Bisakah Ayam Menjadi Pahlawan Lingkungan di Kota Batam?

Anak-anak memberi makan kepada ayam di proyek Chicken Hero Pavilion, Jakarta. (Foto: RAD+ar)

Chicken Hero Batam, sebuah usulan penerapan model “Chicken Hero Pavilion”. Sebuah proyek menarik yang berangkat dari konsep ekonomi sirkular berbasis ayam yang ramah lingkungan. Meniru apa yang dirancang oleh biro arsitektur Radar di Jakarta.

Oleh Hasan Aspahani

Project Chicken Hero Pavilion di Urban Forest Jakarta tampak dari atas. (Foto-foto dari situs RAD+ar)

Bayangkan sebuah bukit kecil di tengah Urban Forest di Jalan RS Fatrmawati, Cilandak, Jakarta. Dari kejauhan ia tampak seperti bagian dari lanskap taman, tetapi di balik bukit itu terdapat sesuatu yang agak ganjil: kandang ayam. Namanya Chicken Hero Pavilion, karya biro arsitektur RAD+ar. Bangunan ini bukan sekadar tempat memelihara ayam. Ia dirancang sebagai sebuah eksperimen kecil tentang bagaimana arsitektur dapat mempertemukan manusia, pangan, sampah organik, tanah, tanaman, dan hewan dalam satu siklus.

Selama proyek berlangsung, sisa makanan dari enam restoran diolah menjadi bagian dari sistem pakan dan kompos, daun kering digunakan sebagai material alas, sementara telur yang dihasilkan ayam kembali ke restoran. Dalam satu hari, sekitar 40 telur dihasilkan. Yang menarik bukan jumlah telurnya, melainkan logika di baliknya: sesuatu yang semula dianggap sisa tidak langsung dibuang, tetapi dimasukkan kembali ke dalam sebuah siklus kehidupan. RAD+ar menyebut gagasan itu sebagai micro-circular economy—ekonomi sirkular dalam skala yang sangat kecil, sekaligus upaya untuk mendesentralisasikan keberlanjutan.

Di situlah Chicken Hero menjadi lebih menarik daripada sekadar proyek arsitektur yang unik. Ia mengajak kita membalik cara melihat apa yang disebut sampah. Dalam sistem kota konvensional, alurnya sederhana: makanan dibeli, dikonsumsi, sisanya dibuang, lalu diangkut sejauh mungkin agar tidak terlihat. Daun gugur dianggap kotoran yang harus disingkirkan. Sisa makanan menjadi beban. Kotoran hewan menjadi limbah.

Chicken Hero mencoba membalik alur linear itu menjadi sebuah lingkaran: sisa pangan dapat menjadi bagian dari sistem pakan atau pengolahan organik, ayam menghasilkan telur, kotorannya menjadi bagian dari kompos, kompos menyuburkan tanaman, dan tanaman kembali menghasilkan pangan.

Tidak ada satu unsur yang berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari hubungan timbal balik. Dengan cara yang sederhana, proyek itu memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular sebenarnya bukan pertama-tama soal teknologi canggih. Ia adalah soal mengubah hubungan antarunsur dalam sebuah sistem.

Gagasan seperti ini terasa relevan untuk Batam. Kota industri dan perdagangan ini menghadapi persoalan sampah yang tidak kecil. Pemerintah Kota Batam menyebut timbulan sampah mencapai sekitar 1.300 ton per hari. Angka itu begitu besar sehingga mudah membuat persoalan sampah terlihat sebagai sesuatu yang hanya bisa diselesaikan melalui proyek besar: armada pengangkutan, fasilitas pengolahan, tempat pembuangan, atau teknologi baru.

Tetapi mungkin kita perlu melihat persoalan itu dari arah sebaliknya. Bagaimana jika sebagian sampah tidak pernah menjadi sampah kota? Bagaimana jika sebagian sisa pangan diselesaikan di lingkungan tempat ia dihasilkan? Bagaimana jika daun dari sebuah taman, sisa sayuran dari sebuah restoran, dan kotoran ayam tidak semuanya harus masuk ke sistem pembuangan yang sama?

Batam sebenarnya tidak mulai dari nol. Berbagai upaya pengolahan sampah organik dan urban farming sudah muncul di kota ini. Politeknik Negeri Batam, misalnya, telah mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi kompos dan memanfaatkannya untuk kebun percobaan. Pemerintah dan berbagai lembaga di Kepulauan Riau juga sedang mendorong pengurangan food loss and food waste serta pengembangan urban farming. Potongan-potongan ekosistemnya sudah tersedia. Yang belum sepenuhnya kita miliki adalah desain yang menghubungkan potongan-potongan tersebut menjadi sebuah sistem yang bisa bekerja di tingkat lingkungan.

Karena itu, jika Chicken Hero hendak diterapkan di Batam, saya kira kita tidak perlu menyalin pavilion Jakarta. Yang perlu kita bawa adalah cara berpikirnya. Kita bisa membayangkan sebuah micro-pavilion seluas 30–50 meter persegi di sebuah lingkungan perumahan, kampus, sekolah, ruang publik, atau kawasan restoran.

Di sana ada kandang ayam, kebun kecil, komposter, tempat pemilahan organik, penampungan air hujan, dan ruang berkumpul warga. Sepuluh atau dua puluh ayam mungkin sudah cukup untuk memulai. Beberapa rumah atau restoran menjadi sumber bahan organik yang telah dipilah. Komunitas mengelola kegiatan sehari-hari. Kampus membantu mengukur dan mengembangkan sistem. Pemerintah menyediakan ruang dan dukungan awal. Yang dibangun bukan kandang ayam, melainkan simpul ekologis tempat berbagai aliran material bertemu.

Bayangkan alurnya. Sisa sayuran yang aman dan memenuhi persyaratan tidak langsung dibuang. Daun kering tidak langsung diangkut. Material organik yang tidak cocok untuk pakan masuk ke sistem kompos. Ayam menghasilkan telur. Kotorannya menjadi bagian dari pengomposan. Kompos menyuburkan kebun. Kebun menghasilkan sayuran. Telur dan sebagian hasil kebun kembali kepada warga. Dengan demikian, hubungan yang semula berbentuk satu arah—warga menghasilkan sampah, truk mengangkutnya, lalu kota menanggung akibatnya—berubah menjadi hubungan yang berputar: sisa pangan, ayam, telur, kompos, tanaman, dan warga saling menghidupi.

Tetapi nilai proyek seperti ini sebenarnya tidak berhenti pada telur atau kompos. Ia juga bisa menjadi ruang pendidikan. Anak-anak tidak perlu hanya membaca poster tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mereka dapat melihat sendiri bagaimana daun menjadi bahan kompos, bagaimana ayam menghasilkan telur, bagaimana kotoran menjadi bagian dari pupuk, dan bagaimana pupuk menumbuhkan tanaman. Mereka belajar bahwa sampah bukan benda yang tiba-tiba hilang setelah masuk tempat sampah. Ia pergi ke suatu tempat, membutuhkan biaya, dan membawa konsekuensi. Tetapi sebagian sisa juga dapat menemukan kehidupan kedua jika kita merancang sistem yang tepat. Ekonomi sirkular menjadi sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dan dialami.

Karena itu, Chicken Hero Batam sebaiknya tidak dimulai sebagai proyek besar. Kita bisa membayangkannya sebagai pilot project 100 hari: satu lokasi, satu komunitas, sepuluh sampai dua puluh ayam, beberapa mitra restoran atau rumah tangga, satu kebun kecil, dan satu sistem kompos. Selama seratus hari kita ukur semuanya: berapa kilogram organik yang berhasil dialihkan dari sistem sampah, berapa telur yang dihasilkan, berapa kompos yang terbentuk, berapa tanaman yang tumbuh, berapa warga yang terlibat, berapa biaya operasionalnya, dan apakah sistem itu tetap berjalan ketika tidak ada lagi seremoni peresmian. Jika berhasil, modelnya bisa direplikasi dalam berbagai bentuk: Chicken Hero Kampung, Chicken Hero Sekolah, Chicken Hero Kampus, Chicken Hero Pasar, atau Chicken Hero Restoran.

Di sinilah kita harus berhati-hati agar gagasan ini tidak berubah menjadi proyek pemerintah yang bergantung sepenuhnya pada anggaran. Pemerintah sebaiknya menjadi pemungkin, semacam prekursor, bukan satu-satunya pemain. Arsitek merancang ruangnya, kampus mengembangkan dan mengukur sistemnya, komunitas mengelolanya, restoran menyediakan bahan organik terpilah, sekolah menggunakannya sebagai ruang belajar, dan warga menjadi bagian dari pengelolaan sekaligus penerima manfaat. Jika setiap unsur mempunyai kepentingan yang nyata, sistem memiliki peluang lebih besar untuk bertahan setelah proyek selesai.

Pada akhirnya, Chicken Hero bukanlah cerita tentang ayam. Justru ayam hanyalah pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang lebih besar: bagaimana sebuah kota mengelola kehidupannya sendiri. Kita terbiasa membangun kota dengan sistem linear—ambil, gunakan, buang. Padahal alam bekerja dengan cara yang berbeda. Sesuatu yang mati menjadi makanan bagi sesuatu yang lain; sisa satu organisme menjadi sumber kehidupan bagi organisme lain. Kota modern telah memutus banyak hubungan semacam itu, lalu menciptakan teknologi mahal untuk mengatasi akibatnya. Chicken Hero menawarkan eksperimen kecil untuk menyambungkan kembali hubungan yang terputus.

Maka pertanyaan untuk Batam bukanlah apakah kita bisa membuat kandang ayam seperti di Jakarta. Pertanyaannya jauh lebih menarik: bisakah seekor ayam menjadi unit terkecil dari ekonomi sirkular sebuah kota? Jika sebuah lingkungan di Batam dapat mengubah sisa makanan menjadi sumber daya, menghasilkan telur, membuat kompos, menumbuhkan pangan, sekaligus mempertemukan warga dan mendidik anak-anak, kita sebenarnya sedang menguji sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah kandang. Kita sedang menguji kemungkinan bahwa perubahan kota tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa. Kadang-kadang ia bisa dimulai dari sebuah halaman kecil, beberapa tanaman, segenggam kompos—dan ayam yang bekerja menghubungkan semuanya. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *