Persoalan pekerja senior seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan pensiun. Ia adalah bagian dari persoalan lapangan kerja dan bagaimana kita mendesain pasar kerja yang lebih inklusif.
- Pensiun tidak selalu berarti seseorang berhenti mampu dan ingin bekerja.
- Pasar kerja perlu memberi ruang bagi pekerja senior sesuai kemampuan, pengalaman, dan jenis pekerjaannya.
- Batam perlu membangun pasar kerja yang inklusif, yang memberi kesempatan bukan hanya kepada pekerja muda, tetapi juga mereka yang masih ingin bekerja setelah pensiun.
Oleh Hasan Aspahani
Saya duduk di kursi depan mobil jenazah. Sepanjang perjalanan dari masjid ke pemakaman Sungai Panas, saya mengajaknya bicara. Ia tinggal di kompleks perumahan sebelah. Seorang pensiunan sekuriti, yang pernah belasan tahun bekerja di sebuah hotel cukup dikenal di kawasan Jodoh, Batam.
Kini ia membawa mobil ambulans yang sekaligus difungsikan sebagai mobil jenazah. Mobil itu milik masjid di kompleks perumahannya. Tidak setiap hari ada orang yang harus diantar. Jadi, mungkin pekerjaan ini bisa disebut pekerjaan setengah pelayanan, setengah pekerjaan sambilan.
Pembicaraan kami kemudian sampai pada soal pekerjaan. “Aturan pemerintah ini tidak adil,” katanya. Saya menunggu. “Usia kerja kita dibatasi. Tapi setelah kita pensiun, tidak ada jaminan dari pemerintah kita bisa dapat pekerjaan. Padahal kita kan masih perlu makan. Masih ada anak yang belum selesai sekolah.”
Kalimat itu membawa persoalan yang lebih besar daripada kehidupan seorang pensiunan sekuriti. Apa sebenarnya yang berakhir ketika seseorang mencapai usia pensiun? Pekerjaannya? Penghasilannya? Atau hanya status administratifnya sebagai orang yang sudah tidak berada dalam usia kerja?
Kita sering memperlakukan usia seolah-olah merupakan ukuran yang cukup untuk menentukan kemampuan seseorang bekerja. Padahal kemampuan manusia tidak berhenti pada satu angka. Ada orang berusia 55 tahun yang masih sangat sehat dan produktif. Ada yang berusia 60 tahun yang masih mempunyai pengalaman, ketelitian dan kedisiplinan yang sangat dibutuhkan. Sebaliknya, usia muda juga tidak otomatis berarti seseorang siap dan mampu mengerjakan semua jenis pekerjaan.
Karena itu, persoalan pekerja senior seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan pensiun. Ia adalah bagian dari persoalan lapangan kerja dan bagaimana kita mendesain pasar kerja yang lebih inklusif.
Batam adalah kota pekerja. Banyak orang datang ketika masih muda, bekerja selama puluhan tahun, membangun keluarga, membeli rumah, menyekolahkan anak, dan ikut tumbuh bersama kota. Ketika usia mereka mencapai batas pensiun, kehidupan mereka tentu tidak serta-merta selesai.
Kebutuhan hidup masih ada. Cicilan mungkin masih ada. Anak mungkin masih membutuhkan biaya pendidikan. Bahkan keinginan untuk tetap produktif dan berguna juga masih ada. Tetapi pasar kerja sering kali mempunyai pesan yang berbeda: Anda sudah terlalu tua.
Di sinilah kita mulai berhadapan dengan apa yang disebut ageisme dalam dunia kerja. Bentuknya tidak selalu berupa ucapan yang kasar atau perlakuan yang terang-terangan diskriminatif. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: batas usia dalam lowongan pekerjaan, asumsi bahwa pekerja senior tidak adaptif, atau anggapan bahwa seseorang yang sudah berusia tertentu otomatis tidak lagi produktif.
Tentu tidak semua batas usia merupakan diskriminasi. Ada pekerjaan yang memang membutuhkan kondisi fisik tertentu, tuntutan keselamatan, atau batas usia yang ditetapkan berdasarkan alasan hukum dan profesional. Masalahnya adalah ketika umur menjadi penyaring otomatis sebelum kemampuan seseorang benar-benar dilihat.
Mengapa seorang pensiunan yang masih sehat tidak boleh mengemudikan kendaraan untuk pekerjaan tertentu jika ia memenuhi persyaratan keselamatan? Mengapa seseorang yang mempunyai pengalaman panjang dalam pelayanan hotel tidak dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan yang sesuai dengan pengalamannya? Mengapa pekerja senior harus dianggap hanya mempunyai dua pilihan: pensiun atau menganggur?
Mungkin kita perlu membayangkan kembali apa yang terjadi setelah pensiun. Selama ini kita seperti hanya mengenal dua fase: bekerja dan berhenti bekerja. Padahal kehidupan bisa lebih lentur dari itu.
Ada orang yang memang ingin menikmati masa pensiun tanpa pekerjaan. Itu pilihan yang patut dihormati. Tetapi ada pula orang yang ingin tetap bekerja, mungkin dengan jam kerja lebih pendek, pekerjaan yang lebih ringan, pekerjaan berbasis pengalaman, pekerjaan paruh waktu, atau pekerjaan yang memungkinkan mereka tetap mempunyai waktu untuk keluarga.
Kita membutuhkan ruang bagi pilihan kedua itu. Bukan memaksa orang lanjut usia untuk terus bekerja, tetapi memastikan mereka tidak kehilangan kesempatan bekerja hanya karena angka usia.
Pengalaman justru bisa menjadi modal yang mahal. Seorang pekerja senior mungkin tidak lagi secepat pekerja berusia 25 tahun dalam pekerjaan tertentu. Tetapi ia mungkin mempunyai sesuatu yang tidak bisa diperoleh hanya dari pendidikan formal: pengalaman menghadapi manusia, memahami situasi, menyelesaikan masalah, menjaga disiplin, dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika keadaan tidak berjalan sesuai prosedur.
Dalam banyak pekerjaan, pengalaman semacam itu justru merupakan aset. Karena itu, ketika kita membicarakan penciptaan lapangan kerja di Batam, pertanyaannya tidak cukup hanya: berapa banyak pekerjaan baru yang berhasil diciptakan? Kita juga perlu bertanya: siapa yang mempunyai akses terhadap pekerjaan tersebut? Anak muda tentu penting. Mereka membutuhkan pekerjaan pertama dan kesempatan membangun karier. Tetapi pekerja senior juga membutuhkan kesempatan kedua. Ada perempuan yang kembali ke dunia kerja, penyandang disabilitas yang membutuhkan pekerjaan yang sesuai, dan kelompok-kelompok lain yang selama ini mungkin tidak sepenuhnya terakomodasi oleh pasar kerja.
Kota yang inklusif bukan hanya kota yang membangun kawasan industri baru dan menarik investasi baru. Kota yang inklusif juga adalah kota yang memikirkan bagaimana orang-orang yang sudah lebih dulu hidup dan bekerja di dalamnya tetap mempunyai ruang untuk berpartisipasi.
Mungkin pemerintah tidak harus menjamin setiap pensiunan memperoleh pekerjaan. Itu bukan sesuatu yang sederhana, bahkan mungkin bukan fungsi pemerintah. Tetapi pemerintah dapat menciptakan ekosistem yang memungkinkan pasar kerja menjadi lebih terbuka bagi pekerja senior.
Misalnya melalui pelatihan ulang, sertifikasi keterampilan, informasi pekerjaan yang ramah usia, pengembangan pekerjaan paruh waktu, pekerjaan berbasis pengalaman, atau insentif bagi perusahaan yang membuka kesempatan bagi pekerja senior yang masih mampu bekerja.
Perusahaan pun dapat melihat persoalan ini dari sisi lain. Tidak semua pekerjaan membutuhkan pekerja yang harus bekerja delapan jam sehari dan mengejar target dengan ritme yang sama. Ada pekerjaan yang justru membutuhkan orang yang sabar, berpengalaman dan dapat dipercaya.
Dan di antara semua itu, kita perlu mengubah cara memandang pensiun. Pensiun seharusnya berarti berakhirnya suatu masa kerja, bukan berakhirnya kemampuan seseorang untuk berkontribusi.
Kembali kepada lelaki yang saya temui di dalam mobil jenazah itu. Ia tidak sedang mengeluh karena ingin kembali menjadi sekuriti hotel. Ia hanya sedang mengatakan sesuatu yang sangat manusiawi: ia masih membutuhkan penghasilan dan masih merasa mampu bekerja.
Ia menemukan pekerjaannya sendiri. Membawa ambulans, mengantar jenazah, membantu masjid dan warga sekitar. Pekerjaan itu mungkin tidak besar. Tidak bergengsi. Tidak tercatat sebagai pencapaian ekonomi yang mengesankan.
Tetapi dari kursi depan mobil jenazah itu saya melihat sesuatu yang lebih penting. Seseorang belum selesai hanya karena usianya membuatnya pensiun. Barangkali yang perlu kita ubah bukan hanya batas usia kerja, melainkan cara kita melihat manusia setelah melewati batas itu.
Sebab usia bertambah, tetapi kebutuhan hidup tidak otomatis berkurang. Pengalaman bertambah, tetapi kesempatan kerja justru sering menyempit. Dan sebuah kota yang terus tumbuh semestinya mampu menyediakan ruang bagi keduanya: anak muda yang baru memasuki dunia kerja dan orang-orang yang masih ingin bekerja setelah pensiun. Keduanya sama-sama membutuhkan kesempatan. Keduanya sama-sama bagian dari masa depan kota. []
