pada perusahaan, apa yang kita lakukan hari ini untuk membuat perusahaan lebih baik? Kalau kita peduli pada pelanggan, apa yang kita lakukan agar pelanggan mendapatkan pelayanan yang lebih baik? Kalau kita peduli pada bawahan, apakah kita hanya menyuruh mereka bekerja, atau juga membantu mereka menjadi lebih baik? Kalau kita peduli pada pekerjaan, apakah kita sekadar menyelesaikan tugas, atau memastikan hasilnya benar-benar berkualitas?
Dengan kata lain, care adalah sikap batin. Focus adalah disiplin untuk menerjemahkan sikap itu menjadi tindakan. Di sinilah profesionalisme sebenarnya dibangun. Bukan dari seberapa sibuk kita terlihat, melainkan dari seberapa baik kita menyelesaikan hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab kita.
Orang yang fokus biasanya punya satu kemampuan penting: menyelesaikan. Ia tidak hanya pandai memulai. Ia mampu membawa sesuatu sampai garis akhir. Dan dalam organisasi, orang seperti ini sangat berharga.
Tetapi ada bahaya lain. Care dan focus adalah dua hal yang sangat baik. Tetapi kalau hanya memiliki keduanya, kita juga bisa terjebak. Kita bekerja keras. Kita menyelesaikan pekerjaan. Target tercapai. Bos senang. Pelanggan puas. Karier naik. Lalu kita mengulangi semuanya lagi besok. Dan lusa. Dan bulan depan.
Tanpa sadar, kita telah membangun sebuah zona nyaman yang sangat nyaman. Justru karena kita berhasil di dalamnya. Inilah sebabnya kata ketiga menjadi penting: Visioner.
Ketiga: Visioner. Menjadi visioner bukan berarti harus mempunyai mimpi besar setiap pagi. Bukan pula berarti setiap orang harus menjadi Steve Jobs. Menurut saya, menjadi visioner jauh lebih sederhana: jangan terlalu lama menunduk.
Ketika sedang bekerja, kita memang harus melihat apa yang ada di depan mata. Tetapi sesekali kita harus mengangkat kepala dan melihat jauh ke depan. Apa yang sedang berubah? Apa yang akan berubah? Apa yang mungkin membuat pekerjaan kita tidak lagi relevan? Apa yang dibutuhkan perusahaan lima tahun dari sekarang? Apa yang harus saya pelajari hari ini agar lima tahun lagi saya masih berguna? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat kita keluar sebentar dari rutinitas.
Dan ini penting, karena dunia kerja tidak pernah berjanji untuk tetap seperti ketika kita pertama kali memasukinya. Ketika saya memulai karier di media, bisnis koran adalah bisnis yang sangat berbeda dengan sekarang. Teknologi berubah. Cara orang mendapatkan informasi berubah. Perilaku pembaca berubah. Model bisnis berubah. Bahkan pengertian tentang “media” sendiri berubah. Kalau saya hanya mengandalkan kemampuan yang membuat saya berhasil pada tahun-tahun pertama karier, mungkin saya akan menjadi sangat ahli pada sesuatu yang sudah tidak lagi dibutuhkan.
Maka karier membutuhkan dua pandangan sekaligus. Fokus membuat kita mampu mengerjakan hari ini. Visi membuat kita siap menghadapi hari esok.
Jangan Menjadi Kodok Rebus
Barangkali inilah pelajaran yang paling saya rasakan dari tiga kata tadi. Care membuat kita tidak bekerja dengan sikap masa bodoh. Focus membuat kepedulian itu menjadi pekerjaan nyata. Tetapi visioner membuat kita tidak terjebak di dalam pekerjaan yang sedang kita kerjakan.
Kalau hanya care, kita bisa terlalu larut. Kalau hanya focus, kita bisa terlalu sibuk. Kalau hanya visioner, kita bisa menjadi orang yang pandai bermimpi tetapi tidak pandai mengerjakan. Karena itu ketiganya harus berjalan bersama. Care membuat kita peduli. Focus membuat kita bekerja. Visioner membuat kita bergerak ke arah yang benar.
Bagi saya ada satu cara sederhana untuk menguji apakah tiga hal itu sudah ada dalam diri kita. Pada akhir hari, tanyakan: Apa yang sudah saya pedulikan hari ini? Apa yang sudah saya selesaikan dengan baik? Dan apa yang sudah saya lihat untuk hari esok? Kalau tiga pertanyaan itu terus kita bawa sepanjang karier, barangkali kita tidak perlu terlalu sibuk mencari formula sukses.
Karier, pada akhirnya, bukan hanya soal seberapa tinggi kita naik. Tetapi juga soal apakah kita tetap relevan ketika dunia di bawah kita berubah. Dan untuk itu, sesekali kita memang harus berhenti menunduk. Lihat pekerjaan kita. Lihat orang-orang di sekitar kita. Lalu angkat kepala. Lihat jauh ke depan.[]
