[Ulas Puisi] Membaca “Nol” dan Menyimak Gema Sajak Husnizar Hood

Sebagai penyair, Husnizar di sajak ini, seakan menjadi penafsir kepedihan, menjadi cenayang bagaimana nasib malang ‘si burung balam’, anggrek (harapan, keselarasan, keindahan) itu tak hanya layu tapi menjadi pedang dan api, menikam leher sendiri, mencelakakan, bahkan mematikan, memanggang diri.

Oleh Hasan Apahani

Mari kita baca lebuh dahulu seluruh sajak dari halaman 32-33, dalam buku ‘Tarian Orang Lagoi” (Yayasan Kata, Pekanbaru, 1999) ini. Ini adalah buku pertama Husnizar Hood, yang menandai jejak penting eksistensinya sebagai penyair Riau. Peluncurannya digelar dalam sebuah pertunjukan baca puisi yang menyita perhatian. Bayangkan, ada seorang penyair dari Kepulauan Riau (salah satu kabupaten di Provinsi Riau kalau itu) membaca puisi di ‘pusat’ sastra Melayu Riau, Balai Dang Merdu, Pekanbaru.

Nol
Sajak Husnizar Hood

hanya sepasu anggrek berwarna ungu
hampir layu, dan halaman kosong
kaca jendela berwarna hitam
memantulkan wajah cintaku menggelepar
musim utara menghambuskan
memaksa aku bergegas
memburu hidup dalam sajak-sajak
pada gelombang, angin ribut dan riau
telah ke laut ke hutan ke bukit ke awang-awang
sampai kurenung mimpi muntahku
ke mana-mana segalanya runtuh
di buluh-buluh tinggi menggalah
bagai zikir tardji, gurauan sattah
pemberontakan idrus, tangisan syam
berdayanya ikram, lalu edi, hafney
kemudian yose
aku menangis terbahak-bahak
memandang burung balam
mematuk-matuk pasir
membabat rumput-rumput kering
mungkin sebentar lagi anggrek
bagai pedang dan api diparuhnya
menikam leher memanggang diri
dan komputer itupun meledak
di pustaka otakku
membakar buku catatan harian
hangus!, dan nol.
(adakah riau masih menyisakan kata-kata untuk
risaunya bagiku)

(Sumber: Tarian Orang Lagoi; Yayasan Kata, Pekanbaru, 1999)

HANGUS! Dan nol. Sajak Husnizar Hood ini berakhir di larik itu. Selebihnya, bagi saya, larik dalam kurung itu hanyalah gema…, gema yang mengutuhkan sajak, dan memaknai kata terakhir dan sekaligus judul sajak ini: Nol.

Saya tidak memaknai nol dalam sajak ini sebagai kosong. Tapi, ya nol saja. Nol yang unik. Nol sebagai angka pertama yang disebut dalam deret bilangan cacah. Nol sebagai angka pertama dalam deret bilangan cacah. Nol yang tunggal, yang tidak negatif dan tidak positif.

Maka ketika seluruh kemampuan memproses data mencerna peristiwa lumpuh, apa yang dalam sajak ini disebut sebagai ‘komputer’ (di pustaka otakku) itu meledak, membakar buku catatan harian, dan hangus, maka yang hadir adalah nol ( Husnizar mengatakan: … dan nol). Nol di sini bukan sisa, bukan tak ada apa-apa lagi, bukan kosong, tapi ruang yang akan terisi kembali.

Seluruh sajak, dari bait pertama, adalah uraian, proses kenapa dan bagaimana sehingga situasinya sampai pada hakikat nol itu.

hanya sepasu anggrek berwarna ungu
hampir layu, dan halaman kosong
kaca jendela berwarna hitam
memantulkan wajah cintaku menggelepar

Imaji utama dalam sajak ini adalah ‘anggrek’, ‘sepasu anggrek’. Kata “pasu” membuat kita membayangkan anggrek yang telah dipetik dan diletakkan sebagai hiasan—bukan lagi bunga yang tumbuh bebas dengan akar dan daunnya sendiri.

Memang, anggrek adalah bunga hias yang setelah dipotong pun relatif tahan lama, sebelum layu dan kering. Bahwa, di sajak ini disebutkan kondisinya hampir layu, maka kita bayangkan telah lama ia dipotong dan diletakkan di pasu itu. Ada harapan, atau perayaan yang seakan sedang disiapkan. Tapi keduanya tak terjadi.

Situasi anggrek itu kontras dengan ‘halaman kosong’, ‘kaca jendela berwarna hitam’, seakan hendak mengatakan betapa terbatasnya bahkan tiada harapan dan pilihan. Dalam situasi yang tak nyaman itulah sosok aku dalam sajak ini “memantulkan wajah cintaku menggelepar’.

Sulit memang, tapi hidup toh terus dijalani. Musim utara yang ganas, dengan gelombang dan anginnya, toh tetap saja dimaknai, hidup diburu di sana, sebagai sajak, atau dalam sajak, di mana makna itu dikekalkan dengan kata-kata.

musim utara menghambuskan
memaksa aku bergegas
memburu hidup dalam sajak-sajak
pada gelombang, angin ribut….

Renungan personal penyair itu lalu ditautkan dengan riau, nama untuk satu peradaban agung yang riuh dan risau. Husnizar menulis: …. dan riau / telah ke laut ke hutan ke bukit ke awang-awang. Tapi dera keriuhan dan kerisauan Melayu, orang-orang Riau yang hidup dengan kesadaran sejarah dan kondisi kekinian (situasi politik menjelang alaf baru itu) terlalu berat ditanggung oleh orang seorang. Husnizar menulis: …. sampai kurenung mimpi muntahku / ke mana-mana segalanya runtuh / di buluh-buluh tinggi menggalah…

Karena itu, Husnizar masuk ke dalam barisan para penyair untuk bersama-sama mengusung kesadaran, beban peradaban besar itu. Di sinilah, saya kira, relevansi penyebutan nama-mama penyair besar yang tentu saja, karya dan pemikirannya akrab bagi Husnizar.

bagai zikir tardji, gurauan sattah
pemberontakan idrus, tangisan syam
berdayanya ikram, lalu edi, hafney
kemudian yose

Penyebutan nama-nama itu membuat “aku” tidak lagi tampak sebagai penyair yang berdiri sendirian.

Karena kesadaran itu, bahwa ia tak sendiri, ia menempatkan dirinya dalam suatu mata rantai kepenyairan Riau—dalam zikir Sutardji, gurauan Sattah, pemberontakan Idrus, tangisan Syam, dan seterusnya. Mereka, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, B.M. Syam, Taufik Ikram Jamil, Ediruslan P Amanriza, Hafney Maulana, dan Yoserizal, hanyalah sebagian dari sederet panjang sastran Riau, dan bersama merekalah dia ikut dengan gagah dan gemilang menjaga, merawat, bila perlu melawan.

Tapi kesadaran itu membuat sosok aku dalam sajak ini menangis (tapi dengan terbahak-bahak, seamcam oksimoron atau paradoks emosional, paradoks emosional, tangis yang sudah melewati batas kesedihan biasa, sampai ekspresinya justru menyerupai tawa. dan berhasil menghadirkan ironisnya situasi): …. aku menangis terbahak-bahak / memandang burung balam / mematuk-matuk pasir / membabat rumput-rumput kering ... Kenapa? Karena menyadari betapa agung dan cemerlangnya maka terletakkanlah beban berat peradaban dan kesejarahan itu di dalam dada dan pundaknya.

Sementara itu, orang per orang dengan kesadarn itu ternyata kecil dan terbatas dayanyam apa yang dihadirkan dengan imaji penting lainnya dalam sajak ini, yaitu ‘burung balam’.

Nama burung merujuk ke burung tekukur, merbuk, atau ketitir. Burung liar tapi mudah dijinakkan dan biasanya dipelihara dalam sangkar. Dalam banyak pantun Melayu, nama jenis burung ini kerap dijadikan sampiran untuk perasaan rindu dari seseorang yang terkurung, tak bebas.

Tangis (terbahak-bahak) sosok aku dalam sajak pecah ketika dia memandang dirinya, dan kaumnya, sebagai burung balam, yang (di sini metafora itu berkeja meluas) mematuk pasir, membabat rumput kering, dan kemudian terbayangkanlah sebuah ancaman atau bahaya yang lebih besar: … mungkin sebentar lagi anggrek / bagai pedang dan api diparuhnya / menikam leher memanggang diri…

Sebagai penyair, Husnizar di sajak ini, seakan menjadi penafsir kepedihan, menjadi cenayang bagaimana nasib malang ‘si burung balam’, anggrek (harapan, keselarasan, keindahan) itu tak hanya layu tapi menjadi pedang dan api, menikam leher sendiri, mencelakakan, bahkan mematikan, memanggang diri.

Tapi, puncak ‘kehancuran diri’ itu membawa ke titik NOL. Titik di mana ruang baru baru hadir, menuntut untuk diisi. Dan, di sinilah, saya melihat bait yang ditulis dalam tanda kurung itu adalah gema.

Pada 1999, ketika sajak ini terbit, gagasan pemisahan Kepulauan Riau dari Provinsi Riau belum menjadi kenyataan administratif, tetapi aspirasi untuk membentuk provinsi sendiri sudah muncul. Dalam konteks itulah pertanyaan “adakah riau masih menyisakan kata-kata untuk / risaunya bagiku” memperoleh gema sejarah yang lain. Empat tahun kemudian, Kepulauan Riau benar-benar dibentuk sebagai provinsi tersendiri melalui UU No. 25 Tahun 2002. []

Batam, 28 Agustus 2026.

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *