Yayoi Kusama (1929-2026) dan Seni yang Keluar dari Museum

Pada 27 Agustus 2026, Yayoi Kusama Museum mengumumkan bahwa Kusama telah meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus, dalam usia 97 tahun. Dalam pernyataannya, museum menyebutnya sebagai seniman avant-garde yang berkarya dalam lukisan, patung, instalasi, performance, film, fiksi, dan puisi. Ia bahkan disebut terus melukis sampai hari-hari terakhir hidupnya.

Oleh Hasan Aspahani

Setiap kali datang ke Mal itu saya berusaha memilih rute melewati kordidor yang memungkinkan saya berpapasan dengan sebuah labu kuning besar. Labu itu penuh dengan bulatan-bulatan hitam yang tersebar di seluruh permukaannya. Tidak ada yang perlu menjelaskan siapa pembuatnya. Kita tahu: Yayoi Kusama.

Itulah salah satu ukuran betapa jauhnya pengaruh seorang seniman bisa menjalar. Kita tidak sedang berada di museum seni kontemporer. Kita sedang berjalan di sebuah mal, mungkin sambil mencari tempat makan atau sekadar melihat-lihat toko. Tetapi tiba-tiba sebuah labu kuning bertotol membawa nama seorang seniman Jepang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Di mal itu ada beberapa karya instalasi lain, termasuk Fernando Bottero.

Yayoi Kusama di dalam salah satu instalasi Infinity Mirrored Room, 2013. Penggunaan cermin, cahaya, titik, dan pengulangan membuat tubuh pengunjung menjadi bagian dari karya—sebuah gagasan yang kemudian menjadi salah satu ciri paling berpengaruh dalam seni kontemporer dan budaya visual masa kini. Foto: Mike Segar/Reuters.

Pada 27 Agustus 2026, Yayoi Kusama Museum mengumumkan bahwa Kusama telah meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus, dalam usia 97 tahun. Dalam pernyataannya, museum menyebutnya sebagai seniman avant-garde yang berkarya dalam lukisan, patung, instalasi, performance, film, fiksi, dan puisi. Ia bahkan disebut terus melukis sampai hari-hari terakhir hidupnya.

Maka pertanyaan yang menarik bukan hanya: siapa Yayoi Kusama? Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar perubahan yang ia bawa ke dalam seni kontemporer sehingga seorang seniman avant-garde akhirnya bisa hadir di mal, di museum, di butik mode, di Instagram, dan di ingatan orang yang bahkan tidak pernah belajar sejarah seni?

Dari Titik ke Tak Berhingga

Kusama memulai perjalanan panjangnya jauh sebelum ia menjadi ikon global. Ia lahir di Matsumoto, Jepang, pada 1929. Pada 1957 ia pergi ke Amerika Serikat dan kemudian menetap di New York. Di sana ia memasuki lingkungan seni avant-garde yang sedang bergolak. Ia membuat lukisan, patung, film, performance, happenings, dan berbagai eksperimen yang sulit dimasukkan ke dalam satu kategori seni saja.

Museum MACAN, di Jakarta, ketika mengadakan pameran Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow pada 2018, menelusuri perjalanan tujuh dekade kekaryaan Kusama, mulai dari eksperimen awalnya di Jepang pada 1950-an, periode New York pada 1960-an, hingga karya-karya yang dibuat setelah ia kembali ke Jepang pada 1973. Pameran itu juga memperlihatkan bagaimana polkadot, jaring, dan labu yang kemudian menjadi tanda tangannya sudah muncul dalam perkembangan awal praktik seninya.

Titik-titik itu tampak sederhana. Tetapi justru di situlah kekuatan Kusama. Satu titik adalah satu titik. Ribuan titik menjadi permukaan. Jutaan titik membayangkan sebuah semesta. Kusama berkali-kali menggunakan pengulangan untuk menghilangkan batas antara satu benda dengan benda lain, antara tubuh dengan ruang, antara individu dengan sesuatu yang tak berhingga.

Dalam karya-karyanya, pengulangan bukan sekadar ornamen. Ia menjadi cara berpikir.

Sebelum Instagram, sudah ada Infinity Mirror

Barangkali warisan Kusama yang paling mudah dipahami hari ini adalah Infinity Mirror Room. Pada 1965 ia membuat Infinity Mirror Room—Phalli’s Field. Ribuan bentuk yang sebelumnya ia buat secara manual dengan teknik akumulasi kemudian dipantulkan oleh cermin sehingga menghasilkan pengalaman seolah-olah tak berhingga. Smithsonian’s Hirshhorn Museum menyebut karya tersebut sebagai sebuah terobosan penting: cermin memungkinkan pengulangan yang sebelumnya harus dibuat secara fisik berkembang melampaui batas kemampuan tubuh dan tenaga seniman. Pada saat yang sama, pengunjung menjadi bagian dari karya itu sendiri.

Ini gagasan yang sekarang terasa sangat biasa. Kita masuk ke sebuah ruang. Kita berada di dalam karya. Tubuh kita menjadi bagian dari pengalaman. Kita memotret diri sendiri. Kita membagikannya. Tetapi Kusama sudah memikirkan struktur pengalaman seperti itu pada 1960-an.

Dengan kata lain, Instagram datang puluhan tahun setelah Kusama menemukan sebuah bahasa visual yang ternyata sangat cocok dengan budaya Instagram. Ini sebabnya menyebut Kusama sekadar sebagai “seniman polkadot” terasa sangat tidak adil. Ia sebenarnya ikut mengubah hubungan antara karya seni dan penontonnya. Karya tidak lagi hanya sesuatu yang dilihat dari luar. Karya menjadi ruang yang dimasuki. Pengunjung bukan lagi sekadar penonton. Pengunjung menjadi bagian dari karya.

Seni sebagai Pengalaman

Perubahan itu sangat penting dalam sejarah seni kontemporer. Dalam tradisi seni yang lebih lama, kita berdiri di depan lukisan. Ada jarak antara karya dan penonton. Bahkan ketika seni modern mulai membongkar banyak aturan lama, objek seni masih sering diperlakukan sebagai sesuatu yang berdiri di hadapan kita.

Kusama menggeser persoalannya. Ia membuat ruang yang mengelilingi kita. Cermin, cahaya, titik, bola, pantulan, dan pengulangan membuat kita kehilangan kepastian tentang ukuran ruang dan posisi tubuh kita sendiri.

Museum MACAN menyebut konsep “infinity” atau keadaan tak berbatas sebagai salah satu gagasan kunci dalam kekaryaan Kusama. Infinity Mirrored Room—Brilliance of the Souls (2014), yang menjadi bagian dari koleksi Museum MACAN, adalah salah satu contohnya. Instalasi itu bahkan kembali dipamerkan pada 2025 karena antusiasme pengunjung.

Di sini kita bisa melihat sesuatu yang lebih dalam. Kusama tidak hanya menggambarkan ketakterhinggaan. Ia membuat kita mengalami ketakterhinggaan. Dan pengalaman itu bersifat sangat langsung. Kita tidak perlu memahami teori seni kontemporer terlebih dahulu. Kita masuk, melihat pantulan diri, melihat cahaya berulang, dan tubuh kita tiba-tiba menjadi bagian dari sesuatu yang terasa jauh lebih besar daripada diri sendiri.

Kusama Sudah Mengkritik Pasar Seni sebelum Menjadi Ikon Pasar

Ada ironi besar dalam perjalanan Kusama. Hari ini ia adalah salah satu nama paling terkenal dalam seni kontemporer. Karyanya masuk museum besar, dilelang dengan harga tinggi, direproduksi dalam berbagai bentuk, bahkan masuk ke dunia fashion.

Tetapi sejak awal ia justru kritis terhadap mekanisme dunia seni. Pada Venice Biennale 1966, Kusama menampilkan Narcissus Garden, sebuah instalasi yang terdiri atas sekitar 1.500 bola cermin. Ia bahkan menjual bola-bola itu kepada pengunjung, sambil memasang tanda yang berkaitan dengan narsisisme dan perdagangan seni. Arsip MoMA mencatat bagaimana tindakan tersebut menjadi semacam komentar terhadap komersialisasi seni dan sekaligus usaha membuat seni dapat diakses seperti barang yang dijual di supermarket.

Jadi jauh sebelum karya Kusama menjadi komoditas global, ia sudah mempertanyakan hubungan antara seni, pasar, popularitas, dan konsumsi. Ironinya sempurna. Seniman yang mengkritik komodifikasi seni akhirnya menjadi salah satu merek visual paling kuat dalam budaya global. Tetapi mungkin justru di situlah relevansinya. Kusama tidak melarikan diri dari dunia komersial. Ia membuat bahasa visualnya cukup kuat untuk bertahan di dalamnya.

Dari Avant-garde ke Mal

Inilah bagian yang paling menarik bagi kita yang hidup di Indonesia hari ini. Ketika sebuah labu Kusama muncul di koridor mal, sebenarnya terjadi perpindahan besar: seni keluar dari museum. Labu tidak lagi hanya menjadi objek yang harus dilihat dalam konteks sejarah seni. Ia menjadi ikon yang dapat dikenali oleh masyarakat luas.

Hal yang sama terjadi ketika titik-titik Kusama masuk ke dunia fashion, desain, produk, ruang publik, dan media sosial. Kusama akhirnya menjadi lebih dari seorang seniman. Ia menjadi sebuah bahasa visual. Kita mengenali kuning dengan titik hitam sebagai Kusama sebagaimana kita mengenali bentuk tertentu sebagai Picasso, kotak-kotak Mondrian, atau gambar Campbell’s Soup sebagai Warhol. Tetapi ada perbedaan penting. Kusama berhasil membuat bahasa visual yang sangat kuat sekaligus sangat sederhana. Titik. Jaring. Cermin. Labu. Pengulangan. Cahaya. Itu saja sudah cukup untuk membangun sebuah dunia.

Mengapa Ia Mendunia?

Jawabannya bukan karena ia membuat karya yang “cantik”. Kusama mendunia karena beberapa hal bertemu secara luar biasa. Pertama, ia mempunyai bahasa visual yang langsung dikenali. Kedua, bahasa itu memiliki gagasan yang lebih dalam daripada sekadar dekorasi: pengulangan, ketakterhinggaan, identitas, tubuh, narsisisme, ketakutan, dan keinginan untuk menghilangkan batas antara diri dan dunia. Ketiga, karyanya bersifat imersif. Orang tidak hanya melihatnya, tetapi mengalaminya. Keempat, karya tersebut sangat mudah berpindah dari ruang seni ke budaya populer. Dan kelima, Kusama memiliki kisah hidup yang kuat. Pengalaman psikologis yang sangat personal tidak ia sembunyikan dari praktik seninya. Ia justru mengolah pengalaman itu menjadi bentuk visual yang kemudian dapat dirasakan orang lain. Reuters, dalam laporan kematiannya, mencatat bagaimana Kusama mengubah pengalaman halusinasi sejak masa kanak-kanak menjadi sumber penting bagi bahasa visualnya.

Di titik ini ada sesuatu yang sangat manusiawi. Seorang manusia melihat dunia dengan cara yang sangat berbeda dari kebanyakan orang. Alih-alih berusaha menghapus perbedaan itu, ia mengubahnya menjadi karya. Dan akhirnya jutaan orang melihat dunia melalui matanya.

Jadi, Sepenting Apa Yayoi Kusama?

Mungkin kita bisa menempatkannya begini. Kusama bukan hanya penting karena ia membuat polkadot menjadi terkenal. Ia penting karena ia membantu menggeser seni dari objek menjadi pengalaman. Dari lukisan yang dilihat menjadi ruang yang dimasuki. Dari penonton menjadi peserta. Dari museum menjadi ruang publik. Dari karya tunggal menjadi lingkungan.

Dari bahasa seni yang eksklusif menjadi bahasa visual yang dapat dikenali siapa saja. Dan yang paling menarik: ia melakukan sebagian dari semua itu puluhan tahun sebelum teknologi digital dan media sosial menyediakan ekosistem yang membuat gagasan tersebut menjadi arus utama.

Maka ketika kita berpapasan dengan sebuah labu kuning bertotol di sebuah mal Jakarta, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah patung dekoratif. Kita sedang melihat bagaimana sebuah gagasan avant-garde dari seorang seniman Jepang pada abad ke-20 berhasil menyeberang ke abad ke-21.

Ia menyeberang dari New York ke Tokyo. Dari galeri ke museum. Dari museum ke fashion. Dari fashion ke media sosial. Dari media sosial ke mal. Dan akhirnya masuk ke dalam ingatan visual kita. Mungkin itulah salah satu ukuran paling sederhana untuk mengukur seorang seniman yang benar-benar mengubah zamannya: ketika kita tidak lagi harus pergi ke museum untuk bertemu dengan karyanya. Kita bisa menemukannya ketika sedang berjalan menuju eskalator. []

Artikel Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *