Melihat Proses Pelukis Pupung Prayitno Menyelesaikan Lukisan ‘Karnaval Tujuhbelasan’

Tentu saja sebuah lukisan tidak bisa dinilai hanya dari berapa lama pelukis mengerjakannya. Lukisan bukan pekerjaan borongan yang nilainya ditentukan oleh tarif per jam. Ada gagasan, pengalaman, pilihan estetik, kemampuan teknis, keberanian mengambil keputusan, bahkan kemungkinan-kemungkinan yang muncul secara tak terduga selama proses melukis.

Oleh Hasan Aspahani

Di akun Facebook-nya, pelukis Pupung Prayitno hanya menulis teks pendek: Karnaval Tujuhbelasan, 70 x 70 cm, akrilik/kanvas, 2026. Selesai Rabu, 26 Agustus 2026, 15.00 WIB. Disertai empat gambar.

Rangkaian gambar itulah yang menarik. Dari empat gambar tersebut kita bisa melihat bagaimana seorang perupa bekerja merampungkan sebuah lukisan. Kita juga bisa melihat bagaimana ia berpikir, merencanakan, mencatat, mengembangkan, dan akhirnya mewujudkan gagasannya menjadi gambar di atas kanvas.

Pupung, pelukis dari kota Karawang kelahiran 1965 ini, sepertinya memang ingin membagikan proses itu. Dan ini adalah upaya penting bagi publik. Ia memanfaatkan media sosial untuk membuka sedikit pintu studionya, memperlihatkan kepada publik apa yang biasanya tersembunyi di balik sebuah karya. Pada gilirannya, hal semacam ini bisa memperluas dan meningkatkan apresiasi terhadap seni rupa.

Mari kita perhatikan. Kita mulai dari gambar terakhir: sebuah halaman jurnal. Tetapi ini bukan sekadar sketsa. Di halaman itu Pupung menggambarkan proses penyelesaian sebuah lukisan berjudul “Karnaval Tujuhbelasan”. Ia mencatat ukuran kanvas—70 x 70 cm—dan medium yang digunakan: akrilik di atas kanvas.

Di bawah judul terdapat drawing awal, lengkap dengan catatan petunjuk warna dan keterangan tentang apa yang hendak dikerjakan. Di pojok kiri atas tercatat hari dan tanggal: Senin, 24 Agustus 2026. Day 1.

Apa yang dilakukan Pupung hari itu? Semuanya dicatat. Pukul 09.34, ia menyelesaikan bagian langit yang memerah, ungu, dan kehijauan; horison, pohon dan kota dari kejauhan; view, kontur, tanah hitam kecokelatan; serta danau biru dari galian tambang. Setelah itu ia berhenti melukis pada pukul 15.57 WIB. Artinya, pada hari pertama Pupung bekerja selama 6 jam 22 menit, atau 382 menit.

Hasilnya bisa kita lihat pada foto pertama.

Hasil lukisan hari pertama.

Kemudian masuk ke hari kedua, Selasa, 25 Agustus 2026. Pupung mulai bekerja pukul 10.02. Catatannya menunjukkan beberapa bagian yang hendak ia selesaikan: hewan, kostum sirkus; dua hewan aneh, salah satunya berdiri di atas hewan berkaki enam; serta figur yang membawa bendera merah-putih. Ia berhenti pada pukul 16.31. Jadi, hari kedua ia melukis selama 6 jam 29 menit, atau 389 menit. Hasil pekerjaan hari kedua tampak pada foto kedua.

Hasil lukisan hari ke-2.

Di sinilah menariknya membandingkan sketsa dalam jurnal dengan hasil yang muncul di kanvas. Kita bisa melihat bahwa drawing awal bukan sekadar rancangan yang kemudian disalin begitu saja. Ia menjadi semacam peta yang memungkinkan gagasan bergerak, berubah, bertambah, dan menemukan bentuknya di atas kanvas.

Pada hari ketiga, Rabu, 26 Agustus 2026, pekerjaan dimulai lebih pagi, pukul 08.00 WIB. Catatan Pupung menunjukkan bagian-bagian yang dikerjakannya: kucing aneh yang berdiri di atas makhluk berkaki enam; figur yang berdiri di atas hewan berkaki enam; figur berteriak di sisi kanan kanvas; orang-orang yang berduyun-duyun; serta deretan umbul-umbul janur. Ia menyelesaikan pekerjaan pada pukul 15.00 WIB. Hari ketiga berarti 7 jam, atau 420 menit. Hasilnya bisa kita lihat pada foto ketiga.

Hasil akhir lukisan.

Dan kalau kita letakkan ketiga foto lukisan itu berdampingan dengan drawing dan catatan di jurnal, kita seperti menyaksikan sebuah gagasan tumbuh di depan mata: dari garis dan kata-kata di buku gambar, menjadi bidang warna, bentuk, figur, gerak, dan akhirnya sebuah dunia visual yang utuh.

Ada satu angka yang menarik dari semua catatan itu. Mari kita jumlahkan: 382 + 389 + 420 = 1.191 menit. Dengan kata lain, Pupung mengerjakan Karnaval Tujuhbelasan selama 19 jam 51 menit, dalam tiga hari kerja. Hampir 20 jam! Nyaris sehari-semalam penuh jika dia bekerja non-stop.

Tentu saja sebuah lukisan tidak bisa dinilai hanya dari berapa lama pelukis mengerjakannya. Lukisan bukan pekerjaan borongan yang nilainya ditentukan oleh tarif per jam. Ada gagasan, pengalaman, pilihan estetik, kemampuan teknis, keberanian mengambil keputusan, bahkan kemungkinan-kemungkinan yang muncul secara tak terduga selama proses melukis.

Tetapi catatan 1.191 menit itu membuat sesuatu yang biasanya tidak terlihat menjadi terlihat: kerja di balik sebuah lukisan.

Kita sering bertemu dengan karya seni hanya dalam keadaan sudah jadi. Lukisan hadir di dinding sebagai benda yang selesai. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi jarang melihat bagaimana ia sampai di sana.

Pupung, melalui empat foto sederhana di Facebook, memperlihatkan sebagian perjalanan itu. Dan di situlah nilai penting unggahan semacam ini: ia tidak hanya memperlihatkan sebuah lukisan, tetapi juga mengajak publik melihat bagaimana sebuah lukisan dilahirkan. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *