Air Laut Tak Pernah Habis, tetapi Seberapa Mahal Mengubahnya Menjadi Air Bersih?

Batam dikelilingi laut, tetapi air bersih tetap menjadi persoalan ketika waduk menyusut. Desalinasi melalui teknologi reverse osmosis menawarkan alternatif. Namun, seberapa ekonomis mengubah air laut menjadi air bersih? Dan siapa yang akhirnya menanggung ongkosnya?

Oleh Hasan Aspahani

Ketika waduk menyusut dan kebutuhan industri terus meningkat, desalinasi menawarkan sumber air alternatif. Namun, apakah teknologi ini ekonomis bagi Batam, dan siapa yang akan menanggung biayanya?

Air laut tidak pernah jauh dari Batam. Kota kepulauan ini dikelilingi laut, tetapi untuk mendapatkan air bersih, warganya masih bergantung pada air hujan yang ditampung di sejumlah waduk. Ketika hujan berkurang, cadangan air baku ikut menyusut. Air yang tampak melimpah di sekeliling kota ternyata tidak serta-merta bisa diminum, digunakan untuk mandi, atau dialirkan ke kawasan industri.

Persoalan itu kembali mengemuka ketika Waduk Nongsa mengalami penyusutan. Pada 21 September 2026, Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat tinggi muka air waduk tersebut berada pada level 5,96 meter. Kondisi ini mendorong pengaturan pengambilan air baku sekaligus penyiapan sejumlah langkah antisipasi.

Dalam pemberitaan mengenai skenario penanganan krisis air, BP Batam menyebut beberapa alternatif, mulai dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembangunan embung, hingga pengembangan sumber air baru melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Dari sejumlah pilihan itu, SWRO menarik untuk dicermati. Teknologi ini memungkinkan air laut diolah menjadi air tawar dengan memisahkan garam dan berbagai zat terlarut melalui membran. Laut yang selama ini menjadi batas geografis Batam dapat sekaligus menjadi sumber air baku yang baru.

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan: seberapa ekonomis mengubah air laut menjadi air bersih?

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan air. Ia juga harus dinilai dari biaya produksi, kebutuhan energi, investasi infrastruktur, dampak lingkungan, dan kemampuan masyarakat atau industri membayar air yang dihasilkan.

Air laut bukan air gratis

Secara teknis, prinsip kerja SWRO relatif mudah dijelaskan. Air laut terlebih dahulu menjalani proses prapengolahan untuk mengurangi partikel dan zat yang dapat mengganggu sistem. Setelah itu, pompa bertekanan tinggi mendorong air melewati membran semipermeabel. Sebagian air dapat melewati membran, sementara sebagian besar garam dan zat terlarut tertahan.

Hasilnya adalah air dengan kadar garam jauh lebih rendah. Air tersebut kemudian menjalani proses lanjutan, termasuk penyesuaian mineral dan disinfeksi, sebelum dapat digunakan sesuai standar kualitas yang ditetapkan.

Masalahnya, proses tersebut membutuhkan energi. Tekanan tinggi diperlukan untuk mengatasi tekanan osmotik air laut dan mendorong air melewati membran. Selain itu, instalasi membutuhkan pompa, sistem prapengolahan, membran, bahan kimia, serta fasilitas untuk menangani air pekat yang tersisa.

Teknologi SWRO modern memang semakin efisien. Kajian yang diterbitkan dalam jurnal Joule pada Desember 2024 mencatat konsumsi energi SWRO pada kisaran 2,5–4 kWh per meter kubik air. Angka aktual bergantung pada desain instalasi, kualitas air baku, efisiensi peralatan, serta proses yang dimasukkan ke dalam perhitungan.

Artinya, semakin besar volume air yang diproduksi, semakin besar pula kebutuhan energinya. Efisiensi teknologi dapat menekan biaya, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan energi tersebut.

