Kota yang Cerdas, Kota yang Mengingat

Itu kekuatan Batam. Tetapi sekaligus tantangannya. Bagaimana sebuah kota yang tumbuh begitu cepat membangun ingatan bersama? Apa yang kelak membuat seseorang yang pernah tinggal di Batam selama dua puluh atau tiga puluh tahun berkata: “Inilah Batam saya.”

Oleh Hasan Aspahani

Ada kota-kota yang kita tinggali, tetapi tidak pernah benar-benar kita kenal. Kita melewati jalannya, bekerja di gedung-gedungnya, berbelanja di pasar dan pusat perbelanjaannya, menggunakan transportasi dan jaringan internetnya, membayar tagihan, mengeluhkan kemacetannya. Namun, setelah bertahun-tahun, ketika ditanya apa yang membuat kota itu berarti, kita mungkin kesulitan menjawab.

Barangkali karena sebuah kota bukan sekadar kumpulan gedung, jalan, jaringan listrik, air, kabel, kendaraan, dan data.

Orhan Pamuk mengajarkan hal itu dengan cara yang sangat menarik. Dalam novel Istanbul: Memories and the City, Pamuk tidak sekadar menulis tentang Istanbul. Ia menulis tentang bagaimana sebuah kota hidup di dalam ingatan seseorang. Istanbul menjadi semacam tokoh: kota dengan sejarah, kehilangan, kemurungan, kebanggaan, dan kenangan yang melekat pada orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Ada satu kata Turki yang penting dalam buku itu: hüzün. Pamuk menggunakannya untuk menggambarkan semacam kemurungan kolektif Istanbul—perasaan kehilangan sesuatu dari masa lalu, terutama kejayaan Kesultanan Utsmaniyah, tetapi juga perasaan yang anehnya justru membuat orang-orang Istanbul merasa terikat satu sama lain dan dengan kotanya.

Sampul buku “Museum of Innocence”

Kota, dengan demikian, bukan hanya sesuatu yang kita lihat. Kota adalah sesuatu yang kita rasakan. Gagasan itu menjadi semakin menarik ketika kita membaca novel Pamuk yang lain, The Museum of Innocence. Di sana ia melakukan sesuatu yang lebih radikal. Ia tidak hanya bercerita tentang ingatan. Ia mengumpulkan benda-benda yang menjadi penanda kehidupan tokoh-tokohnya: benda-benda kecil, biasa, bahkan tampak sepele.

Dan kemudian, Pamuk benar-benar membuat Museum of Innocence di Istanbul.  Novel itu memiliki museumnya sendiri.  Di situlah sastra dan kota bertemu dengan cara yang hampir ajaib. Sebuah benda yang bagi orang lain tidak berarti apa-apa — sebuah benda rumah tangga, pakaian, foto, benda yang pernah disentuh seseorang — dapat menjadi sangat penting karena menyimpan sebuah kenangan.

Pamuk seperti hendak mengatakan: sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan di monumen-monumen besarnya. Ia juga bersembunyi di benda-benda kecil kehidupan sehari-hari.

Mungkin kita perlu membawa cara pandang itu ketika berbicara tentang smart city. Kita terlalu sering membayangkan kota cerdas sebagai kota yang dipenuhi teknologi: sensor di jalan, kamera, command center, kecerdasan buatan, big data, digital twin, kendaraan listrik, jaringan 5G, data center, dan berbagai aplikasi yang membuat pelayanan publik menjadi lebih cepat.

Semua itu penting. Tetapi apakah kota yang memiliki semuanya otomatis menjadi kota yang cerdas? Amit Ray mengingatkan kita untuk berhati-hati. Ray adalah seorang penulis dan pemikir India yang banyak menulis tentang perdamaian, spiritualitas, kemanusiaan, dan kehidupan. Dalam salah satu kutipannya tentang smart city, ia memberikan definisi yang jauh lebih luas:

“Kota cerdas adalah kota tempat manusia, pepohonan, burung, dan satwa lainnya dapat tumbuh dan berkembang dengan segala keagungan, ketidaksempurnaan, kebebasan, dan kreativitas mereka. Kota cerdas bukan semata-mata kota yang dipenuhi teknologi, melainkan kota yang dipenuhi cinta, kehidupan, keindahan, martabat, kebebasan, dan kesetaraan.”

Kalimat itu menarik karena Ray hampir membalik pengertian smart city yang selama ini kita kenal.  Yang menjadi ukuran kecerdasan kota bukan hanya berapa banyak teknologi yang dapat dipasang, tetapi berapa banyak kehidupan yang dapat tumbuh di dalamnya.

Manusia, pohon, burung, dan hewan lainnya disebut dalam satu tarikan napas. Dan ada satu kata yang menurut saya sangat penting di sana: ketidaksempurnaan. Kota yang cerdas ternyata tidak harus menjadi kota yang sempurna.

Barangkali justru sebaliknya. Kota yang terlalu mengejar kesempurnaan teknologis dapat menjadi kota yang kehilangan manusia. Semua dibuat efisien, terukur, terkoneksi, dan dapat diprediksi. Tetapi kehidupan manusia sendiri tidak pernah sepenuhnya efisien, terukur, terkoneksi, apalagi dapat diprediksi.

Manusia menyimpan kenangan. Manusia menyimpan kehilangan. Manusia memiliki benda-benda yang tak berguna tetapi sangat berharga. Manusia memiliki warung langganan, jalan tempat pernah jatuh cinta, pohon tempat pernah berteduh, lapangan tempat anak-anak bermain, kedai kopi tempat percakapan berlangsung sampai malam, rumah yang sudah tidak ada tetapi masih tinggal dalam ingatan.

Data tidak selalu bisa menangkap semua itu.Di sinilah Pamuk menjadi relevan bagi pembicaraan tentang masa depan kota. Sebuah smart city mestinya bukan hanya kota yang mampu mengumpulkan data, tetapi juga kota yang mampu menghargai ingatan.

Bukan hanya kota yang tahu berapa banyak kendaraan melewati sebuah jalan, tetapi kota yang tahu mengapa jalan itu berarti bagi warganya. Bukan hanya kota yang mampu menghitung luas ruang terbuka hijau, tetapi kota yang memahami mengapa sebatang pohon tertentu begitu dicintai oleh sebuah kampung. Bukan hanya kota yang memiliki command center, tetapi kota yang mempunyai collective memory.

Sebab ketika sebuah kota kehilangan ingatannya, ia bisa saja tetap tumbuh secara ekonomi, tetapi perlahan kehilangan jiwanya.

Dan di titik ini saya merenungkan Batam. Batam adalah kota yang dibangun dengan kecepatan. Ia bukan kota tua yang tumbuh perlahan selama ratusan tahun. Ia adalah kota migrasi, kota industri, kota pelabuhan, kota perdagangan, kota yang dibentuk oleh kebijakan pembangunan dan arus manusia dari berbagai tempat.

Itu kekuatan Batam. Tetapi sekaligus tantangannya. Bagaimana sebuah kota yang tumbuh begitu cepat membangun ingatan bersama? Apa yang kelak membuat seseorang yang pernah tinggal di Batam selama dua puluh atau tiga puluh tahun berkata: “Inilah Batam saya.”

Apakah jawabannya gedung? Jalan? Kawasan industri? Mal? Pelabuhan? Data center? Atau sesuatu yang jauh lebih sederhana? Mungkin sebuah kedai kopi yang sudah puluhan tahun berdiri. Sebuah lapangan. Sebuah pasar. Sebuah pohon tua. Sebuah kampung yang tersisa di antara gedung-gedung baru. Sebuah rumah yang menyimpan cerita keluarga. Sebuah jalan yang dahulu sepi dan kini penuh kendaraan. Sebuah pelabuhan tempat ribuan orang pertama kali tiba dengan harapan baru.

Atau cerita seorang pekerja yang datang ke Batam pada 1990-an dengan koper sederhana, lalu membangun kehidupannya di kota ini. Itulah sebabnya saya kira Batam tidak cukup hanya membangun smart city. Batam perlu membangun remembering city—kota yang mengingat.

Dan mungkin keduanya tidak bertentangan.

Justru teknologi dapat digunakan untuk menyelamatkan ingatan yang mudah hilang. Kita dapat membuat arsip digital kota, peta kenangan warga, museum kota, perpustakaan foto, rekaman suara warga, cerita kampung, sejarah bangunan, dokumentasi perubahan lanskap, sampai koleksi benda-benda kecil yang dianggap remeh tetapi sesungguhnya merupakan bagian dari identitas Batam.

Semacam Museum of Innocence dalam skala sebuah kota.

Sebab suatu hari nanti, ketika generasi berikutnya bertanya “Batam dahulu seperti apa?”, kita tidak ingin hanya menjawab dengan angka pertumbuhan ekonomi, jumlah investasi, panjang jalan, jumlah penduduk, atau kapasitas data center.

Kita ingin bisa menunjukkan sesuatu. Sebuah foto. Sebuah suara. Sebuah benda. Sebuah pohon. Sebuah cerita. Sebuah kenangan.

Pamuk menunjukkan kepada kita bahwa kota dapat menjadi bagian dari biografi manusia. Amit Ray mengingatkan bahwa kecerdasan kota pada akhirnya harus diukur dari kehidupan yang mampu ditumbuhkannya.

Maka mungkin definisi smart city yang lebih masuk akal bukanlah kota yang paling banyak teknologinya, melainkan: kota yang membuat kehidupan menjadi lebih mungkin. Lebih mungkin bagi manusia untuk hidup bermartabat. Lebih mungkin bagi anak-anak untuk bermain. Lebih mungkin bagi pohon untuk tumbuh. Lebih mungkin bagi burung untuk tetap menemukan tempat hinggap. Lebih mungkin bagi orang miskin untuk tetap memiliki ruang di kota. Lebih mungkin bagi orang tua untuk menyimpan kenangan. Lebih mungkin bagi pendatang untuk menjadi warga. Dan lebih mungkin bagi sebuah kota untuk berkata kepada orang-orang yang pernah hidup di dalamnya: Aku ingat kamu. Barangkali, kawan, itulah bentuk kecerdasan kota yang paling sulit dibuat oleh teknologi.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *