Batam Berbenah: Jalan yang Dibangun, Kota yang Bergerak

Batam memang membutuhkan jalan. Tetapi Batam juga membutuhkan cara berpikir yang lebih luas tentang mobilitas: bagaimana kendaraan bergerak, bagaimana manusia bergerak, bagaimana kawasan saling terhubung, bagaimana transportasi umum berkembang, bagaimana pejalan kaki mendapatkan tempat, dan bagaimana data digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Oleh Hasan Aspahani

Batam sedang berbenah. Salah satu wajah pembenahan itu terlihat dari pembangunan dan peningkatan sejumlah ruas jalan. Dari 19 pekerjaan yang dikerjakan, 12 di antaranya disebut telah rampung. Bagi kota yang terus berkembang seperti Batam, pembangunan jalan tentu bukan perkara kecil. Jalan menjadi urat nadi yang menghubungkan kawasan permukiman, pusat perdagangan, kawasan industri, pelabuhan, bandara, dan berbagai pusat aktivitas warga. Jalan yang baik membuat orang dan barang bergerak lebih mudah, dan pada akhirnya ikut menentukan bagaimana kehidupan ekonomi sebuah kota berlangsung.

Tetapi setelah sebuah jalan selesai dibangun, ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah proyeknya telah rampung. Apakah Batam kemudian menjadi kota yang lebih mudah dijalani?

Pertanyaan ini membawa kita sedikit keluar dari bahasa proyek. Sebuah jalan bisa selesai secara fisik, tetapi persoalan mobilitas kota belum tentu selesai bersamanya. Jalan yang diperlebar di satu tempat mungkin membuat kendaraan lebih lancar, tetapi beberapa ratus meter kemudian arus kembali tersendat. Sebuah persimpangan diperbaiki, tetapi kemacetan justru berpindah ke persimpangan berikutnya. Ruas jalan baru dibangun, tetapi waktu perjalanan warga tidak banyak berubah karena persoalannya berada di bagian lain dari jaringan jalan.

Sebab warga tidak menggunakan jalan secara terpisah-pisah. Mereka menggunakan jaringan jalan. Seseorang berangkat dari rumah melalui jalan lingkungan, masuk ke jalan utama, melewati persimpangan, kemudian menuju tempat kerja atau pusat kegiatan. Dalam perjalanan itu ia berhadapan dengan kendaraan lain, lampu lalu lintas, parkir, angkutan umum, pejalan kaki, dan berbagai kondisi lainnya. Yang dirasakan warga bukan kualitas satu ruas jalan, melainkan kualitas perjalanan secara keseluruhan.

Karena itu, pembangunan jalan sebaiknya dilihat sebagai bagian dari sistem mobilitas kota.

Batam mempunyai alasan yang kuat untuk terus memperbaiki sistem tersebut. Sebagai kota industri, perdagangan dan jasa yang berkembang, mobilitas merupakan salah satu syarat utama kehidupan ekonominya. Kawasan industri, permukiman, pusat perdagangan, pelabuhan dan bandara membutuhkan konektivitas yang baik. Pertumbuhan kota akan selalu diikuti pertumbuhan pergerakan manusia dan barang.

Namun di sinilah tantangannya. Semakin banyak jalan tidak otomatis berarti semakin lancar sebuah kota.

Ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah kapasitas jalan. Ketika satu ruas diperlebar, misalnya, arus kendaraan yang lebih besar dapat mengalir ke ruas lain yang kapasitasnya tidak berubah. Ketika sebuah kawasan berkembang, pola perjalanan warganya pun ikut berubah. Karena itu, persoalan kemacetan sesungguhnya bukan hanya persoalan lebar jalan, melainkan bagaimana seluruh jaringan mobilitas bekerja sebagai sebuah sistem.

Maka pembangunan jalan di Batam menarik untuk dibaca dalam perspektif yang lebih panjang. Untuk kota seperti apa jalan-jalan itu sedang dibangun?

Apakah pembangunan tersebut terutama untuk mengatasi kemacetan yang sudah terjadi? Untuk membuka akses ke kawasan baru? Untuk memperlancar hubungan antara kawasan industri dan permukiman? Atau sekaligus untuk mengantisipasi pertumbuhan Batam pada tahun-tahun mendatang?

Jawaban atas pertanyaan itu penting karena jalan yang dibangun hari ini akan digunakan jauh setelah proyeknya selesai. Batam akan terus bertambah penduduk, aktivitas ekonomi akan berubah, kawasan baru akan tumbuh, dan pola perjalanan warga akan berkembang. Dengan demikian, pembangunan jalan sebenarnya selalu merupakan keputusan tentang masa depan kota.

Ada satu hal lain yang juga perlu kita bicarakan: siapa yang sebenarnya menggunakan jalan?

Pemandangan jalan kota memang didominasi mobil dan sepeda motor. Tetapi kota juga dihuni pejalan kaki, pengguna sepeda, anak sekolah, orang lanjut usia, penyandang disabilitas, pekerja yang menggunakan transportasi umum, serta warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Jalan yang baik karena itu bukan hanya jalan yang memungkinkan kendaraan bergerak lebih cepat. Ia juga harus memungkinkan manusia bergerak dengan aman dan nyaman.

Trotoar, penyeberangan, pencahayaan, halte, akses bagi penyandang disabilitas, dan keselamatan di persimpangan bukan sekadar pelengkap. Semuanya merupakan bagian dari infrastruktur mobilitas kota.

Mungkin karena itu kita perlu mengubah sedikit cara bertanya tentang pembangunan jalan. Kita sering bertanya, “Berapa lebar jalannya?” atau “Berapa kilometer jalan yang dibangun?” Padahal warga mungkin lebih berkepentingan dengan pertanyaan lain: berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk perjalanan setiap hari?

Seorang pekerja mungkin tidak terlalu peduli berapa meter jalan diperlebar. Yang ia rasakan adalah apakah ia bisa sampai ke tempat kerja lebih cepat. Orang tua tidak terutama memikirkan spesifikasi jalan. Mereka ingin tahu apakah anaknya dapat pergi dan pulang sekolah dengan aman. Pelaku usaha tidak hanya membutuhkan jalan yang bagus, tetapi juga kepastian bahwa barang dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa terlalu banyak kehilangan waktu.

Di sini ukuran keberhasilan pembangunan perlu bergeser dari output menuju outcome. Panjang jalan yang dibangun adalah output. Waktu perjalanan yang berkurang adalah outcome. Drainase yang diperbaiki adalah output. Berkurangnya gangguan terhadap aktivitas warga akibat genangan adalah outcome. Dengan cara pandang ini, pembangunan tidak berhenti pada pertanyaan apakah pekerjaan telah selesai, tetapi berlanjut pada pertanyaan apa yang berubah setelah pekerjaan itu selesai.

Untuk mengetahui perubahan tersebut, kota membutuhkan data. Pemerintah perlu mengetahui bagaimana warga bergerak dari waktu ke waktu: dari kawasan mana mereka berangkat, ke mana mereka pergi, kapan kepadatan terjadi, di mana kendaraan berhenti terlalu lama, di mana kecelakaan berulang, dan bagaimana hubungan antara kawasan permukiman dengan kawasan industri.

Data semacam itu memungkinkan pemerintah tidak hanya mengetahui di mana masalah terjadi, tetapi juga memahami mengapa masalah itu terjadi.

Di sinilah teknologi dapat membantu. Sistem pemantauan lalu lintas, kamera, sensor, dan berbagai sumber data dapat memberikan gambaran yang lebih hidup mengenai pergerakan kota. Tetapi teknologi bukan jawabannya sendiri. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan pemerintah membaca data tersebut, menghubungkannya dengan pengalaman warga, lalu menggunakannya untuk mengambil keputusan.

Sebab kota adalah sistem yang terus berubah. Intervensi di satu tempat dapat menimbulkan akibat di tempat lain. Jalan yang diperbaiki dapat mengubah arus lalu lintas. Kawasan baru dapat menciptakan perjalanan baru. Pusat kegiatan yang berkembang dapat menambah beban pada jaringan di sekitarnya. Karena itu, setiap pembangunan infrastruktur seharusnya tidak dianggap sebagai cerita yang selesai ketika pekerjaan konstruksi berakhir.

Justru setelah proyek selesai, kota seharusnya mulai belajar.

Apakah waktu perjalanan berubah? Apakah kemacetan berkurang? Apakah muncul titik perlambatan baru? Apakah keselamatan meningkat? Apakah warga benar-benar merasakan manfaatnya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting agar setiap proyek tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga menghasilkan pengetahuan bagi pembangunan berikutnya.

Dengan begitu, pembangunan kota tidak berhenti pada pola masalah–proyek–selesai. Ia berkembang menjadi sebuah siklus: masalah, data, diagnosis, intervensi, pengukuran, evaluasi, lalu perbaikan.

Kabar tentang 12 proyek jalan yang telah rampung karena itu bisa kita baca lebih jauh daripada sekadar daftar pekerjaan pemerintah. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan mobilitas Batam.

Batam memang membutuhkan jalan. Tetapi Batam juga membutuhkan cara berpikir yang lebih luas tentang mobilitas: bagaimana kendaraan bergerak, bagaimana manusia bergerak, bagaimana kawasan saling terhubung, bagaimana transportasi umum berkembang, bagaimana pejalan kaki mendapatkan tempat, dan bagaimana data digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pembangunan jalan bukan hanya soal aspal, beton, lebar ruas, atau panjang kilometer. Jalan adalah tentang waktu manusia.

Tentang berapa lama seorang pekerja berada di perjalanan. Tentang seberapa cepat barang sampai ke tujuan. Tentang apakah seorang anak dapat berjalan ke sekolah dengan aman. Tentang apakah seseorang dapat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain tanpa kehilangan terlalu banyak waktu dan tenaga.

Karena itu, ketika Batam membangun jalan, sesungguhnya Batam sedang membangun cara warganya menjalani kota. Maka pertanyaan yang paling menarik bukan lagi sekadar, “Berapa jalan yang sudah dibangun?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Setelah jalan-jalan itu dibangun, seperti apa pengalaman warga ketika bergerak di dalam kotanya?”

Di situlah kita bisa mulai mengukur apakah Batam benar-benar sedang berbenah, bukan hanya karena infrastrukturnya bertambah, tetapi karena kotanya menjadi lebih mudah, lebih aman, dan lebih nyaman untuk dijalani. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *