Berpuisi sebagai Ekspresi, Lalu Komunikasi

Di sinilah kerja kepenyairan dimulai. Rasa menjadi kata. Kata menjadi citraan. Citraan menemukan hubungan dengan kata-kata lain. Bunyi mulai bekerja. Irama terbentuk. Ada yang dibuang. Ada yang dipertahankan. Ada kata yang diganti karena terlalu menjelaskan. Ada kalimat yang dipotong karena terlalu banyak berbicara.

Oleh Hasan Aspahani

Berpuisi itu mula-mula adalah ekspresi. Lalu komunikasi. Bayangkan seorang bayi. Ketika lapar, haus, kedinginan, mengantuk, atau ketika popoknya sudah jenuh, ia belum memiliki kata-kata untuk mengatakan apa yang dirasakannya. Ia menangis. Ia menggeliat. Ia menunjukkan gerak yang tidak nyaman.

Tangis dan gerak itu mula-mula hanyalah ekspresi. Tubuh menyatakan sesuatu yang dirasakan tubuh. Tetapi bagi orang yang merawatnya, ekspresi itu segera berubah menjadi komunikasi. Sang pengasuh membaca tangis itu sebagai tanda: bayi lapar, haus, ingin digendong, atau perlu diganti popoknya.

Di situlah barangkali kita bisa menemukan asal paling sederhana dari bahasa, dan sekaligus dari puisi.

Menulis puisi dapat kita lakoni seperti itu. Ada sesuatu yang bergerak di dalam diri kita: kegelisahan, kesedihan, kemarahan, kerinduan, kegembiraan, rasa kehilangan, rasa takjub, atau sesuatu yang bahkan belum kita kenali namanya. Sesuatu itu mendesak untuk keluar. Lalu kita menulis.

Pada tahap ini puisi adalah ekspresi. Ia adalah cara kita memberi bentuk kepada sesuatu yang sebelumnya hanya berupa rasa. Yang tadinya kabur menjadi sedikit lebih terang. Yang tadinya hanya sesak di dada mendapatkan ruang di atas kertas.

Karena itu, sering kali kita menulis puisi bukan karena kita sudah tahu apa yang hendak kita katakan, melainkan justru karena kita belum tahu. Puisi adalah salah satu cara untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diri kita.

Kita menulis sebuah baris, lalu baris berikutnya. Kita memilih sebuah kata, menggantinya dengan kata lain. Kita menemukan sebuah perbandingan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Tiba-tiba kita menyadari: oh, ternyata beginilah perasaan saya.

Dalam pengertian itu, menulis puisi bukan sekadar menyampaikan sesuatu yang sudah selesai kita pikirkan. Menulis puisi juga merupakan proses berpikir dan merasa.

Tetapi puisi tidak berhenti sebagai ekspresi. Begitu sebuah puisi keluar dari diri penyair dan hadir sebagai bahasa, ia berpotensi menjadi komunikasi. Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik.

Tidak semua tangisan dapat dimengerti. Tidak semua gerak dapat dibaca. Demikian pula tidak semua ekspresi yang dituliskan otomatis menjadi puisi yang dapat dialami oleh orang lain.

Kita bisa menulis, misalnya: Aku sangat sedih karena kau pergi. Kalimat itu jujur. Mungkin juga sangat penting bagi kita. Tetapi pembaca belum tentu mengalami kesedihan yang sama. Ia hanya menerima informasi tentang kesedihan kita. Puisi bekerja dengan cara yang berbeda. Penyair tidak sekadar memberi tahu bahwa ia sedih. Ia mencari bentuk bahasa yang memungkinkan pembaca merasakan kesedihan itu, bahkan mungkin menemukan kesedihannya sendiri di dalamnya.

Maka persoalan puisi bukan hanya: apa yang saya rasakan? Persoalan berikutnya adalah: bagaimana membuat apa yang saya rasakan itu dapat dialami oleh orang lain? Di situlah ekspresi bertemu dengan komunikasi.

Kalau kita mau mengaitkannya dengan apa yang pernah dikatakan Rendra yang saya sebut sebagai ‘tugas penyair’, kita bisa melihat bahwa “hewan terluka yang menuntut kita memberi kesaksian” itu, pada mulanya, mungkin justru adalah diri kita sendiri. Ada sesuatu yang terluka di dalam diri. Ada sesuatu yang menuntut untuk disuarakan. Kita tidak tahan menyimpannya. Kita mencari kata-kata untuk jeritan itu.

Tetapi penyair tidak boleh berhenti pada jeritannya sendiri. Sebab jika puisi hanya menjadi laporan tentang pengalaman pribadi penyair, pembaca akan berhadapan dengan sebuah pengalaman yang bukan miliknya. Ia bisa memahami, tetapi belum tentu ikut mengalami.

Di sinilah saya kira penting gagasan Subagio Sastrowardoyo tentang nilai puisi: puisi justru menjadi penting ketika penyair, dengan berangkat dari kejujuran pengalaman personalnya, berhasil melepaskan tautannya dari diri sendiri. Ini terdengar seperti paradoks. Puisi harus sangat personal untuk bisa menjadi universal. Penyair harus berangkat dari dirinya sendiri, tetapi ia tidak boleh terkurung di dalam dirinya sendiri.

Kesedihan yang terlalu pribadi harus menemukan bentuk yang memungkinkan orang lain mengenali kesedihannya sendiri. Cinta yang sangat personal harus menemukan bahasa yang membuat orang lain berkata, “Saya pernah merasakan ini.” Kehilangan yang hanya dialami oleh seorang penyair harus berubah menjadi pengalaman tentang kehilangan yang dapat dimiliki siapa saja.

Dengan kata lain, penyair membawa sesuatu yang bersifat aku menuju wilayah kita.

Bagaimana perpindahan itu terjadi? Salah satu jawabannya adalah melalui bahasa puitik. Puisi memiliki perangkat-perangkatnya sendiri: metafora, citraan, bunyi, irama, repetisi, enjambemen, simbol, paradoks, perbandingan, dan berbagai kemungkinan lain yang disediakan bahasa.

Perangkat itu bukan sekadar hiasan. Ia adalah cara puisi mengubah pengalaman pribadi menjadi pengalaman yang dapat dibagikan. Seorang penyair mungkin kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Ia bisa menulis berlembar-lembar tentang siapa yang meninggal, kapan kematian itu terjadi, bagaimana perpisahan berlangsung. Semua itu benar.

Tetapi sebuah citraan yang tepat kadang mampu melakukan sesuatu yang lebih jauh daripada seribu penjelasan. Misalnya, penyair menemukan gambar sebuah kursi kosong di meja makan. Kursi itu bukan lagi sekadar kursi. Ia menjadi tanda kehilangan. Dan karena hampir setiap orang pernah berhadapan dengan ruang kosong yang ditinggalkan seseorang, pengalaman personal itu perlahan membuka pintu menuju pengalaman universal.

Inilah salah satu keajaiban puisi: hal yang sangat kecil dan sangat pribadi dapat membuka pengalaman yang sangat luas. Secangkir kopi yang dingin. Sepasang sandal di depan pintu. Bau pakaian seseorang yang sudah tiada. Suara telepon yang tidak pernah lagi berbunyi. Sebuah nama yang tiba-tiba kita dengar di jalan.

Benda-benda sederhana itu dapat menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih besar daripada diri penyair.Karena itu, universalitas dalam puisi tidak selalu dicapai dengan berbicara tentang hal-hal yang besar. Justru sering kali sebaliknya. Yang universal ditemukan melalui detail yang konkret.

Maka kejujuran menjadi penting, tetapi kejujuran saja tidak cukup. Penyair memang harus jujur terhadap apa yang dirasakannya. Tetapi puisi bukan buku harian yang diberi potongan-potongan baris. Pengalaman pribadi harus mengalami proses pengolahan.

Di sinilah kerja kepenyairan dimulai. Rasa menjadi kata. Kata menjadi citraan. Citraan menemukan hubungan dengan kata-kata lain. Bunyi mulai bekerja. Irama terbentuk. Ada yang dibuang. Ada yang dipertahankan. Ada kata yang diganti karena terlalu menjelaskan. Ada kalimat yang dipotong karena terlalu banyak berbicara.

Penyair perlahan mengambil jarak dari pengalaman yang semula begitu dekat dengannya. Dan jarak itu penting. Ketika kita terlalu dekat dengan luka, kita hanya mampu berteriak. Ketika kita mulai mengambil jarak, kita mungkin dapat mendengarkan gema dari teriakan itu. Pada titik itulah pengalaman pribadi mulai berubah menjadi bahasa. Dan ketika bahasa itu berhasil menemukan bentuknya, pembaca dapat masuk ke dalamnya.

Jadi, menulis puisi barangkali dapat kita bayangkan sebagai perjalanan tiga tahap. Pertama, kita merasa. Ada sesuatu yang terjadi di dalam diri. Kita mengalami kegelisahan, kegembiraan, cinta, kehilangan, kemarahan, atau keterpesonaan. Kedua, kita mengucapkan. Kita mencari kata-kata. Kita menulis. Kita mencoba memberikan bentuk kepada sesuatu yang sebelumnya hanya tinggal sebagai pengalaman batin. Ketiga, kita membagikan. Puisi meninggalkan diri penyair. Ia menjadi milik bahasa dan kemudian, ketika dibaca, menjadi milik pembaca. Pada tahap terakhir inilah puisi menemukan kemungkinan terbesarnya.

Penyair mungkin menulis tentang ibunya, tetapi pembaca menangis mengingat ibunya sendiri. Penyair mungkin menulis tentang sebuah kota yang ditinggalkannya, tetapi pembaca tiba-tiba teringat kampung halamannya. Penyair mungkin menulis tentang seorang kekasih yang pergi, tetapi pembaca menemukan kembali seseorang yang sudah lama berusaha dilupakannya.

Di situ terjadi sesuatu yang indah: pengalaman yang semula hanya milik satu orang menjadi pengalaman banyak orang. Puisi telah bergerak dari ekspresi menuju komunikasi. Dan mungkin, pada akhirnya, itulah salah satu alasan mengapa kita terus menulis puisi. Bukan hanya untuk mengatakan, “Inilah yang saya rasakan.” Melainkan untuk membuka kemungkinan yang lebih jauh: “Barangkali apa yang saya rasakan ini juga pernah, sedang, atau akan dirasakan olehmu.” Puisi dimulai dari jerit seorang manusia. Tetapi ia menjadi puisi ketika jerit itu menemukan bahasa yang membuat manusia lain merasa: itu juga jeritku. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *