Pertumbuhan 7,28 Persen, Apa Artinya bagi Warga Batam?

Di sinilah pertumbuhan 7,28 persen menjadi lebih menarik untuk dibaca. Batam tidak hanya membutuhkan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga pekerjaan yang sesuai dengan perubahan struktur ekonominya.

Ringkasan:

  • Ekonomi Batam tumbuh 7,28 persen, tetapi pertumbuhan baru bermakna jika membuka lebih banyak kesempatan bagi warga.
  • Investasi perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan, peningkatan keterampilan, pendapatan, dan peluang bagi usaha lokal.
  • Ukuran keberhasilan pertumbuhan bukan hanya angka ekonomi, tetapi seberapa jauh ia memperbaiki kehidupan warga dan kualitas kota.

Oleh Hasan Aspahani

Ada angka yang layak mendapat perhatian: 7,28 persen. Ekonomi Batam tumbuh sebesar itu pada Triwulan II 2026 secara year-on-year, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen dan nasional 5,29 persen. Industri, investasi, perdagangan, dan jasa menjadi bagian penting dari gerak ekonomi tersebut.

Angka itu tentu kabar penting. Ia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Batam sedang bergerak kuat. Tetapi setelah angka tersebut diumumkan, ada pertanyaan lain yang menurut saya justru lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apa artinya pertumbuhan 7,28 persen itu bagi warga Batam?

Pertanyaan ini penting karena warga tidak hidup di dalam angka pertumbuhan ekonomi. Mereka hidup dari pekerjaan, pendapatan, harga kebutuhan sehari-hari, rumah, listrik, air, transportasi, pendidikan dan layanan kesehatan. Karena itu, pertumbuhan ekonomi baru mempunyai makna sosial ketika peningkatan aktivitas ekonomi itu menemukan jalan menuju kehidupan masyarakat.

Hubungannya memang ada, tetapi tidak otomatis.

Ekonomi yang tumbuh berarti nilai barang dan jasa yang dihasilkan meningkat. Tetapi pertumbuhan itu perlu diterjemahkan lebih jauh: apakah investasi menghasilkan kegiatan produksi baru? Apakah kegiatan produksi menciptakan pekerjaan? Apakah pekerjaan tersebut menghasilkan pendapatan yang cukup? Apakah pendapatan itu meningkatkan daya beli dan kualitas hidup? Apakah usaha kecil ikut memperoleh pasar dari aktivitas ekonomi yang semakin besar?

Dengan kata lain, kita perlu melihat perjalanan pertumbuhan itu dari hulu sampai hilir. Investasi → kegiatan usaha → pekerjaan → pendapatan → konsumsi → kualitas hidup. Kalau rantai itu berjalan dengan baik, pertumbuhan ekonomi akan semakin terasa di tingkat rumah tangga.

Batam mempunyai modal yang cukup besar untuk itu. Pada Semester I 2026, realisasi investasi dilaporkan mencapai Rp29,89 triliun, meningkat 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,37 triliun. Pemerintah Kota Batam menyebut investasi tersebut sebagai salah satu indikator menguatnya posisi Batam sebagai kawasan industri, perdagangan dan investasi.

Tetapi investasi juga bukan tujuan akhir. Investasi adalah alat untuk menghasilkan kegiatan ekonomi dan memperluas kesempatan. Karena itu, yang perlu kita ikuti bukan hanya berapa rupiah investasi yang masuk, melainkan apa yang terjadi setelah uang itu masuk. Berapa banyak fasilitas produksi yang dibangun? Berapa banyak pekerja yang dibutuhkan? Keterampilan apa yang diperlukan? Berapa banyak perusahaan lokal yang menjadi pemasok? Berapa banyak usaha kecil yang ikut mendapatkan peluang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita kepada persoalan ketenagakerjaan.

Tingkat Pengangguran Terbuka Batam pada 2025 berada di angka 7,57 persen, turun dari 7,68 persen pada 2024 dan 8,14 persen pada 2023. Jadi ada perbaikan, tetapi angka pengangguran tetap menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum berarti seluruh penduduk usia kerja otomatis mendapatkan pekerjaan.

Pemerintah Kota Batam sendiri mengakui adanya persoalan kesesuaian kompetensi. Arus migrasi yang tinggi membuat jumlah pencari kerja bertambah, sementara sebagian pencari kerja belum memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri yang sedang berubah.

Di sinilah pertumbuhan 7,28 persen menjadi lebih menarik untuk dibaca. Batam tidak hanya membutuhkan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga pekerjaan yang sesuai dengan perubahan struktur ekonominya.

Industri bergerak menuju otomatisasi dan manufaktur yang semakin maju. Sektor digital berkembang. Pusat data dan berbagai kegiatan berbasis teknologi masuk. Logistik, perdagangan dan jasa juga berkembang.

Maka persoalannya bukan sekadar menciptakan lapangan kerja, melainkan memastikan warga Batam mempunyai kesempatan untuk naik mengikuti tangga keterampilan.

Seorang lulusan sekolah menengah yang masuk ke industri hari ini seharusnya mempunyai kesempatan meningkatkan kompetensinya. Pekerja yang sudah berpengalaman seharusnya mempunyai jalur untuk memperoleh keterampilan baru. Pendidikan vokasi harus berhubungan dengan kebutuhan industri, bukan berjalan sendiri.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat menjadi proses mobilitas sosial: orang mendapatkan pekerjaan, memperoleh pengalaman, meningkatkan keterampilan, pendapatan meningkat, kemudian kualitas hidup keluarganya ikut membaik.

Tetapi ada satu hal lain yang perlu diperhatikan. Batam bukan hanya kota ekonomi; Batam adalah kota yang dihuni manusia.

Penduduk Batam kini sekitar 1,4 juta jiwa. Artinya, ketika ekonomi tumbuh, yang tumbuh bukan hanya aktivitas pabrik, perdagangan dan jasa. Kebutuhan terhadap rumah, transportasi, air, listrik, sekolah, rumah sakit dan pengelolaan sampah juga ikut meningkat.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus dibaca bersama pertumbuhan penduduk.

Kalau ekonomi tumbuh 7,28 persen tetapi kemacetan semakin berat, air semakin sulit, biaya perumahan semakin tinggi, sekolah tidak mencukupi, dan pengelolaan sampah tertinggal, maka kita perlu bertanya apakah seluruh sistem kota tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Ini bukan berarti pertumbuhan ekonomi menjadi sesuatu yang harus dicurigai. Justru sebaliknya. Pertumbuhan yang tinggi memberi Batam kesempatan lebih besar untuk membiayai dan memperbaiki kotanya.

Yang perlu dipastikan adalah bagaimana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi pembangunan yang mempunyai manfaat luas.

Pemerintah sendiri menghubungkan kemampuan fiskal dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, persampahan hingga penanganan banjir. Artinya, pertumbuhan ekonomi dan kapasitas pembangunan kota memang tidak dapat dipisahkan.

Ada pula indikator sosial yang menunjukkan perubahan positif. Tingkat kemiskinan Batam turun dari 4,85 persen pada 2024 menjadi 3,81 persen pada 2025, sementara Indeks Pembangunan Manusia mencapai 83,80 pada 2025.

Data-data tersebut penting karena membantu kita melihat bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersama perbaikan sejumlah indikator kesejahteraan. Tetapi indikator makro tetap perlu diterjemahkan ke pengalaman sehari-hari warga.

Sebab bagi seorang pekerja, pertanyaan sederhananya mungkin bukan berapa PDRB Batam.

Ia mungkin bertanya: apakah saya mendapat pekerjaan? Bagi keluarga muda: apakah penghasilan saya cukup untuk membayar rumah, makan, transportasi dan sekolah anak? Bagi pelaku usaha kecil: apakah pertumbuhan ekonomi membuka lebih banyak pelanggan? Bagi pekerja industri: apakah saya mempunyai kesempatan meningkatkan keterampilan dan pendapatan? Bagi anak muda yang baru lulus sekolah: apakah ada jalan masuk ke ekonomi Batam yang sedang tumbuh ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat ukuran pertumbuhan ekonomi menjadi lebih manusiawi. Kita memang perlu terus mengejar investasi dan pertumbuhan. Batam membutuhkan ekonomi yang kuat untuk menciptakan pekerjaan, memperluas usaha dan membiayai pembangunan. Tetapi pertumbuhan sebaiknya tidak berhenti sebagai perlombaan angka antarkota atau antarwilayah.

Pertumbuhan harus menjadi jalan untuk memperluas kesempatan. Dan kesempatan itu perlu terlihat di banyak tempat: di kawasan industri, perusahaan jasa, perdagangan, UMKM, sekolah vokasi, pusat logistik, sektor digital, pariwisata, hingga usaha-usaha yang tumbuh dari rumah.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi bukan tujuan yang berdiri sendiri. Ia adalah salah satu cara untuk membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Karena itu, angka 7,28 persen boleh kita catat sebagai kabar baik mengenai kinerja ekonomi Batam. Tetapi pekerjaan kita belum selesai pada saat angka itu diumumkan.

Justru setelahnya pertanyaan yang lebih penting dimulai: Berapa banyak pekerjaan yang tercipta? Siapa yang memperoleh kesempatan? Berapa banyak pendapatan masyarakat yang meningkat? Apakah usaha lokal ikut tumbuh? Apakah keterampilan warga berkembang? Dan apakah kualitas kota ikut membaik?

Di situlah pertumbuhan ekonomi bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Sebab pada akhirnya, warga Batam tidak tinggal di dalam grafik pertumbuhan. Mereka tinggal di sebuah kota. Mereka bekerja di dalamnya, menghidupi keluarganya, menyekolahkan anaknya, menggunakan jalan dan transportasi, membutuhkan air dan listrik, dan berharap kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Maka ukuran paling penting dari pertumbuhan bukan hanya seberapa tinggi ekonomi Batam tumbuh, tetapi juga seberapa luas kesempatan yang dibawa pertumbuhan itu kepada orang-orang yang hidup di dalamnya.[]

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *