Ketika mesin semakin piawai menghasilkan tulisan, yang perlu kita pertahankan bukan sekadar pekerjaan menulis, melainkan hubungan antara pikiran, bahasa, pengalaman, dan tanggung jawab.
Oleh Hasan Aspahani
Ada sebuah ironi dalam revolusi kecerdasan buatan. Teknologi yang membuat manusia semakin mudah menulis justru memunculkan pertanyaan tentang masa depan manusia sebagai pengarang. Ketika sebuah mesin dapat menghasilkan esai yang runtut, artikel yang meyakinkan, bahkan puisi yang terasa menyentuh, apa yang sesungguhnya masih membedakan tulisan manusia dari tulisan yang dihasilkan mesin?
Pertanyaan itu mengemuka dalam editorial The Economist bertajuk “Don’t Let AI Kill the Author”, yang terbit pada 24 September 2026. Di balik judulnya yang provokatif, tersimpan persoalan yang lebih mendasar daripada kemungkinan hilangnya pekerjaan penulis. Yang dipertaruhkan adalah makna kepengarangan itu sendiri: hubungan antara seseorang dengan gagasan yang ditulisnya, proses yang membentuk gagasan tersebut, dan tanggung jawab atas kata-kata yang diterbitkannya.
Kecemasan ini layak diperhatikan. Sebab, barangkali kita sedang memasuki zaman ketika menghasilkan tulisan menjadi semakin mudah, tetapi menjadi seorang pengarang justru semakin rumit.
Menulis untuk Menemukan Pikiran
Kita sering membayangkan menulis sebagai kegiatan memindahkan pikiran ke dalam bahasa. Seseorang mempunyai gagasan di kepalanya, kemudian menuangkannya ke dalam kalimat. Menulis, dalam pengertian ini, hanyalah pekerjaan merumuskan sesuatu yang sebenarnya sudah selesai dipikirkan.
Pengalaman seorang penulis sering kali menunjukkan hal yang berbeda.
Kita mulai menulis dengan gagasan yang belum sepenuhnya jelas. Kalimat pertama terasa kurang tepat. Sebuah paragraf menimbulkan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Argumen yang semula terasa kokoh ternyata menyimpan kontradiksi. Kita menghapus, menyusun ulang, mencari kata yang lebih tepat, lalu menemukan hubungan antara dua hal yang sebelumnya tampak tidak berkaitan.
Dalam proses itu, pikiran tidak sekadar mendahului tulisan. Pikiran juga dibentuk oleh tulisan.
Menulis adalah cara kita mengetahui apa yang sebenarnya kita pikirkan.
Di sinilah persoalan AI menjadi menarik. Ketika mesin dapat menyusun argumen, merapikan kalimat, dan menghasilkan sebuah tulisan utuh dalam hitungan detik, kita memperoleh keuntungan yang nyata. Pekerjaan menjadi lebih cepat. Hambatan teknis berkurang. Gagasan yang semula sulit dirumuskan dapat memperoleh bentuk yang lebih jelas.
Namun, ada pertanyaan yang tidak boleh kita abaikan: jika kita menyerahkan bukan hanya pekerjaan merumuskan kalimat, melainkan juga pekerjaan mengembangkan gagasan, apakah kita masih menjalani proses berpikir yang sama?
Kita mungkin mendapatkan tulisan yang baik tanpa mengalami seluruh proses intelektual yang dahulu diperlukan untuk menghasilkannya.
Masalahnya bukan bahwa setiap tulisan harus dilahirkan melalui penderitaan. Menulis tidak perlu menjadi semacam upacara penyiksaan diri. Persoalannya adalah bahwa kesulitan tertentu dalam menulis justru merupakan bagian dari pekerjaan berpikir. Ketika kesulitan itu dihilangkan, kita perlu memastikan bahwa proses berpikir yang penting tidak ikut menghilang.
Dari Penulis Menjadi Pengguna Mesin
AI generatif mengubah hubungan manusia dengan produksi teks. Sebelumnya, untuk menghasilkan sebuah artikel, seseorang harus mengerjakan sebagian besar prosesnya sendiri: mencari bahan, menyusun argumen, memilih kata, membangun struktur, dan melakukan penyuntingan.
Sekarang, seseorang dapat memberikan instruksi singkat dan memperoleh sebuah draf yang tampak lengkap.
Perubahan ini bukan semata-mata soal kecepatan. Ia mengubah pembagian kerja antara manusia dan mesin. Manusia dapat bertindak sebagai penggagas, pemberi instruksi, editor, atau penyeleksi, sementara sebagian besar pekerjaan menghasilkan teks dilakukan oleh AI.
Dalam banyak situasi, pembagian kerja semacam itu masuk akal. Tidak semua dokumen memerlukan keterlibatan personal yang mendalam. Laporan rutin, ringkasan administratif, dan deskripsi produk dapat memperoleh manfaat besar dari otomatisasi.
Tetapi menulis tidak selalu merupakan pekerjaan yang hasilnya dapat dipisahkan begitu saja dari prosesnya.
Sebuah esai, misalnya, bukan sekadar kumpulan kalimat yang menyampaikan informasi. Ia merupakan jejak perjalanan pikiran seseorang ketika berhadapan dengan suatu persoalan. Pengalaman, bacaan, keraguan, pertimbangan, dan pilihan intelektual bertemu di dalamnya.
Jika seluruh perjalanan itu digantikan oleh instruksi singkat kepada mesin, apa yang tersisa dari hubungan antara penulis dan tulisannya?
Kita tentu tidak harus menganggap bahwa sebuah karya kehilangan nilai hanya karena menggunakan AI. Seorang penulis dapat memakai AI untuk menguji argumen, menemukan kelemahan logika, atau menjajaki kemungkinan yang belum terpikirkan. Dalam situasi seperti itu, mesin dapat menjadi mitra dialog yang memperluas kemampuan manusia.
Namun, ada perbedaan antara menggunakan mesin untuk mempertajam pikiran dan menggunakan mesin agar kita tidak perlu berpikir.
Perbedaan itu mungkin tidak selalu terlihat pada hasil akhirnya. Sebuah tulisan yang dihasilkan melalui proses berpikir panjang dan sebuah tulisan yang dibuat melalui satu perintah dapat sama-sama tampak meyakinkan. Yang membedakan keduanya justru terletak pada proses yang tidak selalu dapat dilihat pembaca.
Siapa Pengarangnya?
Di sinilah kita sampai pada persoalan kepengarangan.
Ketika sebuah tulisan dihasilkan oleh AI, siapa sebenarnya pengarangnya? Orang yang memberikan instruksi? Mesin yang menyusun kalimat? Orang yang menyunting hasilnya? Atau seseorang yang membawa gagasan awal, kemudian memilih bagian-bagian yang dianggap sesuai?
Pertanyaan ini tidak mempunyai satu jawaban yang berlaku untuk semua situasi. Tingkat keterlibatan manusia dalam proses penciptaan sangat beragam. Meminta AI memperbaiki tata bahasa jelas berbeda dari meminta AI menulis seluruh esai berdasarkan satu kalimat perintah.
Akan tetapi, persoalan tersebut memperlihatkan bahwa nama pengarang tidak lagi dengan sendirinya menjelaskan bagaimana sebuah karya dilahirkan.
Selama ini, nama pengarang mempunyai sejumlah fungsi. Ia menandai asal-usul karya, memberi pembaca konteks untuk menafsirkan tulisan, dan menjadi titik rujukan ketika kita ingin meminta pertanggungjawaban atas isinya.
Nama itu tidak menjamin bahwa tulisan tersebut benar atau bermutu. Penulis manusia pun bisa keliru, dangkal, bahkan menipu. Namun, nama pengarang setidaknya menunjuk kepada seseorang yang dapat dimintai penjelasan tentang keputusan yang diambilnya.
Ketika AI mengambil alih semakin banyak proses penciptaan, hubungan tersebut menjadi lebih rumit.
Seseorang mungkin menerbitkan sebuah esai atas namanya sendiri tanpa sungguh-sungguh menguasai argumen di dalamnya. Ia mungkin tidak mengetahui sumber yang digunakan, tidak menyadari kelemahan penalarannya, atau tidak mampu menjelaskan mengapa kesimpulan tertentu dipilih.
Dalam keadaan demikian, nama pengarang berisiko berubah menjadi label kepemilikan atas produk, bukan penanda keterlibatan intelektual.
Kita masih dapat mengetahui siapa yang menerbitkan tulisan itu. Namun, semakin sulit mengetahui siapa yang sesungguhnya berpikir di dalamnya.
Ketika Kepercayaan Menjadi Langka
Dampaknya tidak berhenti pada hubungan antara penulis dan karyanya. Ia juga menyentuh hubungan antara penulis dan pembaca.
Setiap kali membaca sebuah esai, kita membuat sejumlah asumsi tentang proses di baliknya. Kita membayangkan seseorang telah membaca, mengamati, mempertimbangkan, dan menyusun argumen sebelum memutuskan untuk menerbitkannya.
Asumsi itu tidak selalu benar. Namun, ia merupakan bagian dari kepercayaan yang memungkinkan kegiatan membaca mempunyai makna sosial.
AI membuat asumsi tersebut semakin sulit dipertahankan tanpa pemeriksaan.
Dua artikel dapat memiliki struktur, gaya, dan mutu bahasa yang serupa, meskipun proses pembuatannya sangat berbeda. Artikel yang satu mungkin lahir dari penelitian dan pemikiran panjang. Artikel lainnya mungkin dihasilkan oleh mesin dalam beberapa detik, dengan sedikit campur tangan manusia.
Pembaca belum tentu dapat membedakannya.
Tentu saja, penggunaan AI bukan bukti bahwa sebuah tulisan buruk atau tidak dapat dipercaya. Sebaliknya, tulisan yang sepenuhnya dibuat manusia tidak otomatis benar. Yang perlu dinilai tetaplah mutu argumen, ketepatan informasi, kejelasan sumber, dan tanggung jawab penerbitnya.
Namun, ketika proses produksi teks berubah secara mendasar, kebiasaan kita dalam mempercayai teks juga perlu berubah.
Kita tidak bisa lagi mengandalkan kelancaran bahasa sebagai petunjuk yang cukup untuk menilai kualitas pemikiran. Kalimat yang terdengar cerdas belum tentu lahir dari pemahaman yang mendalam. Argumen yang tersusun rapi belum tentu telah diuji oleh orang yang namanya tercantum sebagai pengarang.
Dalam masyarakat yang dibanjiri teks, kepercayaan justru menjadi semakin langka.
Ketika Tulisan Menjadi Terlalu Murah
Ada pula persoalan ekonomi yang tidak kalah penting.
AI menurunkan biaya produksi teks secara drastis. Sebuah organisasi dapat menghasilkan banyak artikel, deskripsi produk, laporan, dan materi komunikasi dengan sumber daya yang lebih sedikit. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan jauh lebih cepat.
Namun, kemampuan menghasilkan teks tidak sama dengan kemampuan manusia menyerapnya.
Waktu untuk membaca tetap terbatas. Perhatian manusia tidak bertambah secepat jumlah tulisan yang dapat diproduksi mesin. Ketika pasokan teks meningkat tanpa batas yang jelas, persaingan untuk memperoleh perhatian pembaca justru semakin ketat.
Kita akan hidup di tengah kelimpahan kata-kata, tetapi kelimpahan itu tidak otomatis menghasilkan kelimpahan gagasan.
Bahkan, ketika teks dapat diproduksi dengan sangat murah, ada risiko bahwa penerbitan berubah menjadi perlombaan memenuhi ruang. Artikel dibuat karena sistem memungkinkan artikel dibuat. Konten diterbitkan karena ada kapasitas untuk menerbitkannya. Ukuran keberhasilan bergeser dari kedalaman gagasan menuju volume produksi.
Dalam situasi seperti itu, keunggulan seorang penulis tidak lagi cukup ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan kalimat yang baik. Kemampuan tersebut semakin mudah direplikasi.
Yang menjadi pembeda adalah kualitas pengamatan, kedalaman pengetahuan, keberanian mengajukan pertanyaan, ketajaman penilaian, dan kemampuan menemukan sesuatu yang memang layak dikatakan.
Ketika semua orang dapat menghasilkan tulisan yang tampak meyakinkan, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa cepat sebuah artikel bisa dibuat.
Pertanyaannya adalah: mengapa artikel itu perlu ditulis, dan apa yang dapat diberikannya kepada pembaca yang tidak bisa diperoleh dari ribuan tulisan lain?
Dari Roland Barthes ke Kecemasan Baru
Persoalan ini mengingatkan kita pada esai Roland Barthes, “The Death of the Author”, yang menggugat anggapan bahwa makna sebuah karya harus ditentukan oleh maksud pengarangnya.
Bagi Barthes, pembaca tidak harus tunduk pada penjelasan pengarang untuk menemukan makna sebuah teks. Bahasa, struktur teks, dan pengalaman pembaca turut membentuk proses pemaknaan.
Gagasan itu mempunyai sejarah intelektualnya sendiri. Namun, kemunculan AI menghadirkan persoalan yang berbeda.
Jika Barthes mempertanyakan dominasi pengarang dalam menentukan makna, AI membuat kita mempertanyakan keterlibatan pengarang dalam menghasilkan teks.
Keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Kematian pengarang dalam pengertian Barthes merupakan persoalan tentang otoritas atas makna. Sementara itu, kecemasan yang muncul dari AI menyangkut kemungkinan bahwa manusia tetap hadir sebagai nama di halaman judul, tetapi semakin sedikit terlibat dalam proses intelektual yang melahirkan karya.
Kita bisa membayangkan sebuah paradoks: pengarang tidak lagi menjadi satu-satunya otoritas atas makna tulisannya, tetapi kini bahkan berisiko kehilangan peran substantif dalam penciptaan tulisan itu sendiri.
Nama pengarang tetap ada. Teks tetap beredar. Pembaca tetap membaca. Namun, hubungan antara manusia dan karya yang dahulu kita anggap sebagai sesuatu yang mendasar mulai berubah.
Bukan Melarang AI, Melainkan Menjaga Kepengarangan
Tentu saja, kita tidak perlu menyimpulkan bahwa jalan keluarnya adalah menolak AI dan kembali ke zaman ketika setiap kalimat harus ditulis dengan tangan.
Teknologi selalu mengubah cara manusia bekerja. Mesin cetak mengubah produksi buku. Mesin tik mengubah pekerjaan menulis. Pengolah kata mengubah penyuntingan. Internet mengubah distribusi dan akses terhadap informasi.
AI pun dapat menjadi alat yang memperluas kemampuan manusia dalam menulis.
Ia dapat membantu seseorang yang kesulitan merumuskan gagasan. Ia dapat mengoreksi kekeliruan bahasa, menguji struktur argumen, dan membuka kemungkinan baru. Bagi penulis yang menggunakannya secara sadar, AI dapat memperkaya proses kreatif.
Yang perlu dipertahankan bukan kemurnian proses menulis, seolah-olah sebuah karya hanya sah jika seluruhnya dikerjakan tanpa bantuan teknologi.
Yang perlu dipertahankan adalah keterlibatan manusia dalam keputusan-keputusan yang membuat sebuah tulisan layak diterbitkan atas namanya.
Seorang pengarang harus memahami apa yang dikatakannya, mempunyai alasan untuk mengatakannya, dan bersedia bertanggung jawab atas akibat dari kata-kata tersebut.
Ia tidak harus mengetik setiap kalimat sendiri. Namun, ia tidak boleh menyerahkan seluruh penilaian intelektualnya kepada mesin.
Di sinilah kita perlu membedakan penggunaan AI untuk membantu pekerjaan intelektual dari penggunaan AI untuk menghindari tanggung jawab intelektual.
Yang pertama dapat memperluas kemampuan manusia. Yang kedua dapat mengosongkan makna kepengarangan, bahkan ketika hasilnya tampak sempurna.
Menyelamatkan Alasan untuk Menulis
Mungkin kita sedang menyaksikan perubahan besar dalam sejarah tulisan. Untuk pertama kalinya, kemampuan menghasilkan teks yang lancar dan terstruktur dapat tersedia secara luas melalui mesin yang tidak mempunyai pengalaman manusia sebagaimana pengarang manusia memilikinya.
Perubahan itu tidak harus berakhir dengan kematian penulis. Namun, ia memaksa kita memikirkan kembali apa yang membuat kegiatan menulis bernilai.
Jika satu-satunya tujuan menulis adalah menghasilkan kalimat yang benar secara tata bahasa, tersusun rapi, dan mudah dibaca, AI akan mengambil alih semakin banyak pekerjaan tersebut.
Tetapi menulis mempunyai tujuan lain yang lebih mendalam. Kita menulis untuk memahami pengalaman, menguji keyakinan, menyusun pengetahuan, mengungkapkan keraguan, dan menemukan hubungan antara diri kita dengan dunia.
Kita menulis bukan hanya karena ada sesuatu yang ingin disampaikan, melainkan juga karena melalui proses menulis kita dapat menemukan sesuatu yang sebelumnya belum kita pahami.
Inilah yang perlu dipertahankan.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang mampu menulis tentang apa saja, tetapi semakin jarang menggunakan kegiatan menulis untuk menemukan apa yang sungguh-sungguh kita pikirkan.
AI dapat membantu kita menyusun kata-kata. Ia dapat menawarkan argumen, mengoreksi kalimat, dan mempercepat pekerjaan. Namun, keputusan tentang apa yang layak dikatakan, apa yang patut dipercaya, dan apa yang bersedia kita pertanggungjawabkan tetap harus menjadi pekerjaan manusia.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah sebuah tulisan dibuat dengan bantuan AI atau tanpa AI. Persoalannya adalah apakah di balik tulisan itu masih ada manusia yang berpikir, menilai, dan bertanggung jawab.
Ketika mesin semakin mudah menghasilkan teks, nilai seorang pengarang justru terletak pada sesuatu yang tidak dapat diukur dari kelancaran kalimatnya: pengalaman yang membentuk pandangannya, penilaian yang mengarahkan pikirannya, dan kesediaannya untuk berdiri di belakang kata-katanya sendiri.
Sebab, tulisan yang penting bukan hanya tulisan yang bisa dibuat. Melainkan tulisan yang memang mempunyai alasan untuk dilahirkan. []
