Ketika Tubuh Masih Mengingat Peter Parker

Spider-Man: Brand New Day, bercerita tentang cinta yang bahkan ingatan tak sanggup menghapus. Mungkin itulah sebabnya kisah Peter Parker selalu terasa dekat. Di balik topeng dan jaring laba-laba, ia terus mengingatkan satu hal sederhana yang sering kita lupakan: orang-orang yang pernah kita cintai tidak selalu tinggal di dalam ingatan kita. Kadang-kadang mereka tinggal di dalam cara kita menjadi manusia.

Oleh Hasan Aspahani

Ada jenis kehilangan yang lebih kejam daripada kematian: ketika seseorang masih hidup, masih bisa kita lihat, masih bisa kita ajak bicara, tetapi kita sudah tidak punya tempat lagi di dalam ingatannya. Peter Parker hidup di dalam jenis kehilangan itu.

Itulah luka yang dibawa Spider-Man: Brand New Day dari No Way Home. Peter tidak kehilangan MJ karena kematian. Ia kehilangan MJ karena sebuah keputusan yang justru dimaksudkan untuk menyelamatkan orang-orang yang dicintainya. Dunia terus berjalan. MJ terus menjalani hidupnya. Peter pun tetap hidup, tetap menjadi Spider-Man, tetap menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak tahu siapa yang berada di balik topeng itu.

Tetapi ada satu hal yang berubah secara mendasar: Peter mengingat, sementara orang-orang yang paling berarti baginya tidak. Menariknya, film ini tidak berhenti pada tragedi kehilangan ingatan. Ia justru mengusik pertanyaan yang lebih dalam: benarkah manusia bisa sepenuhnya melupakan seseorang?

Kita terlalu percaya kepada kepala kita sendiri. Kita menganggap ingatan sebagai arsip. Nama, wajah, tanggal, percakapan, kejadian—semuanya tersimpan di dalam kepala. Jika arsip itu dihapus, kita membayangkan hubungan pun selesai. Orangnya masih ada, tetapi sejarahnya telah lenyap.

Padahal manusia tidak hanya mengingat dengan kepala. Kita mengingat dengan tubuh. Seorang pianis bisa lupa judul sebuah lagu tetapi jari-jarinya masih menemukan nada. Seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak mengendarai sepeda dapat kembali mengayuh tanpa harus mengingat satu per satu cara menjaga keseimbangan. Ada sesuatu yang kita pelajari begitu dalam sehingga ia berhenti menjadi pengetahuan dan berubah menjadi refleks.

Itulah muscle memory. Dan di situlah salah satu gagasan paling menarik Brand New Day bekerja. Hubungan manusia juga menghasilkan muscle memory. Kita tidak hanya menyimpan seseorang sebagai nama di kepala. Kita menyimpannya sebagai kebiasaan: cara menjabat tangan, cara menoleh ketika mendengar suara tertentu, cara melanjutkan kalimat orang lain, cara tertawa pada lelucon yang hanya dipahami berdua. Bertahun-tahun bersama seseorang menciptakan ribuan gerakan kecil yang akhirnya terasa alamiah.

Kita bahkan bisa tidak tahu dari mana sebuah kebiasaan berasal. Tangan bergerak sebelum pikiran memerintahkannya. Perasaan datang sebelum alasan menyusul. Tubuh kadang-kadang mengetahui sesuatu yang tidak sanggup dijelaskan oleh kepala.

Karena itu, persoalan Peter dan MJ dalam Brand New Day menjadi lebih menarik daripada sekadar pertanyaan: apakah MJ akan mengingat Peter? Sebab kalau ingatan hanya berupa informasi, masalahnya sederhana. Tinggal mengembalikan informasi itu. Tetapi hubungan tidak pernah sesederhana informasi.

Bayangkan kita bertemu kembali dengan seseorang yang dulu sangat kita cintai, tetapi kita tidak lagi memiliki seluruh cerita tentangnya. Kita tahu wajahnya. Kita mungkin tahu namanya. Tetapi apakah perasaan yang dulu ada otomatis kembali? Belum tentu. Sebab cinta bukan file yang bisa di-restore. Cinta adalah pengalaman yang membentuk seseorang.

Dan ketika pengalaman itu hilang dari ingatan sadar, yang tersisa mungkin bukan cerita, melainkan jejak. Itulah yang membuat muscle memory dalam film ini terasa lebih dari sekadar perangkat cerita. Ia menjadi metafora tentang bagaimana manusia sebenarnya menyimpan orang lain.

Kita mungkin lupa sebuah percakapan, tetapi masih menggunakan ungkapan yang dulu diajarkan seseorang kepada kita. Kita mungkin lupa kapan pertama kali tertawa bersama seseorang, tetapi masih tertawa dengan cara yang sama. Kita mungkin lupa mengapa sebuah lagu terasa menyakitkan, tetapi tubuh kita tetap berubah ketika nada pertamanya terdengar.

Ingatan ternyata tidak selalu berkata, “Aku ingat kamu.” Kadang-kadang ia hanya berbisik: “Aku tidak tahu mengapa, tetapi kamu terasa akrab.” Di situlah Peter Parker menjadi menarik bukan sebagai superhero, melainkan sebagai manusia.

Sebab selama ini kekuatan Peter selalu membuatnya tampak istimewa. Ia dapat memanjat dinding, melompat dari gedung, menangkap benda yang jatuh sebelum menyentuh tanah. Tetapi Brand New Day menempatkannya di hadapan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan dengan kekuatan fisik. Yaitu, kesepian. Tidak ada web-shooter untuk itu. Tidak ada pukulan yang bisa menyelesaikannya. Tidak ada gedung yang perlu dipanjat.

Peter hanya harus hidup dengan pengetahuan bahwa ia masih mengingat orang-orang yang tidak lagi mengingat dirinya. Dan lebih pahit lagi: ia harus menerima kemungkinan bahwa mencintai seseorang tidak selalu memberinya hak untuk kembali ke dalam kehidupan orang itu. Ini membuat pengorbanan Peter terasa lebih dewasa.

Dalam cerita superhero, pengorbanan biasanya memiliki bentuk yang dramatis. Seseorang berdiri di depan bahaya, menerima pukulan, menyelamatkan dunia, lalu kita melihatnya sebagai pahlawan. Peter mengalami bentuk pengorbanan yang jauh lebih sunyi. Ia memilih tidak mengganggu. Ia memilih membiarkan orang-orang yang dicintainya menjalani hidup. Ia memilih menjadi orang asing. Dan di situlah salah satu ironi terbesar Spider-Man: Brand New Day: Spider-Man yang selama ini selalu datang untuk menyelamatkan orang lain justru harus belajar kapan tidak datang.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam pilihan itu. Orang tua melakukannya ketika melepaskan anaknya. Sahabat melakukannya ketika tahu kehadirannya justru memperburuk keadaan. Seseorang yang masih mencintai mantan kekasihnya kadang-kadang memilih tidak mengetuk pintu, meskipun ia tahu persis siapa yang ada di baliknya.

Tidak semua cinta harus berakhir dengan kepemilikan. Sebagian cinta mungkin justru mencapai bentuk tertingginya ketika kita bersedia berkata: Aku mencintaimu, karena itu aku tidak akan memaksamu mengingatku. Namun Brand New Day tidak membiarkan gagasan itu menjadi terlalu mudah. Sebab manusia bukan mesin. Ingatan bukan sekadar data yang bisa dihapus Hubungan meninggalkan residu. Sesuatu selalu mungkin tertinggal: gerakan, kebiasaan, rasa akrab, respons spontan. Kita dapat menghapus cerita tentang seseorang, tetapi lebih sulit menghapus segala sesuatu yang telah dilakukan cerita itu terhadap diri kita.

Ini membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada kisah Spider-Man: Apakah kita adalah kumpulan dari hal-hal yang kita ingat tentang diri kita, atau juga kumpulan dari orang-orang yang pernah membentuk kita—bahkan ketika kita sudah lupa kepada mereka? Barangkali identitas manusia tidak hanya dibangun oleh memori sadar.

Barangkali sebagian diri kita adalah hasil dari pertemuan-pertemuan yang sudah lama kita lupakan. Orang yang pernah mengatakan sesuatu kepada kita. Guru yang pernah mengubah cara kita melihat dunia. Sahabat yang pernah mengajarkan keberanian. Seseorang yang pernah membuat kita patah hati. Seseorang yang pernah mencintai kita ketika kita belum tahu bagaimana mencintai diri sendiri.

Mereka mungkin sudah tidak hadir dalam kehidupan kita. Tetapi sedikit dari mereka tetap bekerja di dalam diri kita. Kita membawa mereka tanpa sadar. Tubuh mengingat. Kebiasaan mengingat. Cara kita mencintai mengingat. Dan mungkin, jauh di bawah semua itu, ada sesuatu yang bahkan tidak mempunyai nama.

Itulah yang membuat Brand New Day terasa lebih menarik ketika dibaca bukan sebagai film superhero semata, melainkan sebagai cerita tentang apa yang tersisa setelah seseorang dilupakan. Peter Parker kehilangan tempatnya di dalam ingatan orang lain. Tetapi film ini seperti mengajukan kemungkinan yang indah sekaligus mengganggu: dilupakan tidak sama dengan dihapus. Sebab manusia bukan arsip. Kita adalah jejak. Dan jejak, seperti yang kita tahu, tidak selalu hilang hanya karena orang yang meninggalkannya sudah tidak ada di sana. Kadang-kadang ia masih muncul dalam sebuah gerakan kecil. Dalam sebuah kebiasaan. Dalam sebuah rasa akrab yang tidak dapat dijelaskan. Dalam sesuatu yang dilakukan tubuh sebelum kepala sempat bertanya mengapa.

Mungkin itulah sebabnya kisah Peter Parker selalu terasa dekat dengan kita. Di balik topeng dan jaring laba-laba, ia terus mengingatkan satu hal sederhana yang sering kita lupakan: orang-orang yang pernah kita cintai tidak selalu tinggal di dalam ingatan kita. Kadang-kadang mereka tinggal di dalam cara kita menjadi manusia.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *