AI bukan lawan jurnalisme. Ia dapat mengambil pekerjaan yang selama ini menyita waktu wartawan, sehingga wartawan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang justru paling bernilai. AI tidak menggantikan wartawan, melainkan membebaskan wartawan untuk benar-benar menjadi wartawan.
Oleh Hasan Aspahani
Ada sesuatu yang menarik jika kita membaca kembali rumusan kegiatan jurnalistik dalam Pasal 1 Angka 1 UU Pers: mencari, menemukan, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyajikan informasi. Enam kata kerja itu selama puluhan tahun menggambarkan pekerjaan sehari-hari wartawan. Wartawan mencari informasi, menemukannya, mengumpulkannya, menyimpan catatan dan dokumen, mengolahnya menjadi berita, lalu menyajikannya kepada publik.
Hari ini, hampir tak satu pun dari enam pekerjaan itu yang tidak tersentuh oleh kecerdasan buatan. AI dapat membantu wartawan mencari informasi dari lautan dokumen. Ia dapat menemukan pola dan hubungan yang luput dari pembacaan manusia. Ia dapat menyimpan dan mengorganisasi arsip dalam jumlah yang nyaris tak terbayangkan. Ia dapat mengolah transkrip, data, dokumen, dan rekaman menjadi ringkasan atau analisis. Ia bahkan dapat menyajikan informasi dalam berbagai bentuk, dari teks dan audio sampai video dan percakapan interaktif.
Dengan demikian, AI tidak sekadar menawarkan alat baru bagi wartawan. Ia mulai masuk ke hampir seluruh rantai kerja jurnalistik. Pertanyaannya kemudian menjadi lebih mendasar: jika semakin banyak pekerjaan jurnalistik dapat dilakukan oleh mesin, apa sebenarnya yang membuat seorang wartawan tetap diperlukan?
Pertanyaan ini penting karena kita selama ini sering menyamakan jurnalistik dengan sekumpulan pekerjaan. Wartawan adalah orang yang mencari bahan, mewawancarai narasumber, membaca dokumen, menulis berita, dan menerbitkannya. Jika pekerjaan-pekerjaan itu satu per satu dapat dibantu atau bahkan dilakukan oleh AI, kita mudah sampai pada kesimpulan bahwa profesi wartawan sedang menuju akhir.
Tetapi mungkin kesimpulannya terlalu cepat. Sebab ada satu pekerjaan jurnalistik yang tampaknya sederhana, tetapi justru sangat sulit digantikan oleh mesin, yaitu reportase, ketika wartawan pergi menemui manusia.
Wartawan datang kepada seorang korban dan bertanya apa yang terjadi. Ia menemui pejabat yang membuat keputusan dan meminta penjelasan. Ia duduk bersama seorang saksi. Ia mengunjungi kampung yang terkena bencana. Ia datang ke kantor sebuah perusahaan dan meminta jawaban atas tuduhan. Ia menelepon kembali seorang narasumber karena ada bagian dari keterangannya yang belum jelas.
Di sana terjadi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi pertukaran informasi. Wartawan melihat bagaimana seseorang diam sebelum menjawab. Ia mendengar perubahan nada suara. Ia melihat tangan yang gemetar, rumah yang berantakan, foto keluarga di dinding, atau jalan yang baru saja diterjang banjir. Ia menangkap sesuatu yang mungkin tidak pernah masuk ke dalam transkrip.
Lalu ia bertanya lagi. “Kenapa?”, “Maksud Anda apa?”, “Bisa diceritakan lebih jauh?” Kadang-kadang justru pertanyaan kedua, ketiga, atau keempat itulah yang menghasilkan informasi paling penting.
Wawancara, dengan demikian, bukan sekadar teknik mengambil informasi. Ia adalah peristiwa sosial. Di dalamnya ada kehadiran, kepercayaan, keberanian untuk bertanya, kemampuan membaca situasi, dan kadang-kadang kesediaan untuk berhadapan dengan orang yang tidak ingin memberikan jawaban.
AI dapat membantu menyiapkan pertanyaan. AI dapat membaca seluruh riwayat pernyataan seorang narasumber. AI bahkan dapat menyarankan pertanyaan lanjutan yang cerdas. Tetapi ia belum bisa menggantikan pengalaman manusia yang hadir di hadapan manusia lain.
Penelitian dan diskusi mutakhir tentang AI dan jurnalisme mulai menunjuk ke arah yang sama. Reuters Institute, misalnya, memperingatkan bahwa masalahnya bukan otomatisasi itu sendiri, melainkan kemungkinan munculnya sistem industri yang membuat kecepatan dan optimasi mengalahkan keahlian manusia, independensi editorial, dan kepentingan publik. Dalam model yang mereka sebut human-centric hybridisation, AI justru seharusnya memberi ruang bagi wartawan untuk melakukan hal-hal yang membutuhkan penilaian, konteks, dan interaksi manusia—termasuk wawancara antarmanusia.
Nieman Journalism Lab bahkan merumuskannya dengan sangat sederhana: nilai jurnalisme terletak pada kenyataan bahwa seseorang benar-benar pergi ke dunia dan memeriksa apa yang terjadi. Wartawan menyaksikan, memverifikasi, bertanya, dan mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya. AI dapat meringkas hasil pekerjaan itu, tetapi tidak otomatis menggantikan tindakan jurnalistik yang menghasilkan pengetahuan tersebut.
Di sinilah kita mungkin perlu membedakan dua hal: pekerjaan jurnalistik dan pertanggungjawaban jurnalistik.
AI bisa melakukan semakin banyak pekerjaan. Tetapi ketika sebuah berita mengatakan bahwa seorang pejabat melakukan sesuatu, seorang perusahaan melakukan pelanggaran, atau seorang korban mengalami ketidakadilan, publik tetap membutuhkan seseorang yang dapat berkata: Saya sudah memeriksanya. Saya menemui orangnya. Saya melihatnya. Saya bertanya. Saya membandingkan keterangannya dengan bukti lain. Saya bersedia mempertanggungjawabkan berita ini.
Itulah sebabnya perkembangan AI justru mungkin membuat pekerjaan lapangan menjadi semakin penting.
Reuters Institute dalam laporan tren jurnalisme 2026 menemukan bahwa organisasi media sendiri memperkirakan mereka akan memberi perhatian lebih besar pada on-the-ground reporting, investigasi orisinal, analisis dan penjelasan, serta kisah-kisah manusia—sementara jenis informasi yang mudah dikomoditaskan oleh chatbot AI diperkirakan akan semakin berkurang nilainya.
Ini membawa kita pada sebuah kemungkinan yang agak paradoks. Semakin pintar AI mengolah informasi yang sudah tersedia, semakin berharga kemampuan wartawan memperoleh informasi yang belum tersedia.
AI sangat kuat membaca jejak. Wartawan dibutuhkan untuk menemukan jejak baru. AI dapat membaca ribuan berita tentang sebuah demonstrasi. Tetapi wartawan dapat berdiri di tengah demonstrasi itu dan berbicara dengan orang yang baru saja ditangkap. AI dapat menganalisis ribuan dokumen tentang sebuah proyek pembangunan. Tetapi wartawan dapat mendatangi warga yang rumahnya harus digusur dan bertanya apa arti proyek itu bagi kehidupannya. AI dapat merangkum seluruh pernyataan seorang pejabat. Tetapi wartawan dapat berdiri di depannya dan bertanya: “Mengapa pernyataan Anda hari ini berbeda dengan pernyataan Anda enam bulan lalu?”
Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam tindakan itu: menghadapkan seseorang kepada kenyataan.
Karena itu, mungkin kita tidak perlu mempertahankan profesi wartawan dengan mengatakan bahwa “AI tidak akan pernah bisa menggantikan wartawan”. Pernyataan semacam itu terlalu mudah dan pada akhirnya tidak terlalu berguna. AI memang akan mengambil alih banyak pekerjaan yang selama ini dilakukan wartawan. Ia akan membaca lebih cepat, mencari lebih luas, mengolah lebih banyak data, dan menghasilkan bentuk-bentuk penyajian yang semakin canggih.
Yang lebih penting adalah menemukan kembali apa yang membuat pekerjaan itu layak disebut jurnalistik. Jawabannya bukan terletak pada kemampuan menulis cepat. Bukan pula pada kemampuan membuat ringkasan atau mengubah transkrip menjadi berita. Semua itu semakin mudah diotomatisasi.
Jawabannya terletak pada kesediaan untuk pergi ke dunia nyata. Pergi menemui orang yang tidak dikenal. Mendengarkan cerita yang belum pernah ditulis. Mengajukan pertanyaan yang mungkin tidak nyaman. Memeriksa keterangan. Menyaksikan sendiri. Meragukan informasi yang terlalu mudah dipercaya. Dan kemudian berdiri di belakang apa yang telah ditulis.
Dengan begitu, AI tidak harus menjadi lawan jurnalisme. Ia dapat mengambil pekerjaan yang selama ini menyita waktu wartawan, sehingga wartawan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pekerjaan yang justru paling bernilai. Bukan menggantikan wartawan, melainkan membebaskan wartawan untuk benar-benar menjadi wartawan.
Pada akhirnya, jurnalisme bukan hanya soal menghasilkan informasi. Jurnalisme adalah cara masyarakat memperoleh alasan untuk mempercayai bahwa informasi itu telah diperiksa. AI bisa mencari, menemukan pola, menyimpan, mengolah, hingga menyajikan. Tetapi untuk sementara, ada satu kata kerja yang masih sangat manusiawi: menemui. Di situlah masa depan jurnalisme bermula. []
