Bagaimana Entrepreneur Melihat Peluang di Tengah Gelombang Investasi di Batam

Bagi investor, Batam mungkin adalah lokasi untuk menanam modal. Bagi pemerintah, ia adalah kawasan ekonomi yang harus terus dikembangkan. Tetapi bagi entrepreneur, Batam adalah sesuatu yang lain: sebuah kota yang terus berubah, penuh dengan kebutuhan yang belum selesai.

Oleh Hasan Aspahani

Ada satu nasihat lama dalam dunia kewirausahaan: pengusaha harus jeli melihat peluang. Kedengarannya sederhana, tetapi justru di situlah salah satu inti kewirausahaan. Seorang pengusaha tidak hanya hidup dari apa yang sudah tersedia. Ia memperhatikan perubahan, melihat kebutuhan yang muncul, menemukan masalah yang belum terpecahkan, lalu bertanya: adakah sesuatu yang bisa saya lakukan di sini?

Konteks Batam membuat pertanyaan itu menjadi semakin menarik. Ketika investasi datang, perhatian kita biasanya tertuju pada nilai investasinya: berapa besar modal yang ditanamkan, perusahaan apa yang masuk, berapa tenaga kerja yang diserap, dan kawasan mana yang akan berkembang. Semua itu penting. Tetapi bagi seorang entrepreneur, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang akan terjadi setelah investasi itu datang?

Sebuah pabrik tidak hanya membutuhkan gedung dan mesin. Ia membutuhkan bahan baku, transportasi, makanan, jasa kebersihan, pemeliharaan, keamanan, teknologi, logistik, dan berbagai layanan lainnya. Ribuan pekerja yang datang bersama sebuah investasi juga mempunyai kebutuhan: tempat tinggal, makan, transportasi, laundry, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan kebutuhan sehari-hari. Dengan kata lain, setiap investasi menciptakan ekosistem kebutuhan. Dan di dalam ekosistem kebutuhan itulah peluang usaha bermunculan.

Apa Arti “Jeli”?

Maka ketika pengusaha dikatakan harus jeli, jangan kita artikan sekadar mampu melihat sesuatu yang sudah tampak jelas. Pengusaha yang melihat kawasan industri baru lalu membuka warung makan memang sedang melihat peluang. Tetapi pengusaha yang bertanya mengapa pekerja di kawasan itu kesulitan mendapatkan makanan tepat waktu, bagaimana makanan bisa disediakan untuk tiga shift, atau bagaimana kebutuhan makan ribuan pekerja dapat dikelola secara efisien, sedang melihat sesuatu yang lebih jauh.

Ia tidak hanya melihat pasar. Ia melihat perubahan yang sedang menciptakan pasar.

Inilah salah satu perbedaan penting antara pengusaha yang sekadar mengikuti peluang dan entrepreneur yang mampu membaca peluang. Peluang tidak selalu datang dalam bentuk papan pengumuman bertuliskan “Peluang Bisnis di Sini”. Sering kali ia datang sebagai perubahan yang pada awalnya belum dianggap sebagai peluang sama sekali.

Jumlah penduduk bertambah. Kawasan industri berkembang. Sebuah perusahaan besar masuk. Pola kerja berubah. Teknologi baru digunakan. Kebiasaan konsumen bergeser. Semua itu adalah tanda-tanda. Tugas entrepreneur adalah membaca tanda tersebut.

Jeli berarti mampu menghubungkan apa yang dilihat dengan kemungkinan yang belum terlihat.

Dari Peluang Menjadi Bisnis

Ada proses sederhana yang dapat kita gunakan untuk memahami bagaimana peluang menjadi bisnis. Pertama, melihat kebutuhan. Kedua, menemukan masalah. Ketiga, menciptakan solusi. Keempat, menemukan orang yang bersedia membayar solusi tersebut. Baru setelah itu kita mempunyai bisnis.

Karena itu, tidak semua masalah otomatis merupakan peluang usaha. Ada kebutuhan yang besar tetapi orang tidak mau membayar. Ada pasar yang luas tetapi biaya melayaninya terlalu mahal. Ada peluang yang tampak menarik tetapi tidak sesuai dengan kemampuan pengusaha.

Entrepreneur harus mempunyai kejelian sekaligus kemampuan menguji. Ia perlu bertanya: siapa yang membutuhkan? Seberapa besar kebutuhannya? Seberapa sering kebutuhan itu muncul? Berapa nilai yang bersedia dibayar pelanggan? Siapa pesaingnya? Dan yang paling penting, apakah saya mampu memberikan solusi yang lebih baik?

Jadi kejelian bukan sekadar melihat. Kejelian adalah kemampuan menghubungkan apa yang dilihat dengan kemungkinan yang belum terlihat.

Belajar dari Tenda Pecel Lele

Ada contoh nyata di Batam yang menarik untuk menggambarkan proses ini. Sebuah usaha yang dimulai dari kedai tenda pecel lele yang dikelola sepasang suami istri berkembang jauh melampaui bentuk awalnya. Mulanya mereka melayani pelanggan yang datang ke kedai. Kemudian datang pesanan katering. Dari belasan rantang menjadi puluhan. Lalu kebutuhan itu berkembang ke pasar perusahaan dan pabrik.

Hari ini bisnis katering tersebut telah mencapai belasan ribu paket makanan per hari, melayani pekerja pabrik dalam tiga shift. Usaha yang dulu berupa kedai tenda kini telah berkembang menjadi empat perusahaan: dua perusahaan yang bergerak khusus di bidang katering untuk pabrik dan perusahaan, satu perusahaan penyewaan kendaraan, serta satu perusahaan pemasok bahan baku makanan. Jumlah pekerjanya mencapai sekitar 300 orang, dan pemiliknya mulai menyerahkan manajemen kepada anak-anaknya.

Yang menarik dari kisah ini bukan semata-mata ukuran bisnis akhirnya. Yang menarik adalah cara sebuah peluang berkembang menjadi peluang berikutnya.

Kedai pecel lele menciptakan pengalaman mengelola makanan. Katering membuka pintu menuju perusahaan dan kawasan industri. Kebutuhan katering dalam skala besar kemudian melahirkan kebutuhan transportasi dan pasokan bahan baku. Satu bisnis melahirkan kebutuhan lain. Satu kebutuhan membuka pintu menuju pasar berikutnya.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa entrepreneur tidak selalu harus mencari peluang yang sama sekali baru. Kadang-kadang ia cukup mengikuti jejak kebutuhan yang muncul dari bisnisnya sendiri.

Peluang pertama bukan selalu tujuan akhir. Ia bisa menjadi pintu menuju peluang berikutnya.

Lihat Peluang di Balik Peluang

Inilah bagian yang penting untuk Batam. Ketika sebuah investasi masuk, jangan hanya melihat bisnis yang secara langsung berhubungan dengan investor. Lihat juga peluang di belakang peluang itu.

Pabrik membutuhkan makanan. Tetapi makanan membutuhkan bahan baku. Bahan baku membutuhkan pemasok. Pemasok membutuhkan gudang dan transportasi. Distribusi membutuhkan kendaraan dan perawatan. Pabrik membutuhkan pekerja. Pekerja membutuhkan tempat tinggal. Tempat tinggal menciptakan kebutuhan laundry, makanan, minimarket, transportasi, pendidikan, dan berbagai jasa lainnya.

Ekonomi sebenarnya bergerak seperti jaringan. Satu kegiatan ekonomi menciptakan kegiatan ekonomi lainnya.

Entrepreneur yang jeli tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang dibutuhkan perusahaan itu?” Ia bertanya lebih jauh: “Apa saja yang akan berubah karena perusahaan itu hadir” Pertanyaan sederhana itu bisa membuka peta peluang yang jauh lebih luas.

Peluang Tidak Selalu Berarti Meniru

Ada persoalan lain. Begitu sebuah peluang terbukti menghasilkan uang, orang lain akan melihatnya. Lalu mereka ikut masuk. Kalau semua orang melihat investasi baru sebagai kesempatan membuka warung, maka jumlah warung akan bertambah. Kalau semua melihat kawasan industri sebagai pasar transportasi, pemain baru akan berdatangan.

Pada akhirnya persaingan terjadi. Harga diturunkan. Margin mengecil. Dan peluang yang tadinya menarik menjadi bisnis yang biasa-biasa saja. Karena itu, entrepreneur tidak cukup hanya menemukan pasar. Ia harus menemukan cara untuk berbeda di dalam pasar tersebut.

Apa yang bisa dilakukan lebih cepat? Lebih murah? Lebih nyaman? Lebih konsisten? Lebih terpercaya? Atau mungkin menawarkan sesuatu yang sama sekali belum dilakukan pesaing? Di sinilah kejelian berubah menjadi inovasi.

Melihat peluang adalah awal. Menciptakan nilai adalah pekerjaan sebenarnya.

Entrepreneur Juga Bisa Menciptakan Peluang

Ada perbedaan menarik antara menemukan peluang dan menciptakan peluang. Menemukan peluang berarti melihat kebutuhan yang sudah ada dan menyediakan solusinya. Menciptakan peluang berarti menawarkan sesuatu yang sebelumnya belum ada, lalu membuat orang menyadari bahwa mereka membutuhkan atau menginginkannya.

Banyak bisnis besar tumbuh dengan cara kedua ini. Bukan karena mereka menemukan sebuah pasar yang sudah menunggu, tetapi karena mereka menawarkan cara baru untuk memenuhi kebutuhan lama. Karena itu entrepreneur sebenarnya bukan hanya pemburu peluang. Ia juga pencipta peluang. Ia bisa melihat masalah yang dianggap biasa oleh orang lain lalu berkata, “Mengapa ini harus terus seperti ini?”

Ia melihat antrean dan berpikir tentang sistem. Melihat perjalanan yang merepotkan dan berpikir tentang layanan. Melihat pemborosan dan berpikir tentang bisnis baru. Melihat barang yang terbuang dan berpikir tentang produk. Melihat kebutuhan yang terus berulang dan berpikir tentang perusahaan.

Batam dan Gelombang Kedua

Batam mempunyai kesempatan yang menarik dalam hal ini. Kita sering membicarakan investasi dari sisi investor: bagaimana menariknya, berapa besar nilainya, dan berapa banyak lapangan kerja yang dihasilkannya.

Tetapi ada gelombang ekonomi kedua yang juga perlu diperhatikan: apa yang terjadi kepada ekonomi lokal setelah investasi tersebut hadir? Apakah pengusaha lokal mampu menjadi pemasok? Apakah bisnis lokal mampu memenuhi kebutuhan perusahaan dan pekerjanya? Apakah usaha kecil mampu tumbuh menjadi perusahaan menengah? Apakah ada entrepreneur yang cukup berani menciptakan layanan baru yang bahkan belum terpikirkan oleh pasar?

Ini bukan sekadar pertanyaan bagi pengusaha. Ini juga pertanyaan bagi kota. Sebab kota yang baik bagi entrepreneurship bukan hanya kota yang berhasil menarik investasi. Ia adalah kota yang memungkinkan masyarakat lokal menangkap nilai ekonomi yang tercipta dari investasi tersebut. Untuk itu pengusaha membutuhkan akses informasi, pembiayaan, keterampilan, jaringan, teknologi, dan hubungan yang lebih baik dengan dunia industri. Tetapi pada akhirnya, peluang tetap harus ditemukan oleh seseorang.

Jangan Menunggu Pintu Terbuka

Seorang entrepreneur mungkin tidak bisa menentukan kapan investasi datang ke Batam. Ia juga tidak bisa menentukan perusahaan mana yang membuka pabrik atau berapa besar modal yang mereka bawa.

Tetapi ia bisa memilih cara melihatnya. Orang lain melihat sebuah pabrik baru. Ia melihat ribuan pekerja. Orang lain melihat ribuan pekerja. Ia melihat ribuan kebutuhan. Orang lain melihat kebutuhan. Ia melihat masalah. Dan ketika orang lain melihat masalah, ia mulai mencari solusi. Begitulah sebuah bisnis sering kali dimulai. Bukan dari uang. Bukan pula selalu dari ide yang spektakuler. Kadang ia dimulai dari sebuah perubahan yang diperhatikan oleh seseorang lebih awal daripada orang lain.

Maka, ketika Batam mengalami gelombang investasi, mungkin nasihat “pengusaha harus jeli” memang tepat. Tetapi kita bisa membuatnya sedikit lebih tajam:

Pengusaha melihat peluang. Entrepreneur membaca perubahan yang menciptakan peluang. Dan entrepreneur yang lebih maju mampu menciptakan peluang yang sebelumnya belum terlihat sebagai pasar.

Bagi investor, Batam mungkin adalah lokasi untuk menanam modal. Bagi pemerintah, ia adalah kawasan ekonomi yang harus terus dikembangkan. Tetapi bagi entrepreneur, Batam adalah sesuatu yang lain: sebuah kota yang terus berubah, penuh dengan kebutuhan yang belum selesai. Dan di antara kebutuhan-kebutuhan itulah, selalu ada peluang. Tinggal siapa yang cukup jeli untuk melihatnya. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *