Sebab kota bukan milik pemerintah saja. Bukan pula milik pengembang. Bukan milik investor. Kota adalah milik orang-orang yang hidup di dalamnya. Dan mereka semua, sadar atau tidak, ikut menulis cerita kota setiap hari. Dengan cara kita memperlakukan ruang publik, kita menulis satu kalimat.
Oleh William Seipatirattu
Kita sering membicarakan kota seolah-olah ia adalah sesuatu yang berada di luar diri kita. Kota adalah jalan yang rusak, gedung yang menjulang, taman yang tidak terawat, kemacetan, trotoar, pasar, perumahan, kawasan industri, mal, pelabuhan, atau gedung pemerintahan. Ketika kota tidak berjalan sebagaimana mestinya, kita menunjuk pemerintah. Ketika kota berkembang, kita memuji para perencana dan pengembang.
Padahal kota bukan sekadar kumpulan bangunan. Kota adalah kehidupan yang berlangsung di antara bangunan-bangunan itu. Dan kehidupan itu dijalankan oleh manusia.
Karena itu, ada gagasan sederhana tetapi penting dalam memahami kota: people make cities, but cities make citizens. Manusia membentuk kota, tetapi kota pada saat yang sama membentuk manusia yang hidup di dalamnya.
Richard Rogers pernah merumuskan hubungan itu dengan sangat ringkas. Gagasan serupa juga muncul dalam pemikiran tentang urban citizenship: kota dibentuk oleh manusia, tetapi manusia juga dibentuk oleh kota. Danish Architecture Center, misalnya, menggunakan rumusan yang sangat dekat: people shape the city—but the city also shapes people.
Hubungan itu sebenarnya mudah kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita memilih bagaimana menggunakan ruang publik. Kita menentukan apakah trotoar menjadi tempat berjalan kaki atau tempat parkir. Kita menentukan apakah taman menjadi ruang bermain anak atau ruang yang tidak pernah kita datangi. Kita menentukan apakah sungai menjadi bagian dari kehidupan kota atau sekadar saluran pembuangan. Kita menentukan apakah tetangga adalah orang asing yang tidak kita kenal atau bagian dari komunitas yang saling membantu.
Pemerintah memang memiliki kewenangan untuk membangun dan mengatur. Para arsitek dan perencana memiliki pengetahuan untuk merancang. Pengembang memiliki modal untuk mengubah lanskap. Tetapi pada akhirnya, kota memperoleh kehidupannya dari warga yang menghuninya.
Itulah sebabnya wajah sebuah kota tidak hanya tampak pada arsitekturnya. Ia tampak pada cara orang berkendara. Pada cara orang mengantre. Pada cara pedagang menggunakan ruang. Pada cara kita memperlakukan pejalan kaki. Pada cara kita membuang sampah. Pada cara kita menyapa tetangga. Pada keberanian seseorang menyampaikan keberatan ketika sebuah kebijakan merugikan lingkungan tempat tinggalnya.
Kota, dengan demikian, adalah semacam cermin sosial. Wajah kota adalah wajah kita. Tetapi hubungan itu tidak berhenti di sana. Kota yang kita bangun kemudian kembali memengaruhi kita.
Lingkungan yang menyediakan trotoar yang baik membuat orang lebih mungkin berjalan kaki. Taman yang aman membuat orang lebih mungkin bertemu dan berinteraksi. Ruang publik yang terbuka memungkinkan orang dari latar belakang berbeda berbagi tempat yang sama. Sebaliknya, kota yang dibangun hanya untuk kendaraan akan membuat kita semakin bergantung pada kendaraan. Kota yang memisahkan kawasan berdasarkan kelas sosial dapat memperlebar jarak sosial. Kota yang kehilangan ruang perjumpaan dapat membuat warganya semakin asing satu sama lain.
Di sinilah kota menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal. Kota adalah lingkungan yang secara perlahan mendidik kita tentang bagaimana menjadi warga.
Pemikir kota Richard Sennett banyak membicarakan persoalan ini. Dalam gagasannya tentang open city, kota yang baik bukanlah kota yang semuanya sudah ditentukan dan dibuat seragam. Kota yang baik menyediakan kemungkinan bagi manusia untuk bertemu dengan sesuatu yang berbeda: orang yang berbeda, gagasan yang berbeda, bahkan cara hidup yang berbeda.
Sebab menjadi warga kota bukan hanya memiliki alamat di sebuah kota. Menjadi warga kota berarti belajar hidup bersama orang lain.
Dalam pengertian itu, kualitas sebuah kota tidak hanya dapat diukur dari panjang jalan yang dibangun, jumlah gedung yang berdiri, investasi yang masuk, atau pertumbuhan ekonominya. Kita juga perlu bertanya: manusia macam apa yang dihasilkan oleh kota itu? Apakah kota membuat kita lebih peduli kepada orang lain? Apakah ia memberi ruang kepada mereka yang berbeda? Apakah anak-anak dapat tumbuh dengan aman? Apakah orang tua dapat berjalan tanpa takut? Apakah warga mempunyai tempat untuk bertemu, berbicara, berbeda pendapat, dan kemudian menemukan kembali persamaan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada pengertian yang lebih luas tentang pembangunan kota. Membangun kota bukan semata-mata membangun benda. Kita sedang membangun cara hidup. Dan karena itu, warga tidak seharusnya hanya menjadi penonton pembangunan kota. Mereka adalah bagian dari proses pembentukannya.
Di sinilah pentingnya suara warga. Suara warga bukan sekadar keluhan tentang jalan berlubang, banjir, sampah, kemacetan, pelayanan publik, harga rumah, atau ruang terbuka yang hilang. Di balik keluhan itu terdapat pengetahuan yang sangat penting: pengetahuan tentang bagaimana sebuah kota benar-benar dialami oleh orang yang hidup di dalamnya.
Seorang perencana mungkin melihat peta. Seorang pejabat melihat angka. Seorang pengembang melihat lahan. Tetapi warga melihat kehidupan.
Ia tahu jalan mana yang berbahaya ketika malam. Ia tahu halte mana yang tidak nyaman bagi perempuan. Ia tahu di mana anak-anak bermain. Ia tahu warung mana yang menjadi tempat orang-orang bertukar kabar. Ia tahu kampung mana yang perlahan kehilangan ruang hidupnya.
Pengetahuan semacam itu sering kali tidak masuk ke dalam laporan resmi. Padahal di sanalah denyut sebuah kota sesungguhnya berada.
Maka, mendengarkan warga bukan sekadar tindakan demokratis. Mendengarkan warga adalah cara memahami kota.
Sebuah kota yang sehat membutuhkan pemerintah yang mampu mendengar, perencana yang mampu memahami, dan warga yang bersedia terlibat.
Sebab kota bukan milik pemerintah saja. Bukan pula milik pengembang. Bukan milik investor. Kota adalah milik orang-orang yang hidup di dalamnya. Dan mereka semua, sadar atau tidak, ikut menulis cerita kota setiap hari. Dengan cara kita memperlakukan ruang publik, kita menulis satu kalimat.
Dengan cara kita memperlakukan tetangga, kita menulis kalimat berikutnya. Dengan keberanian kita menyampaikan pendapat, menjaga lingkungan, merawat ruang bersama, atau menolak sesuatu yang kita anggap merugikan kehidupan bersama, kita menambahkan paragraf demi paragraf.
Pada akhirnya, kota adalah cerita yang ditulis bersama. Karena itu, mungkin pertanyaan paling penting tentang sebuah kota bukanlah hanya “akan dibawa ke mana kota ini?” Tetapi: “Kota seperti apa yang sedang kita ciptakan bersama?” Pertanyaan itu sekaligus mengembalikan tanggung jawab kepada kita.
Sebab kita tidak bisa terus-menerus mengatakan bahwa kota buruk karena pemerintah buruk, bahwa ruang publik rusak karena orang lain tidak peduli, atau bahwa kehidupan kota semakin tidak nyaman karena semua orang telah berubah.
Kita adalah bagian dari semua itu. Kita membentuk kota melalui keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari. Dan kota, perlahan-lahan, membentuk kembali diri kita. Dengan tangan kita kota dibangun, dan dari kehidupan kota kita dibentuk.
Itulah sebabnya sebuah kota perlu didengarkan melalui suara warganya. Dan mungkin itulah pula alasan mengapa sebuah media yang berbicara tentang kota tidak cukup hanya memberitakan kota. Ia perlu mendengarkan orang-orang yang membuat kota itu hidup. Wajah kota adalah wajah kita. Suara warga adalah cerita kota. []
