Inovasi: Pengetahuan Menjadi Produk, Produk Menjadi Pengetahuan

Maka inovasi sebenarnya tidak menutup perjalanan pengetahuan. Ia justru membuka putaran berikutnya. Produk baru menjadi objek penelitian baru. Teknologi baru melahirkan persoalan baru. Metode baru menghasilkan pengalaman baru yang perlu dipahami. Kebutuhan baru muncul karena manusia telah mengalami kemungkinan-kemungkinan baru.

Oleh Hasan Aspahani

Ada satu kalimat sederhana selalu terasa menarik bagi saya: ketika pengetahuan menjadi produk itulah inovasi; dan ketika produk menjadi pengetahuan itu namanya riset. Kalimat ini memang bukan definisi akademis tentang riset dan inovasi. Ia lebih menyerupai cara lain untuk melihat hubungan keduanya. Sebab selama ini kita cenderung membayangkan riset dan inovasi sebagai dua kegiatan yang berbeda: riset dilakukan oleh peneliti di laboratorium, universitas, atau pusat penelitian, sedangkan inovasi dilakukan oleh perusahaan, industri, atau para pengusaha yang ingin melahirkan produk baru. Padahal, jika kita melihat arah pergerakannya, keduanya sesungguhnya berada dalam satu lingkaran yang sama. Riset membawa kita dari dunia menuju pengetahuan, sementara inovasi membawa pengetahuan kembali ke dunia dalam bentuk sesuatu yang baru dan berguna.

Riset pada dasarnya adalah usaha manusia untuk memahami sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Sesuatu itu bisa berupa fenomena alam, perilaku manusia, masalah sosial, teknologi, bahan, proses produksi, bahkan sebuah benda yang setiap hari kita gunakan. Kita bisa mengambil sebuah telepon pintar sebagai contoh. Bagi pengguna, ia hanyalah sebuah benda yang digunakan untuk berkomunikasi, bekerja, memotret, membaca berita, atau menonton video. Tetapi bagi peneliti, benda yang sama merupakan kumpulan pertanyaan. Bagaimana baterainya bekerja? Mengapa layarnya demikian? Bagaimana manusia berperilaku ketika terus-menerus terhubung dengan perangkat? Bagaimana teknologi itu mengubah cara orang berkomunikasi? Bagaimana sebuah benda dapat memengaruhi ekonomi dan kebudayaan? Dari satu produk saja dapat muncul begitu banyak pertanyaan penelitian.

Dengan demikian, produk sesungguhnya menyimpan pengetahuan yang belum dibaca seluruhnya. Ia merupakan semacam teks yang ditulis dengan material, teknologi, desain, fungsi, dan keputusan-keputusan manusia. Membaca produk berarti membongkar pengetahuan yang membuat produk itu mungkin. Di sinilah riset bekerja. Ia tidak selalu harus dimulai dari sebuah buku atau teori. Ia bisa dimulai dari benda, masalah, kegagalan, kebiasaan, atau perubahan yang terjadi di sekitar kita. Dunia menyediakan objeknya; riset mengubah pengamatan atas objek itu menjadi pengetahuan.

Sebaliknya, pengetahuan tidak harus berhenti sebagai pengetahuan. Pengetahuan memiliki dorongan untuk diwujudkan. Temuan tentang material baru dapat menjadi produk. Pengetahuan tentang perilaku manusia dapat menjadi desain layanan. Pengetahuan tentang pertanian dapat menjadi metode budidaya. Pengetahuan tentang energi dapat menjadi teknologi baru. Bahkan pengetahuan yang tampaknya sangat abstrak pada suatu masa dapat menemukan kegunaan yang tidak pernah dibayangkan ketika pertama kali ditemukan. Pada titik itulah kita memasuki wilayah inovasi: ketika pengetahuan diberi bentuk sehingga dapat melakukan sesuatu di dunia nyata.

Peter Drucker merumuskan gagasan ini dengan sangat tajam: “Innovation is the specific instrument of entrepreneurship. It is the act that endows resources with a new capacity to create wealth.” Bagi Drucker, inovasi bukan sekadar menghasilkan sesuatu yang baru. Inovasi adalah tindakan yang memberikan kemampuan baru kepada sumber daya sehingga menghasilkan nilai. Dengan kata lain, sesuatu yang sebelumnya biasa saja dapat menjadi penting ketika manusia menemukan kegunaan baru untuknya.

Di sini kita bisa melihat perbedaan antara invensi dan inovasi. Menemukan sesuatu belum tentu berarti menginovasinya. Sebuah gagasan bisa sangat cemerlang tetapi tidak pernah menjadi sesuatu yang digunakan orang. Sebuah teknologi bisa bekerja dengan sangat baik tetapi tidak menjawab kebutuhan nyata. Inovasi baru memperoleh maknanya ketika pengetahuan, gagasan, atau temuan berhasil diterjemahkan menjadi sesuatu yang memiliki fungsi dan nilai. Karena itu, inovasi membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan. Ia membutuhkan keberanian mencoba, kemampuan membaca kebutuhan, kemampuan merancang, menguji, memperbaiki, dan membawa gagasan keluar dari ruang pemikiran menuju kehidupan.

Tetapi di sinilah hal yang lebih menarik terjadi: produk yang lahir dari inovasi kemudian kembali menjadi sumber pengetahuan. Sebuah produk tidak berhenti pada saat ia diluncurkan. Ia memasuki kehidupan manusia. Orang menggunakannya dengan cara yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh penciptanya. Mereka menemukan kegunaan baru, mengalami kesulitan, mengeluhkan kekurangan, memodifikasinya, menggabungkannya dengan benda lain, atau bahkan menggunakannya untuk tujuan yang sama sekali berbeda. Semua itu menghasilkan pengalaman. Dan pengalaman menghasilkan data. Data menghasilkan pertanyaan. Pertanyaan menghasilkan riset.

Maka inovasi sebenarnya tidak menutup perjalanan pengetahuan. Ia justru membuka putaran berikutnya. Produk baru menjadi objek penelitian baru. Teknologi baru melahirkan persoalan baru. Metode baru menghasilkan pengalaman baru yang perlu dipahami. Kebutuhan baru muncul karena manusia telah mengalami kemungkinan-kemungkinan baru. Karena itu hubungan antara riset dan inovasi lebih tepat dibayangkan sebagai lingkaran daripada garis lurus: riset menghasilkan pengetahuan; pengetahuan melahirkan inovasi; inovasi menghasilkan produk; produk menciptakan pengalaman; pengalaman melahirkan pertanyaan baru; dan pertanyaan baru kembali menggerakkan riset.

Dalam pengertian ini, masyarakat sendiri sebenarnya adalah laboratorium yang sangat besar. Setiap hari manusia mencoba sesuatu. Kita mengubah cara bekerja, cara berkomunikasi, cara bepergian, cara berdagang, cara belajar, bahkan cara menikmati hiburan. Sebagian perubahan itu muncul karena sebuah pengetahuan baru diterapkan. Sebagian lainnya justru muncul dari praktik sehari-hari, dari percobaan yang dilakukan tanpa terlebih dahulu menyebut dirinya sebagai riset. Ketika praktik itu diamati, dibandingkan, diuji, dan dipahami secara sistematis, ia dapat kembali menjadi pengetahuan. Pengetahuan tersebut kemudian memungkinkan munculnya inovasi berikutnya.

Karena itu, saya kira kita perlu berhati-hati ketika membicarakan inovasi hanya sebagai urusan teknologi. Inovasi memang sering tampil dalam bentuk benda yang mengagumkan: komputer yang lebih cepat, kendaraan listrik, kecerdasan buatan, obat baru, mesin baru. Tetapi inovasi dapat pula berupa cara baru mengorganisasi pekerjaan, metode baru mengajar anak, sistem baru mengelola kota, model baru memberikan pelayanan publik, atau cara baru menyelesaikan persoalan lama. Yang menentukan bukan apakah hasilnya berupa benda canggih atau sederhana, melainkan apakah ada pengetahuan yang berhasil diterjemahkan menjadi cara baru yang menciptakan nilai.

Sebaliknya, kita juga perlu membebaskan riset dari bayangan bahwa ia hanya pekerjaan akademisi. Ketika seorang petani membandingkan dua metode tanam untuk mengetahui mana yang menghasilkan panen lebih baik, ada proses pencarian pengetahuan di sana. Ketika seorang perancang mengamati bagaimana orang menggunakan sebuah kursi lalu mengubah bentuknya agar lebih nyaman, ia sedang belajar dari produk dan pengalaman. Ketika sebuah perusahaan mempelajari mengapa produknya gagal digunakan konsumen lalu menemukan pola tertentu, pengetahuan baru sedang terbentuk. Riset memiliki banyak wajah. Yang membedakannya adalah kedalaman pertanyaan, cara memperoleh bukti, dan kesungguhan untuk mengubah pengalaman menjadi pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sini kita dapat melihat mengapa sebuah ekosistem pengetahuan membutuhkan keduanya. Riset tanpa inovasi berisiko membuat pengetahuan berhenti sebagai temuan; inovasi tanpa riset berisiko membuat kebaruan berjalan tanpa pemahaman yang cukup. Riset memberi inovasi fondasi. Inovasi memberi pengetahuan kesempatan untuk menguji dirinya dalam kenyataan. Di laboratorium sebuah gagasan mungkin terlihat berhasil, tetapi dunia nyata selalu lebih rumit. Begitu sebuah gagasan menjadi produk dan digunakan manusia, ia menghadapi kondisi yang tidak seluruhnya dapat diprediksi. Justru dari gesekan dengan kenyataan itulah pengetahuan baru muncul.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk memisahkan riset dan inovasi. Keduanya adalah dua gerakan dari satu proses kebudayaan manusia: usaha memahami dunia dan usaha mengubahnya. Riset bertanya kepada dunia: bagaimana sesuatu bekerja, mengapa ia terjadi, apa yang menyebabkan masalah, dan apa yang mungkin dilakukan? Inovasi kemudian mengambil sebagian jawaban itu dan mencoba memberinya bentuk. Tetapi begitu bentuk itu hadir di dunia, ia menciptakan pengalaman dan persoalan baru yang kembali meminta untuk dipahami.

Maka kalimat awal tadi memperoleh makna yang lebih luas: pengetahuan menjadi produk, itulah inovasi; produk menjadi pengetahuan, itulah riset. Di antara keduanya berlangsung sebuah percakapan yang tidak pernah selesai. Kita memahami dunia untuk dapat mengubahnya, lalu kita mengubah dunia agar memperoleh dunia baru yang harus kita pahami lagi.

Barangkali di situlah sesungguhnya kemajuan manusia terjadi. Bukan ketika kita hanya mengetahui lebih banyak, dan bukan pula ketika kita hanya menghasilkan lebih banyak benda baru, melainkan ketika pengetahuan dan tindakan terus saling mengoreksi, saling memperkaya, dan saling mendorong ke putaran berikutnya.

Riset bertanya kepada dunia. Inovasi menjawabnya dengan menciptakan dunia yang baru. Dan dunia yang baru itu kembali menjadi pertanyaan bagi riset.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *