Di mana ada kegelisahan di situ sajak-sajak dituliskan. Juga di Batam. Saya mengenal Zainal Plong sebagai perupa yang konsiten. Jalur rupa ia tempuh untuk mengekspesikan kegelisahannya, terkait apa yang ia lihat dan rasakan di Batam, kota yang ia pilih sebagai rumah setelah meninggalkan Jepara.
Eksplorasi karyanya berupa karya dwimatra dan trimatra – masih tersimpan lebih dari 500 karya di studio dan rumahnya di Bengkong – harusnya lebih banyak diapresiasi. Tapi potensi seni rupa di Batam memang bak batang terendam, belum terangkat sepenuhnya. Dan itulah kegelisahannya sejak mulai berkaya di awal tahun 2000-an.
Karena satu dan lain hal, hubungan kami terputus dan tersambung. Saya berpindah kota, dia tetap di Batam dan – diam-diam dia ternyata juga menulis puisi. Ketika dia mengontak saya lewat perpesanan media sosial – dan kami kemudian menuntaskannya dengan ngopi di Pondok Kopi, sebuah kedai kopi baru di Batam Center, dia menyodorkan dua naskah puisi. Satu bernada protes yang kental, satunya lagi imajis liris, seperti dua sisi yang keduanya ia butuhkan, satu suara bersaksi seperti Rendra satunya lagi jiwa bernyanyi ala Tatengkeng.
Yang segera terasa dalam puisi-puisinya adalah ya kegelisahan itu. Dia tak bisa diam untuk tidak menyuarakan kesaksian, seperti kata Rendra, agar kehidupan terjaga. Karena itu ia layak kita dengar. Dari titimangsa puisinya, kita tahu Romozh WG alias Zainal Plong telah menulis puisi sejak 1999. Dia bukan penyair yang menulis baru kemarin sore. Saya pilih empat puisi berikut ini sebagai bocoran, sebelum bukunya terbit. (Hasan Aspahani)
RACUN SEDARAH
Sajak Romozh WG
Dalam belai kasih yang sama, satu aliran darah
tak lagi menjadi benteng, bukan belati tajam
satu akar, satu dahan, tumbuh dari tanah yang sama
mengapa tuba ganas mengalir dari dalam
tak ada kata, perlahan dendam tersimpan
manis senyum di pelupuk mata
meludah bengis belakang punggung
berubah jadi api membakar dada
tangan seharusnya menopang jatuh
sahaja mendorong ke jurang terjal
Luka terasa lebih perih
saat datang dari orang terkasih
racun sedarah tak mematikan seketika
namun perlahan menggerus hati
Darah tetap merah
luka mendalam semakin kambuh
sakit yang tertinggal takkan mudah sembuh
racun sedarah, tinggalkan luka yang abadi
Kepri, 2024
TUTUR JIWA
Sajak Romozh WG
Tanpa suara, namun jauh bergema
menembus sunyi, menyapa jantung hati
bukan dari kata, bukan dari lisan tutur
jiwa berbisik apa adanya
tak butuh bahasa yang indah
tak butuh rangkaian pikat kata
hanya getar tulus dari dalam
yang memahami tanpa penjelasan
saat riuh rendah bising dunia
ia tetap teguh dan tenang
menjadi pelita dalam gelap
menjadi obat saat hati terluka
Dengarlah dalam hening
ada bisik lirih yang tak kan pernah berdusta
ia adalah kebenaran yang abadi
tutur jiwa adalah cermin sejati
Kepri, 2025
PECAH SERIBU
Sajak Romozh WG
Hati pecah seribu keping cahaya
berjatuhan bagai kerlip bintang patah
tak sepotong pun utuh tersisa
hanya luka yang tak berdarah di dada
Setiap serpih menyimpan rindu sunyi
yang tak sempat terangkai menjadi kata
luruh bersama harapan yang tak bertepi
menyatu dalam kelam tanpa jejak asa
Tak ada jemari yang mampu merangkai
kepingan jiwa yang telah terbelah mati
pecah seribu, takkan pernah kembali
menjadi utuh seperti awal semesta
Kepri 2025
SECANGKIR KOPI BERSAMA UBI SETENGAH MATANG
Sajak Romozh WG
Secangkir kopi bersama ubi setengah matang
dari hasil petaniku yang cemas
Kecemasan dari mahalnya harga beli
setengah matang dari hukum yang tebang pilih
kejujuran dirayu seikat janji-janji
Ubi jalar setengah matang
seperti hukum di negeri ini
menjalar tersangkut di sudut tenggorokan
mencekik leher sesak nafas setengah mati
Pematang tanah kelahiran kering pecah-pecah
terpancang sombong beton baja liar
Tak subur lagi ubi jalarku kini
buas dirusak mental babi liar,
merenggut hijau pohon kehidupan
Harapan tumbuh kerdil, petaniku menggigil
Lumbung padi kosong
ulah ganas hama binatang negeri
Lesung petani tiarap, tak ada tanda nada riang
mimpi generasi pun luruh, buah kebijakan raja jadi-jadian
Bersama ubi setengah matang
kami menggali kebiadaban tentangmu
Suka cita diantara pusaran gelisah,
kenyang pusar perutmu adalah derita lembah laparku
Bisik rayu jilat lidah beracun,
ratap tangis rakyat tersungkur dan sekarat
Bisik gula-gula madu penghianat, derita rakyat di kejar-kejar pajak
Salah benar adalah keseimbangan,
namun dosa raja siluman melebihi timbangan
Secangkir kopi,
bersama harapan usang
Letih pertiwi,
lelah bergumam tentang kejujuran
Jujur berjajar, di tengah ribuan para koruptor, Kolaborasi, rupanya kotor
Kepri, 2011
