Batam adalah kota yang terus mengundang orang datang, terutama karena peluang kerja dan kegiatan ekonominya. Namun, banyaknya pendatang belum otomatis menunjukkan bahwa Batam adalah kota yang nyaman untuk ditinggali, sebab orang datang dan pergi dengan berbagai alasan. Karena itu, pertanyaan penting bagi Batam bukan hanya berapa banyak orang yang datang, tetapi apakah mereka menemukan alasan untuk betah dan memilih menetap.
Oleh Hasan Aspahani
Ada angka yang menarik perhatian dari Batam pada 2024. Sepanjang tahun itu, 89.767 orang masuk ke Batam, sementara 65.171 orang tercatat keluar. Artinya, secara administratif ada selisih 24.596 orang lebih banyak yang masuk daripada yang keluar.
Angka tersebut dicatat Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Batam. Menurut data yang diberitakan Batam Pos, 89.767 penduduk masuk melalui 52.194 Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia (SKPWNI), sedangkan 65.171 penduduk keluar melalui 32.813 SKPWNI. Pendatang yang masuk juga didominasi kelompok usia produktif.
Bayangkan kota sebagai sebuah pintu. Sepanjang satu tahun, hampir 90 ribu orang masuk melewati pintu itu. Pada saat yang sama, lebih dari 65 ribu orang keluar. Ada arus manusia yang sangat besar.
Batam ternyata bukan hanya kota dengan penduduk yang bertambah. Batam adalah kota yang terus-menerus dipilih oleh orang-orang yang sedang mencari tempat untuk bekerja, berusaha, membangun keluarga, atau memperbaiki kehidupan.
Data Badan Pusat Statistik Kota Batam memperkuat gambaran tersebut. Dalam Indikator Kesejahteraan Rakyat Kota Batam 2024, BPS mencatat jumlah penduduk Batam berdasarkan proyeksi meningkat dari 1.256.610 jiwa pada 2023 menjadi 1.276.930 jiwa pada 2024.
Laju pertumbuhan penduduk pada periode 2023–2024 mencapai 1,62 persen, dan BPS menyebut migrasi masuk dari luar Batam—terutama untuk bekerja, mencari pekerjaan, dan melakukan kegiatan ekonomi—sebagai salah satu penyebab tingginya pertumbuhan tersebut.
Jadi, angka 89.767 bukan sekadar angka administrasi. Di belakangnya ada puluhan ribu keputusan manusia. Seseorang memilih meninggalkan kota asalnya dan datang ke Batam. Ada yang datang sendiri, ada yang membawa keluarga. Ada yang sudah mendapatkan pekerjaan, ada pula yang datang dengan harapan akan menemukan pekerjaan setelah tiba.
Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang pengemudi layanan taksi online yang memberi wajah manusia pada statistik itu. Ia bercerita bahwa belum lama ini ia pindah dari Pekanbaru bersama istrinya. Ia sendiri sudah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi. Di luar jam kerja, ia menjadi pengemudi taksi online untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Istrinya seorang perawat dan masih mencari pekerjaan di Batam.
Yang menarik adalah keyakinannya. Ia tidak melihat Batam sebagai tempat singgah untuk mencari uang sebelum pulang atau pindah lagi. Ia yakin Batam adalah kota pilihan mereka untuk menetap.
Cerita itu membuat saya bertanya: apa sebenarnya yang membuat seseorang memilih sebuah kota untuk menjadi tempat tinggal?
Pekerjaan tentu penting. Penghasilan juga. Tetapi mungkin ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Orang memilih kota karena berharap kehidupannya akan lebih baik di sana. Ia mencari peluang, tetapi sekaligus mencari kehidupan yang dapat dijalani.
Di sinilah angka migrasi menjadi menarik.
BPS menggunakan konsep migrasi untuk membaca perpindahan penduduk antardaerah. Dalam Long Form Sensus Penduduk 2020, misalnya, BPS mengenal migrasi risen, yaitu penduduk yang tempat tinggalnya saat pencacahan berbeda dari tempat tinggalnya lima tahun sebelumnya.
BPS juga menyediakan ukuran migrasi masuk, migrasi keluar, dan migrasi neto. Semakin tinggi angka migrasi masuk, semakin banyak penduduk yang datang dari wilayah lain; semakin tinggi migrasi keluar, semakin banyak penduduk yang meninggalkan suatu wilayah.
Tetapi di sini kita perlu berhati-hati. Orang datang tidak otomatis berarti kota itu nyaman.
Seseorang bisa datang karena mendapatkan pekerjaan, meskipun ia belum tahu apakah akan menyukai kehidupan di kota tersebut. Sebaliknya, seseorang yang pergi tidak otomatis berarti ia tidak betah. Kontrak kerja bisa berakhir. Perusahaan dapat memindahkan pegawai. Pendidikan selesai. Orang menikah. Ada yang kembali ke kampung halaman atau menemukan pekerjaan yang lebih baik di tempat lain.
Karena itu, angka migrasi bukanlah ukuran tunggal kenyamanan sebuah kota. Ia lebih tepat kita lihat sebagai jejak pilihan manusia. Dan Batam mempunyai jejak pilihan yang sangat kuat. Namun, justru karena banyak orang datang, pertanyaan berikutnya menjadi semakin penting: apakah Batam juga mampu membuat mereka betah?
Ini membawa kita kepada perbedaan antara kota yang menarik dan kota yang nyaman. Kota yang menarik membuat orang datang. Kota yang nyaman membuat orang tinggal. Selama ini ukuran keberhasilan Batam lebih sering diletakkan pada sisi pertama. Kita bicara tentang investasi, kawasan industri, pertumbuhan ekonomi, pelabuhan, perdagangan, lapangan pekerjaan, pembangunan infrastruktur, dan konektivitas. Semua itu penting karena memang menjadi alasan orang datang.
Tetapi kehidupan kota tidak berhenti pada alasan seseorang datang. Setelah pekerjaan diperoleh, bagaimana ia menjalani hidupnya? Berapa lama ia menghabiskan waktu di jalan? Apakah ia mampu membeli atau menyewa rumah yang layak? Bagaimana kualitas lingkungan tempat tinggalnya? Apakah anaknya mendapatkan sekolah yang baik? Apakah keluarganya memperoleh layanan kesehatan yang mudah dijangkau? Apakah tersedia ruang publik? Apakah kota aman? Apakah biaya hidup masih sebanding dengan penghasilan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membawa kita pada gagasan livable city, atau kota layak huni. Dalam pendekatan kota layak huni, kota tidak hanya dipandang sebagai mesin ekonomi. Kota adalah tempat manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Karena itu, kualitas lingkungan, mobilitas, hunian, pelayanan dasar, kesehatan, pendidikan, keamanan, ruang publik, kondisi ekonomi, dan kehidupan sosial menjadi bagian dari ukuran kualitas sebuah kota.
Badan Pusat Statistik sendiri memiliki berbagai indikator untuk melihat kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat Kota Batam 2024, misalnya, menghimpun data dari Susenas, Sakernas, serta sumber-sumber lainnya untuk menggambarkan kondisi kesejahteraan masyarakat Batam.
Maka menarik jika Batam tidak hanya ditanya: berapa banyak orang yang datang? Kita juga perlu bertanya: mengapa mereka datang, siapa yang datang, siapa yang pergi, dan seperti apa kehidupan mereka setelah tinggal di Batam?
Sebab kota yang berhasil menarik manusia menghadapi konsekuensi yang tidak kecil.
Lebih banyak penduduk berarti lebih banyak rumah. Lebih banyak pekerja berarti lebih banyak perjalanan. Lebih banyak kendaraan berarti tekanan terhadap jalan. Penduduk yang bertambah membutuhkan sekolah, rumah sakit, air, listrik, ruang terbuka, transportasi publik, dan berbagai pelayanan dasar.
Dengan kata lain, daya tarik kota dapat menjadi sumber persoalan kenyamanan apabila kapasitas kota tidak tumbuh seiring dengan pertumbuhan manusianya.
Di sinilah Batam menghadapi ujian berikutnya. Kota ini sudah membuktikan bahwa ia mampu menarik orang. Data 2024 bahkan menunjukkan betapa deras arus manusia yang masuk dan keluar. Secara administratif, jumlah yang masuk jauh lebih besar daripada yang keluar. Tetapi angka itu belum menjawab pertanyaan tentang kualitas kehidupan mereka.
Apakah pendatang yang tiba di Batam menemukan pekerjaan yang sesuai dengan harapannya? Apakah mereka mampu memperoleh hunian yang layak? Apakah mereka dapat mengirim anak ke sekolah yang baik? Apakah perjalanan sehari-hari mereka nyaman? Apakah lingkungan tempat tinggalnya sehat? Apakah mereka merasa aman?
Dan yang paling sederhana: setelah tinggal beberapa tahun di Batam, apakah mereka masih ingin tinggal di sana?
Pertanyaan terakhir itulah yang membuat cerita tentang pengemudi taksi online tadi menjadi penting. Ia dan istrinya datang dari Pekanbaru dengan kehidupan yang belum sepenuhnya mapan. Ia bekerja di perusahaan ekspedisi dan mencari tambahan penghasilan. Istrinya masih mencari pekerjaan. Mereka belum memiliki semua jawaban tentang masa depan.
Tetapi mereka sudah memilih Batam. Pilihan satu keluarga kecil itu tentu tidak dapat dijadikan bukti bahwa Batam adalah kota yang nyaman. Tetapi bersama puluhan ribu keputusan serupa yang tercermin dalam statistik kependudukan, ia memberi kita alasan untuk melihat Batam dari sudut yang berbeda.
Selama ini kita bertanya apakah Batam berhasil menarik investasi. Mungkin sudah waktunya kita bertanya apakah Batam berhasil menarik dan mempertahankan manusia. Sebab ukuran kota yang baik tidak cukup hanya dengan melihat berapa banyak modal yang masuk, berapa banyak industri berdiri, atau berapa banyak penduduk bertambah.
Kota pada akhirnya adalah tempat manusia menghabiskan hidupnya. Batam sudah lama menjadi kota yang mengundang orang datang. Pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit: apakah Batam juga membuat mereka betah? Sebab kota yang menarik membuat orang datang. Kota yang nyaman membuat orang tinggal. Dan kota yang baik adalah kota yang mampu melakukan keduanya. []
