Pembicaraan tentang data center seharusnya dimulai: bukan dengan ketakutan terhadap teknologi, tetapi dengan kecerdasan dalam mengelola air.
Oleh Hasan Aspahani
Di Sambau, Batam, persoalannya bukan cloud computing, kecerdasan buatan, atau berapa besar investasi yang akan masuk ke kawasan digital. Persoalannya jauh lebih sederhana: air.
Pada 5 Oktober 2026, warga Sambau memblokade akses menuju kawasan Nongsa Digital Park. Mereka mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih dan harus mengandalkan air tangki untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah kawasan yang sedang tumbuh sebagai salah satu pusat ekonomi digital, warga berhadapan dengan persoalan yang mestinya paling mendasar dalam sebuah kota: ketika keran dibuka, apakah air mengalir?
“Kami cuma mau air.” Kalimat itu mungkin lebih kuat daripada semua angka investasi yang bisa disebutkan. Sebab ia membawa kita kembali kepada pertanyaan paling dasar tentang pembangunan: untuk siapa sebuah kota tumbuh?
Tentu, aksi warga tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa data center adalah penyebab kesulitan air mereka. Hubungan sebab-akibat itu harus dibuktikan dengan data. Tetapi peristiwa di Sambau menghadirkan persoalan yang tidak boleh diabaikan: ketika industri baru membutuhkan air dalam jumlah besar, bagaimana kebutuhan itu ditempatkan berdampingan dengan kebutuhan air masyarakat di sekitarnya?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita mendengar angka seperti 3 juta liter air per hari untuk sebuah data center. Angka itu terdengar mengerikan. Tetapi sebelum mengatakan bahwa tiga juta liter air akan “habis” setiap hari, kita perlu memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebutuhan air.
Di sinilah istilah teknis menjadi penting. Ada water withdrawal, yaitu seluruh air yang diambil dari sumber. Ada water consumption, yaitu bagian air yang tidak dikembalikan ke sumber semula dalam batas perhitungan tertentu.
Jadi, tiga juta liter yang diambil tidak otomatis berarti tiga juta liter yang dikonsumsi.
Bayangkan sebuah data center mengambil tiga juta liter air. Sebagian air dapat terus bersirkulasi dalam sistem pendinginan. Sebagian dapat dikembalikan sebagai air buangan, sementara sebagian lainnya menguap. Jika 2,5 juta liter dikembalikan dan 500 ribu liter menguap, maka withdrawal-nya tiga juta liter, tetapi consumption-nya 500 ribu liter.
Kita juga harus membedakan evaporasi dan pembuangan. Evaporasi adalah ketika air berubah menjadi uap untuk membantu membuang panas. Pembuangan adalah ketika air tetap berbentuk cair tetapi dikeluarkan dari sistem, misalnya karena konsentrasi mineralnya terlalu tinggi. Air yang dibuang dapat diolah dan dikembalikan ke lingkungan.
Jadi, air yang diambil, air yang menguap, air yang dibuang, dan air yang dikonsumsi bukanlah empat istilah untuk hal yang sama.
Mengapa data center membutuhkan air? Karena server menghasilkan panas yang sangat besar dan panas itu harus dibuang agar mesin terus bekerja. Air sangat efektif untuk memindahkan panas. Masalahnya muncul ketika air yang digunakan adalah air tawar yang juga dibutuhkan masyarakat.
Batam memiliki satu pilihan yang tidak dimiliki banyak kota daratan: laut berada di sekelilingnya.
Maka pertanyaan berikutnya menjadi masuk akal: mengapa tidak menggunakan air laut sebagai bagian dari sistem pendinginan?
Air laut dapat digunakan melalui heat exchanger, mengambil panas dari sistem pendingin dan kemudian dikembalikan ke laut. Dengan rancangan yang tepat, pendekatan ini dapat mengurangi ketergantungan pada air tawar. Air laut juga bisa diolah menjadi air tawar melalui desalinasi, meskipun membutuhkan energi dan menghasilkan konsentrat garam yang harus dikelola.
Tetapi teknologi saja tidak cukup. Batam membutuhkan tata kelola air yang lebih cerdas.
Pertama, setiap proyek besar yang menggunakan air dalam jumlah signifikan seharusnya diwajibkan membuka neraca airnya: berapa withdrawal, berapa consumption, berapa yang menguap, berapa yang dibuang, dan dari mana sumber airnya. Angka-angka itu harus bisa diketahui publik, bukan hanya tersimpan dalam dokumen teknis.
Kedua, harus ada prinsip sederhana: air untuk kebutuhan dasar masyarakat mendapat prioritas. Investasi baru tidak boleh berjalan dengan asumsi bahwa kebutuhan industri akan selalu dipenuhi lebih dahulu sementara warga mencari air dengan tangki.
Ketiga, data center di kawasan pesisir perlu didorong—bahkan jika memungkinkan diwajibkan—untuk mengurangi penggunaan air tawar dengan memanfaatkan air laut, air daur ulang, atau teknologi pendinginan yang lebih hemat air. Tidak semua teknologi cocok untuk semua lokasi, tetapi pilihan tersebut harus diuji secara terbuka sebelum air tawar menjadi pilihan termudah.
Keempat, Batam perlu memiliki neraca air kota yang terbuka dan dinamis. Pemerintah harus tahu berapa kapasitas sumber air, berapa kebutuhan rumah tangga, berapa kebutuhan industri, berapa cadangan untuk musim kering, dan berapa kapasitas yang masih aman untuk diberikan kepada investasi baru.
Dan kelima, setiap kawasan industri besar semestinya tidak hanya diwajibkan menghitung kebutuhannya sendiri, tetapi juga ikut memperkuat ketahanan air kawasan. Misalnya melalui pembiayaan infrastruktur air baku, penggunaan air daur ulang, pengurangan kebocoran, konservasi daerah tangkapan air, atau pembangunan fasilitas pengolahan air yang manfaatnya juga dirasakan masyarakat.
Dengan kata lain, jangan hanya bertanya: “Berapa banyak air yang dibutuhkan data center?” Tanyakan juga: “Berapa banyak air yang harus tersedia agar data center dan warga sama-sama aman?” Itulah cara mengubah konflik menjadi kebijakan.
Sebab persoalannya tidak harus diletakkan sebagai pertentangan sederhana antara data center dan warga. Persoalannya adalah pilihan teknologi, sumber air, dan tata kelola. Batam boleh menjadi pusat ekonomi digital. Batam boleh menerima investasi data center. Tetapi pertumbuhan itu harus dibangun di atas sebuah prinsip yang sangat sederhana: jangan membuat ekonomi digital bersaing dengan warga untuk mendapatkan air.
Sebab di balik cloud computing, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital, tetap ada dunia fisik: ada listrik, lahan, pipa, pompa, waduk, laut—dan manusia.
Dan mungkin, di tengah semua pembicaraan tentang investasi dan masa depan ekonomi digital, kita perlu mendengar kembali kalimat warga Sambau:
“Kami cuma mau air.” Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi sebuah kota, ia adalah pertanyaan yang sangat besar. Seberapa canggih pun kota kita, ukuran keberhasilannya tetap sederhana: ketika warga membuka keran, air harus mengalir. []
