Kita membuka sebuah album untuk mengikuti seorang wartawan muda, tetapi tanpa sadar kita ikut bepergian. Kita menyeberangi laut, masuk ke gurun, mendaki pegunungan, menyusuri kota asing, naik kapal, pesawat, mobil, atau kereta api. Kita bertemu manusia dengan bahasa, pakaian, kebiasaan, dan cara hidup yang berbeda.
Oleh Hasan Aspahani
Saya pertama kali membaca Tintin ketika SMA, pada 1988. Seorang kawan sekolah meminjamkan Penerbangan 714. Bahwa Tintin dan kawan-kawannya dengan kombinasi yang aneh itu mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, lalu terdampar di Pulau Komodo, membuat edisi ini terasa sangat istimewa. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika dunia yang selama ini terasa jauh tiba-tiba muncul di tempat yang kita kenal.
Barangkali sejak saat itulah saya memahami, meski tentu belum bisa merumuskannya, bahwa Tintin bukan sekadar cerita tentang petualangan. Ia adalah cara sebuah generasi membayangkan dunia.
Kini, setelah lima belas tahun, Tintin akan kembali ke layar lebar. Pada Mei 2026, di Cannes, Peter Jackson mengonfirmasi bahwa ia sedang mengerjakan film panjang baru tentang petualangan Tintin. Belum ada tanggal tayang yang diumumkan, juga belum diketahui cerita Hergé mana yang akan menjadi dasar film tersebut. Tetapi kabar itu sudah cukup untuk membuat kita menoleh kepada tokoh yang barangkali tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan.
Dulu dunia terasa jauh. Untuk mengetahui seperti apa sebuah tempat di ujung bumi, kita membutuhkan buku, foto, peta, atau cerita. Tintin membawa semua itu dalam bentuk yang lebih menyenangkan: petualangan.
Kita membuka sebuah album untuk mengikuti seorang wartawan muda, tetapi tanpa sadar kita ikut bepergian. Kita menyeberangi laut, masuk ke gurun, mendaki pegunungan, menyusuri kota asing, naik kapal, pesawat, mobil, atau kereta api. Kita bertemu manusia dengan bahasa, pakaian, kebiasaan, dan cara hidup yang berbeda.
Tintin tidak mengajarkan dunia seperti buku pelajaran geografi. Ia mengajak kita pergi ke dalamnya. Ada sesuatu yang sangat khas pada Tintin: ia selalu berangkat.
Sebuah berita membawa persoalan. Sebuah surat mengandung misteri. Seorang teman membutuhkan pertolongan. Sebuah benda menimbulkan pertanyaan. Lalu pertanyaan itu berubah menjadi perjalanan.
Tintin bukan pahlawan berkekuatan super. Yang membawanya dari satu tempat ke tempat lain adalah rasa ingin tahu, keberanian, ketekunan, dan kesediaannya memasuki sesuatu yang belum ia pahami.
Di situlah Tintin terasa dekat dengan dunia kanak-kanak. Anak-anak hidup dalam dunia yang belum selesai dijelaskan. Mereka bertanya tentang segala sesuatu: apa yang ada di balik pintu, ke mana kapal pergi, siapa orang itu, mengapa sesuatu terjadi.
Tintin memberi bentuk kepada rasa ingin tahu tersebut.
Ia mengubah pertanyaan menjadi perjalanan.
Maka petualangan dalam Tintin bukan sekadar rangkaian kejadian yang mendebarkan. Ia adalah latihan imajinasi.
Hergé memahami kekuatan gambar. Kapal, pesawat, mobil, kereta api, pelabuhan, hotel, restoran, laboratorium, pakaian, bangunan, pegunungan, gurun—semuanya digambarkan dengan ketelitian yang membuat dunia Tintin terasa konkret.
Kita merasa sedang melihat dunia, padahal sebenarnya kita sedang melihat representasi tentang dunia.
Sebuah gambar bukan kenyataan, tetapi ia dapat membentuk cara kita membayangkan kenyataan. Sebuah peta bukan wilayah, tetapi peta menentukan bagaimana kita memahami wilayah. Sebuah cerita bukan pengalaman, tetapi ia dapat menjadi dasar bagi pengalaman batin tentang sesuatu yang belum pernah kita alami.
Itulah yang dilakukan Tintin. Sebelum pernah melihat sebuah negeri, kita mungkin sudah mempunyai gambaran tentangnya. Sebelum memasuki gurun atau kota tertentu, kita sudah bisa merasa seolah-olah mengenalnya.
Namun membaca Tintin hari ini tidak mungkin persis sama dengan membacanya ketika kita masih kecil.
Hergé menciptakan Tintin dalam konteks Eropa abad ke-20, sebuah dunia yang dibentuk oleh kolonialisme, nasionalisme, perang, dan berbagai cara pandang terhadap bangsa-bangsa lain. Dalam sejumlah karya awalnya terdapat stereotip dan gambaran tentang masyarakat lain yang hari ini patut kita lihat secara kritis.
Karena itu, Tintin bukan hanya cerita petualangan. Ia juga dokumen tentang cara sebuah zaman memandang dunia.
Ini tidak berarti kita harus berhenti mencintai Tintin. Justru di situlah kedewasaan membaca bekerja. Kita dapat menikmati petualangannya sekaligus memahami sejarah yang berada di belakangnya.
Ketika kecil, kita mungkin bertanya, “Seperti apa negeri itu?” Ketika dewasa, kita dapat bertanya lebih jauh: Mengapa negeri itu digambarkan seperti itu? Dari sudut pandang siapa dunia sedang diceritakan? Dengan pertanyaan tersebut, kita tidak hanya membaca tentang dunia yang dikunjungi Tintin, tetapi juga tentang mata yang melihat dunia.
Pada 2011, dunia Tintin mengalami perjalanan lain: dari halaman komik menuju layar lebar melalui The Adventures of Tintin yang disutradarai Steven Spielberg. Peter Jackson terlibat sebagai produser, dan sejak awal memang direncanakan untuk menangani kelanjutan film tersebut.
Pada 2011, Tintin mengalami perjalanan besar lainnya: dari halaman komik menuju layar lebar melalui The Adventures of Tintin yang disutradarai Steven Spielberg. Peter Jackson menjadi salah satu produsernya, dan sejak awal memang direncanakan untuk menangani kelanjutan film tersebut.
Bagi saya sendiri, film itu memuaskan. Ada rasa lega melihat tokoh-tokoh yang selama ini hidup di halaman buku bergerak di layar tanpa kehilangan semangat petualangannya. Dan rupanya saya tidak sendirian merasakan itu.
Sambutan terhadap film pertama memang cukup baik. Rotten Tomatoes mencatat 75 persen penilaian positif dari kritikus dan 74 persen dari penonton, sementara Metacritic memberinya skor 68 dari 100 berdasarkan 40 kritik, dengan skor pengguna 7,6 dari 10. Roger Ebert bahkan menulis bahwa ia terkejut betapa ia menikmati film tersebut.
Tentu tidak semua orang puas. Ada kritik terhadap film yang dianggap terlalu riuh, terlalu mengandalkan aksi, atau kurang memiliki nuansa sederhana dari komik Hergé. Tetapi secara umum, film itu berhasil membuktikan bahwa Tintin dapat berpindah dari medium komik ke bahasa sinema modern tanpa kehilangan daya tarik petualangannya.
Kini, sekitar lima belas tahun kemudian, Jackson mengonfirmasi bahwa film panjang baru Tintin sedang dikerjakan. Yang menarik bukan hanya rentang waktunya, tetapi perubahan dunia yang akan dimasuki Tintin. Pada zaman Hergé, dunia terasa luas karena informasi terbatas. Pada zaman kita, dunia terasa dekat karena informasi berlimpah. Kita dapat melihat jalan-jalan kota yang belum pernah kita kunjungi, mengikuti kehidupan orang di negeri lain secara langsung, dan mengetahui peristiwa ribuan kilometer jauhnya hampir seketika.
Dulu kita mencari dunia lewat buku. Sekarang dunia datang sendiri ke layar. Lalu, untuk apa kita masih membutuhkan Tintin? Mungkin jawabannya justru terletak pada perbedaan antara melihat dan memahami.
Kita dapat melihat ribuan foto Paris tanpa pernah mempunyai pengalaman tentang Paris. Kita dapat menonton video tentang gurun tanpa pernah merasakan kesunyian gurun. Kita dapat mengetahui nama sebuah negara, melihat petanya, membaca statistik penduduknya, bahkan mengikuti kehidupan seseorang yang tinggal di sana—tanpa sungguh-sungguh memahami manusia yang hidup di dalamnya.
Teknologi membuat dunia tersedia. Cerita membuatnya bermakna. Petualangan membuat kita terlibat di dalamnya. Di sinilah Tintin mungkin masih mempunyai tempat. Ia bukan lagi jendela utama kita menuju dunia. Kita memiliki ribuan jendela lain sekarang. Tetapi ia mengingatkan kita pada cara melihat yang mungkin semakin langka: melihat dengan rasa ingin tahu, bukan sekadar dengan kecepatan; melihat untuk memahami, bukan sekadar untuk mengetahui.
Karena itu, yang menarik dari Tintin 2 bukan hanya pertanyaan apakah film itu akan bagus. Kita belum tahu. Yang sudah kita tahu adalah Peter Jackson sedang mengerjakannya. Pertanyaan yang lebih menarik justru terletak di luar film itu sendiri: Bagaimana seorang tokoh yang lahir dari dunia komik abad ke-20 memasuki dunia abad ke-21? Dunia yang jauh lebih cepat, lebih visual, lebih terhubung, tetapi juga jauh lebih penuh oleh kebisingan informasi.
Apakah Tintin masih bisa membuat kita penasaran? Apakah sebuah petualangan masih bisa membuat kita ingin mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui? Mungkin jawabannya terdapat pada sifat dasar Tintin. Ia selalu berangkat karena ada sesuatu yang belum diketahuinya. Dan manusia, betapapun canggih teknologinya, tetap hidup bersama sesuatu yang belum diketahui.
Mungkin itulah alasan Tintin masih bisa kembali. Bukan karena dunia kekurangan informasi, melainkan karena manusia tidak pernah kehilangan kebutuhan untuk mencari, mengalami, dan memahami sesuatu di luar dirinya.
Tintin mengingatkan kita bahwa dunia bukan sekadar kumpulan nama tempat, gambar, video, data, dan koordinat. Dunia adalah ruang perjumpaan dengan manusia lain, bahasa lain, kebiasaan lain, lanskap lain, dan pengalaman lain.
Mungkin karena itu Tintin tak pernah benar-benar tua. Ia memang berasal dari abad lalu. Tetapi rasa ingin tahunya tidak mengenal tanggal kedaluwarsa. Ketika Peter Jackson kembali membuka pintu petualangan Tintin, yang kita tunggu sesungguhnya bukan hanya seorang wartawan muda dengan jambul aneh, seekor anjing putih, dan kawan-kawan yang selalu membuat kekacauan.
Yang kembali adalah sebuah undangan lama: untuk berangkat, melihat, bertanya, dan menemukan. Sebab dunia boleh berubah. Cara kita melihatnya boleh berubah. Teknologi boleh membuat seluruh bumi berada di telapak tangan. Tetapi selama manusia masih mempunyai rasa ingin tahu, petualangan belum selesai. []