Di sinilah perbedaan mendasar antara air waduk dan air hasil desalinasi. Air waduk membutuhkan biaya pengelolaan, pengolahan, dan distribusi. Namun, SWRO menambahkan kebutuhan energi dan proses industri untuk memperoleh air tawar dari air laut.

Dengan demikian, air laut memang tersedia dalam jumlah sangat besar, tetapi air bersih yang dihasilkan darinya tetap memiliki ongkos ekonomi.

Berapa besar kebutuhan energi SWRO di Batam?

BP Batam memproyeksikan tambahan kapasitas produksi air melalui SWRO sekitar 750 liter per detik pada tahap awal, yang ditargetkan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik dalam dua hingga tiga tahun melalui pengembangan di KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil.

Untuk membayangkan skala kebutuhan energinya, kita bisa menggunakan kapasitas awal 750 liter per detik sebagai ilustrasi.

Jika instalasi beroperasi penuh selama 24 jam, kapasitas tersebut setara dengan produksi 64.800 meter kubik air per hari. Dengan konsumsi energi 2,5–4 kWh per meter kubik, kebutuhan listriknya mencapai sekitar 162.000–259.200 kWh per hari.

Dalam setahun, kebutuhan itu setara dengan sekitar 59–95 GWh listrik, jika instalasi terus beroperasi pada kapasitas penuh.

Angka tersebut bukan proyeksi konsumsi listrik proyek SWRO Batam. Ini adalah ilustrasi berdasarkan kapasitas yang diumumkan dan kisaran konsumsi energi dari literatur teknis. Konsumsi aktual akan bergantung pada spesifikasi instalasi, tingkat pemanfaatan kapasitas, dan apakah kebutuhan energi untuk pengambilan air laut serta distribusi ikut dihitung.

Meski demikian, ilustrasi tersebut menunjukkan satu hal: penyediaan air dalam skala besar melalui desalinasi membutuhkan pasokan listrik yang tidak kecil.

Karena itu, perhitungan keekonomian SWRO tidak dapat dilepaskan dari harga listrik. Instalasi yang efisien dengan akses terhadap listrik berbiaya rendah akan memiliki struktur biaya berbeda dari instalasi yang menggunakan listrik lebih mahal.

Efisiensi pompa dan perangkat pemulihan energi juga berpengaruh. Begitu pula lokasi instalasi, jarak ke konsumen, dan kebutuhan memompa air ke kawasan yang lebih tinggi.

Semua itu akan menentukan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan satu meter kubik air.

Berapa harga satu meter kubik air SWRO?

Inilah angka yang paling ingin kita ketahui, tetapi justru belum tersedia secara terbuka dalam informasi yang kita miliki mengenai rencana SWRO Batam: berapa biaya produksi air per meter kubik?

Untuk menjawabnya, kita perlu membedakan biaya produksi di instalasi dengan harga air yang akhirnya dibayar konsumen.

Biaya produksi mencakup energi, bahan kimia, tenaga kerja, pemeliharaan, penggantian membran, dan biaya operasi lainnya. Jika investasi awal diperhitungkan, biaya itu juga harus mencakup pengembalian modal dan pembiayaan selama umur proyek.

Setelah air keluar dari instalasi, masih ada biaya penyimpanan, pemompaan, jaringan pipa, dan distribusi. Karena itu, biaya air di titik produksi belum tentu sama dengan biaya air ketika sampai di kawasan industri atau rumah tangga.

Perbedaan ini penting. Sebuah instalasi mungkin mampu menghasilkan air dengan biaya yang dapat diterima, tetapi menjadi jauh lebih mahal jika membutuhkan jaringan distribusi yang panjang atau pemompaan yang intensif.

Kita juga perlu mengetahui siapa yang membangun dan memiliki instalasi, bagaimana proyek dibiayai, berapa lama umur ekonomisnya, serta berapa kapasitas yang benar-benar akan digunakan. Instalasi berkapasitas besar yang hanya beroperasi sebagian waktu dapat memiliki biaya per meter kubik lebih tinggi karena biaya modalnya harus ditanggung oleh volume produksi yang lebih kecil.

Tanpa informasi tersebut, menyebut SWRO sebagai teknologi mahal atau murah akan terlalu dini.

Ekonomis dibandingkan dengan apa?

Keekonomian SWRO juga tidak bisa dinilai hanya dengan membandingkan tarifnya dengan air waduk. Kita perlu membandingkan biaya dan manfaatnya dengan pilihan lain yang tersedia bagi Batam.

Pertama, optimalisasi waduk dan daerah tangkapan air. Langkah ini dapat mencakup perlindungan kawasan resapan, pengendalian sedimentasi, perbaikan pengelolaan waduk, serta pengurangan kehilangan air. Investasi untuk menjaga sumber air yang sudah ada bisa memberikan manfaat jangka panjang, tetapi efektivitasnya bergantung pada kondisi daerah tangkapan air dan ketersediaan hujan.

Kedua, pembangunan embung dan pemanfaatan air hujan. Keduanya dapat menambah kapasitas tampungan, tetapi tetap bergantung pada pola curah hujan, luas lahan, dan kapasitas penyimpanan. Ketika kemarau berlangsung panjang, sumber ini mungkin tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan.

Ketiga, daur ulang air limbah. Air yang telah digunakan dapat diolah kembali untuk kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan industri yang tidak mensyaratkan kualitas air minum. Pilihan ini berpotensi mengurangi tekanan terhadap air baku, meskipun membutuhkan instalasi pengolahan, jaringan terpisah, dan pengawasan kualitas.

Keempat, pengurangan kebocoran dan peningkatan efisiensi penggunaan air. Air yang berhasil diselamatkan dari kebocoran atau pemborosan dapat menjadi tambahan pasokan efektif tanpa harus mengambil air baku dalam jumlah yang sama.

Setiap pilihan memiliki biaya, keterbatasan, dan manfaat yang berbeda. Karena itu, perbandingan yang adil harus menghitung biaya sepanjang umur proyek, volume air yang benar-benar tersedia, keandalan pasokan saat kemarau, serta dampak lingkungannya.

Dalam konteks Batam, SWRO mungkin bukan pengganti seluruh sumber air konvensional. Ia dapat menjadi pelengkap yang mengurangi ketergantungan pada hujan dan waduk, terutama untuk pengguna industri yang membutuhkan pasokan besar dan relatif stabil.

Pertanyaannya bukan semata-mata apakah SWRO lebih murah daripada air waduk, melainkan berapa biaya yang harus dibayar untuk memperoleh pasokan air yang lebih andal.

Siapa yang membayar air untuk industri?

Persoalan ini menjadi semakin penting ketika SWRO dikaitkan dengan ekspansi industri data center di Batam.

Pada September 2026, BP Batam menyatakan bahwa kebutuhan air data center, terutama di KEK Nongsa dan kawasan industri Kabil, akan dipenuhi melalui pembangunan SWRO secara mandiri. Kebijakan ini diarahkan agar kebutuhan industri tidak menambah beban terhadap sumber air waduk yang juga digunakan masyarakat.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kapasitas SWRO yang direncanakan diproyeksikan mencapai sekitar 750 liter per detik pada tahap awal dan meningkat hingga 1.000 liter per detik.

Secara prinsip, skema ini dapat menempatkan biaya penyediaan air industri pada pihak yang membutuhkan dan menggunakan air tersebut. Perusahaan membangun atau membiayai instalasi untuk memastikan kegiatan operasionalnya tidak bergantung sepenuhnya pada air baku yang terbatas.

Namun, skema mandiri tetap perlu diperiksa secara rinci. Siapa yang membiayai jaringan pipa? Siapa yang menanggung biaya pengambilan air laut dan pembuangan air pekat? Apakah ada dukungan infrastruktur publik atau insentif pemerintah? Bagaimana biaya air dihitung jika instalasi digunakan bersama oleh beberapa perusahaan?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memastikan bahwa biaya yang timbul dari kebutuhan industri tidak diam-diam berpindah menjadi beban masyarakat.

BP Batam juga membuka kemungkinan bahwa kelebihan kapasitas SWRO industri dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, dengan mempertimbangkan kapasitas produksi, kualitas air, dan kesiapan jaringan distribusi.

Peluang ini menarik. Jika air yang diproduksi melebihi kebutuhan industri, kapasitas tersebut berpotensi menjadi sumber tambahan bagi warga. Namun, manfaat itu tidak otomatis muncul. Ia bergantung pada desain proyek, kesepakatan pemanfaatan, biaya air, dan infrastruktur distribusi.

Air SWRO baru benar-benar menjadi solusi publik apabila airnya tersedia, kualitasnya memenuhi standar, dan biaya penyalurannya dapat diterima.

Laut juga memiliki batas ekologis

Ada satu hal lain yang perlu masuk dalam perhitungan: dampak lingkungan.

Proses SWRO menghasilkan dua aliran utama, yaitu air hasil desalinasi dan air pekat atau brine yang mengandung garam lebih tinggi daripada air laut asal. Air pekat ini harus dikelola dan dibuang dengan cara yang memperhatikan kondisi perairan penerima.

Selain itu, pengambilan air laut dapat membawa organisme kecil dan partikel ke dalam sistem. Desain saluran pengambilan, proses prapengolahan, lokasi pembuangan, dan pemantauan kualitas perairan menjadi bagian penting dari pengelolaan lingkungan.

Dampak tersebut tidak berarti SWRO harus ditolak. Namun, biaya pengelolaan lingkungan harus masuk dalam perencanaan sejak awal, bukan diperlakukan sebagai urusan tambahan setelah instalasi beroperasi.

Kota kepulauan seperti Batam memiliki kepentingan besar untuk menjaga kualitas perairannya. Laut bukan hanya sumber air baku, melainkan juga ruang hidup, jalur transportasi, sumber penghidupan, dan bagian dari ekosistem pesisir.

Karena itu, solusi krisis air tidak boleh menciptakan persoalan baru yang justru mengurangi kualitas lingkungan kota.

Menghitung harga ketahanan air

Krisis air Batam menunjukkan bahwa ketahanan air tidak bisa dibangun dengan satu sumber atau satu teknologi saja. Waduk, embung, air daur ulang, penghematan, dan desalinasi perlu ditempatkan dalam satu strategi pengelolaan air yang terintegrasi.

SWRO menawarkan sesuatu yang penting: sumber air baku yang tidak bergantung langsung pada curah hujan. Namun, keunggulan tersebut harus dibayar dengan investasi, energi, dan pengelolaan yang cermat.

Untuk menilai kelayakan proyek SWRO Batam, ada setidaknya tiga angka yang perlu dibuka kepada publik: nilai investasi instalasi, biaya produksi per meter kubik, dan harga listrik yang digunakan dalam perhitungan. Informasi mengenai kapasitas aktual, tingkat pemanfaatan, biaya distribusi, serta pengelolaan air pekat akan melengkapi gambaran tersebut.

Dengan data itu, publik dapat menilai apakah proyek tersebut ekonomis bagi industri, apakah ada peluang memasok masyarakat dengan biaya yang wajar, dan bagaimana pembagian tanggung jawab antara pengembang, pengelola air, dan pemerintah.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan SWRO bukan sekadar berapa banyak air laut yang berhasil diubah menjadi air tawar. Ukurannya adalah seberapa andal pasokan yang dihasilkan, berapa biaya yang harus ditanggung, bagaimana dampaknya terhadap lingkungan, dan siapa yang memperoleh manfaatnya.

Air laut memang seolah tak pernah habis. Tetapi energi, modal, ruang pesisir, dan kemampuan masyarakat membayar air memiliki batas.

Bagi Batam, pertanyaan tentang SWRO bukan hanya bagaimana mengubah air laut menjadi air bersih. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana mengubahnya menjadi pasokan air yang andal, terjangkau, dan adil bagi kota yang terus tumbuh.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *